Bab. 5

2140 Words
            "Woy! KELUAR! WOY! KELUAR! ADA DRAMA TERGEMPAR! TERDAHSYAT! TERBADAI! TERHEBOH! TER-"             "Apaan woy! NGOMONG YA NGOMONG AJA! RIBET AMAT DAH!" Ketika suasana kelas 12 IPS 5 sedang ramai-ramainya bergosip ria ala-ala cewek gitu dan di pojokan beberapa anak cowok sedang asik bermain kartu dan ada juga yang sedang molor, datanglah seseorang bernama Dedi berteriak-teriak tidak jelas, heboh sendiri dan kalau ngomong tidak suka pada intinya.  Jadi, terkadang membuat Faisal kesal sendiri terlebih dia tipe orang yang tidak sabaran ingin mendengar berita tersebut. Maka dari itu dia menyahut tak kalah nyaring dengan suaranya Dedi. Rayhan sendiri yang sedang melamunkan wajah Alisha sambil senyam senyum sendiri terkesiap. Dia berdecak sebal dan langsung menyumpel mulut Faisal dengan tisu bekas ingusnya Wisnu yang berserakan di meja sampingnya Rayhan.             "Eh, anjrit apaan nih, kok tisunya asin sih rasanya?" Heran Faisal. Menatap Rayhan yang duduk di antara dirinya dan Wisnu yang duduk di pojok jendela.             "Berisik." Rayhan lantas bangkit dan membaringkan tubuhnya di lantai tepat di belakang kursinya.             "Huaaaachimmm..." Suara bersin yang dia dengar tak jauh dari posisi duduknya memaksa dirinya untuk beralih pandangan.             "Eh, ini tisu?" Wisnu yang baru menyadari jika tisu yang sempat dia pakai ada di tangan Faisal langsung dia ambil kembali.              "Ini tisu gue, kok ada di tangan lo sih, ah, gue tau pasti lo-huacim-mau minta tisu buat ngupil 'kan?kebiasaan lo. Kalo mau minta tisu sana sama sih Iis."              "Apaan sih lo kampret. Sapa juga yang mau minta tisu lo."              "Lah, trus tadi tisu ngapain gua lo yang megang."              "Rayhan nyumpel tisu bekas ingus lo ke mulut gue." Seketika Wisnu langsung tertawa terbahak-bahak mendengar dumelan Faisal yang terkena sasaran keisengan Rayhan.              "Serius?"              "Udah diem-diem!" Kesal Faisal. Wisnu hanya mengulum senyumnya.               "SERIUS LO DI?" Faisal dan Wisnu langsung menatap Rizal dan Dedi yang berdiri di depan kelas.               "ADA APAAN WOY!?" Teriak Faisal.               "DARA MAU NOLAK COWOK LAGI! BURUAN MINGGAT SEMUANYA! KELUAR! SEBELUM ACARANYA HABIS!" Rizal berteriak lebih heboh lagi. Dan langsung lari keluar kelas.               "Ayo woy keluar!!!" Dedi berdiri di depan pintu dan mengayun tangannya bermaksud mengajak mereka untuk segera keluar kelas. Tak perlu di hitung sampai angka tiga semua penghuni kelas lari terbirit-b***t berebutan untuk keluar kelas. Dedi saja sampai di dorong-dorong gara-gara ulah teman kelasnya sampai ia jatuh terjerambat bahkan anu-nya saja hampir mau di injak jika saja ia tidak cepat-cepat menutupinya pakai kedua tangannya. "Re, sini Re, lo mau liat pertunjukannya sih Dara gak? yang tadi ngehukum lo. Dia mau menolak cowok untuk kesekian kalinya lagi, Re!!!" Faisal berucap antusias. Menggoyangkan badan Rayhan agar dia bangun. "Hm. Dara Oh Dara cewek songong itu, males ah, gak penting!" Sahut Rayhan menelengkupkan kepalanya di atas tasnya.  Faisal berdecak sebal, menarik kerah sahabatnya sampai Rayhan mendelik tajam dan akhirnya ia terbangun. "Apaan sih, lepas gak!" "Makanya lo tuh harus liat dulu aksi penolakannya sih Dara, baru bisa tidur lagi." "Buat apa? Emang sepenting itu apa harus ditontonin segala? Itu cewek cuma mau cari sensasi aja. Kebanyakan nontonin seleb artis tuh orang." "Ngaur lo, ini sangat penting Re, karna gua punya rencana setelahnya." Kata Faisal serius dengan gimik muka dan tangannya yang digerak-gerakkan. "Rencana apaan?" "Lo katanya mau membalaskan dendam lo pada Dara 'kan, nah, maka dari itu lo gua ajak untuk nonton drama ini sebentar aja." Ujarnya sedikit merayu-rayu Rayhan agar mau keluar kelas.              Sebenarnya Rayhan agak malas sekali mau melihat tontonan yang tidak berfaedah itu tapi mengingat ia ingin sekali balas dendam sama cewek bernama Dara yang selalu membuatnya terkena hukuman itu Rayhan jadi bergerak keluar kelas hanya untuk melihat aksinya dalam menolak cowok yang selalu menyatakan cintanya pada seorang Dara Valenia cewek dingin yang selalu enggan untuk disentuh. "Aku udah bilang sama kamu 'kan Dennis aku gak bisa buat mencintaimu. Jadi, plis .. berhentilah mengejar-ngejar aku!" Dara membentak Denis di depan semua orang. Rayhan yang menonton dari lantai atas saja sampai terkejut dibuatnya, ia tidak pernah menyangka bila ada yang seberani itu menyatakan cintanya di depan khalayak umum dengan bersimpuh di depan kaki seorang perempuan dan boneka yang sedang Dennis pegang untuk ia berikan kepada Dara. Surya yang sejak tadi berdiri di sampingnya Dennis--yang tengah bertekuk lutut menepuk bahu sahabatnya. Ia berjongkok dan berbisik.             "Den, sudahlah benar kata dia, lo gak perlu harus ngejar-ngejar Dara lagi. Dia udah menolak lo, gila apa ya Lo mempermalukan diri Lo sendiri hanya karna satu cewek, harga diri Lo mana cuy." Ucap Surya memberitahu.              "Benar yang Surya bilang, Kau tau Denis Allah tidak menyukai hamba-Nya yang mencintai seseorang melebihi cintanya kepada-Nya dan Rasulnya. Kau tau Allah itu maha pencemburu, gunakanlah hatimu hanya untuk mencintai Allah, menyimpan nama Allah bukan nama gadis yang masih haram untuk kau simpan namanya di hati kau. Apa yang telah kau lakukan itu sangat salah Dennis." Sepupunya, Darman bahkan sampai ikut campur dengan tingkah lakunya Dennis yang memang benar – benar berlebihan. Dia yang ayahnya adalah seorang ustadz di pesantren, memberikan nasihat ayahnya untuk sepupunya. Cinta yang sempurna adalah ketika kita mencintai Allah, sang maha pemberi rezeki, dia lah pemilik dari alam semesta ini, tak sepantasnya kita mencintai seseorang dengan berlebihan seperti yang Dennis lakukan. Siapa mereka? Harta, anak, keluarga, pasangan tidak akan pernah bisa menandingi sang maha pencipta. Mereka tidak memiliki apa-apa, semua yang ada di dunia ini adalah titipan Allah yang harus kita jaga dan kita cintai namun cinta itu tidak boleh menutupi cinta kita kepada Allah.  Karena yang sebenarnya, mencintai seseorang yang berlebihan hanya akan memberikan rasa kecewa dan sakit di hati.  Belajarlah untuk mencintai Allah karena setiap hati yang kita punya lebih baik kita isi dengan nama Allah, sifat-sifatnya dan kekasihnya Allah, yaitu Rasulullah. Dengan cinta kita kepada-Nya, maka ketenangan dalam jiwa dan ridho akan kita dapatkan di hidup kita. "Diam Lo Sur! Man!" Bentak Dennis sudah terbawa emosi. Melirik tajam kepada mereka berdua. Dara bahkan sempat tersentak halus ketika melihat dua cowok di hadapannya sekarang sedang bertengkar. "Gue mencintai Dara? Apa itu salah? Apa mencintai seseorang itu dosa? Lo jangan ceramahin gue karna lo bukan ustadz di sini!” "Aku seorang muslim dan kau juga seorang muslim, sesama muslim sudah seharusnya untuk saling mengingatkan bukan? jika di antara kita ada yang melakukan kesalahan, apa salah jika aku memberikan nasihat kepada seoupuku sendiri?" Bugh Tiba-tiba saja Darman langsung di tonjok oleh Dennis. Semua orang nampak sangat terkejut dengan apa yang mereka lihat. Lihatlah cinta telah membutakan mata hati, ketika seseorang memberitahukan jika yang apa yang sudah dia lakukan itu salah, dia yang diberi nasihat malah tidak menerimanya.  Karena apa? Cinta yang dia miliki adalah cinta yang bukan untuk Allah, sehingga cinta itu menutupi mata batinnya hingga apa pun yang dia lakukan ia akan selalu merasa benar dan benar. Contohnya seperti yang Denis lakukan kepada sahabatnya yang sudah senantiasa memberitahukan kesalahannya, Dennis malah membalasnya dengan sebuah kepalan. Dennis berdiri dan menunjuk wajah Surya. "Jangan sok lo menggurui gue!" "Dennis stop!" Teriak Dara langsung membantu Darman begitu juga dengan Surya. Namun, dengan cepatnya Dennis menarik tangan Dara dengan satu tangannya. "Kamu gak perlu mengkhawatirkannya, Dara. Sekarang-" "Lepas!" Dennis tidak memedulikan Dara yang terus meronta meminta di lepaskan. "Sekarang jawab aja pertanyaanku, apa kamu mau jadi pacar aku?" Plak! Tamparan Dara layangkan di wajah Denis saat cowok itu mengatakan keinginan yang sesungguhnya. Dia memberikan tinjuan kembali di wajah Dennis. "Jangan pernah lo menyentuh diri gue atau gue nggak akan segan menampar Lo untuk kedua kalinya, Dennis." Desis Dara kembali pergi meninggalkan Denis dengan boneka beruang sudah terjatuh di samping kakinya.             Semua sorak sorai dari penonton mulai saling bersahutan. Ada yang merasa kasihan, terkejut, merasa benci dengan sikap Dara karena dia dengan sok tampang cantiknya malah menolak Dennis yang jelas-jelas di mata mereka Dennis adalah lelaki yang begitu sempurna dengan segala pesona wajahnya dan juga kekayaan yang dia miliki. "Yang nembak Dara tadi sapa sih namanya? Itu cowok yang sempet gue tonjok tadi pagi." Ujar Rayhan. Dia menyugar rambutnya ke belakang untuk ia membenarkan ikatannya lalu berbalik badan dan berdiri bersandar di balkon seraya tersenyum genit pada cewek-cewek yang berjalan melewatinya. "Hai cantik." Goda Rayhan, "hai sexy .. kenalan dong." Yang di sapa-sapa itu malah tersenyum baper sedangkan Wisnu yang melihat kebiasaan Rayhan yang dari pertama kali dia kenal cowok ini waktu mereka masih sama-sama kalau main cuma pakai celana dalam saja waktu dulu masih berumur 3tahunan bersama Faisal juga hanya geleng-geleng kepala saja. "Oh, itu sih Dennis. Emang dia dari dulu tergila-gila banget kayaknya sama sih Dara." "Bodoh banget sudah tau ditolak tapi masih aja ngejer-ngejer tuh cewek yang sok kecakepan." Sahut Rayhan lagi berbalik badan dan menatap Dennis yang kini sedang di ajak bicara oleh Surya.             Ketiganya sama-sama memandangi Dennis dan Wisnu yang terlihat seperti sedang bercengkerama tentang argumen masing-masing. Lalu, tiba-tiba saja Dennis malah meninggalkan Wisnu. "Dia Denis, wakil ketua osis. Bukan soal kayaknya lagi tapi dia emang ya dari dulu udah demen banget sama sih Dara tapi pas kelas 12 ini dia baru berani nekat menyatakan cintanya sama Dara." "Kok gua gak tau?" Tanya Rayhan mengerjapkan matanya ke arah Wisnu yang lagi mengambil boneka beruang berwarna pink lalu beranjak dari sana. "Ya, iyalah lo gak tau soal berita gempar ini yang padahal udah bukan rahasia lagi. Lo sih jarang masuk sekolah, tiap bolos suka gak nanggung-nanggung, dua bulan sekali baru masuk sekolah. Gila lo Re," sahut Faisal seraya menoyor bagian kepala belakang Rayhan. "Makanya Re ini kesempatan lo, coba lo deketin Dara lalu lo buat dia untuk bisa menyukai lo setelah itu lo pacarin dia trus dalam sehari lo harus putusin sih Dara. Gua dan Wisnu sebenernya udah enek banget sih sama cewek itu yang sok dengan jabatannya. Dia itu selalu menghukum kita gak pernah yang namanya mentolerir kalo sekalinya ngehukum gitu." Ucap Wisnu sambil sesekali mengusap hidungnya. "Hm, bener tuh bener, apalagi gue kepengen banget bales kelakuannya sih Dara yang selalu nyakitin hati setiap para lelaki. Seharusnya dia itu bersyukur ada yang suka sama dia, gua aja yang tiap malem keluar rumah udah gitu pulang pagi gak pernah tuh yang namanya cewek-cewek ngantri jadi gebetan gue." "Ngapain lo pergi malem pulang pagi?" Rayhan melirik datar pada Faisal. Faisal menoleh dan memasang tampang cengirannya. "Bersemedi di goa hantu biar dapet jodoh yang yahudddd." "Sinting." Faisal mendengkus. Dia menatap langit kota Jakarta yang sekarang tidaklah semendung tadi. "Gua jadi penasaran apa Dara akan menjadi perawan tua ya, nantinya. Secara dia itu gak pernah yang namanya keliatan suka sama cowok dan parahnya tu anak paling kasar kalo udah disentuh. Coba lo bayangin Re, kalo lo jadi suaminya pas udah resmi kawin--" Rayhan melotot mendengar namanya yang di sangkut pautkan sedangkan Wisnu hanya terkikik geli. "'---Ntar bisa-bisa pas mau maen diranjang sama sih Dara, pasti Dara bukannya membelai adik kecil lo tapi malah nyeruduk adik kecil lo lagi Re." Faisal berucap panjang lebar sambil berdecak-decak. Langsung saja tanpa ba-bi-bu-be-bo Rayhan menggelepak kepala Faisal. Dengan melempar tatapan sengit.  "Bisa aja lo kalo ngomong, Sal." Ujar Wisnu mencoba meredakan tawanya. "Tapi kenapa harus gua?" Tanya Rayhan heran. Sebenarnya ia ingin melakukannya hanya saja ia agak sedikit ragu.             Faisal langsung memutar kepala Rayhan dan menangkupkan wajah Rayhan hingga kedua pipinya terjepit. Rayhan melotot horor dan mencengkram langsung kedua tangan Faisguei "Fas-Faisal!" Rayhan agak kesusahan memanggil nama sahabatnya itu. "Re, alesan kenapa kita memilih lo adalah karna lo ...," Faisal menjedanya dan makin mendekatkan wajahnya ke wajah Rayhan. Membuat orang-orang yang di sekililingnya lewat juga Wisnu yang berdiri di belakang Rayhan tertawa ngakak. "Tampan, Re, tampan." Sambil tersenyum genit, dengan nada suara yang ala-ala banci. Rayhan langsung menyentak kedua tangan Faisal dengan sangat kuat dan mendorong Faisal menjauh darinya. "Homo lo, Sal." Rayhan bergidik ngeri dan berpindah tempat di samping Faisal. Faisal malah berdecak enggan menanggapi ocehan Rayhan. "Jadi, Re gimana menurut lo?" Tanya Wisnu. Faisal beringsut berdiri di samping Wisnu sambil merangkul sahabatnya itu. Menghela napas. Rayhan berbalik badan, ia masih butuh waktu untuk berpikir. Sebenarnya bukan pembalasan dendamnya saja yang dia pikirkan, kalau ditanya muak atau tidak dengan sikap Dara yang seperti tadi itu juga Rayhan sudah punya jawabannya yaitu enek setengah mati. Tapi, yang memberatkan otaknya ini adalah bidadari surganya yang belum kunjung dia lihat, yang masih membayangi otaknya, yang masih belum ia cari tahu dimana dia sekarang. "Sha! Sha! Alisha! kamu mau pergi kemana!? Tunggu dulu!!!"              Suara teriakan berasal dari bawah mengalihkan pandangan Rayhan, ia menunduk, seketika terbelalak ketika ia melihat gadis yang sedang ia incar itu tengah berinteraksi dengan temannya. Lalu, setelah perbincangan selesai kedua gadis itu berpisah dan berjalan ke arah lain.               "Re! Lo mau pergi kemana?" Teriak Faisal saat dia lagi asik ngobrol sama Wisnu dan Dedi yang tadi menghampiri, ia melihat Rayhan yang berlari tergesa-gesa.                "Gua pergi dulu!! Ada panggilan alam!!!" Balas Rayhan sambil berlari mundur untuk menjawab teriakan Faisal.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD