Salju

1223 Words
Satu tahun kemudian….. Pagi itu salju mulai turun di depan rumah seorang gadis berambut ikal dengan poni yang menghiasi wajahnya. Matanya menatap sebuah jendela kaca besar di dalam kamarnya. Perlahan membukanya dan mengeluarkan tangan kanannya keluar jendela sembari berusaha menggapai salju yang indah itu. Gadis itu tersenyum gembira sambil memainkan salju yang turun. Ia adalah Kim Yuna. Ia lahir di Daegu, Korea. Keluarganya memiliki kekayaan yang lumayan banyak. Karena ayahnya memiliki sebuah bisnis kuliner di Gangnam. Namun akhir-akhir ini bisnis ayahnya tidak berjalan dengan lancar. Akhirnya pendapatan keluarga Yuna pun mulai menurun dan sekarang mereka hidup dengan sederhana. Sang ayah mulai mengelola bisnis kecil-kecilan toko kue di depan rumahnya. Appa Yuna memang jago memasak, ia di kandidatkan sebagai chef di rumah keluarga Yuna. Sementara sang eomma melakukan pekerjaan rumah tangga. Yuna juga memiliki kakak yang sedikit menyebalkan ia kelas 3 SMA satu sekolah dengan Yuna dan hanya beda 1 tahun. Walau begitu hubungan mereka seperti anjing dan kucing yang hobinya bertengkar. Yuna sangat menyukai Idol, terutama G-Force. Biasnya adalah Seo Taejun yang super duper tampan yang sering melemahkan hati wanita. Setiap G-Force comeback ia pasti akan berusaha untuk mendapatkan album dan menonton konser mereka. Tapi kali ini karena hidupnya sederhana dan tidak semudah dulu, ia harus banting tulang untuk membeli berbagai merchandise kpop dan juga tiket konser yang tentu saja tidak murah. Eomma selalu memarahi Yuna tiap kali Yuna menonton kpop dan hanya menikmati rebahan di ranjang sambil memakan cemilan, seperti tidak punya beban hidup. "Yuuunaaaaaaa, kerjaanmu hanya seperti ini setiap libur sekolah, bukannya bantu appa mu di toko, malah asik nonton beginian yang jelas engga berguna" Omel Eomma gregetan. Yuna hanya nyengir ketakutan. "Eo-mma, maafin Yuna, tapi eomma bisa geser dikit ga? Yuna gabisa liat bias Yuna di tv" celetuk Yuna menunjuk Tv yang telah di halangi oleh badan eommanya. Eomma tampak sangat emosi setiap lihat Yuna yang seperti tidak punya masa depan. "Dasar anak nakal, jangan harap eomma bakal ngebiarin kamu membeli lagi barang-barang kpop itu" eomma menunjuk merchandise yang Yuna pajang di dinding kamar. "Harusnya kau lebih rajin belajar, jangan mengikuti jejak oppa mu yang malas itu." jelas eomma sambil berjalan keluar kamar. Eomma sangat gregetan melihat kelakuan Yuna yang hanya rebahan. Yuna terdiam kaku menatap kepergian eommanya yang memarahinya dengan mengerikan. Seperti itulah kehidupan keluarga Yuna, namun Yuna tetap menyayangi keluarganya mau semengerikan apapun, keluarga tetaplah keluarga. 'Besok udah masuk sekolah lagi' batinnya sedih. Padahal ia masih mau libur dan rebah-rebahan dikamar sambil menonton drama korea kesukaannya. Tak lama Yohan masuk ke kamar Yuna dan berbaring di ranjangnya sambil terus berkutat memainkan game di ponselnya. Yuna sedikit kesal melihat kelakukan oppa nya yang masuk tanpa izin. "Heyyyy...." teriak Yuna memukul oppa nya dengan bantal. Yohan menatap Yuna sinis. “Wae?” tanyanya menyenggol bahu Yuna. "Kenapa kau dikamarku? kau kan punya kamar sendiri, pergi sana." usir Yuna mendorong oppanya sambil cemberut. "Kau menganggu waktu santaiku tahu." teriak Yuna. Ia sangat kesal dengan tingkah random oppa nya itu yang terus menganggu waktu liburnya. Seperti waktu itu ketika sedang jalan bareng keluarga, mereka mengunjungi sebuah toko pakaian, disitu Yohan mengusili Yuna dengan mendorongnya kearah seorang laki-laki muda yang tengah memilih pakaian. Yuna yang tidak siap dengan keadaan itu menjadi terdorong dan kehilangan keseimbangan. Alhasil Yuna menabrak laki-laki itu sampai mereka berdua terjatuh, ia tampak sangat malu, rasanya ia ingin membuang muka jauh-jauh dari laki-laki itu. Ia menundukkan kepalanya dan meminta maaf atas perilaku yang bukan perbuatannya. Untungnya laki-laki itu tidak banyak berdebat dengannya, ia hanya berkata "Lain kali lihat-lihat kalau jalan, kau kan punya mata kan?" ucap lak-laki itu dengan nada dingin. sampai detik ini pun ia tidak bisa melupakan moment memalukan itu, bahkan ia masih kesal dengan oppanya. Yuna sudah bertekad kalau keluarganya mengajak jalan lagi, ia merasa lebih baik jaga rumah atau pergi bersama teman daripada harus berurusan dengan oppanya yang paling menyebalkan. Yuna pun akhirnya mengabaikan Yohan karena sudah capek berdebat dengannya. Ia kembali menatap salju yang baru saja turun di jendela kamarnya. "Oppa, ini beneran salju?" Tanya Yuna meyakinkan kakaknya yang bernama Kim Yohan yang masih sibuk bermain game di kamar Yuna. Walau ia sebal dengan oppa nya, tapi tetap saja ia adalah seorang kakak baginya, sejujurnya Yuna tidak suka jika kamarnya dipakai oppa nya yang suka numpang ngegame. Padahal Yuna selalu menyuruhnya untuk memainkan gamenya dikamarnya, tapi oppa tidak pernah mau, ia ingin mengganggu ketenangan adiknya itu. Cukup menyebalkan memang. "Apa kau bilang?" Tanya oppa tidak mendengarkan karena sibuk berkutat pada gamenya. Yuna mendesah. “Enggak jadi" jawab Yuna malas. Yuna berjalan menuju tempat tidurnya dan membuka ponselnya. 'Hari ini ada info apa ya' batinnya menerka-nerka. "Oh My God" Yuna loncat dari tempat tidurnya membuat Oppa terkejut. "Heyy, ada apa sih?" tanyanya kesal karena menganggu ketenangannya bermain. "Oppa oppa" teriak Yuna masih lompat diatas ranjangnya. "Apaan" Tanya oppa kesal. "Lihat dehh" pinta Yuna menunjukkan ponselnya. "Apaan sih?" Tanya oppa lagi. "G-Force bakal mengeluarkan album baru, Huuaaaaaaaa senang banget, aku harus beli pokoknya" jelas Yuna bertekad sembari mengangkat tangan kanannya keatas. "Sepertinya aku harus mencari part time untuk membeli album G-Force" ucap Yuna masih menatap ponselnya. "Halah kirain apaan, Kpop mulu pikiranmu." "Kau pikir mudah mencari part time, apa lagi kau masih SMA. Fokus belajar saja sana" terang Yohan mengingatkan. "Ihh...terserah padaku dong, kenapa oppa yang repot" jelas Yuna memandang sinis Yohan. "Sudah sana ke mini market belikan aku cola, bir dan ramen" suruh Kim Yohan selaku oppanya. Yohan emang selalu ngerjain Yuna dan nyuruh Yuna untuk membelikannya sesuatu. Tapi Yuna pasti selalu minta imbalan dari Yohan karena dirinya tidak mau rugi juga. Yuna terbelalak kaget. "Bir? Seriusan mau minum itu? kalo eomma tahu bisa habis kau." ucap Yuna meninggikan suaranya. Yohan segera menutup mulut Yuna dengan tangannya. "Heyy...jangan kencang-kencang ngomongnya, kalo eomma dengar gimana?" balas Yohan sembari menengok pintu kamar waspada takut ada yang membuka. Yuna menepis tangan Yohan. "Santai aja kali, eomma juga paling di dapur engga akan dengar. Yauda mana sini uangnya, tapi aku punya permintaan, oppa please jangan kasih tau eomma ya, aku akan mengumpulkan uang buat beli album G-Force. Kumohon" pinta Yuna memelas sembari mengusap-usap kedua tangannya. "Engga, lagi pula kerjaanmu cuma nontonin kpop mulu yang jelas-jelas ga berguna," bantah oppa. "Heyy" teriaknya. "Oppa menyebalkan, apa aku harus kasih tau eomma kalau oppa udah punya pacar?" ancam Yuna menatap oppanya sambil tersenyum misterius. "Kau pasti habis kalau ketauan." ancam Yuna lagi tersenyum nakal. Yohan langsung melepas gamenya. "Tau dari mana kau?" tanya Yohan kaget. Pasalnya ia tidak pernah memberitahu Yuna soal pacar barunya itu. Yuna tersenyum meledek. "Tentu saja tau, aku kan pakar informasi. Siapa dia? Cantik ga? Lebih cantik dari aku?" todor Yuna menyikut lengan Yohan. "Kepo banget, yang jelas cantikan dia daripada kau" Yohan menaikkan satu alisnya. Yuna mengernyitkan dahinya. "Yaudah sana buruan ke mini market belikan pesananku, aku tidak akan memberitahu eomma" luluh oppa. "Soal apa?" tanya Yuna lagi. Yohan menatap Yuna kesal. "Tentu saja perkpopan mu" balasnya ketus sembari menyuruh Yuna keluar. Yuna tersenyum simpul. "Oppa baik sekali. Akan aku belikan pesananmu tuan raja" jelas Yuna menggoda. Yohan hanya mengernyitkan dahinya. 'Dasar bocah licik' batinnya. Yuna membuka pintu gerbang dan bergegas menuju minimarket terdekat. Salju yang turun cukup lebat membuat Yuna kedinginan. Namun hatinya sangat senang bisa membujuk oppanya dengan kekuatan rayuannya. 'Yeyyy, sepertinya aku harus bekerja paruh waktu untuk mendapatkan uang, tapi dimana aku harus bekerja? Aku saja belum pernah membuat surat lamaran pekerjaan.' batin Yuna menerka-nerka.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD