Bab. 22

1106 Words
Pagi ini, Keira telah bersiap. Ia mengenakan kemeja putih yang dibungkus oleh jas berwarna abu-abu serta celana panjang dengan warna senada. Gadis itu mencepol tinggi rambutnya, serta memoles wajahnya dengan make-up. Bulu mata palsu dan lipstik berwarna merah ikut menyempurnakan kecantikannya. Menyamarkan usianya yang baru menginjak dua puluh tiga tahun. Suara langkah kakinya serta ketukan heels setinggi delapan senti miliknya, menggema di lorong menuju ruang kantornya. Wangi parfum yang didominasi oleh aroma floral, vanila serta whitemusk dari tubuh Keira, menguar di udara. Memenuhi setiap ruangan yang ia lewati. Tangan kirinya terlihat sedang memeluk beberapa buah map. Sementara tangan kanannya menenteng sebuah tas kecil berisi ponsel dan ipad yang biasa Keira gunakaan saat bekerja. Hari ini, untuk pertama kalinya Keira hadir dalam rapat dewan direksi beserta pemegang saham. Seharusnya Sanjaya hadir saat ini, tetapi ia tidak bisa hadir karena ada keperluan lain yang membuatnya membatalkan kedatangannya. Dan dengan terpaksa Keira menggantikan posisi papanya, meski hanya sebagai pendengar dan bukan sebagai pengambil kebijakan. Gadis itu berpikir bahwa dirinya tidak memiliki hak apapun atas jaringan hotel Kesuma Grup. Kalaupun ia berada di hotel itu saat ini, Keira melakukannya untuk membalas budi pada keluarga Kesuma. Ya, rahasia itu membuatnya rendah diri. Tak ada yang dapat ia lakukan selain menuruti apapun yang mereka putuskan tentang hidupnya. Keira berkali-kali menarik nafas panjang selama rapat berlangsung. Telinganya fokus mendengarkan dengan seksama. Namun kedua netra hitamnya tak lepas memandang keberadaan Alex di ruangan itu. Pria itu duduk dengan tegak. Berhadapan muka dengannya secara langsung seperti sebelumnya. Namun Keira merasakan hal yang berbeda tentang pria itu. Ya, setelah Reina memberikan goodybag pemberian Alex. Wajahnya memanas, membuat pipinya bersemu merah tiap kali Alex menatap ke arahnya. Untuk pertama kalinya Keira merasakan debaran jantungnya begitu keras.  Keira yang selalu menatap tegak dengan mengangkat dagunya, kini hampir kehilangan kesadaran selama rapat berlangsung. Berulang kali ia berusaha menetralkan debaran itu, namun usahanya gagal. Ujung matanya terus saja mengamati pria itu. Setiap gerakannya, cara bicaranya, berhasil membuai Keira. Entah mengapa lelaki yang sangat membosankan itu bisa berubah dalam sekejap. "Ehemm... Bu Keira!" panggil Robert pelan. Suara pria itu mengagetkannya, membuat semua imajinasinya tentang Alex beterbangan. "I-iya. Ada apa?" tanya Keira kikuk. Seluruh peserta rapat menatap serius ke arahnya, membuat Keira salah tingkah. "Bagaimana Bu Keira? Apa keputusan Bu Keira?" bisik Robert. "Keputusan apa? Saya gak ngerti maksud Bapak." Keira ikut berbisik. "Keputusan rapat. Mereka semua sedang menunggu Ibu," sambung Robert. Keira mengangkat wajahnya. Menghela nafasnya panjang, berusaha menetralkan aliran darahnya ke otak agar kecerdasannya kembali seperti semula. Sesaat kemudian, Keira bangkit berdiri dan mulai berbicara. "Selamat pagi semuanya. Saya memohon maaf karena rapat direksi hari ini tidak dapat dihadiri oleh Bapak Sanjaya Kesuma. Dan saya sebagai wakil beliau untuk rapat kali ini, tidak memilki hak dan wewenang untuk mengambil keputusan. Namun, semua hal yang telah disampaikan dalam rapat hari ini, akan saya sampaikan langsung kepada beliau. Dan untuk hasil akhir, Bapak Sanjaya Kesuma akan menyampaikannya pada rapat direksi selanjutnya. Terima kasih." Keira kembali bernafas lega, setelah satu persatu peserta rapat keluar dari ruangan itu. Ia menghapus bulir keringat di dahinya. Rapat itu membuatnya gugup hingga tak mampu lagi merasakan suhu dingin dari penyejuk ruangan. Untungnya, rapat itu tak harus berlangsung lama. Tak ada debat atau saling lempar argumen sesama peserta rapat membuat Keira merasa sedikit tenang. Setidaknya, setelah ini ia harus memberikan laporan pada Atmajaya Kesuma sebagai Founder dan juga Sanjaya Kesuma sebagai Dirut Hotel Kesuma Grup. *** "Bagaimana rapatmu hari ini?" Reina mendekati sang kakak saat Keira baru saja kembali ke kamar mereka. "Berjalan lancar. Hanya saja Papa tidak datang hari ini." Wajah Keira berubah murung. "Dari mana kau tahu kalau Papa akan datang?" "Kakek yang memberitahuku." "Lalu? Apa yang terjadi dengan rapatnya?" tanyanya penasaran. "Nothing. Semuanya berjalan lancar. Hanya saja, aku tidak bisa memberikan keputusan karena itu adalah hak Papa." "Jadi?" "Ya, jadi akan ada rapat direksi berikutnya. Dan itu tergantung jadwal Papa." Keira menghela nafasnya berat. Sebenarnya, jauh di dalam hatinya Keira begitu merindukan pria itu. Akan tetapi, rahasia itu seakan membuat jarak baru diantara mereka. Dan itu membuatnya semakin menderita. Keira telah kehilangan figur seorang ayah. Kedua netra hitam dengan bulu mata lentik itu mulai berkaca-kaca. Wajahnya kian memanas saat menatap wajah Reina di sampingnya. Air mata itu perlahan jatuh, satu demi satu di atas pipinya yang merona. Keira tidak ingin mencegahnya lagi. Ia ingin memuaskan hatinya dengan menangis. Menangis sampai puas, sampai matanya membengkak dan air matanya mengering. Keira ingin menangis, meski seluruh riasan sempurna di wajahnya harus luntur. Gadis itu ingin menangis keras agar seluruh rasa sesak di hatinya sirna. Hanya itu yang paling ia inginkan saat ini. Meskipun tangisan itu membuat Reina terlihat khawatir padanya, Keira tak ingin menghentikannya atau sekedar menyeka wajahnya. Gadis itu hanyut dalam pelukan sang adik. Adik Angkat! Kenyataan itu semakin mengiris hatinya. Gadis kecil yang selalu dijaganya itu bukanlah saudara kandungnya. Keira hanya Anak Angkat! "Kei! Kenapa kau menangis? Ada apa? Cerita padaku, Kei." Reina membujuk gadis itu pelan. Sayangnya, Keira sedang tak ingin dibujuk. "Keira, bicara padaku! Apa yang terjadi padamu? Apa ada seseorang yang melukaimu?" Raut wajahnya terlihat cemas. Namun Keira memilih bungkam. "Kei... tolong jangan menangis lagi. Kau membuatku sedih, Kei."  Reina mengeratkan pelukannya di tubuh sang kakak. Meski tak banyak membantu, setidaknya pelukan itu bisa memberi kenyamanan padanya. Keira tertidur di sofa setelah puas menangis. Reina menutupi tubuh gadis itu dengan selimut dan membiarkannya tidur dengan tenang. Baru saja Reina melangkah menjauh dari sofa, ia dikejutkan oleh suara ponsel Keira yang berdering cukup keras. Gegas Reina menerima panggilan itu sebelum Keira terbangun. "Halo," katanya dengan suara pelan, seraya berjalan masuk ke ruang tidur. "Nona Keira," panggil seseorang di ujung telpon. "Saya Reina. Ada apa?" Reina masih berbicara dengan pelan. "Oh, maaf Nona. Saya Marta." "Iya, ada apa?" tanya Reina tak sabar. "Saya ingin bicara sebentar dengan Nona Keira. Ada pesan dari Tuan Sanjaya untuk Nona Keira," jawab Marta. "Keira sedang tidur. Katakan saja padaku, akan aku sampaikan padanya." "Mm... Tuan Sanjaya bertanya kapan Nona Keira kembali ke Jakarta," jawab Marta ragu. "Kenapa? Apa ada sesuatu yang terjadi di rumah?" tebak Reina. Setelah melihat reaksi Keira beberapa saat lalu, ia yakin sesuatu pasti telah terjadi. "Saya tidak tahu, Nona. Hanya saja, tadi ada tamu yang ingin bertemu dengan Tuan Sanjaya." Marta berkata pelan, takut seseorang mendengar pembicaraannya. "Siapa, Bu?" Mata Reina membesar. "Keluarga Dimas Danuarta," sahut Marta. "Om Dimas? Mau apa mereka?" "Saya juga tidak tahu." Reina membisu. Otaknya berpikir keras. Apa hubungannya Om Dimas dengan Keira? Kenapa Keira sampai menangis seperti itu? Batin Reina. "Ya sudah, nanti aku sampaikan padanya." Reina mengakhiri sambungan telpon itu. Dan meletakkan ponsel itu kembali ke tempat semula. Entah apa yang sedang terjadi, semua itu meninggalkan tanya di benaknya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD