10

1031 Words
'Takdir tiap-tiap orang mungkin berbeda ada yang buruk dan baik, namun dengan kerja keras dan terus berusaha mungkin kita bisa merubah Takdir' sellaselly12 Sasi melangkah begitu santainya, seperti tak ada rasa takut seperti peserta MOS yang lainnya, mereka nampak tegang. Toh dirinya sudah di kenal banyak senior. Lagipula kenapa harus takut, Sasi tak berbuat masalah atau memancing masalah. Yang ia lakukan sudah benar menurutnya. Ia hanya menjawab pertanyaan dan sesekali menggerutu itu hak semua orang bukan?. Jadi mulai sekarang jangan menilai Sasi jelek, karena yang dilakukan Sasi tak sepenuhnya jelek namun juga tak baik juga. "Kamu kenapa?" Tanya OSIS yang membentak tadi. Dari almamater yang ia pakai tercetak jelas nama Nia Maharani. "Maaf kak aku lupa bawa tali rafia" jawab peserta MOS yang tadi dia tanya dengan suara yang sedikit pergetar. Tanpa menjawabnya Nia malah berdiri didepan juniornya yang nampak ketakutan. "Kalian cari apa yang kurang di diri kalian di sekolah ini, apakah ada pertanyaan?" Tegasnya "Tidak kak" jawab serempak kecuali Sasi, ia tak menjawabnya dan memilih untuk diam. "Ya sudah cepat laksanakan" bentak nya dan semua peserta berlari sedangkan Sasi melangkah begitu malasnya. Sasi malangkah malas mencari pita bendera, karena perlengkapan yang kurang pada dirinya adalah pita yang berwarna merah putih. "Sebel gue kenapa harus ada kek ginian" sebal Sasi mengrutuki dirinya sendiri. Gadis itu terlalu fokus menggerutu hingga tak memperhatikan langkahnya, pun tak peduli jika ia terjatuh nanti. Sudah takdir bukan. Bisa dikatakan Sasi memiliki muka tebal alias tampang tak tau malu. Langkah kecilnya membuat gadis itu semakin sebal, padahal ia ingin sekali bebas dari rok sebatas lutut cukup ketat berwarna biru tua itu. Dan berharap akan segera digantikan dengan rok abu-abu yang akan dibuat tidak ketat oleh dirinya sendiri. Bruk.. "Aduh, t*i lo. Kalo jalan kira-kira Napa" sewot Sasi mengelus-elus jidatnya karena membentur sesuatu. Objek yang di tabrak Sasi menghembuskan nafasnya kasar, lalu melipat kedua tangannya didepan d**a. Cowok sepuluh centimeter lebih tinggi dari Sasi itu mendelik kesal saat melihat ternyata gadis yang kemarin juga menabraknya. "Kenapa sih elo gak kapok-kapok nabrak gue, atau jangan-jangan elo sengaja lagi" kata laki-laki didepannya. Laki-laki yang tadi malam ia jumpai, dandanannya sangat sembrawut tak jelas, pakaian yang dikeluarkan tak memakai dasi, berponi lagi. Sungguh paket komplit untuk menggambarkan bahwa cowok didepan Sasi itu adalah tipe badboy. "Tingkat ke-PD an lo terlalu tinggi" celetuk Sasi nyolot. "Lo harus tanggung jawab" ketusnya. "Enak aja, gue yang kesakitan kok malah elo yang minta tanggung jawab, dasar cowok aneh" omel Sasi. "Vespa gue di bengkel dan itu gara-gara elo b**o" katanya dan menonyor jidat Sasi hingga gadis itu memundurkan beberapa langkah nya. Sasi mengelus jidatnya "Nama lo siapa?" Tanya Sasi. "Ivan, pokoknya elo harus tanggung jawab" katus Ivan. "Ck, gini ya kakak kelasku yang berwibawa, berhubung saya selaku adik kelasmu tak mempunyai uang jadi saya tak bisa membayar ganti rugi motor anda yang rusak" kata Sasi dibuat-buat. "Siapa yang bilang elo harus ganti rugi pake duit?" Cetus Ivan membuat Sasi mengkerut kan keningnya. "Terus?" Kata Sasi bingung. Belum sempat Ivan menjawab, ia dikejutkan oleh kedatangan Nino-sahabatnya- yang entah datang dari mana dan langsung merangkul leher Ivan. Sok akrab-pikir Sasi. "Woy, Van gue cariin dari tadi juga, malah asik-asikan pacaran" omel Nino seraya mengatur nafasnya. "Gila lo, gue bukan pacarnya cowok gak jelas ini ya" cetus Sasi saat cowok disamping Ivan itu memberi pendapat nya tak jelas sedangkan Ivan hanya terkekeh mendengarnya. "Van cepet ke rofftop, si Farel tadi digebukin ama anak sebelah" kata Nino. "Oke gue kesana, dan elo gue belum minta ganti rugi, tunggu aja nanti" ketus Ivan dan langsung lari meninggalkan Sasi yang terlihat masabodo. "Ck, au ah gelap. Mending gue cari pita merah putih" kata Sasi menghilangkan kejadian tadi dari otaknya. Sasi berjalan menuju taman, siapa tahu pita itu ada di taman. Lagipula Sasi sudah cukup lelah. Lelah berjalan dan lelah berbicara tentunya. Ia butuh istirahat mungkin sekejap. Untuk sekedar duduk di kursi taman tak apa bukan?. Gadis itu duduk di kursi panjang di bawah pohon yang entah itu pohon jenis apa, Sasi memijit pelipisnya. Cuaca hari ini cukup terik, untung saja ada banyak pohon besar di taman jadi membuat keadaan taman cukup rindang. Sasi mengadahkan kepalanya disenderan kursi, matanya membulat dengan mulut terbuka menampakkan deretan giginya. Ia melihat barang yang ia cari sedari tadi. "Alhamdulillah, akhirnya tu pita gue temuin" seru Sasi bahagia setelah melihat pita berwarna merah putih namun berada di atas pohon, untung saja ia sedikit pandai memanjat pohon jadi Sasi tak perlu meminta tolong kepada siapapun. Sasi melepaskan sepatunya dan mulai mengancang-ngancang hendak memanjat pohon. Tak tunggu waktu lama untuk memanjat pohon itu. Banyak siswa-siswi yang melihat kearah Sasi dengan pandangan yang Sasi sendiri tak peduli apa artinya. Yang terpenting ia sudah dapat barang itu. Setelah mengambil Pita itu Sasi langsung memakai sepatunya setelah itu ia berjalan menuju aula dengan langkah penuh kemenangan bak habis memenangkan lotre. Sasi tiba di aula, namun aula nampak sepi mungkin karena ini sudah memasuki jam istirahat. Untung saja dua teman barunya itu ada di tempatnya. Padahal gadis itu tadi berniat untuk menuju ke kantin hanya untuk mencari dua teman barunya itu. "Gila, tau gak lo?" Seru Sasi menghampiri Gina dan Galang yang duduk di kursi mereka masing-masing. "Gak tau lah, elo aja gak kasih tau kita. Ya gak Lang" sahut Gina sedikit kesal. Sasi duduk di samping Guna "Hehe iya juga yah" seru Sasi menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal. "Ya udah cepet cerita, gue udah penasaran tingkat dewa nih" lebay Gina. "Alay lo" kata Galang. "Ya ya gue cerita. Lo tau orang yang gue tendang kemarin di lapangan?" Kata Sasi mulai bercerita. "Kak Ivan maksud elo?" Cetus Gina. Gimana menghentakkan kakinya gemas saat Sasi menganggukan kepalanya meng-iya kan pertanyaan yang di lontarkan dirinya "Si pangeran sekolah? Lo buat masalah lagi pasti sama dia? Ya kan?" Ucap Gina dengan nada curiga. "Mungkin, tadi gue gak sengaja nabrak dia lagi, terus dia minta tanggung jawab lagi" kesal Sasi. "What, elo harus hati-hati mulai detik ini!" Perintah Gina panik. "Emangnya kenapa?" Tanah Galang yang tak tau apa-apa. "Kak Ivan itu ketua Genk di sekolah kita dan dia punya banyak pasukan. Emang elo mau jadi sasaran kak Ivan?" Tanya Gina. Sasi berdecak sebal "Gue udah baca novel-novel yang kaya gitu, dan gue gak mau jadi korban novel kaya elo!" Ketus Sasi. Gilang memindahkan tempat duduknya agar duduk di depan Sasi "Apa yang diomongin Gina tuh bener tau Sas" ucap Galang sembari membenarkan letak kacamatanya yang sedikit melorot. "Ah ah bodo, gue gak peduli! Lagian gue juga gak ada rencana buat ketemu sama dia! Disengaja maupun gak di sengaja!" Ketus Sasi. See you next part
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD