Mendapati fakta tentang sikap Debora begitu mengesalkan membuat Adrian harus menahan diri untuk tidak begitu marah, ada perasaan cemburu, dan tidak terima ketika wanita itu menempel layaknya prangko pada Anggara Oktavano. Sementara pemuda tampan tersebut, tanpa perasaan berdosa menanggapinya. Bersikap seolah perlakuan dia merupakan hal benar, bukan suatu sikap terlarang. Gara .membalas dengan santai teguran yang ia berikan, berdebat ringan disertai senyuman. Kemudian, berkata lembut pada Debora seolah dirinya paling berhak atas wanita itu. Hal yang semakin meyakinkan bahwa pria itu memang bukan sosok yang dikenal sebagai Anggara, melainkan kembarannya. “Debora, kembalilah pada suami tercintamu. Kita akan bermain lagi nanti, saat aku tak sibuk.” Begitulah dia mengembalikan sang istri yang

