12. Naik Gunung

2153 Words
VISSA "Dek, kamu kenapa sih? Kaya sensi banget sama Papi!" Ujar Papi ketika mengantar kami ke Bandara. "Harusnya Jani tuh naik kapal ferry, Pi! Barengan sama anak-anak, terus lanjut naik kereta!" Seru Jani kesal. "Yaudah sih, kan Papi mempersingkat waktu! Lebih cepet naik pesawat. Kasian nanti Vissa mabuk laut kalo naik kapal feri." Ujar Papi. Aku mengangguk mendukung Papi. "Iyalah udah Jan. Kan yang penting jadi berangkat." Timpal Malik. Jani hanya mengangguk sementara aku diam di samping Papi. Bingung mau komentar apa, aku sih ngerasanya Jani masih kesel karena aku ikut, dan sepertinya Malik ikut karena Jani yang nyuruh Malik untuk jagain aku. Segitu keselnya Jani sama aku. Tapi gak apa, aku mau nyobain sesuatu hal yang baru. Aku ingin mencoba segalanya untuk menyenangkan diriku, dan tentu saja melupakan Kak Gara. ***** Kami kumpul di sebuah stasiun, aku gak tau nama stasiunnya apa, aku cuma ngintilin Jani, dan kali ini aku sama Malik lagi di kedai kopi sementara Jani menunggu teman-temannya yang belum datang. "Ini pertama kali juga Mal?" Tanyaku. "Iya, kenapa gitu?" "Gak apa, jadi ada temennya aku." Malik tersenyum manis dan mengangguk. Tak lama, Jani kembali, ia terlihat kesal. Diambilnya kopi milik Malik lalu ia menyesapnya. Aku heran, kok Jani gak jijik minum dari satu sedotan yang sama dengan orang lain? Cowok pula. "Mana Jan?" "Belum, gak tau nih si Indra juga belum bales chat gue." Aku mengangguk lalu Jani beralih ke konter minuman untuk memesan. "Jani masih kesel ya?" Tanyaku. "Hah? Kesel kenapa? Dia nyantai kok." "Kaya gak seneng gitu aku ikut." "Bukan gitu, dia cuma males kalo harus nunggu lama-lama. Kaya gak tau Jani aja." Jelas Malik. Aku mengangguk mengerti. Jani kembali dengan satu cup cotton candy di lengannya lalu ia duduk di samping Malik. "Emang kalo naik ferry, kenapa harus naik kereta lagi?" Tanya Malik. "Nyeberang dari Bali kan nyampenya di Banyuwangi. Ya mereka dari sana ke Malang pake kereta, kita deh nunggu di sini." Jelas Jani. Aku mengangguk mengerti. Dan, sepertinya seru nyeberang keluar Bali pakai transportasi lain selai pesawat. Aku belum pernah naik kapal ferry, apalagi kereta. "Jan, kalo mau pulangnya kita gak usah naik pesawat. Bareng temen-temenmu aja." Kataku. "Dikulitin idup-idup gue sama Papi!" "Jann!" Ujar Malik dengan nada menegur. "Apa??" "Nada suaranya biasa aja." "Nada suara gue emang gini!" "Yaudahlah!" "Seriusan, Jan. Aku mau kok naik kereta, naik ferry, gak bakal mabuk laut, janji." Kataku. "Gak ah! Papi udah beliin tiket pulang-pergi. Mau diangusin aja gitu? Sayang." "Cuma sekian juta, gak ada apa-apanya dibanding pengalaman naik kereta dan naik ferry." "Yaudah iya! Tapi lo yang jelasin ke Papi kenapa kita pulang gak sesuai jadwal pesawat." Ujar Jani. "Oke!" Jani nyengir, ia langsung menyesap minumannya. Aku senang kalau Jani seperti itu, bukannya memasang tampang kesal akan sesuatu yang tidak aku ketahui. **** Kami naik jeep, kata Jani sih ini transportasi khusus untuk sampai pos registrasi. Selama perjalanan, aku mulai merasa dingin, kukenakan jaket yang baru dua hari lalu dibelikan Jani untukku. Malik membantuku memakai jaket ini. Tak lupa aku mengucapkan terima kasih kepadanya. "Kita di mana Jan?" Tanya Malik saat kami berhenti. "Pos izin Ranupane." Jawab Malik Nazalindra, oke dia minta kami panggil Indra. "Yuk Viss!" Jani membantuku turun dari jeep, entah kenapa suasana hatinya terasa membaik. Mungkin karena ia sudah bertemu teman-temannya. Oh iya, rombongan kami berjumlah 10 orang, jadi temennya Jani ada 6, plus Indra, aku dan Malik, dan tentu saja Jani, jadi ada 10 orang. "Ini ngapain gak langsung nanjak?" Tanyaku ke Jani. "Ini pos izin, jadi kita ngurus perizinan terakhir, kalo mau makan ya makan siang, gak tau lagi, kan aku juga baru pertama ke sini. Kayanya sih nanti di-briefing deh, ada cek kesehatan juga kayanya." "Okay!" Jani mengurus semua perizinan untukku dan Malik, bersama dua orang perwakilan rombongan. Lalu, setelah semuanya beres ia memanggil kami semua, buat diabsen katanya. Seperti yang dikatakan Jani, ada tes kesehatan. Tapi cuma timbang berat badan, cek pernapasan dan tentu saja tensi darah. "Pak saya mau pake timbangan itu dong, kan kapasitasnya sampe 100kg, saya gak lebih dari segitu." Indra tiba-tiba menunjuk timbangan untuk barang. Membuat bapak yang memeriksa berat badan kami geleng-geleng kepala. "Yaudah, pelan-pelan, awas jatoh!" Ujar si bapak petugas sambil sedikit tertawa. Kami semua tertawa saat melihat Indra yang pelan-pelan naik ke timbangan barang, dia duduk bersila di atas timbangan itu dengan sempurna. "Liatin ya Pak, saya gak bisa liat." Ujar Indra. "69 berat badan kamu." "Waah angka yang cantik sekali!" Sahutnya, kami semua yang menonton langsung tertawa. "Bentar ya Mas, saya foto dulu boleh??" Kata Pak petugas. "Boleh, tapi saya pose dulu ya biar kaya dewa-dewa!" Diam-diam, aku mengambil ponselku, membuka kamera dan mengabadikan foto Indra yang lagi naik timbangan barang ini. "Viss, ayok giliran kamu tuh!" Malik menepuk bahuku. Aku langsung mengantongkan ponselku lagi lalu maju untuk diperiksa juga. Selesai memenuhi semua persyarata mendaki, Kang Cepi, ketua rombongan kami mengajak kami semua makan siang. Sambil makan, kami mendengar briefing dari salah satu guide yang akan menemani kami mendaki. "Jadi total 3 hari nih yaa?" Tanyaku. "Bakal jadi 4 hari 3 malam terbaik di hidup lo, percaya deeh!" Sahut Indra. Aku tersenyum mengangguk mendengarnya. Setelah makan siang, aku melihat jam tanganku, pukul 14.00 waktu Indonesia Bagian Barat, kami mulai melakukan perjalanan. Jani membawa tas yang besar sekali sementara aku hanya membawa tas kecil yang isinya kotak P3K dan kamera. "Isi, kalo capek bilang ya!" Ujar Jani. Aku tersenyum, sudah jarang sekali Jani memanggilku dengan panggilan Isi. "Gampang!" Kataku. Aku harus menyesuaikan diri bersama orang-orang yang pergi bersamaku, aku gak boleh lemah. Kalau capek, ya harus aku tahan-tahan aja! Ya, harus. Sudah satu jam kami berjalan, ditemani dengan pemandangan yang indah. Tapi tetep aja, kakiku capek. Aku sempat duduk di sebuah batu, lalu Malik menghampiriku. "Capek Viss?" "Banget, kok gak sampe-sampe yaa?" "Ini baru seperempat perjalanan, tadi aku nanya sama Kang Cepi." "Hahh?" "Ayok ah semangat! Apa mau aku gendong?" "Hah? Gak usah Mal, bantuin bangun doong!" Aku mengulurkan tangan, Malik menariku berdiri lalu kami sedikit berlari mengejar rombongan yang sudah berjarak 30 kaki jauhnya. "Udah, kita jalannya nyantai kok. Semangat ya Viss, kamu kuat kok! Masa kembarannya Jani gak kuat?" "Iya, Mal." Aku memandang ke depan, melihat Jani mengobrol sambil berjalan sama temannya, lupa aku namanya siapa, kalo gak salah sih namanya Genta. "Jani temennya banyak yaa!" Seruku. "Iya, dia kan main sama siapa aja, nongkrong di warteg juga dia mah jadi." "Aku heran, maksudnya lingkungan kita kan gak kaya gini Mal, tapi dia bisa dapet temen dari berbagai kalangan. Kalo aku minta anter kemana gitu sama dia, ada aja orang yang nyapa dia dan dia kenal." "Karena kamu pilih-pilih temen, Jani engga. Dia ditegur orang walaupun gak kenal pasti disapa balik, baik. Kamu kan kalo ditegur orang asing, judes." Ujar Malik dengan nada meledek. "Keliatan ya?" "Ya gitu deh. Temen kamu siapa dulu, yang pindah ke Rusia?" Tanya Malik. "Giana." "Nah, setelah Giana pindah kan kamu gak nyari temen baru, sendirian aja di perpustakaan. Sama Jani diajak makan bareng di kantin, kamu gak mau." Aku mengangguk. Sepertinya aku sudah menyianyiakan masa mudaku dengan menyendiri memikirkan Kak Gara. Sekarang, waktunya aku mengenal dunia. Akhirnya kami istirahat, kami sudah berjalan entah berapa lama, kakiku mau lepas rasanya. Aku duduk di samping Malik, sementara Jani di sampingku yang lain. "Kuat kan?" Tanya Jani. "Kuat, Jan!" "Good! Nih!" Jani memberikan aku cemilan rendah kalori aku langsung memakannya. Setelah cemilan singkat sambil ngobrol-ngobrol, kami melanjutkan perjalanan lagi. Semua otot kakiku tegang, aku capek, pengin pingsan aja, tapi gak mau bikin Jani susah. "Nih, pegang ini." Jani memberikan aku ranting pohon yang lumayan kokoh untuk kujadikan tongkat. Meskipun kaya nenek-nenek, aku tetap menerimanya. Lumayan buat pegangan. Track-ya udah lumayan susah soalnya. Pukul 8 malam di jam tanganku, artinya pukul 7 malam waktu setempat, kami sampai di sebuah tempat yang sangat indah meskipun ini sudah gelap. Ada tenda-tenda yang terpasang di pinggir danau ini. Keren banget, danau ini berada di bawah sebuah lembah, jadi kami seperti terlindungi oleh bukit-bukit kecil yang ada di sekelilingnya. "Nama tempat ini apa Jan?" Aku menghampiri Jani yang sedang membantu temannya memasang tenda. "Ranu Kumbolo, Mbak. Kita nginep di sini semalem, besok baru lanjut lagi ke Oro-oro Ombo, baru deh nge-camp di Kalimati." Jawab Kang Cepi. "Udah Kak, bantuin yang lagi pada masak, gih!" Ujar Jani. Aku mengangguk lalu menghampiri Indra yang gabung sama kelompok yang sedang memasak. "Sini Viss! Bantuin aduk bisa?" Ujar Indra. "Apaan nih?" Tanyaku. "Kacang ijo." Aku mengangguk lalu mengambil centong kayu yang diberikan Indra, kemudian mulai mengaduk bubur kacang hijau yang sedang ia buat. "Laper." Kataku. "Mau makan roti? Gue ada roti tuh kalau lo udah kelaperan." "Eh engga, nanti aja." "Okedeeh!" Aku kembali mengaduk, sesekali aku mencuri pandang ke Indra yang sedang memotong-motong wortel, entah apa yang mau dimasak olehnya, tapi ia terlihat lihai melakukan itu semua. Setelah masak dan makan malam, Jani menyuruhku masuk ke tenda berwarna kuning, katanya nanti dia akan menyusul, berhubung aku sudah lelah, jadilah aku menurut, Jani ikut mengantarku masuk tenda. Membantuku mengeluarkan sleeping bag, dan lain sebagainya. "Dingin gak?" Tanya Jani. "Engga kok, enak dinginnya." "Dingin itu enak, kedinginan engga, kalo kedinginan bilang, aku ngecek kamu sejam sekali nanti, Isi. Tidur aja, kamu capek." "Makasih dek, udah mau ajak aku ke sini." "My pleasure." Jawabnya sambil mengangguk, senyum manis mengembang di pipinya, dan entah kenapa, aku mendadak merasa hangat. **** Entah pukul berapa, Jani rusuh membangunkanku. Katanya ia tak ingin aku melewatkan menyaksikan matahari terbit di tempat ini. Dengan wajah dan rambut yang masih berantakan, aku keluar tenda dan... wow! Semesta menyajikan pemandangan terbaiknya pagi ini, and I wish my eyes could takes photo. Aku tersenyum saat matahari yang mengintip dari balik bukit-bukit perlahan-lahan naik meninggi. Sinarnya terasa hangat di kulitku. Di Bali, sinar matahari terasa menyenangkan, tapi di sini, sejuta kali lebih menyenangkan. Memang ya, yang indah-indah, yang enak-enak, didapetinnya pake perjuangan. *** "Kalau gak kuat, yaudah, gak apa Kak. Kamu gak harus buktiin apapun kesiapapun dalam hal ini. Kamu nunggu di tenda pun kamu udah terbaik karena bisa nanjak sejauh ini." Ujar Jani. Kami ada di camp Kalimati, Jani dan teman-temannya bersiap untuk naik ke puncak. Ini sudah pukul 11 malam waktu setempat, setelah istirahat sepanjang sore sampai malam, akhirnya mereka memutuskan naik saat ini. "Aku balik lagi ke sini, Kak. Aku gak bawa apa-apa, cuma kamera doang, oke?" Ujar Jani. "Aku mau sampe puncak Jan." "Yaudah, tapi jalanannya terjal, batu-batuan, udah gak ada vegetasi apa-apa buat kamu pegangan Kak, bener mau? Aku sih kalau kamu mau ya aku temenin nanti." Aku diam. Mendengar penjelasan Jani, rasanya aku tak ingin menyusahkannya lebih jauh lagi. "Yaudah, aku tunggu di sini aja." "Aku minta Malik temenin kamu ya, Kak?" Aku mengangguk, "Tapi, kamu harus ajak aku naik gunung lagi, dan harus sampai puncak!" "Oke siap! Kita ke Prau, atau ke Papandayan, atau Rinjani!" Ujar Jani bersemangat. "Oke, dek!" Jani mengangguk, ia keluar dari tenda lalu tak lama aku menyusulnya yang ternyata sedang mengobrol bersama Malik. Kuhampiri ia, lalu Malik dengan semangat menyuruhku duduk di sampingnya. "Udah di sini juga bagus, kita liat bintang." Kata Malik, aku mengangguk lalu mengadah ke arah langit, dia benar. Banyak bintang bertaburan di atas sana. "Kak, aku berangkat. Kamu hati-hati sama Malik. Tidur di tenda Malik aja, tadi aku udah bilang, aku pulangnya besok sekitar jam 8-an kayanya, oke? Entar aku pulang bawa foto yang bagus-bagus." "Iya Dek, kamu yang hati-hati, ya? Yang penting pulang selamet." Kataku. Jani mengangguk, ia mencium pipiku dan pipi Malik bergantian sebelum akhirnya ia bergabung dengan Indra dan teman-temannya yang lain sementara kami menjaga tenda. "Itu anak semangat banget yaa? Tumben aku dicium." Ujar Malik. "Lagi seneng dia. Jani tuh dari kecil pengin banget keliling dunia. Waktu belum sekolah kan Papi sama Mami sering ngajak kita jalan-jalan keluar negeri berempat, waktu Kama sama Kala belum lahir. Sayangnya jalan-jalan itu kami belum inget jelas kenangan-kenangannya. Nah, Jani pengin mengulang semuanya selama masa liburan kuliah, karena kalau udah lulus, pasti dia akan sibuk." "Yaa, aku paham ko Viss, Jani dan mimpi-mimpinya menjelajah dunia. Kamu gak mau ikut dia tuh?" "Pengin, tapi Jani tuh gak suka diganggu." "Ganggu aja, Jani orangnya walaupun suka ngomel, tapi dia menerima keadaan lebih cepat dari kecepatan cahaya." Ujar Malik. Aku tertawa. "Viss, kalo mau tidur masuk tenda aja." "Tadi siang kan aku sempet tidur, belum ngantuk." "Tidur-tiduran di matras ini mau gak?" Tawar Malik. Tanpa menjawab, aku langsung merebah. Malik juga ikut di merebahkan dirinya di sebelahku. Kami berdua memandang bintang yang bertaburan di atas sana. Aku menikmati keheningan ini, hanya ada suara beberapa binatang malam yang terdengar. "Kita nunggu Jani aja ya??" "Mal?" "Ya?" "Makasih selalu mau nemenin aku menunggu, you make the waiting feels shorter." "Anytime, Louvissa." Ujar Malik. Kulihat, Malik mengeluarkan ponselnya, seperti biasa ia meminta izin untuk memutar musik. Meskipun aku suka keheningan ini, tapi aku tak menolak permintaan Malik, lagu-lagu pilihannya enak. Kali ini jatuh pada lagu milik Jari-jari. Ini tentang kita yang pernah menginjakan kaki di ketinggian indah malam Ini tentang aku, tentang kamu, tentang kita berdua.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD