Bab 05. Kemenangan di Atas Penderitaan

983 Words
"Oh, no ...." Elena melirih pilu, matanya menatap nelangsa rumah kecil mereka dilalap api. Sempat Elena melirik sang putri. Namun, Grace tak ada di sisinya. Seketika panik menyerang Elena. Bayang-bayang pembantaian di masa lalu menyelinap memasuki memori Elena, benaknya mulai berteriak panik begitu dugaan mafia-mafia yang telah menghabisi nyawa sang suami sekaligus pembantaian di rumahnya masih menargetkan mereka untuk dihabisi. "Grace?" Suara Elena menyela keramaian di sekitar yang sibuk memadamkan api. "Grace, kamu di mana?" Langkah Elena mulai bergetar di setiap pijakan. Mimpi buruknya seolah kembali bangkit usai dia mencoba untuk menguburnya. Napasnya tersengal dalam ritme napas berantakan, bayangan itu perlahan mulai merambat menghantuinya. "Grace tolong jawab Mommy! Kamu di mana?" Di tengah keramaian para pemadam kebakaran serta para tetangga membantu meredakan api, Elena panik sendirian atas perginya sang putri. Selendang di bahu yang Elena gunakan untuk menghalau angin malam diketatkan. Wajahnya mengukir panik, buih-buih keringat dingin telah bermunculan. "Grace!!!" Pekikannya kian nyaring, rasa takut perlahan menguasai akal sehatnya. "Tidak!! Anakku! Mafia-mafia b*jingan itu sudah mengambil suamiku, sekarang mereka telah mengambil anakku." T*buh Elena terjatuh ke tanah, jemarinya bergerak mencengkram kuat tanah di bawah tumpuannya. Butiran air mata berjatuhan basahi punggung tangan, benaknya disabet pisau berulangkali. "Mommy? What are you doing at there?" Suara lembut Grace mengikis rasa takut Elena, bagai kapas yang membebat lukanya. "Grace ... Putriku ...." Elena beranjak. Langkah gontainya dibawa menuju Grace. "Anakku ...." Kata itu terus Elena gumamkan menyerupai doa di ujung keputusasaan. Sosok Grace dalam rengkuhannya terasa seolah tak nyata. Namun, jelas Elena merasakan setiap embusan napas lembutnya, rupanya yang benar-benar nyata dalam genggaman. "What's wrong, Mom?" Pertanyaan heran Grace dibalut sangat hati-hati. "Mommy takut, Nak ... Mommy takut kamu diculik mafia-mafia b*jingan itu." Seiring tangis menyertai ucapan Elena, d*danya bergetar. "Grace di sini, Mom. Di pelukan Mommy. Dan Mommy tidak boleh lupa kalau kita sudah mengubah identitas kita sehingga mereka tidak akan pernah menemukan kita. Bahkan jejak kita pun, mereka tidak akan pernah menemukannya." Punggung bergetar Elena pun Grace usap. Pembantaian di rumah mereka saat Grace berusia lima tahun itu jelas meninggalkan jejak di setiap lapisan fragmen memori mereka. Terlebih lagi Elena yang saat itu mendengar langsung ledakan membabi-buta dari pistol yang mengarah pada suaminya hingga tewas, sementara pendengaran Grace aman karena Elena terus menutup telinganya. Belum Elena dikejutkan akan kedatangan para mafia yang rupanya menargetkan nyawa sang suami, Elena harus menerima sekaligus melihat dengan mata kepalanya sendiri sang suami sudah terkapar tak bernyawa kala itu. "Mommy lebih baik kita bersiap. Tua— Isaac sudah menunggu kita." Nyaris Grace kelepasan memanggil Isaac mengenai sebutan sebagai majikan. Dia tak ingin sang ibu tahu, di balik keberhasilan mereka ada pengorbanan yang Grace lakukan. "Isaac? Dia membantu kita?" Grace mengangguk. "Kenapa dia membantu kita?" Karena dia ingin memiliku seutuhnya. "Karena dia orang baik." Grace menelan jawaban yang sesungguhnya, membungkusnya dengan kebohongan. "Orang itu ... kita punya hutang budi banyak sekali padanya, Nak. Suatu saat kita harus membantunya." Dekapan mereka Elena uraikan, matanya memancarkan perasaan tak enak terus-terusan mendapat kebaikan orang asing. Itu semua tidak gratis, Mom. Ada bayaran yang tidak boleh Mommy ketahui. Benak Grace mengukir senyum getir, yang tanpa sengaja Grace lukiskan di bibirnya. "Iya. Kita harus membalas kebaikannya." Grace terus memaksa bibirnya untuk tersenyum. Keadaan Elena jauh dari kata baik. Dia mengalami kanker p******a stadium dua, besar kemungkinan psikisnya sulit dikendalikan. Setiap kali ada yang mengganggunya ia akan panik, seperti hilangnya Grace beberapa saat lalu untuk menerima telepon. Sosok Elena Flynn, dulu adalah seorang ibu tanpa suami yang tegar, selalu tersenyum kendati setiap malam Grace selalu mendengar tangis kerinduan pada sang suami berikut trauma atas pembantaian itu. Namun, senyum indah itu seolah ingin Elena jadikan obat untuk sang putri. Wanita itu sudah lama berpura-pura tegar untuk Grace, dan sekarang saatnya Grace yang melakukan itu. "Ya sudah. Ayo kita hampiri Isaac." Perlahan Grace tuntun sang ibu, sebelum itu ia serahkan jaketnya untuk menutupi badan sang ibu. "Ibu sudah ada selendang. Kamu saja yang memakainya." Elena hendak menolak. Namun, Grace lebih cepat memasangkannya. "Di sini sangat panas. Grace tidak bisa memakai jaketnya." Grace beralibi, seraya menahan dingin yang menusuk setiap lapisan kulit. *** Sosok bertubuh tegap itu berdiri menyandar di sisi limousine bentley. Di tengah gelapnya malam, dia seolah lentera mahal— terang akan kekuasaan sekaligus kekayaan dengan harta menempel di t*buhnya. Namun, itu bukan hal penting sekarang. Setiap langkah mengikis jarak antar mereka, api dalam benak Grace berkobar kian menjadi. Amarahnya nyata ia rasakan pada pria itu. Tak salah julukannya adalah Iblis Berdarah Dingin, buktinya jelas ada di depan mata. Hanya karena penolakan sepele yang masuk akal, dia melenyapkan kebahagiaan orang lain. "Isaac ... maaf, lagi-lagi kami merepotkanmu." Lirih dari suara Elena merajutkan rasa bersalah. "No problem." Isaac menjawab singkat. Cahaya api dari kejauhan menyinari setengah wajahnya, membentuk siluet tajam. "Come in. Bibi terlihat sangat lelah. Bibi harus segera istirahat." Entah angin apa merasuki pria itu, dengan penuh hormat dia membukakan Elena pintu mobil. "Oh, anda benar-benar malaikat. Fisik sempurna, etika pun sangat sempurna. God bless you." Mata Elena berkaca-kaca, emosinya benar-benar sensitif hari ini, mengingat rumah kecil mereka dilalap habis oleh api, belum lagi t*buh kuyunya menyimpan penyakit mematikan. Dengan wajah datarnya Isaac menjawab, "Anda berlebihan." Elena ingin menarik setiap sudut bibirnya menjadi senyuman. Namun, karena desakan tangis, bibirnya melengkung ke atas, menggambarkan dia ingin menangis lagi sebelum dia masuk ke dalam dan Isaac menutup pintunya. Di belakang mereka, mata Grace mengintai setiap kebohongan Isaac. Bukan senang kala sang ibu diperlakukan sebagaimana ratu, amarah Grace berkobar kian menjadi. Sepercik harapan permintaan maaf dari Isaak mengakar dalam benak Grace. Kala Isaac bergerak, menghadapkan t*buhnya tepat pada Grace, lalu pandangan mereka saling bertaut, sebelum hal tak pernah Grace duga sebelum terjadi. Isaac mengedipkan sebelah matanya. Terdengar sepele. Namun, hal tersebut sangat tak pantas siapapun lakukan di hadapan seorang yang baru saja menerima musibah. Terlebih penyebab kebakaran itu sendiri adalah Isaac, Isaac Emiliano. Pria yang bisa-bisanya mengedipkan sebelah matanya dengan senyum kelakar, seakan menyoraki kemenangan usia melumpuhkan Grace di lapangan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD