Perbedaan Kasta

1567 Words
Naira menyuap tanpa mengangkat kepala. Meskipun dia sudah berusaha menginjak-injak rasa malunya, tapi, tetap saja—dia tidak bisa menatap sepasang mata Alvin yang langsung berubah sayu. Apalagi saat Felicia langsung mengirim pulsa ke nomornya. “Ayo, makan yang banyak. Kamu kelihatan lebih kurus dari enam tahun yang lalu. Ini … coba ini. Ini enak banget.” Felicia memajukan tubuh untuk mengikis jarak dengan Naira, lalu tangan kiri wanita itu bergerak menempel di samping mulut. “Dan mahal. Habisin aja mumpung gratis.” Kunyahan Naira sempat berhenti. Kepala wanita itu terangkat hingga bertemu tatap dengan sepasang netra sahabatnya. Felicia tersenyum. “Nggak apa-apa. Alvin yang bayar.” Felicia memelankan suaranya. Kedua sudut bibir wanita itu kembali tertarik ke atas. Naira melanjutkan kunyahan, sambil menurunkan kembali pandangan matanya. Bola mata wanita itu sempat melirik ke arah piring yang sudah di dorong ke depannya. Naira tidak mengambilnya. Dia hanya melanjutkan suapan nasi goreng yang dipesannya. Dia tidak familiar dengan jenis makanan orang asing. Dia khawatir lidahnya tidak akan bisa bekerja sama dengan baik. Apalagi perutnya. Perutnya hanya mengenal makanan sederhana. Makanan orang miskin. Felicia mendorong punggung ke belakang hingga menyandar. Dia sudah selesai makan. Kedua tangan wanita itu bersedekap. Sepasang matanya memperhatikan sang teman yang sedang lahap menyantap nasi goreng teri yang dipesan. Dia sengaja mengajak sahabatnya makan di restoran hotel bintang lima, dan sahabatnya itu hanya memesan nasi goreng teri. Felicia menghembuskan napas panjang. Wanita itu menoleh saat mendengar percakapan dua pria yang duduk satu meja dengannya. “Lo masih main band?” Alvin bertanya pada sosok yang duduk di seberang meja. Isi di dalam piringnya sudah habis, dan sendoknya sudah tertelungkup. Yang ditanya hanya mengangkat kepala lalu mengangguk, sebelum kembali menikmati isi dalam piringnya. “Masih nggak mau nyari kerjaan?” “Males,” sahut pria yang duduk di sebelah Naira. Naira yang juga mendengar percakapan tersebut, menoleh ke samping. Wanita itu menatap pria di sebelahnya sambil melanjutkan kunyahan. Malas. Hebat sekali jawaban pria itu. Oh … anak band. Naira hampir lupa. Anak band memang terkenal lebih senang bermain-main dibanding harus bekerja membanting tulang. “Oh iya, Na. Kenalkan ... ini temanku. Panggil aja Tama.” Refleks Naira menoleh ke arah Alvin yang baru saja memperkenalkan nama pria yang duduk di sebelahnya. Naira hanya mengangguk. Wanita itu meletakkan sendok setelah memasukkan suapan terakhir ke dalam mulutnya. Mengunyah cepat, Naira meraih gelas berisi air putih di depannya. Wanita itu meneguk hingga isi dalam gelas berkurang setengah. Naira mengangkat lengan kirinya, lalu menyibak ujung jaket hitam lusuh yang membalut tubuh kurusnya. Ya, benar kata Felicia ... dia memang lebih kurus dibanding enam tahun silam. “Kenapa? Sudah harus berangkat kerja lagi?” tanya Felicia yang tahu jika sang sahabat bekerja di dua tempat. Wanita itu menghembuskan napas dengan ekspresi wajah sedih begitu melihat anggukan kepala sang teman. “Apa kamu nggak capek? Pagi kerja, malam juga kerja.” Naira tersenyum. “Capek, tapi nggak ada alasan buat ngomong males kalau udah nyangkut sama perut.” Lalu Naira tertawa. Tawa yang terdengar sumbang di telinga tiga orang yang mendengar, hingga dua orang pria yang sebelumnya sedang berbincang--menoleh ke arah wanita itu. “Makasih traktiran makannya. Makasih juga pulsanya. Entar aku kontak kamu lagi.” Naira memperlihatkan cengirannya. Naira sudah mendorong kursi ke belakang saat Felicia menghentikannya. “Tunggu sebentar.” Lalu wanita itu memutar kepala sambil mengangkat tangan kanan. Naira kembali menjatuhkan p****t yang sudah sedikit terangkat. Wanita itu menatap bingung sang teman. “Kak, ini tolong dibungkus. Cepat, ya?” pinta Felicia pada seorang pegawai restoran yang datang menghampiri meja setelah ia memanggilnya. “Buat apa, Fel?” Alvin memutar kepala ke samping. “Biar dibawa pulang Naira. Sayang kan, dari pada mubazir.” “Kamu bisa pesenin Naira makanan yang masih utuh.” “Tapi kan sayang, Vin. Ini kamu bayar pasti mahal, loh. Trus pada nggak abis.” “Fel—” “Nggak apa-apa. Biar aku bawa ini aja. Lumayan buat sarapan besok. Tinggal aku angetin aja.” Naira menarik kedua sudut bibirnya. Wanita itu kemudian tertawa sambil mengangkat tangan kiri—mengusap pipi yang tiba-tiba gatal. “Nggak apa-apa, Kak. Beneran. Eh … maaf, Vin.” Naira mengikuti cara Felicia memanggil Alvin. “Ini sudah lebih dari cukup, kok. Banyak loh ini.” Lalu Naira menoleh ke arah seorang pelayan yang masih berdiri di sisi meja. “Oke, Kak. Ini aja, tolong dibungkus. Terima kasih.” Naira kembali meraih gelas di depannya, kemudian meneguk isinya hingga tandas. Sepasang mata wanita itu mengerjap saat menyadari jika tiga orang yang duduk satu meja dengannya, masih menatap ke arahnya. “Sayang kalau nggak habis. Mubazir.” *** Naira menghembuskan napas panjang. Wanita itu masih melangkah cepat keluar dari hotel bintang lima dengan satu tangan menenteng kantong plastik berisi beberapa jenis makanan yang tidak akan bisa dibelinya sendiri. Yah … meskipun makanan sisa, tidak apa-apa. Kedua adiknya pasti akan senang bisa merasakan makanan hotel berbintang. Dia akan membawanya ke rumah esok pagi. Naira tersenyum sambil menatap kantong plastik dengan tulisan nama hotel bintang lima tersebut. Bibir wanita itu bergerak membaca tulisannya. "The Grand Hotel." Senyum wanita itu semakin lebar. Keren sekali dia--seorang yang berpakaian lusuh, memakai sepatu nyaris jebol padahal sudah dijahitkan di tukang sol sepatu, bisa menenteng makanan dari hotel semewah itu. Naira menarik napas, lalu tangan kiri yang bebas terangkat--menyusut cairan yang entah karena apa muncul dengan sendirinya. Membulatkan mulut, Naira menghembus karbondioksida keluar, lalu kembali mengayun langkah kakinya. Berdiri di tepi jalan, kepala Naira menoleh ke belakang, lalu terangkat menatap bangunan pencakar langit yang baru saja dimasukinya. “Kasta, dan cinta.” Naira menggumam masih sambil menatap bangunan penuh kaca tersebut. 'Ya … kasta sudra sepertiku memang nggak mungkin bisa masuk ke dalam sana buat nikmatin semua fasilitas yang ada, kalau bukan karena Felicia. Apalagi dapetin hati seseorang yang berada di dalamnya,' batin Naira. Wanita itu tersenyum perih. Memutar kembali kepalanya, Naira menoleh ke kanan dan kiri sebelum wanita itu berjalan menyeberang jalan. Sesekali tangannya terangkat--meminta kendaraan yang akan melintas untuk memberinya jalan. *** “Apa sebenarnya tujuan lo berdua ngundang gue ke sini?” Pria yang mengenakan kaos oblong hitam dan celana denim dengan beberapa sobekan di paha dan lutut itu, mendorong punggung ke belakang hingga menyandar. Sepasang mata pria itu menatap dua orang yang duduk di depannya terpisah meja--secara bergantian. Tidak! Tama belum mengenal wanita yang duduk di sebelah teman masa kecilnya. Namun, dia tahu jika wanita itu adalah kekasih Alvin, dan mereka akan bertunangan. “Apa menurutmu dia akan cocok sama Naira?” Felicia sudah mencondongkan tubuh ke samping hingga bisa berbisik di telinga Alvin. Alvin dengan cepat menoleh ke arah sang kekasih. “Apa itu tujuanmu?” Alvin langsung bertanya. Netra pria itu menatap menyipit sang kekasih. Dia pikir, Felicia meminta sahabatnya ikut makan malam bersama karena ingin berkenalan dengannya. “Apa salahnya? Kurasa mereka bisa dijodohkan. Kayaknya kasta mereka nggak jauh beda.” “Kasta?” Alvin sontak bertanya dengan kerutan di dahi yang semakin banyak. “Apa yang lo berdua omongin?” Tama memajukan tubuh yang belum lama menyandar, begitu melihat wanita di depannya berbisik-bisik. Apalagi saat mendengar Alvin menyebut kata kasta. Tama menatap calon tunangan sang teman sambil mendengkus. “Apa kasta lo? Ksatria atau brahmana?” Lalu Tama mengalihkan tatapan ke arah Alvin. “Wah, selamat Vin, kayaknya lo dapat jackpot. Perempuan dari kasta brahmana.” Tama mendorong kursi ke belakang. “Kayaknya gue salah tempat. Gue nggak sebanding dengan kasta calon tunangan lo. Gue pergi, Vin.” Alvin langsung beranjak saat melihat sang sahabat berdiri. “Tam, jangan salah paham.” Alvin menggelengkan kepala. “Gue ngundang elo karena ingin kalian berkenalan.” “Apa dia mau kenalan sama orang kayak gue?” Tama mendengkus sambil menatap Felicia. Kepala pria itu menggeleng. “Gue cukup tahu nama elo Felicia, dan elo calon tunangan sahabat gue. Selamat buat lo berdua.” “Tam … Tam. Hei ….” Alvin dengan cepat keluar dari balik meja, lalu melangkah lebar menyusul sang teman. Sementara Felicia menatap keduanya dengan bibir berkerut. Felicia memperhatikan penampilan pria yang merupakan sahabat kecil Alvin. Dia tidak habis pikir, bagaimana Alvin bisa berteman dengan manusia modelan seperti itu. Ah … siapa tadi namanya? Tama. Ya, Tama. Kening Felicia berkerut. “Gue minta maaf kalau Felis bikin lo kesal. Sebenarnya dia baik.” “Ya, gue tau. Lo nggak mungkin macarin cewek yang nggak baik.” Tama memiringkan kepala hingga bisa melihat Felicia yang masih duduk di kursinya. “Semoga saja elo nggak salah pilih, Vin.” Tama menepuk bahu sang teman. “Sudah sana … nikmatin kencan kalian. Lagian, perut gue udah kenyang. Gue mau balik.” “Lo balik ke rumah bokap, atau ke apartemen?” tanya Alvin masih menahan langkah kaki Tama yang sudah akan kembali terayun. “Apartemen.” Tangan kanan Tama terangkat menggaruk leher yang memiliki tato bergambar stik drum. “Masih nggak akur sama mereka?” “Lo kan tau dari dulu mereka nggak pernah suka sama gue.” “Bukan elo yang nggak mereka suka, Tam. Tapi hobi elo itu. Lo sampai nggak mau bantu kerjaan bokap sendiri.” “Ah, udahlah. Ngapain lo mikirin bokap gue? Gue aja nggak peduli. Lo juga tau kalo dia punya ponakan yang super bisa diandelin.” Tama kemudian memutar langkah. Sebelah kaki pria itu sudah terangkat saat mendengar kalimat dari sang teman. “Bokap lo lagi sakit. Balik lo ke rumah. Lo pasti bakalan nyesel kalau sampai terjadi sesuatu sama bokap lo.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD