"Apa lagi? Udah pasti menyuruhku untuk balik ke Jakarta." Reina memonyongkan bibirnya, wajahnya cemberut. Tangannya bersedekap fi depan d**a. Keira diam. Tak ada komentar lain yang keluar dari mulutnya. Itu percuma saja. Ia sedang malas berdebat dengan adiknya itu. "Jangan-jangan... mereka juga menelponmu. Benar 'kan?" Reina menuding persis di depan wajah Keira. Merasa tak senang, Keira langsung menepis tangan adiknya. "Turunkan tanganmu!" hardik Keira tak senang. Ia kembali duduk bersandar di kursinya. Suasana di meja makan tidak sehangat seperti sebelumnya. Keira masih berkutat dengan pikirannya sendiri. Sementara Reina hanya masa bodoh dan tak perduli sama sekali. Baginya, sudah cukup menjadi baik dan penurut. Karena hasilnya, ia malah dipsksa untuk menikah. Reina hanya butuh kasi

