VISSA
Melewatkan makan malam begitu saja, aku masuk ke kamar. Aku meraih ponselku lalu menghubungi Kak Gara.
Sampai nada tunggu berakhir, panggilanku tak juga terjawab. Aku menarik nafas, membuka laptop lalu menyusun laporan untuk praktium biokimia yang belum sempat ku kerjakan.
Sedang asik mengerjakan, ponselku bunyi. Aku mengeceknya, ada 1 direct message masuk melalui i********:.
MalDewanata: Vissa?
Karena gak punya clue apa maksudnya Malik nge-DM jadilah aku membalas pesan tersebut.
VissaSambadha: Iya?
Kenapa Mal?
MalDewanata: Gakpapa.
Bagi nomor lo dong??
Si Jani pelit gak mau ngasih,
Kikir banget dah adek lo itu
Padahal kan ke temen sendiri
Aku tersenyum, ya, aku sama Jani emang sengaja untuk gak sembarangan kasih nomor ke orang, kudu dapet persetujuan dulu dari yang punya. Dan selama ini, Jani gak pernah bilang kalau Malik minta nomorku.
VissaSambadha: 0817×××××545
MalDewanata: Okay
Thank you Viss xx
Aku tersenyum menatap pesan terakhir Malik. Lalu meletakkan kembali ponsel dan mengerjakan lagi tugasku yang belum selesai.
"Kakak!" Terdengar suara Kama dari luar.
"Masuk Bang!" Seruku.
Tak berapa lama, Kama masuk ke kamarku dengan beberapa lembar kertas. Ketauan nih anak, pasti mau minta tolong.
"Kenapa Bang?" Tanyaku.
"Disuruh bikin peta konsep 3 materi Biologi Kak, pusing, bantuin dong?"
"Bentar yaa, Kakak ngerjain tugas dulu. 10 menit kelar." Kataku.
"Okay!"
Aku menoleh, Kama meletakkan tugasnya di lantai dan ia pun tidur-tiduran di lantai sambil main HP.
"Jani lagi ngapain Bang?" Tanyaku.
"Kak Jani? Lagi nemenin Papi main golf di belakang sama Kala."
"Gak ikutan?"
"Malesssshh!"
Aku berbalik lagi, menghadap laporanku, tinggal bikin kesimpulan dan menyantumkan semua sumber referensiku. Gak sampe sepuluh menit, tugasku selesai.
Aku menutup laptop, bangkit dari kursi dan duduk di lantai buat periksa tugasnya Kama.
"Bikin PR??" Aku dan Kama menoleh, Mami datang sambil tersenyum.
"Iya, Mi." Jawabku.
"Di luar aja yu, Mami sepi." Ajak Mami.
Aku mengangguk, menyuruh Kama membawa tugasnya ke luar.
"Oh iya Kak, tadi Gara ke sini cari kamu, bawa kue, pas Mami bilang kamu belum pulang, Gara balik lagi." Jelas Mami lalu mulai menyalakan TV untuk hiburan malam ini.
Aku mengangguk.
Mencoba sedikit mengabaikan Kak Gara, aku kembali membantu Kama membuat peta konsep, gampang emang bikin peta konsep, cuma yaa kalo 3 materi, ruwet juga.
Pukul sepuluh malam, tugasnya Kama selesai, aku pamit sama Papi, Mami, dan Jani yang masih nonton untuk tidur duluan.
Sebelum tidur, aku mengecek ponselku, ada satu chat wassap masuk, dari Kak Gara.
Kakak Gara:
No, besok free jam berapa?
Aku segera membalas chat yang dikirim 15 menit yang lalu itu
Me:
Sore Kak, jam 3an.
Kenapa?
Kakak Gara:
Mau ngomong penting
jam 4an ya?
Pandawa? Bisa?
Me:
Bisa Kak
Kakak Gara:
Oke!
Me:
Siap Kak!
Kemudian tak ada balasan lagi, aku mematikan ponselku, meletakkannya di meja, lalu mencoba tertidur dengan satu harapan: Besok aku ketemu Kak Gara!
●○●
"Nebeng mulu lo, Si. Bayarin bensin gue ya?" Oceh Jani saat pagi ini kami berangkat bersama.
"Iyaa entar gue kasih uang lima ratus." Kataku.
"Gitu doong!"
Aku hanya mengangguk, melanjutkan membaca buku yang minggu ini belum kuhabiskan. Targetnya besok beres, tapi tugas-tugas menahanku untuk jangan buka buku ini dulu.
"Gue balik jam 2an, tapi mau pergi, lo entar balik ama siapa?" Tanya Jani.
"Mau kemana?"
"Latihan band, nyanyi biasaaa!" Yaaa terberkatilah Delva Islanzadì Rinjani Sambadha karena memiliki suara yang merdu, sirik akuu, dia suaranya merdu banget, Raisa aja sirik pasti sama dia.
"Ohh oke deh, gampang bisa telfon Mas Yusuf kaloga pesen uber." Jawabku.
"Okeee, tapi kalo ada apa-apa telepon aja ya??"
"Sip!"
Tak lama, kami sampai, Jani menurunkanku di depan Department Kimia sebelum dia ngegas lagi untuk sampai ke Department Bisnis.
Seharian ini, aku semangat menyelesaikan jam-jam kuliahku. Gimana gak semangat?? Baliknya mau ketemu Kak Gara! Ya ampun Kak Garaaaaa!
Pukul 3 sore, aku keluar kelas, langsung pesen uber buat bawa aku ke Pandawa biar nanti gak telat, dan iyaa pake uber, jadi nanti pulangnya bisa sekalian sama Kak Gara.
Menghabiskan beberapa puluh menit di jalan, aku sampai, kuhubungi nomor Kak Gara, tapi gak diangkat.
Aku melepas sepatuku lalu menyusuri pantai ini, sudah sore dan masih ramai. Sekian meter berjalan di tepi pantai, aku memutuskan duduk di pasir. Memandang laut yang terbentang luas seperti tak berbatas.
Kucoba menelepon Kak Gara lagi, sama seperti tadi, tidak diangkat, jadi kuputuskan untuk menunggu dalam diam. Menikmati ombak yang sesekali menyentuh ujung jariku.
"Vissa??" Aku menoleh, itu bukan suara Kak Gara.
"Eh Malik? Ngapain?" Tanyaku kepada Malik sahabatnya Jani ini.
"Lari sore, lo ngapain?"
"Nunggu orang." Jawabku.
"Sendirian aja? Mau ditemenin gak?" Tawarnya ramah.
Yaah, daripada sendiri yaa?
"Boleh Mal!" Seruku.
Malik tersenyum, ia langsung duduk di sampingku, lalu melepas kausnya yang basah oleh keringat, dan terpampanglah badannya yang bagus itu. Meskipun Malik ini ukuran tubuhnya kecil.
"Nunggu siapa?" Tanyanya sambil meminum air yang ia bawa.
"Orang." Hanya itu jawabanku.
"Janjian di sini?? Jauh amat hahaha!"
Aku hanya mengangguk. Bingung mau ngomong apa, dia kan temennya Jani, bukan temenku. Jadi kami gak punya topik obrolan.
"Dari tadi di sini, Sa?" Tanyanya.
"Lumayan sihh." Aku melirik jam tanganku, sudah hampir pukul 5 sore. Kak Gara mana?
"Janjian sama temen jam berapa lo?" Tanyanya.
"Jam 4." Kataku.
Malik mengangguk, ia sudah sibuk mengipas dirinya sendiri dengan kaus yang ia lepas itu. Terlihat sebutir keringat mengalir dari d**a ke pusarnya. Sumpah, seksi!
Aku diam, Malik juga diam, sesekali dia bertanya dan kujawab apa adanya, lalu ia akhirnya memilih diam lagi. Menit-menit berlalu, aku mencoba menghubungi Kak Gara lagi, namun tetap tidak di jawab.
"Masih mau nunggu?" Tanyanya.
Aku mengangguk.
"Udah mau gelap loh ini." Ujar Malik.
"Gue tau kok, lo mau pulang Mal? Duluan aja."
"Haha engga, nemenin lo dulu aja. Kasian entar cewe cantik ngeri diculik." Jawabnya iseng, membuatku tertawa.
"Dengerin lagu ya? Biar gak sepi-sepi banget, gue punya lagu yang cocok nih buat cewe yang lagi nunggu." Kata Malik.
"Okee boleh."
Malik tersenyum, ia merogoh saku celananya lalu mengeluarkan ponsel, dan memutar sebuah lagu yang asing.
Di suasana seperti ini, cukup mudah untukku fokus terhadap lagu yang kata Malik cocok untukku. Intro lagunya lumayan enak, jadi aku diam dan mendengarkan liriknya.
"Ku pandangi sungai, seribu cahaya
Seraya menanti, hadirmu
Menyentuhku bersama kesedihanku
"Di manakah engkau? Tak seperti dulu
Kini kau tak di sampingku
Tak menemaniku
Aku menunggumu..."
Aku diam, ya tuhan, kenapa lirik lagunya bisa pas? Oke ganti sungai jadi laut, dan semuanya akan cocok untuk moment ini.
Aku menoleh, menatap Malik, ia tersenyum ketika pandangan kami beradu. Senyumnya manis, meneduhkan.
"Lagu siapa ini?" Tanyaku penasaran.
"Musikalisasi puisi, Mishbah." Jawabnya.
"Misbah kaya ceramah gitu?"
"Haha bisaa, Sa, bisaa!" Serunya sambil tertawa.
Aku tersenyum. Malik menghentikan tawanya, ia menatapku tajam, entah apa yang dipikirkannya, tapi aku ngerasa mau mati dengan tatapan setajam itu, jadi aku mengalihkan pandanganku dari matanya kembali ke laut.
"Pulang Sa, udah gelap. Entar lo dicari orang rumah." Katanya.
Entah kenapa, aku mengangguk.
"Bawa mobil?" Tanyanya, aku menggeleng.
"Yaudah ayok gue anter!" Ujarnya. Malik berdiri lalu mengulurkan tangannya untuk membantuku bangkit.
Aku tersenyum, menerima uluran tangan itu lalu berjalan bersisian bersama Malik menuju tempat ia memarkir mobilnya.
"Lo gak masuk angin?" Tanyaku saat Malik menyalakan AC mobilnya.
"Gak apa-apa, daripada entar lo kegerahan, kata Jani ko anaknya gak tahan gerah."
Aku menoleh kepadanya, ini Jani cerita apa aja sih? Kok Malik kaya beneran udah kenal aku gitu.
"Lo kenapa bisa deket banget sih sama Jani?" Tanyaku saat Malik menjalankan mobilnya ke arah Dûrgrimst.
"Emmm, dia tuh setia. Inget pas SMP? Bapak gue difitnah korupsi, semua aset atas nama bapak gue disita, saat itu semua temen gue pergi, cuma Jani yang stay, pas ekonomi keluarga gue lagi jatoh sampe makan aja gak ada, Jani rajin dateng ke rumah gue, rumah yang gak disita karena itu rumah atas nama nyokap dan warisan dari sebelum nikah, Jani dateng bawa buah udah kaya jenguk orang sakit, bawa roti, gak banyak emang, tapi itu berarti buat gue dan adek-adek gue. Nyokap gue aja sampe sayang banget sama Jani. Saat bokap gue terbukti gak bersalah, saat semua aset keluarga gue pulih lagi, semua temen-temen gue dateng, kaya ngasih kata-kata mutiara gitu, eneg gue dengernya. Tapi Jani kaga, dia malah ngehindar, pas gue tanya, dia cuma jawab 'gue takut dituduh penjilat kaya temen-temen lo yang lain' gue ketawa waktu itu dengernya, karena yaa gue tau Jani kaya apa. Dia bukan orang yang terlalu pentingin materi." Jelasnya.
Aku diam, gak pernah tau momen-momen itu, karena Jani emang selalu sibuk dengan teman-temannya, aku sibuk dengan buku dan satu orang yang sampai hari ini menyita semua perhatianku.
"Kenapa lo gak pacaran aja sama Jani?" Tanyaku.
"Woaaah!! Jani udah kaya adek gue. Dia keluarga buat gue."
Aku mengangguk. Jani dan Malik Dewanata emang punya kedekatan khusus di mataku, agak sirik karena aku gak punya sahabat satupun kaya Jani yang kenal banyak orang.
Orang-orang cenderung menghindariku. Entah alasan apa. Mangkanya aku lebih menutup diriku.
"Sampe nih!"
Aku melihat ke luar, Malik sudah mengantarkan aku ke rumah.
"Thanks ya Malik. Lo bikin waktu nunggu gue gak bosenin." Kataku.
"Yeah, anytime Sa. Meskipun yang lo tunggu gak dateng!"
Aku tersenyum, lalu pamit dan keluar dari mobil, melambaikan tangan kepada Malik sebelum ia pulang ke rumahnya sendiri. Kita nih tetanggaan, rumah Malik jarak 2 kilo lah dari rumahku.
Aku masuk ke rumah, langsung ke ruang makan, semua sudah berkumpul untuk makan malam, minus Jani dan Papi.
"Hallo!" Sapaku.
"Kakak ayo ikut! Papi nyuruh kita semua ke rumah Nini!" Ajak Mami, lalu Kama dan Kala mengangguk.
Aku bingun melihat tampang Mami yang panik. Kenapa nih??