Part 7

1423 Words
"Apa maksudmu mengatakan lebih cepat lebih baik?" "Apa maksudmu soal pesta?" Kedua wanita itu melontarkan pertanyaan disaat yang hampir bersamaan saat mereka berada di kereta. Luciana yang menjawabnya terlebih dulu. "Pesta itu untuk mengenalkan Miss Hopkins kepada Mr. Benedict." "Sama," timpal Bella dengan setengah hati sambil menggerutu. "Semakin cepat mereka bertemu, peluangku lepas dari pernikahan ini akan semakin bagus." "Tapi Bella, kalau keuangan ayahmu sangat buruk apa kau tak akan mempertimbangkan menikahinya?" tanya wanita itu prihatin, tahu pasti bagaimana sulitnya kehidupan seorang bangsawan tanpa uang. Bella merosot di kursi dan bahunya turun sewaktu wanita itu menundukkan kepala. Tangannya meremas saputangan saat memikirkan pertanyaan tersebut. "Kalau aku menikah dengannya, kekayaan keluarga kami memang akan terjamin. Tapi, bagaimana denganku? Aku seorang bangsawan Lucy, tempatku disana. Dan sebenarnya... aku tak ingin menikah dengan siapapun." Hal ini merupakan fakta baru bagi Luciana. "Apa? Kupikir kau menginginkan posisi Duchess?" "Awalnya ya. Tapi aku menyadari ayahku tak akan pernah berubah. Ia akan selalu menghabiskan uang kami untuk kesenangannya sendiri. Dan aku yakin kalau aku menikah dengan pria kaya raya, ayahku akan menempel padanya seperti lintah." Lucy meringis dan mengulurkan tangannya saat punggung wanita itu membungkuk sampai yang korsetnya ijinkan dan meremas tangan Bella. Dilihatnya kilau keputusasaan wanita itu saat menarik nafas. "Aku lelah dengan ayahku. Aku ingin lepas darinya." *** Kurang dari seminggu setelah kedatangan Lucy dan Bella ke kediaman Mr. Benedict, pria itu mengirimkannya kartu undangan. Luciana tengah berada di danau yang bening, berenang di air yang jernih dengan baju renang miliknya sewaktu pelayan datang membawakan surat tersebut. "Miss! Mr. Benedict mengirimkan Anda undangan untuk datang ke pesta." Lucy menengok ke samping dan bergerak ke arah pijakan kayu yang dibuat di pinggir danau. "Lelaki itu pasti sangat ingin membalas dendam atas pengkhianatan Miss Burburry." Milana mengangguk mengiyakan. "Tentu saja. Bahkan saya mendengar dari pelayannya bahwa banyak sekali orang-orang yang berharap diundang ke pesta ini." Nah tampaknya keingintahuan masyarakat soal pria yang dicampakkan membuat tamu di pesta ini meningkat. Tentu saja, mereka ingin tahu soal Sebastian Benedict dan baagaimana ia setelahnya. "Tapi Miss, bagaimana Anda bisa diundang olehnya? Anda bahkan tak mengenalnya." "Kita harus berterima kasih pada Bella atas hal itu." "Miss White?" "Iya. Kalau bukan karna dia aku mungkin tak akan bisa diundang. Milana, ambilkan selimut ku." Milana mengambil selimut tebal dan membentangkannya sewaktu Lucy menarik diri ke atas dan pelayan itu membungkus tubuhnya dengan selimut, menatap majikannya khawatir. "Anda akan sakit apabila terus berenang di cuaca sedingin ini." "Aku membutuhkannya," balas Lucy sambil tersenyum sesal. "Jangan melarangku Milana, aku harus menyalurkan emosiku." "Dengan cara berenang di tengah siang? Dimana semua orang dapat melihat jelas?" tanyanya tak percaya. "Oh ayolah Milana. Aku sudah tua, tak akan ada yang mau melihat atau mengintipku." "Saya masih tak paham mengapa wanita yang berumur diatas 22 tahun dianggap tua," gerutu pelayan tersebut. Lucy mengangkat bahunya. "Aku juga tak tahu. Yang jelas saat ini usiaku sudah mencapai 26 tahun dan sudah dianggap tua." Mereka masuk ke dalam dan Milana meminta pelayan dapur membuatkan s**u hangat sementara Lucy masuk ke dalam kamarnya dan berganti baju. Ia menatap koleksi bajunya dan membandingkan gaun tersebut dengan gaun milik Bella yang wanita itu berikan. Bahkan burung pegas saja akan memilih mengotori baju Bella yang terlihat elegan dibandingkan bajunya sendiri. Luciana menyadari betul, hanya dalam beberapa bulan ke depan kehidupan ia dan ibunya pasti akan berubah lagi. Selama ini ia bisa pergi menggunakan kereta kuda sewaan dengan uang dari neneknya. Tapi selama keluarga ini tak memiliki penghasilan, mereka akan terus menjual perhiasan yang ada sebelum akhirnya membeli yang imitasi.  Kehidupan Lucy sendiri memang sudah penuh kepalsuan. Ia menimbang-nimbang apakah ia bisa menjadi istri seorang petani saja. Milana datang membawakan s**u sementara Lucy mengganti baju. Pelayan itu sigap melihat korset tersebut dan menaruh cangkir di sudut sewaktu membantu majikannya. "Apa Anda akan datang ke pesta tersebut, Miss?" Lucy menarik semua rambutnya yang basah ke depan dan memegang badan cermin yang menampikan lekuk tubuhnya. "Aku harus, bahkan kalaupun aku tak mau." "Semoga Anda bisa menemukan suami Miss. Kesehatan nenek anda tak sama seperti dulu," ungkap Milana jujur saat Lucy berbalik ke belakang dan menatapnya was-was. "Apa kata dokter?" "Ia mengalami tekanan psikis. Saya rasa sedikit banyak kedatangan Sir Fredge membuatnya semakin kesal." "Aku bersumpah kalau saja tak ada aturan untuk melarang bangsawan datang berkunjung, aku akan membuat rantai duri sehingga ia tak bisa kemari." Milana ikut mengangguk, tak bisa tak setuju atas hal tersebut. Ia selesai membantu Lucy dengan korset dan memberikan cangkir kepadanya sewaktu Milana mulai memilih baju untuk Lucy. "Baju yang biasa saja Milana. Tak akan ada tamu yang datang lagipula." "Baik Miss," jadi mereka memilih baju biasa dan mengepang rambut Lucy dengan pita. Luciana meminta agar mereka meninggalkkannya sendiri sewaktu ia menatap ke luar. Berbagai pikiran memenuhi wanita itu dan emosinya tercetak jelas di wajahnya. Apakah sopan baginya untuk meminta bantuan pada Mr. Weels? Tidak, tidak, Lucy tak bisa melakukan itu. Walaupun ayahnya dulu pemasok di toko pria itu, tapi hubungan mereka tidak sedekat itu. Mana mungkin Luciana meminta bantuan materi kepada Weels? Mereka baru pertama kali bertemu. Bahkan setelah pria itu mengatakan Luciana bisa mengirimkan surat andai membutuhkan pertolongannya, ia yakin itu hanya basa-basi. "Apa aku benar-benar tak memiliki pilihan selain Fredge?" tanyanya pada diri sendiri sewaktu menggigit bibir bawahnya yang ranum. *** Hari yang dinanti akhirnya tiba. Pesta Mr. Benedict. Pelayan memasukkan gaun pesta, ke dalam koper yang akan Lucy bawa selama pesta tersebut digelar. Mereka sedang berdiam di kamarnya sembari memutuskan gaun, sepatu hingga aksesoris yang akan Lucy kenakan. "Miss akan terlihat cantik dengan baju kuning ini." "Bagian dadanya terlalu rendah." "Sepatu ini akan cocok untuknya." "Masukkan itu. Bagaimana dengan kalung ini?" "Jangan yang terlalu mewah. Miss Edinburgh tak suka."  "Sarung tangan ini cantik. Memiliki hiasan di pergelangan tangannya." "Padukan dengan kipas putih ini." "Ambil ini untuk hiasan rambutnya." "Rambut Miss berwarna terang, bagaimana kalau gunakan warna gelap?" "Biru?" "Merah lebih sesuai." "Dia memiliki bintik." "Aku akan mengurusnya." Para pelayan sibuk sepanjang hari, berdiskusi baju apa yang harus ia kenakan di hari pertama Lucy datang. Hal yang sebenarnya sangat tak diperbolehkan, mengingat para pelayan dilarang membantah atau memberikan pendapat. Tapi kembali lagi, Luciana bukan tipe yang menuruti setiap aturan. Bagaimanapun juga ia juga tak menyukai aturan para bangsawan tersebut dan lebih sering mengabaikannya daripada menuruti hal itu. Contohnya, para wanita dilarang menggerai rambut mereka saat ada tamu. Lucy melakukannya. Atau saat mereka keluar, hendaknya menggunakan topi. Lucy tidak memakainya. Dan terutama, mereka dilarang mengucapkan terima kasih pada pelayan. Lucy melakukannya setiap hari. Bukan karna kurangnya tata krama dan etika yang ia dapatkan. Tentu saja tidak. Tapi itu karna Lucy memang tidak menyukai aturan itu sejak awal. Ia benci memakan black pudding, menyantap kepala hewan atau hidangan yang sengaja difermentasikan. Ia ingin memanjat pohon, berteriak dari atas sana dan melompat. Jiwa Lucy terlalu bebas untuk tata krama para bangsawan. "Apa yang kau pikirkan sayang?" tanya ibunya saat Lucy menggeleng. "Hanya betapa tidak cocoknya aku dengan bangsawan. Kau akan menemaniku kan Ma untuk datang ke pesta besok?" tanyanya mengingat seorang gadis yang belum menikah diwajibkan membawa pendamping. Sementara wanita yang sudah menikah, boleh menjadi pendamping. Ellie menggeleng dan tersenyum sesal, "Aku takut tak bisa Sayang." "Ada apa? Kau sakit? Demam lagi?" tanyanya saat Ellie mengangguk. "Selalu datang setiap kali musim dingin. Aku juga takut nenekmu tak bisa menemanimu." Lucy tersenyum lebar, "Aku tak perlu datang ke pesta kalau begitu." Ellie terkekeh, tahu betul ketidaksukaan putrinya dalam kelas sosial tersebut. "Kau tetap harus datang." "Aku tak memiliki pendamping," balasnya puas. "Dowager Viscountess Marseina akan menjadi pendampingmu." Lucy menatap ibunya terkejut. "Ma!" "Dia menawarkan diri sayang. Lagipula ini akan menjadi kesempatan bagus untuk menjernihkan namamu. Kalau Viscountess sendiri datang bersamamu, rumor tersebut akan lenyap." Apakah ibunya sungguh-sungguh berpikir semua akan selesai begitu saja hanya karna mereka tampil bersama? Alasan Lucy terkejut Viscountess menjadi pendampingnya karna ia merasa tak enak akan wanita tersebut. Namanya tercoreng akibat Lucy dan ia belum sempat meminta maaf secara formal. "Ma, aku tak ingin reputasi Viscountess hancur karna aku." Ellie tersenyum menenangkan dan memeluk bahu putrinya. "Tak akan ada yang hancur. Oh aku lupa aku tengah demam." Ia melepas pelukannya dan menatap hangat Lucy. "Aku ingin kau datang kesana, membusungkan dadamu dan mengenakan gaun tercantik. Aku yakin kau akan mendapat perhatian sayang." Entah kenapa Lucy tak yakin hal itu akan terjadi. Orang-orang mungkin akan berpikir Viscountess bersedia menjadi pendamping dari seseorang yang pernah mencuri perhiasannya hanya karna kasihan. Dan nama Lucy akan semakin hancur sehingga tak bisa dipulihkan. _____________________________________________ Suka cerita ini?  Kalau suka dukung penulisnya dengan cara ini ⬇️⬇️⬇️ Pencet bintang ⭐ Pencet ikuti FoxyRibbit Ketik komentar Follow IGku Livia_92 buat spoiler Ditunggu
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD