Bab 1 Malapetaka

1481 Words
“Bagaimana bisa melupakan semuanya dengan begitu saja,” batinnya dengan tatapan kosong menatap ke arah bunga mawar yang bermekaran di depan sana. Suara-suara bising terdengar di telinganya, begitu banyak orang. Namun, yang ia rasakan hanya kesunyian, kesendirian, dicampakkan dari tempat yang seharusnya ‘rumah’ tempat berpulang. Namanya Luna Estell, anak yang tak diharapkan kehadirannya. Luna masih ingat perdebatan tempo hari, di mana Amala ibu tiri Luna meminta pelayan memindahkan semua barang yang berhubungan dengan Alya ibu kandung Luna. Termasuk foto yang terpajang indah di dinding rumah mereka. Amala juga mewanti mereka untuk tak membahas Alya, hal itu membuat Luna marah besar. Beraninya pelakor itu berkuasa di rumah peninggalan ibunya, rumah yang seharusnya menjadi milik Luna. “Apa mereka lupa, pengorbanan mama untuk keluarga ini,” batin Luna, menghapus air mata yang sempat menetes. Rasanya sangat sakit mengingat bagaimana Alya dihianati bahkan dibuang oleh suaminya sendiri. “Kakak kenapa?” Tiba-tiba saja terdengar suara anak kecil dari arah belakang, anak itu maju dengan tangan mungilnya mengenggam erat tangan Luna. Luna terenyuh dengan setuhan kecil yang tak pernah ia dapatkan dari keluarganya. Ia pun berbalik dan benar saja ada anak laki-laki menatapnya dengan tatapan lucu nan mengemaskan, senyuman polos tanpa beban. “Tidak apa-apa, kamu kenapa ke sini adek ganteng. Mana orangtuamu?” Luna melihat sekeliling tak melihat orangtua ataupun pengasuh yang bersama anak yang kira-kira berusia lima tahunan itu. Luna sedikit khawatir karena tak ada yang menjaga anak itu. “Keano hanya jalan-jalan, terus lihat kakak cantik di sini.” Anak kecil itu mengadah menatap Luna dengan tatapan lucu. Tanpa sadar lengkungan bibirnya tertarik ke atas, sejenak ia melupakan masalah yang sedang ia hadapi. Luna berjongkok mengsejajarkan diri untuk bisa berbicara dengan Keano, sepertinya ia tertarik dengan anak itu. Untuk pertama kalinya ia merasa tenang saat seseorang mengenggam tangannya, setelah sekian lama ia hidup sendiri dan melakukan semuanya sendiri. “Kamu pi-“ Belum sempat Luna berbicara, terdengar suara nyaring dari dalam rumah. Beberapa orang yang berada di sekitar taman bergegas masuk melihat apa yang terjadi. “Apa itu, ayo kita masuk,” ajak Luna dengan cepat mengendong Keano. Dengan wajah panik ia berlari kecil menuju ke arah sumber suara. Tak hanya Luna saja, beberapa orang juga ikut berlari ke arah sumber suara. Betapa kagetnya Luna melihat orangtuanya sedang adu pendapat disaksikan beberapa orang yang juga ikut hadir dalam acara akad kakak pertama Luna. Ya, di rumah mereka sedang dilaksanakan akad sebentar lagi, entah apa yang terjadi yang membuat orangtuanya berdebat sengit seperti itu. “Aku tidak tau kenapa anakmu bisa kabur,” ujar Amala masih tak ingin disalahkan. Sedangkan Rizky ayah Luna sedang menelpon orang-orang yang bisa membantunya menemukan Rena, kakak pertama Luna. “Apa ini, Kak rena kabur?” batin Luna masih mencerna keadaan, ia melihat sekeliling keluarga besarnya sedang panik dan saling menyalahkan satu sama lain terutama orangtuanya dan neneknya yang terlihat lebih panik. “Kami tidak mau tau, Rena harus ada di sini saat acara akad nanti,” ujar salah satu orang yang bisa Luna tebak adalah salah satu anggota keluarga pihak pengantin pria. Pria paruh baya itu terlihat marah dengan aksi kabur yang dilakukan Rena. “Benar sekali, Rena harus ada di sini. Keluarga kami tak ingin menanggung malu,” kata salah satu pria yang bisa Luna tebak adalah calon kakak iparnya. Terlihat pria itu memakai baju jas rapi dengan sepatu pantofel kentara sekali orang kaya dan berkelas. Wajahnya tegas dan datar di saat bersamaan, ditambah lagi suara dinginnya menambah aura berkelas dari seorang Arkan Mahesa. Ya namanya Arkan Mahesa, biasa dipanggil Arkan salah satu pewaris mahesa grup. Ia dikenal disiplin, otoriter dan sangat menjunjung tinggi kedipsilinan. Jika bekerja sama dengan Mahesa grup, maka tak sedikipun waktu yang akan terbuang. Ia sangat benci orang yang lelet. “Kita tak memiliki banyak waktu Rizki, kami ingin kalian bertanggung jawab atas masalah ini dan Rena harus ada di sini. Ini sudah menjadi kesepakatan kita bukan,” tegas Emely ibu Arkan, maju ke depan mendekat ke arah Amala yang sedang gelagapan. Emely tak main-main dengan ucapannya, ada konsekuensi yang akan ditanggung keluarga Rena jika melanggar perjanjian yang telah mereka buat. “Iya, Nak Arkan, Emely. Kami akan segera menemukan Rena,” jawab Amala berusaha menyakinkan Arkan dan keluarganya tak akan terjadi apa-apa dan Rena akan segera ditemukan Ijab kabul akan dilaksanakan sebagai mana mestinya. “Sudah kublang jangan lengah, Amala!” bentak Rizki dengan muka merah dan bersiap menampar Amala. Karena keteledoran Amala, Rena berhasil kabur. “Keluarga yang kacau,” celetuk Luna menatap sinis ke arah kedua orangtuanya yang sedang berdebat sengit. Suasana ruang tamu keluarga Estell tiba-tiba saja berubah tegang, yang awalnya penuh gelak tawa kini berubah mecekam seperkian detik. Perkataan Luna bagaikan petir di siang bolong yang menyambar keluarga Estell, berbahaya dan tak terduga. Bisa merusak reputasi yang telah dibangun keluarga Estell berahun-tahun lamanya. Tapi Luna tak peduli, ini yang ia inginkan kehancuran keluarganya sendiri terkhusus Amala. Amala yang mendengar celutukan itu mengepalkan tangan, membalas tatapan sinis itu dengan tatapan sinis pula. Bisa-bisanya anak durhaka seperti Luna berani berkata yang tidak-tidak. Tak hanya Amala saja, semua orang yang berada di sana melihat ke arah sumber suara. Kini Luna menjadi pusat perhatian. Perlahan Luna menurunkan Keano dari gendongannya, tak ingin anak itu mendengar perkataan kasar yang keluar dari mulutnya. “Anak ganteng, kamu kaluar dulu ya,” kata Luna tersenyum manis sebelum benar-benar membiarkan Keano pergi. Hal itu tak luput dari perhatian Arkan, pria itu sudah memperhatikan gerak gerik Luna dari mulai Luna datang apalagi ada Keano di gendongan Luna. “Keano? Sejak kapan anak itu bisa dekat dengan orang asing,” batin Arkan menaikkan sebelah alis bingung melihat interaksi Keano dan Luna yang terlihat sangat akrab. “Diam kamu Luna!” Kali ini bukan Amala yang menjawab tapi Violet adik tiri Luna. Sama halnya dengan Amala, ia juga ikut kesal Luna selalu saja menambah masalah dan bertentangan dengan mereka semua. “Sepertinya anda terlalu memaksa manjadi ibu yang baik, tapi apalah daya perebut tetaplah perebut,” tambah Luna sambil memainkan kuku-kukunya dengan anggun, berdiri dengan dress satin yang sangat pas di tubuhnya. Ia tak peduli dengan pandangan orang-orang yang sedang menatap ke arahnya. Ini kesempatan bagus bisa sedikit membalas perbuatan Amala ibu tirinya yang sangat kejam itu. “Luna! Cukup, ayah tak pernah mengajarkan kamu untuk meninggikan suara di depan orang tua!” bentak Rizki menatap tajam ke arah Luna. Perkataan Luna bisa saja merusak reputasi keluarga mereka yang telah mereka bangun selama ini. Benar kata Amala seharusnya Luna tak ikut hadir dalam acara akad Rena. “Ayah? Apa dia adik Rena?” batin Arkan yang sedari tadi menyimak perdebatan itu, ia cukup penasaran dengan perempuan yang mengendong Keano. Apalagi mendengar ucapan perempuan itu yang menurut Arkan sangat berani dan kasar? “Memanganya kenapa, apa yang salah. Aku benar bukan? Buktinya Kak Rena kabur,” Luna bekata dengan nada sinis. Ia berjalan angkuh mendekat ke arah Amala yang sedang menahan untuk tak menampar wajah Luna. Amala was-was takut Luna membeberkan statusnya sebagai ibu tiri bahkan pelakor di hadapan banyak orang. Luna sering sekali menantangnya bahkan melawannya, dengan terang-terangan menemaninya dengan lebel pelakor. Hal itu tak luput dari perhatian semua orang apalagi keluarga Arkan yang sedari tadi menyimak dan mendengarkan perdebatan mereka. “Siapa wanita ini, Amala?” tanya Emely ibu dari Arkan. Emely cukup penasaran dengan Luna yang tiba-tiba saja datang ikut campur masalah mereka. “Hah? Emely, kenalkan ini Luna adik dari Rena.” Amala dengan anggun menarik tangan Luna untuk bisa maju ke depan, mengenalkan Luna ke semua orang. Memang tak banyak yang mengenali Luna sebagai putri keluarga Estell. Luna jarang ikut acara keluarga, jarang berinteraksi dengan keluarganya maupun orang lain wajar saja tak ada yang mengenalnya. Emely memperhatikan penampilan Luna dari atas sampai bawah, matanya terus saja menilai Luna menatap gadis itu dengan intens. “Aku baru tau Rena memiliki adik lain selain Violet,” seloroh Emely sedikit kaget dengan kehadiran Luna di tengah-tengah mereka. Amala sedikit tenang, dengan kehadiran Luna emosi keluarga Arkan mereda. Yang tadinya terlihat marah, kini malah berbalik fokus ke Luna. Mereka semua cukup penasaran dengan gadis bar-bar seperti Luna. Setidaknya ia bersyukur untuk hal itu. “Tunggu … Luna?” Tiba-tiba saja Amala terpikir sesuatu yang mungkin bisa menyelesaikan masalah mereka, yang bisa membuat amarah keluarga Arkan mereda. “Bagaimana kalau Luna saja yang menikah dengan Arkan. Secara Luna juga adik kandung dari Rena itu sendiri, keturunan sah dari keluarga Estell,” tutur Amala dengan ide gilanya. Amala melirik ke samping menatap Luna dengan senyum bahagia seakan puas dengan perkataannya tadi. senyum seseorang yang baru saja menerima lontre ratusan juta. “Hah? Kenapa aku?” bantah Luna dengan kasar melepaskan tangan Amala dari lengannya. “Menarik,” batin Arkan menatap dalam ke arah perempuan yang sedari awal menarik perhatiannya. Perempuan yang sangat berani membantah orangtuanya, apalagi tadi ia sempat melihat Keano berada di gendongan Luna sesuatu yang sangat langka. Dua hal yang membuat Arkan tak bisa menolak Luna.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD