Jantung berdegup kencang. Deru napas berhamburan. Langkah kaki melebar dan cepat. Tapak kaki yang menginjak bumi terdengar menggebu di telinga. Tampak bahwa Sang Penginjak Kaki dalam ketakutan dan terburu berlari menghindari sumber ketakutan itu.
Suara napas terengah dan tapak kaki yang menginjak tanah menjadi pengiring suasana mencekam itu. Keringat bercucuran membasahi tubuh. Tidak ada yang peduli. Tujuan mereka hanya terus berlari, berlari, dan berlari. Menyelamatkan diri dari marabahaya yang tak diketahui dari mana asalnya.
Lura dan tiga temannya terus berlari sekuat mereka. Mereka berusaha melangkah selebar dan secepat mungkin. Mereka tak ingin mati sia-sia ditelan oleh gumpalan lumut yang terus tumbuh dan menutupi seluruh kawasan hutan. Jikalau memang mereka harus meninggalkan dunia melalui lumut itu, setidaknya mereka pernah berjuang. Berusaha menyelamatkan diri. Tidak hanya pasrah.
"Penna!! Ayo cepat!!" teriak Funa sembari sesekali menoleh ke belakang. Napas perempuan itu tak beraturan. Jantungnya benar-benar berdetak menggila.
Penna berada di baris paling belakang sendiri. Alas kaki yang digunakan tidak tepat membuat kakinya melangkah dengan lambat.
"Penna!! Lepas sandal kamu!!" teriak Lura penuh ketakutan. Sungguh ia tak ingin tewas karena terendam lumut yang tiba-tiba terus tumbuh bagaikan air bah yang marah. Bagaikan monster kemarahan yang ingin menelan apa pun benda yang dilewatinya.
Penna sembari berlari berusaha melepaskan sandalnya. Lalu ia lempar sandal itu ke sembarang tempat. Hingga sandal itu telah hilang ditelan lumut yang tumbuh mengamuk.
"Penna!! Lari lebih cepat!! Jarak lumutnya hanya tersisa sekitar satu meter dari kamu!!" Bratra tak kalah gagap. Sungguh tak pernah terbayang dalam benaknya bahwa mereka akan berada dalam bahaya seperti ini.
Penna dan yang lain berlari lebih cepat. Akhirnya Penna bisa sejajar dengan para rekannya. Namun ia tak ingin berada dalam euforia berlebihan yang membuatnya lengah, ia tetap mempercepat langkah kakinya dalam berlari.
Tidak peduli akan rasa sakit yang menyerang kakinya. Bebatuan kecil, ranting-ranting patah, tanah lumpur, duri tanaman, dan yang lainnya terinjak oleh kakinya yang halus karena perawatan rutin yang ia lakukan satu bulan sekali. Rasa kaki yang tak nyaman tak ia pedulikan. Ketakutan lebih mendominasi daripada memikirkan tentang kakinya yang telah menginjak apa pun. Bahkan ada kotoran hewan liar hutan pun ia injak. Namun ia tak sadar. Lebih pada rasa tidak peduli.
Lura, Bratra, Funa, dan Penna berbaris. Jarak mereka hanya sekitar 10 centi. Mereka berusaha saling mengimbangi. Tidak boleh ada yang egois. Harus memikirkan keselamatan orang lain. Tidak boleh ingin menang sendiri hanya untuk selamat dari amukan lumut. Mereka pergi sama-sama, maka harus kembali juga sama-sama. Jikalau memang mereka tidak selamat, setidaknya mereka harus tetap bersama.
***
Penna terhenyak. Ucapan Lura berhasil menamparnya.
Benar. Benar bahwa saat ini mereka sedang tidak berada dalam kondisi aman. Mereka sedang dicekam bahaya.
Dan benar lagi. Benar apa yang dikatakan Lura. Teman-temannya tidak egois. Bahkan Lura dan Bratra yang posisinya jauh di depannya rela kembali ke belakang hanya untuk menghampirinya. Untuk menolong dan menyadarkannya dari pemikirannya yang hanya terpusat pada hilangnya handphone kesayangannya.
Bodoh. Sungguh bodoh dirinya. 'Kenapa kamu tiba-tiba jadi orang yang bodoh sih, Pen? Bukankah kamu selama ini selalu mampu memposisikan diri? Lalu kenapa kamu tadi sampai lupa bila sedang berada dalam bahaya?' tutur batinnya.
Penna segera kembali mempercepat larinya. Menyusul Lura yang sudah jauh di depannya.
"Maafkan kami, Pen," ucap Funa ketika perempuan itu telah berdiri di samping Penna. Sedangkan Bratra memilih menyalip dua perempuan itu.
"Maaf jika kata-kata yang kami lontarkan menyakitimu," lanjut Funa tak enak hati.
Penna memandang Funa yang sedang berlari di sampingnya. Ia tatap perempuan di sampingnya dengan seksama. Ia kembali mengingat bahwa selama ini mereka tidak pernah saling bicara selama di kelas perkuliahan. Ia lebih memilih menjauh dari teman-temannya jika bukan karena tugas kelompok. Ia enggan membuat hubungan dengan siapa pun, entah pertemanan atau persahabatan. Ia tidak ingin tersakiti. Ia tidak ingin dimanfaatkan.
Dalam ingatannya, Funa adalah perempuan yang tidak diam juga tidak bersisik dan perempuan itu juga baik di kelas. Tidak pernah menimbulkan kegaduhan kecuali berdebat dengan Lura ketika perkuliahan berlangsung. Bukan berdebat hal tak berfaedah. Lura dan Funa selalu memperdebatkan perbedaan mereka dalam menganalisis suatu materi pembelajaran.
"Kamu beneran marah, ya, Pen? Kok diam saja?" Funa kembali bertanya. Rasa tak enak hati menyelimuti hatinya.
Penna tersadar dari lamunannya. "Enggak kok, Fun. Terima kasih, ya. Kalian semua baik sekali sama aku," balas Penna tulus dengan senyum merekah sempurna.
Funa pun membalasnya dengan senyum. "Ayo kita harus segera kabur. Kita tidak boleh santai-santai saja," peringatnya.
Mereka mulai kembali berlari semakin kencang. Saat mereka berbincang mereka sengaja memperlambat langkah. Mereka ingin menuntaskan segala permasalahan yang masih mengganjal. Tidak enak bila masih ada sesuatu yang belum tertuntaskan sedangkan mereka masih akan menghabiskan waktu bersama.
***
Brak..
Funa terjerambab. Ia merasa ada akar tanaman yang melintang di jalan yang dilewatinya sehingga membuat tubuhnya terjungkal.
"Funa!!" teriak Penna.
Lura dan Bratra segera menghentikan larinya. Ia memutar badan ke belakang.
"Funa!! Kamu kenapa?" Bratra segera membantu Funa untuk bangun.
Funa memegang pergelangan kakinya sebelum menerim uluran tangan Bratra. Benar-benar nyeri dan sakit.
“Funa.. Kamu kugendong saja, ya? Kita sudah tidak ada waktu lagi,” kata Bratra panik.
“Jangan!! Aku masih bisa sendiri,” lirih Funa.
“Benar apa yang dikatakan Bratra. Kamu lebih baik digendong. Kita harus selamat dari terjangan lumut itu bukan?” sahut Lura tegas.
Funa pun tak berkutik. Benar yang disampaikan Lura. Akhirnya ia segera memosisikan tubuhnya dekat dengan punggung Bratra.
“Ayo, Funna!!” gertak Lura tak sabar. Kaki laki-laki itu pun menghentak berulang kali. Kesal dengan rekan debatnya dalam kelas yang banyak membuang waktu.
Hap. Funa akhirnya telah berada dalam gendongan Bratra. Ia melingkarkan lengannya pada leher Bratra dengan kuat. Lura membantu Penna agar perempuan itu juga berlari dengan cepat. Ia tarik lengan Penna kuat.
“Lura!! Jangan kenceng-kenceng pegangnya. Tanganku sakit tahu!!” protes Penna. Bibirnya mencebik kesal. Seenaknya saja Lura memegang lengannya dengan erat. Terlalu erat sehingga lengganya tampaknya memerah. Seperti lengan yang diikat dengan tali tampar yang begitu kuat dan rapat.
“Kamu jangan banyak protes. Kamu mau jatuh juga seperti Funa?” balas Lura tajam.
Penna semakin cemberut. Bibirnya semakin maju ke depan. Namun ia masih tetap berlari dengan tangan Lura yang belum lepas dari lengannya.
Mereka berlari dalam diam. Diiringi dengan detak jantung yang memompa dengan cepat. Entah karena rasa takut atau hal lain yang menyelimuti.
Lura berlari di belakang Bratra yang masih menggendong Funa. Ia berlari sekencang-kencangnya. Napas sudah terputus dan mulai sesak. Namun ia terus memaksa kakinya untuk berlari.
“Lura.. apa kita nggak boleh berhenti dulu? Kakiku capek. Aku juga haus,” lirih Penna.
“Kita mencari tempat aman dulu. Kita juga tidak tahu sekarang ada di mana. Jadi tahan rasa hausmu dan lemahmu. Aku juga yang lainnya merasakan hal yang sama,” peringat Lura.
Penna kembali cemberut. Ia semakin dongkol. Namun hendak memaksa seperti apa pun keadaan mereka saat ini sedang tidak menguntungkan. Mereka berada pada tempat yang tidak pernah mereka ketahui sama sekali.
Mereka mulai memasuki kawasan dengan pohon-pohon yang tertanam semakin rapat dengan batang yang besar. Suasana hutan pun semakin mencekam. Kabut seakan menambah siksaan bagi mereka. Hutan itu semakin dalam dan menakutkan. Mereka benar-benar masuk dalam kawasan hutan berbahaya. Pohon itu tampak sudah berusia tua. Mungkin lebih dari 100 tahun. Atau mungkin lebih dari itu?
Kulit batang pohon itu mengelupas. Ada beberapa bagian yang ditumbuhi dengan lumut. Membuat mereka semakin bergedik ngeri. Berharap tidak akan terjadi hal yang ada dalam benak mereka.
Ranting pohon-pohon besar itu lebar. Membentuk payung yang menutupi bagian di bawahnya. Membuat hutan semakin gelap karena cahaya matahari tak mampu menembus bagian dalam hutan.
“Lura,” cicit Penna. Suara perempuan itu mengandung ketakutan. “Kapan kita bisa keluar dari sini?” lirihnya.
‘Ya Allah.. Kami ada di mana ini? Kenapa hutannya semakin gelap dan menakutkan,’ batinnya.
Lura tak menanggapi. Laki-laki itu hanya mempererat pegangannya pada lengan Penna.
“Fokus pada simpul tangan kita saja. Kita saat ini harus segera lari dari semua ini. Jangan berpikir macam-macam dan meliarkan pandangan!!” tegas Lura.
Penna bandel. Perempuan itu mengabaikan perintah Lura. Ia meliarkan pandangannya dengan ekor mata, tidak berani bila harus mengakomodasikan matanya secara penuh.
Penna membalas genggaman Lura tak kalah erat saat bulu kuduknya meremang. Ia merasakan hawa dingin. Tak ada angin atau pun rintik hujan yang sedang turun. Sungguh ia takut.
Kini fokusnya hanya pada tautan tangan Lura yang memegang lengannya. Tangan Lura hangat. Membuatnya merasa nyaman dan terlindungi.
‘Pikiran!! Coba ya sekali-kali, kali ini saja bekerja dengan baik. Jangan berpikir macam-macam di kala kemelut hidup sedang menghadapimu. Aku takut bila aku tidak bisa selamat dari ini semua,’ rintih batinnya.
Lura masih terus berlari dengan genggaman tangannya yang tidak lepas sama sekali dari lengan Penna. Ia mengatur pikirannya agar ekor matanya tak memandang mana pun selain punggung Funa dan Bratra. Ia tidak ingin dikecohkan dengan ekor matanya yang bekerja tidak tepat waktu.
“Lura!!” Bratra memanggil kencang dan tinggi. Nada ketakutan dapat Lura dengar dari suara Bratra yang bergetar. Lura semakin mengencangkan langkah larinya. Membuat Penna hampir terjerambab karena dipaksa berlari dengan kemampuan di bawah batas tubuhnya.
“Lihat!!” cicit Bratra sembari mengedikkan dagunya.
Lura membelalak. Begitu pula dengan Penna dan Funa.
“Lari!!” teriak Lura kencang.
Mereka lalu berlari sekuat tenaga. Menghindari lumut yang tiba-tiba seperti terkena virus. Benar dugaan Lura bahwa lumut-lumut yang menempel di kulit batang pohon membludak dan tumbuh dengan cepat.
Lalu terlihat di hadapan mereka suatu hamparan kosong yang luas. Mereka segera berlari kembali sekuat tenaga. Memaksa kaki dan semua tubuh bergerak menjauh dari lumut yang membludak merajalela.
Kaki Lura rasanya hampir terlepas dari tempatnya. Begitu nyeri dan sakit. Ia seakan sedang mengikuti lomba lari marathon yang tidak juga mencapai garis finish. Sungguh melelahkan. Dan kesakitan itu baru terasa sekarang.
“Hah.. hah..” Napas terengah mereka saling bersahutan. Suara lari juga saling beriringan menapak bumi.
Blam.
Tiba-tiba tubuh mereka terdorong. Terlempar jauh.
“Aaaaaaa!!!” Suara teriakan mereka membahana. Tubuh mereka seakan sedang dilempar bagaikan sebuah batu di sungai. Luar biasa sakit.
Bruk.
Tidak terasa sakit. Namun kebingungan menyelimuti mereka.
“Ini di tanah lapang yang tadi?” gumam Lura setelah kesadaran dari rasa bingungnya kembali. Ia mengedarkan pandangannya. Dan terkejutlah ia ketika tidak melihat hutan tempat mereka berlari. Kosong. Hanya tanah kosong luas. Tidak ada hutan lebat. Hanyalah kekosongan sejauh mata memandang. Tidak terlihat apa pun selain tanah luas. Tanpa apa pun.
Tidak hanya Lura yang terkejut. Tiga rekannya pun sama.
“Kita di mana?” gumam Penna lirih.