Dua pria berjas lengkap memasuki satu ruangan, tempat kerja yang cukup luas. Pintu terkunci rapat, mereka memilih duduk di sofa abu-abu. Menghindari jarak dengan pintu. Jev Indra memperhatikan gelagat Iqtibar Maulana, pria itu lebih terlihat serius mengusap layar ponsel. Memeriksa beberapa pesan masuk. Tampak ada kendala serius, keduanya sampai butuh waktu serta ruang khusus. “Jadi, polisi muda itu serius dengan tugasnya?” tanya Jev pada Tibar yang hanya melirik sekilas, tetapi memilih membalas pesan sebelum menimpali sang sahabat. Tak hanya Jev Indra, dia pun merasa jika Adrian terlalu jauh mencampuri urusan mereka. Mengirim para pengintai hanya semakin menyulitkan, kenapa polisi harus berkeliaran di sekitar? Ruang gerak menjadi begitu terbatas. “Sudah saatnya kita melibatkan Afriz, d

