Mahesa menghentikan mobilnya tepat di depan sebuah minimarket. Ia membuka jendela mobilnya dan menatap seorang gadis yang barus aja keluar dari minimarket.
"Ciara." Ia sedikit berteriak dan gadis itu terkejut melihatnya.
"Mahesa."
"Habis belanja?" tanyanya saat melihat Ciara tengah membawa tiga kantung plastik ukuran besar di tangan kanan dan kirinya. Tidak mengangguk, Ciara hanya tersenyum kecil. Mahesa keluar dari mobil dan mendekat.
"Mau balik? Gue antar yuk." tawar Mahesa. Tapi Ciara langsung menggeleng pelan.
"Nggak usah. Gue belum mau pulang kok. Gue mau ke tempat lain dulu." Kata Ciara. Ia melihat Mahesa yang sudah melepaskan seragamnya dan menggantinya dengan sepotong kaus warna hitam sedangkan bawahannya masih celana abu- abu.
"Yaudah, gue antar aja. Kasihan lo bawa tentengan banyak gitu." Tanpa aba- aba apapun, ia mengambil alih plastik- plastik itu dari tangan Ciara dan memasukkannya ke bagasi lalu membuka pintu penumpang depan. Ciara masih diam saat suara Mahesa menyentaknya. Ragu, ia masuk ke mobil dan Mahesa menyusup di balik kemudi.
"Lo baru balik?" tanya Ciara. Mahesa mengangguk.
"Habis latihan basket." Jawabnya. Ciara tidak memberitahu alamat tujuannya, ia hanya memberitahu arahnya. Selama perjalanan mereka hanya diam. Suara alunan musik menggema saat Mahesa menyadari suasana terlalu hening.
"Pertigaan depan, belok kiri." Kata Ciara. Mahesa mengangguk mengikuti perintah.
"Lo belum pulang ke rumah? Udah jam segini." Mahesa melihat Ciara yang masih beseragam dan ransel mengantung di punggungnya. Ia melirik jam tangannya. Sudah lewat dari jam lima sore.
"Iya, tadi ada perlu dulu." Jawabnya.
Ciara menyuruhnya berhenti di sebuah rumah dengan gerbang putih. Di halaman depan ada taman yang cukup luas. Tapi bukan itu yang membuat Mahesa terpaku beberapa detik. Sebuah plang di depan itu tertulis dengan nyata. "PANTI ASUHAN KASIH BUNDA"
"Lo tinggal di sini?" Mahesa bertanya dengan hati- hati, berdoa agar gadis di sebelahnya tak tersinggung dengan pertanyaannya. Mahesa menatap ke arah Ciara yang tersenyum. Tapi, bukannya tadi Ciara bilang belum mau pulang dulu. Berarti jelas, Ciara bukan salah penghuni panti ini. Ciara tak menjawab, hanya tersenyum kecil.
"Makasih ya." Ujar Ciara.
Tangannya baru saja memegang handle pintu saat Mahesa berkata, "Gue... boleh ikut?" Gadis itu berhenti. Ia menoleh dan menatap Mahesa yang memandangnya dengan raut tidak terbaca. Belum sempat ia menjawab, Mahesa sudah kembali menjalankan mobilnya dan parkir di depan rumah bertingkat sederhana itu.
Mahesa yang pertama kali keluar dari mobil dan mengambil belanjaan Ciara di bagasi. Ia menenteng dua plastik sementara Ciara membawa satu. Mahesa mengekori Ciara yang jalan lebih dulu. Gadis itu membuka gerbang dan anak- anak yang sedang bermain di halaman depan kontan berlari ke arah mereka.
"Kak Cia." Semua anak menghampiri Ciara dan memeluknya. Ciara tersenyum dan berjongkok, membalas pelukan anak- anak itu. "Kak Cia kenapa jarang ke sini?" tanya seorang gadis yang kira- kira berumur tujuh tahun.
"Kak Cia kemarin lagi agak sibuk. Nih, kakak bawain makanan buat kalian." Ciara menunjukkan plastik yang ia bawa, membuat anak di sana berseru girang.
"Kakak siapa?" Seorang anak laki- laki menyadari ada yang berbeda dengan kedatangan Ciara kali ini, ia melihat laki- laki yang berdiri di belakang Ciara dan bertanya. Mahesa tersadar saat anak itu menarik kausnya. Ia tersentak dan menuduk, menatap anak laki-laki di depannya.
"Ini kak Mahesa. Temen kak Ciara. Ayo semua kenalan dulu." Satu persatu anak- anak itu mencium tangan Mahesa bergantian. Mahesa terpaku selama beberapa saat. Dilihatnya anak- anak itu tampak melihat kedatangan Ciara.
"Ciara." Seorang wanita paruh baya keluar dari pintu. Ciara tersenyum lalu mencium punggung telapak tangannya. "Kamu lama nggak kelihatan?" Katanya. Ciara memberi alasan serupa.
Ciara memberikan plastik yang ia bawa kepada Bu Ayu, salah satu pengurus panti asuhan itu. Mahesa ikut mendekat dan bersalaman dengan wanita paruh baya itu. "Mahesa." Katanya seraya memperkenalkan diri.
"Kalian lanjutin main, ya. Jangan gangguin kakaknya." Anak- anak itu mengangguk. Bu Ayu membuka plastik itu dan memberikan tiap anak satu camilan yang dibawa Ciara.
"Ayo masuk." ajak Ciara sambil masuk ke dalam rumah itu lalu duduk di sofa ruang tamu. Mahesa masih diam, terlalu kaget atau entahlah, ia sendiri bingung seperti apa perasaannya.
"Tunggu, ya. Gue bikinin minum dulu." Ciara menaruh ranselnya di sana dan berlalu ke dapur. Mahesa mengarahkan pandangan ke sekeliling. Ruang tamu itu tidak besar. Namun cukup menampung beberapa tamu. Di lapisi cat berwarna krem dengan berbagai macam foto yang tertempel di dinding, juga sebuah lemari kaca besar berisi piala dan piagam penghargaan.
"Temannya Ciara, ya?" Bu Ayu masuk ke ruang tamu dan duduk di depannya. Tersenyum manis ke arah Mahesa yang tampak salah tingkah.
"Iya, Bu. Tadi nggak sengaja ketemu di jalan." Ciara menjawab sambil mendekat dengan satu gelas air teh dalam genggamannya.
"Lho, kamu nggak bikin minum sekalian?"
"Nanti aja. Ibu sehat? Anak- anak gimana? Miska udah baikan?"
Selama beberapa menit, Ciara dan bu Ayu mengobrol ringan. Membicarakan keadaan panti akhir- akhir ini. "Yaudah, ibu tinggal dulu ya. Ibu masih harus ngerjain yang lainnya. Kamu kalau mau makan ambil sendiri ya. Amel ada di dapur kan. Lagi nyiapin makan malam." Ciara tersenyum sambil mengangguk lalu melihat sosok itu menghilang dari pandangan.
"Sa, lo kenapa? Daritadi diam aja." Ciara menyenggol lengan Mahesa yang tiba- tiba tersentak.
"Ah, nggak apa- apa. Kaget aja ternyata lo mau ke sini."
"Ke taman belakang yuk, cari udara segar. Lo nggak buru- buru mau pulang kan?" Mahesa menggeleng. Pulang ada hal terakhir yang ia pikiran. Tempat terakhir yang ada dalam daftar di penghujung harinya.
Mereka berjalan menuju taman belakang. Taman yang juga masih ramai dengan anak-anak. Melihat Ciara, semua anak- anak kontan mendekat dan memeluknya. Membuat Mahesa sadar, bahwa ada begitu banyak orang yang menyayangi gadis itu. Setelah bercengkerama sebentar dengan anak- anak itu, mereka duduk di sebuah gazebo yang ada di pojok taman. Semilir angin yang berhembus membuat hati Mahesa tenang.
Selama beberapa menit mereka berdua diam. Memperhatikan kegiatan anak- anak bermain di depan mereka. Saling berkumpul, tertawa, bercanda, berkejaran. Membuat Mahesa teringat oleh masa kecilnya. Meskipun terlahir sebagai anak tunggal, Mahesa selalu punya orangtua yang selalu mengajaknya bermain di taman. Kedua orangtuanya selalu meluangkan waktu untuk bermain dengannya. Tiba- tiba hatinya menghangat. Merasakan kejadian masa kecilnya seperti sebuah slide yang diputar di otaknya. Kenangan yang biasanya ia bayangkan dengan perasan sakit, kini membuat dadanya menghangat dan senyumnya mengembang.
"Lo dulu dari sini?" tanya Mahesa. Ia bingung harus memulai pembicaraan darimana. Ia bingung bagaimana bertanya tanpa menyinggung perasaan gadis di sebelahnya. Melalui ekor matanya, Mahesa bisa melihat Ciara menggeleng pelan.
"Gue jauh lebih beruntung dari mereka." Mahesa menoleh. Melihat Ciara tersenyum sumir.
"Gue masih punya ibu. Sedangkan mereka nggak punya siapa- siapa selain Bu Ayu dan pengurus yang lainnya. Mereka nggak tahu kenapa mereka ada di sini. Mereka nggak tahu siapa orangtua mereka dan ada di mana orangtuanya." Jelasnya. Mahesa diam. Ada sesuatu yang berkecambuk di pikirannya.
"Dulu gue ketemu salah satu anak yang tersesat. Gue bantu dia pulang ke panti ini dan akhirnya gue jadi sering ke sini. Sedikit berbagi sama mereka. Berbagi beban, dan saat gue punya waktu untuk mengeluh, gue selalu ke sini, karena tempat ini yang bikin gue terus beryukur atas apa yang gue punya."
Mahesa melirik Ciara yang nampak tenang. Hatinya tersindir dan saat itu juga ia merasakan bahwa ia tidak pernah cukup bersyukur akan hidupnya yang mewah. "Kapan- kapan kalau lo mau ke sini lagi, ajak gue ya."
***
Rumah Ciara tidak besar. Hanya rumah kecil di sebuah komplek. Tapi Mahesa tahu, dalam rumah dengan gerbang merah marun itu tersimpan kehangatan yang pekat. Rumahnya mungkin empat kali lipat besarnya dari rumah itu. Tapi rumahnya selalu dingin, sepi, sunyi, senyap, rumah yang baginya tidak pernah ada hawa kehidupan di dalamnya.
"Makasih, ya." Kata Ciara sebelum keluar dari mobil. Mahesa mengangguk sambil tersenyum. Harusnya Mahesa yang mengucapkan terima kasih, tapi ia enggan mengucapkan itu secara langsung. Sosok Ciara menghilang dibalik gerbang, tapi Mahesa masih di sana. Selama beberapa menit ia masih memandangi gerbang merah marun itu.
***
Ayra keluar dari kamar saat jam menunjukkan pukul setengah sembilan malam. Ia melirik ke kamar di sebelahnya yang selalu tertutup rapat, Kamar yang tak sudah tak pernah ia injak lagi lantainya. Semenjak ibunya meninggal, Lara melarang semua orang masuk ke kamarnya tanpa terkecuali.
Ia menghela napas lalu melangkah menuju ruang makan. Ia duduk di salah satu kursi dan menatap hidangan di atas meja. Nasi, sayur, lauk pauk dan juga buah. Ayra tidak tahu sejak kapan ia kehilangan napsu makannya. Suasana di rumahnya terlalu sepi bahkan terasa begitu mencekam. Ia merindukan rumahnya yang hangat. Ia merindukan gelak tawa di meja makan, ia merindukan kebersamaan mereka saat berkumpul di ruang tamu. Ayra sadar ia sudah kehilangan begitu banyak hal.
Ayra membalik piring, lalu mengisinya dengan sedikit nasi dan sayur juga lauknya. Ia makan dengan perlahan. Sedikit memaksa nasi dan teman- temannya masuk ke dalam tenggorokkannya.
Ia tengah menyantap makan malam saat mendengar suara derak langkah dari ruang tamu dan tak lama, sosok ayahnya terlihat. Ia terkejut, menyadari bahwa ayahnya pulang lebih cepat hari ini.
"Kamu baru makan, sayang?" Pria itu mengecup kening Ayra lalu melepas jas dan duduk di depannya.
"Iya, Pa, tadi Ayra ketiduran." Jawab gadis itu singkat.
Pria itu mengangguk lalu mengambil piring. Ayra menyendokkan nasi ke piring ayahnya berserta lauk- pauknya. "Makasih, gimana sekolah kamu hari ini?"
Seperti biasa, Ayra akan menceritakan keadaan sekolahnya secara singkat. Tentu saja tidak dengan kejadian saudara kembarnya. Meskipun itu bukan hal baru buat ayahnya, ia tidak mau Lara terlibat masalah di rumah karena ia tahu, ayahnya tidak segan memotong uang jajan Lara kalau anak itu membuat ulah.
Mereka hanya berbicara berdua, mengenai keduanya, seakan- anak anak di rumah itu hanya Ayra. Nama Lara jarang disebut, karena Ayra tidak mungkin menceritakan pada ayahnya apa yang terjadi pada Lara. Ia tidak mungkin bilang pada ayahnya kalau Lara sering dihukum karena bolos di jam belajar, ataupun sering telat dan tidak beratribut lengkap. Ia juga tidak mungkin bilang bahwa Lara sudah mempunyai musuh yaitu pentolan anak kelas dua belas dan sepertinya akan terus berkonflik karena tidak ada yang mau mengalah.
Ayra tahu bukah hal itu yang ingin didengar ayahnya. Ia tahu bahwa hal- hal itu justru akan menjadi beban ayahnya. Ia akhirnya tak pernah membicarakan Lara. Ia hanya menjawab singkat dan berusaha menyembunyikan apa yang terjadi dengan saudara kembaranya jika ayahnya bertanya padanya.
Suara dering ponsel menggema. Ayra menoleh, melihat ponselnya yang ia taruh di atas meja menampilkan satu nomor baru. Ayra enggan menjawab, tapi ayahnya mengisyaratkannya untuk mengangkat. Dengar berat, ia menslide layar dan suara di seberang begitu mengejutkannya.
"Halo." Itu suara Bara. Ayra menatap papanya yang kini menatapnya dengan rasa ingin tahu.
"Iya... Kak." Ia menjawab dengan terbata-bata.
"Lagi apa?" suara di seberang nampak tenang. Kontras dengan Ayra yang mulai gugup. Ia melirik ayahnya yang menatapnya dengan tatapan penasaran.
"Lagi makan." Jawabnya singkat.
"Baru makan malam?"
"Iya, Kak."
"Yaudah, selesaikan makannya dulu deh. Nanti gue telepon lagi ya." Setelah mengucapkan salam, sambungan terputus. Kini, papanya menatapnya dengan sorot mata tajam bak polisi yang ingin mengintrogasi pencuri. Ayra menaruh kembali ponselnya lalu meminum minumannya. Berusaha terlihat biasa saja.
"Siapa itu?" Pertanyaan itu keluar juga, Ayra berpikir sebentar lalu menjawab,
"Teman, Pa." jawabnya akhirnya. Tapi sepertinya ayahnya tidak mau percaya begitu saja.
"Teman? Kakak kelas? Kamu kan anak baru, sudah punya teman kakak kelas." Ayra menunjukkan raut wajah bingung. Ia menggaruk- garuk kepalanya yang sama sekali tidak gatal. Pria di depannya tersenyum melihat tingkah anaknya.
"Papa nggak ngelarang kamu pacaran. Papa cuma pesan, jangan sampai ganggu belajar. Dan yang pasti, papa harus kenal." kata Wijaya, orangtua tunggal Ayra dengan nada yakin. Padahal Ayra tidak bilang kalau yang menelepon itu laki- laki. Tapi Wijaya bisa tahu hanya dari raut wajah anaknya.
"Tapi, dia beneran cuma teman, Pa." Jawab Ayra. Ia tidak mau ayahnya berpikiran macam- macam. Bagimanpun, Bara bukan siapa- siapa dan tidak mungkin laki- laki itu menyukainya. Ia hanya belum tahu apakah ada motif lain Bara mendektinya, padahal ia tahu dengan jelas kalau Bara dan Lara itu bermusuhan.
"Yasudah, papa ke kamar dulu ya. Kamu jangan tidur malam- malam. Besok kita berangkat bareng. Papa ada meeting yang searah sama sekolah kamu." Ayra mengangguk lalu melihat papanya meneguk air dari gelasnya dan menghilang dari pandangannya.
Bara menepati janjinya. Ponselnya kembali berbunyi. Menampilkan nomor yang sama dengan yang sebelumnya. Ayra berpikir haruskah ia mengangkat panggilan itu. Setelah berpikir panjang, ia memutuskan untuk mengabaikan panggilan itu.
Ayra berbaring di atas ranjangnya. Otaknya berpikir keras bagaimana caranya bisa menjauhkan diri dari Bara. Ia tidak suka tatapan mengintimidasi laki- laki itu. Ia tidak ingin berurusan dengan laki- laki itu lebih jauh. Ia ingin hidupnya di SMA Pancasila tenang. Ia tidak mau menjadi seperti Lara.
Gadis itu menoleh ke arah nakas. Ponselnya kembali berbunyi. Ia bangun dan masih mendapati nomor yang belum di simpannya. Ia menarik napas lalu kembali membiarkan panggilan itu mati dengan sendirinya.
TBC
LalunaKia