Wanita bersurai merah gemilang itu berjalan dengan angkuh tanpa menghilangkan keanggunannya. Ia menelusuri sebuah lorong kosong yang hanya terdiri dari empat pintu. Tidak ada dayang-dayang maupun para pengurus istana yang terlihat di sekitar sana, karena memang hanya orang-orang tertentu saja yang bisa mengunjungi lorong tersebut. Lorong untuk keluarga bermarga Hector. Derap langkahnya terdengar berirama, namun tetap tegas. Ketika ia sampai di depan pintu pertama, Ratu Cassiopeia menghela napas sesaat sampai dirinya tidak sadar bahwa kedua netranya terpejam. Tangan kanan wanita itu yang membentuk kepalan mulai terangkat ke udara, dua senti di depan lapisan permukaan pintu berornamen klasik tersebut. Keputusannya sudah bulat. Ia tidak dapat lagi menahan semua yang telah ditang

