"Sir. Ini laporan terkait Nona Grace." Tangan Luke menyorongkan sebuah map dibalut sampul merah.
Sampul merah. Orang-orang akan menganggap sampul merah hal normal untuk digunakan siapapun. Namun, lain jika itu adalah Isaac Emiliano. Sampul merah seakan simbol bahwa Grace Brooklyn adalah miliknya, seorang yang hidup di bawah kuasanya
"Apa ini?" Isaac bergumam lirih, mata kelabu tajamnya memindai penasaran setiap kata yang tertulis.
Luke dengan pendengaran bagai kelelawar segera menjawab, "Isla Emerson. Mahasiswi yang selalu menindas Nona Grace. Dan penindasan terjadi siang ini di cafetaria."
Duduk tegap di depan meja, tangannya membalikan laporan yang menuliskan kegiatan Grace hari ini berikut beberapa lembaran foto dan satu USB berisikan video.
"Tak ada yang menolong dia?" Isaac perhatikan sebuah foto Grace yang menunduk di bawah kaki seorang perempuan dengan gaya mencolok.
"Penindasan itu seolah tontonan gratis bagi mereka, jadi tidak ada yang berniat untuk menolong. Alih-alih demikian, beberapa orang justru memprovokasi si penindas." Penuturan Luke dari si mata-mata dijelaskan begitu rinci.
"Hanya ada satu orang yang selalu menolong Nona Grace," imbuh Luke.
"Ethan Christian." Isaac lebih dulu menjawab. Kilat datar dari matanya berbalik tajam, menyerupai laser yang ingin membumi hanguskan pria yang selalu ada di sisi Grace.
"Ya. Dia adalah sahabat Nona dari kecil." Jawaban Luke terdengar lugas, dan Isaac tahu itu bukan hanya sekadar fakta.
Ada sebuah ancaman samar. Dorongan sesuatu dalam benak tiba-tiba mencuat, menumbuhkan sebuah hasrat untuk melenyapkan pria yang merupakan sahabat satu-satunya Grace.
Kembali pada sampul merah. Bukan tanpa arti Isaac selalu minta laporan tentang Grace selalu dibalut sampul merah. Sampul itu menjadi bukti kuat betapa dia menginginkan Grace Brooklyn, tanpa ada orang lain yang membayangi Grace, selain dia.
"Bagaimana jika aku melenyapkan pria ini?" Punggung semula duduk lurus nan tegap diubah bersandar pada kepala kursi.
Kendati Isaac telah menunjukkan tanda tak mengenakkan dari tatapan tajamnya, Luke masih menjawab berani. "Itu bisa saja anda lakukan. Namun, bagaimana dengan Nona Grace?"
Isaac menarik udara memasuki rongga hidungnya. Pelan, meresapi setiap kesegaran mengisi perasaan ngilu yang sangat asing di benaknya.
"Untuk apa aku memikirkannya?" Dia bergumam. "Dia saja tak memikirkan perasaanku." Tanpa sadar lidahnya mengetukkan kalimat itu, kalimat yang merupakan bisikan kosong hatinya.
"Sudahlah. Kau boleh pergi sekarang." Akhiri perbincangan mereka, Isaac masih menelisik setiap ekspresi Grace di setiap lembar foto.
Perlahan jemarinya memberi tekanan di salah satu foto yang membidik kebersamaan Grace dengan Ethan. Semula kertas itu berbentuk sempurna, semakin Isaac menekan jemarinya, kertas itu hanya gumpalan yang menyimpan amarah tanpa dasar Isaac Emiliano.
"Perasaan tak menyenangkan apa ini?" Seiring dia utarakan ketidaknyamanan dalam benak, tangannya meremas hancurkan foto Grace dengan Ethan.
"S*alan." Tak peduli seberapa besarnya gumpalan amarah, Isaac masih mendatarkan wajahnya. "Apa yang sudah kau lakukan padaku, Grace?"
"Akhir-akhir ini aku sering dinner di rumahnya. Besar kemungkinan mereka memberiku racun agar aku merasakan hal ini?" Gumaman lirih bernadakan kekhawatiran Isaac mencuatkan asumsi baru.
"f**k. Haruskah aku memberi hukuman yang setimpal?"
***
Sebuah meja persegi panjang membentang menjembatani dua keluarga mengisi deretan kursi mengukung meja tersebut. Sajian makan malam menghadap mereka, seolah berteriak agar mereka segera menyantapnya.
Tawa khas dua pihak saling bersahutan kala guyonan-guyonan sekelas mereka saling tumpang-tindih. Membiarkan makanan di atas meja mendengarkan pembicaraan mereka.
"Aku dengar akhir-akhir ini Madison sering mengunjungi panti asuhan." Max Emiliano, dia duduk tepat di sisi Isaac. Matanya memandang takjub seorang perempuan berpakaian sopan. Namun, masih memberi kesan berani dari warna maroon dan hitam yang berpadu.
"Benar. Madison memang sangat menyukai anak-anak. Apalagi ... dia sangat tidak bisa melihat anak-anak tanpa kasih sayang." Menangkap sinyal keberuntungan, Julia Weston menambahkan sisi positif sang putri.
Kendrick Weston, dia pun menangkap maksud tertentu dari sang istri turut mengimbuhkan. "Madison, meskipun dia sangat berani. Tapi dia memiliki sisi keibuan yang jarang orang ketahui."
Max menggerakan leher, pandangannya tertuju pada sang putra. "Bagaimana Isaac?"
"That's good." Pujiannya tak dibarengi emosi. "Madison bisa melahirkan anak-anak gigolonya kalau begitu, dan menjadi ibu yang sangat baik."
Jawaban Isaac menghadirkan suasana tak menyenangkan. Max berdehem guna menetralkan rasa malu yang mengakar. Bukan hal aneh bila Isaac berbicara sembarangan. Namun, Max tak habis pikir terhadap etika Isaac disaat mereka berhadapan dengan mitra bisnis mereka.
"Maaf. Sepertinya Isaac sudah mabuk." Senyum rasa bersalah Max terbit, bentukannya kaku bagai kanebo kering.
"Aku belum menyentuh wineku. Bagaimana aku bisa mabuk?" Telunjuk Isaac mengarah segelas wine yang belum ia jamah.
Orang-orang di sana— selain Isaac — menahan gelombang kecanggungan hingga atmosfer terasa menyesakkan barang untuk bernapas saja. Terlebih mendapati Isaac tak menampilkan secercah pun rasa bersalah usai berbicara sembarangan.
"Isaac selalu bercanda memang. Setiap kami bertemu pun dia selalu berbicara seperti itu." Madison bersuara, mencoba menyurutkan kemarahan orang tuanya.
"Bercanda?" Pertanyaan lirih Kendrick menyimpan gejolak amarah.
Sebagai ayah, tak peduli betapa liarnya pergaulan sang putri, jelas amarah Kendrick bergejolak diperdengarkan kata-kata tak sopan dari orang lain. Sekalipun dia adalah Isaac Emiliano, kandidat terbaik untuk menjadi menantunya.
"Walaupun aku mengatakan hal yang sebenarnya, kalian akan beranggapan kalau itu candaan," kata Isaac, tanpa balutan emosi.
Di tempatnya, Max sudah bergetar khawatir sang putra akan mengatakan hal aneh lagi. Mendengar desahan napas Isaac saja, nyawa Max seakan ditarik keluar secara paksa.
"Ah. Puding ini akan mendingin. Lebih baik kalian segera menyantapnya." Julia sajikan puding coklat dengan hiasan es krim di atasnya kepada Isaac. "Makanlah, Isaac. Kau pasti akan menyukainya."
Isaac memiringkan kepalanya, perhatikan puding tersebut. "Bagaimana bisa anda mengatakan puding ini akan mendingan? Apa anda merasa puding ini sangat panas tadi?"
Seketika Julia terdiam. Akibat gugup dari atmosfer yang menghimpit d*danya dia berbicara melantur.
"Sudahlah. Semakin lama aku mual di sini." Derit kursi didorong Isaac kebelakang guna menciptakan ruang agar dia dapat keluar dari kursi tersebut.
"Pembicaraan kita belum selesai, Isaac Emiliano." Nada suara Max terdengar sangat berat, ancaman dari setiap patah kata sengaja dia patrikan.
"Tidak untukku." Isaac menjawab datar, tanpa acuh dia melangkah menjauhi mereka.
Apa yang dilakukan perempuan itu sekarang? Benak Isaac tanyakan hal mengenai Grace. Jemarinya mengetuk di atas layar sebelum berhenti begitu layarnya menampilkan kegiatan Grace di kamar.
Selain menempatkan mata-mata di sekitar Grace, jelas Isaac juga tak ingin tertinggal sejengkal pun kegiatan Grace waktu di rumah.
Setiap sudut penthouse— kecuali kamar Elena —sengaja Isaac tempatkan kamera tersembunyi agar dia selalu dapat mengetahui gerak-gerik Grace.