Bahagia dan Pura-pura Bahagia

1204 Words
Cahaya mentari pagi menelusup melalui celah-celah gorden di ruang tidurnya. Sinarnya yang hangat membuat semakin nyaman terlelap. Berkali-kali ketukan yang terdengar dari luar pintu kamarnya pun sengaja ia abaikan. Seolah enggan berpisah dari tempat tidurnya. Hingga suara ketukan pintu itu semakin kencang dan membuat ia bangun dan terpaksa membukakan pintu. "Ada apa Ma? Ini masih jam sembilan pagi dan ini weekend. Aku ingin sedikit bersantai," ucap laki-laki itu kesal. "Bersiaplah sayang, di bawah ada Juwita dan keluarganya. Kita akan membahas pertunangan kalian." "Ma, apa Mama yakin dengan perjodohan ini? Aku sama sekali belum bisa menerimanya, Ma. Apa Mama tidak bisa membujuk Papa dan keluarga Juwita untuk mengulur waktu lebih lama supaya aku lebih mengenal Juwita." "Mama tau apa yang kamu rasakan sayang. Tapi cobalah menerimanya. Lagipula kau tau sifat papamu. Jika keputusan sudah diambil. Dan tidak akan ada yang bisa menggugatnya. Mama juga menginginkan kamu bahagia. Papamu dan papanya Juwita itu selain rekan bisnis juga sudah bersahabat sejak lama. Dan mereka ingin memperkuat jalinan ini dengan menikahkan anak-anak mereka. Lagi pula selain cantik, Juwita gadis yang baik bukan? Apa sesusah itu menerimanya, heum?" Mamanya mencoba memberi pengertian dan membujuk Aldillo. Aldillo menghembuskan nafas kasar. Mengingat lagi perilaku Juwita saat bersamanya, dia wanita manja yang selalu ingin diperlakukan layaknya seorang putri. Angkuh dan suka merendahkan orang. Apalagi saat mengingat saat kejadian di Mall beberapa hari lalu. Hanya karena bajunya terkena tumpahan es krim yang tidak seberapa, Juwita langsung menghardik dan merendahkan orang itu dan bahkan akan memukulnya. Untung saja dirinya cepat menahan tangan Juwita sebelum mendarat di pipi gadis itu. Dan karena ingin melindungi harga diri seorang Juwita, ia juga terpaksa ikut bersikap angkuh dan merendahkan gadis itu. Karena akan terlihat aneh jika ia membela gadis itu dan menyalahkan Juwita. Sepertinya ia akan sangat frustasi jika terus berdampingan dengan Juwita. Apalagi harus menikahi dan menjalani sisa hidupnya bersama orang yang sama sekali tidak ia cintai. Ah tidak! Mungkin cinta akan datang karena terbiasa. Tapi dengan segala perangai Juwita, rasanya tak mungkin ia bisa jatuh cinta pada wanita itu. Tapi di satu sisi, ia juga tidak ingin mengecewakan orangtuanya, terutama papanya. Aldillo menyugar rambutnya frustasi dan berdecak kesal. Perdebatan batinnya sama sekali tidak memberikan jalan keluar. "Baiklah. Aku akan bersiap." "Oke, jangan lama-lama yaa..." Dengan senyum mengembang Sofia mecolek ujung hidung putra kesayangannya lalu beranjak keluar dari kamar Aldillo. Beberapa menit kemudian, Aldillo datang menghampiri keluarganya dan juga keluarga calon tunangannya. Setelah menyapa orang tua Juwita, Aldillo meminta izin untuk berbicara sebentar dengan Juwita. Aldillo membawa Juwita ke halaman belakang rumahnya. "Yakin mau lanjutin hubungan ini?" Aldillo memulai pembicaraan dengan langsung menanyakan intinya tanpa basa-basi lagi. Juwita hanya diam tak menjawab. Tatapan mata Aldillo yang sedari tadi datar memandang lurus kedepan kini menyorot tajam pada wanita yang berdiri disebelahnya. Juwita tersenyum miring tanpa terintimidasi sama sekali oleh tatapan yang seolah membunuh dari calon tunangannya itu. "Kenapa masih ditanya? Aku udah sampe sini loh... Aku rasa, aku gak perlu jawab pertanyaan kamu," dengan santai Juwita menjawab pertanyaan Aldillo. "Tapi kamu tau kan kalo aku tuh ...." "Udahlah Al. Jalanin aja yang ada di depan mata sekarang!" Juwita menyela pembicaraan Aldillo dan langsung berjalan kembali ke dalam rumah meninggalkan Aldillo di halaman belakang. Aldillo semakin frustasi. Tadinya Ia mengajak berbicara empat mata dengan Juwita supaya Ia bisa mengundur atau bahkan membatalkan jalinan yang direncanakan kedua orang tua mereka masing-masing. Tapi dilihat dari tanggapan Juwita barusan, tidak ada sedikitpun keraguan untuk menunda bahkan membatalkan perjodohan ini. Bahkan dengan yakin, Juwita meminta Aldillo untuk menjalani saja. "Aaarrrghhh..." Sambil menjambak rambutnya sendiri, Aldillo berteriak kesal. Tak mungkin berlama-lama sendiri di halaman belakang rumahnya, akhirnya Aldillo kembali ke ruang tamu untuk kembali bergabung bersama keluarganya dan keluarga Juwita. Namun Juwita tidak ada di sana. "Kok sendiri? Juwita mana?" Daniel, ayah dari Juwita sekaligus calon ayah mertuanya bertanya keheranan. Aldillo sempat gugup dan bingung mau menjawab apa. Karena memang Ia yang pamit membawa Juwita. "Eehhmm... Juwita tadi... Juwita..." "Yes me! Ada apa kau menyebut-nyebut namaku? Apa beberapa detik saja tidak bertemu membuat kerinduanmu semakin bertambah?" Belum selesai Aldillo meneruskan kalimatnya, terdengar suara perempuan dibelakangnya menyela ucapan Aldillo. Aldillo tak menjawab pertanyaan Juwita, Ia melirik sekilas pada wanita itu. Niatnya yang hanya melirik tapi dengan sukses Ia malah mebulatkan matanya menatap Juwita yang kembali dengan riasan wajah yang tebal. Mungkin orang biasa menyebutnya dengan kata 'menor'. "Juwita, Aldillo, ayo duduk dulu. Papa punya kabar baik untuk kalian berdua," Alfandy, ayah dari Aldillo mempersilahkan pasangan itu duduk. "Begini nak, Daniel dan aku sudah sama-sama sepakat menentukan hari dan tanggal pertunangan kalian. Niat baik itu tidak boleh ditunda lama-lama. Jadi kami pikir lebih cepat itu lebih baik. Iya kan?" Semua orang yang ada disitu menganggukkan kepala mengiyakan ucapan Alfandy, terkecuali Aldillo yang memang memasang wajah datar dan tanpa ekspresi khas dirinya sendiri. Pertunangan Aldillo dan Juwita akhirnya diputuskan akan digelar tiga hari lagi. Juwita terlihat antusias dan bersemangat dengan keputusan ini. Sedangkan Aldillo hanya tersenyum datar berpura-pura terlihat bahagia agar tak mengecewakan kedua orangtuanya. Atas permintaan Juwita, acaranya akan diadakan di pulau pribadi milik keluarga Aldillo. Dan tentunya akan mengundang semua rekan bisnis dan para pemimpin perusahaan yang ada di negara ini. *** Dibawah langit jingga, Thania masih duduk santai di tepian kolam renang di halaman belakang rumahnya. Gemericik suara air yang tercipta dari air mancur yang ada di sudut kolam menambah rileks pendengaran. Thania asyik membaca novelnya sambil mencelupkan sebagian kakinya ke kolam. Sampai seseorang mengelus puncak kepalanya. "Hai Sweety, bagaimana persiapan kuliahmu?" "Hai, Pa. Sudah hampir seratus persen. By the way, tumben Papa pulang sore? Kemarin-kemarin selalu pulang malam dan aku pasti sudah tidur. Saat pagi pun, kita hanya bertemu di meja makan untuk sarapan dan selanjutnya Papa berangkat lagi dan pulang larut malam lagi." Thania mengeluh mencebikkan bibirnya manja. Papanya tersenyum memandang putrinya yang menggemaskan ini. Lalu duduk disebelah Thania dan ikut mencelupkan setengah kakinya ke kolam renang. "Apa princess cantik ini sedang merindukan Papanya, heum? Maafkan Papa akhir-akhir ini selalu sibuk ya sayang. Oh ya, besok ada undangan pertunangan dari rekan bisnis Papa di suatu pulau. Kamu ikut ya? Sekalian kita bisa quality time bertiga." "Serius Pa? Aku mau ikut. Udah lama banget nggak main di pantai." "Papa akan ambil cuti dua hari. Jadi setelah acara pertunangan kolega Papa selesai. Kita masih bisa liburan disana selama dua hari. Papa juga merindukan dua bidadari-bidadari cantiknya Papa." "Yeaayy... Thank you Pa," ucap Thania antusias lalu memeluk Papanya. Panji yang gemas dengan tingkah putrinya kemudian mencubit hidung Thania. "Katanya rindu dua bidadari, kok yang satunya gak dipeluk sih?" Thania dan Panji sontak menoleh kebelakang dan terlihatlah si empunya suara. Entah dari kapan Gaby ada disana dan menguping pembicaraan antara ayah dan anak itu. Lalu Gaby menghampiri untuk bergabung bersama mereka dan duduk disamping Panji. Panji melingkarkan tangan kirinya di pinggang Gaby dan tangan kanannya memeluk bahu Thania sambil sesekali mengelus sayang kepala putrinya yang bersandar pada pundaknya. Siapapun yang melihat adegan ini pasti setuju bahwa kehidupan seorang Panji Aditama memang sangatlah sempurna. Perusahaan dan bisnis yang semakin berkembang, memiliki istri dan putri yang sama-sama cantik dan mampu membina sebuah keluarga yang hangat serta harmonis. Thania pun bersyukur bisa terlahir dari keluarga yang bahagia ini, juga dengan segala yang dikaruniakan Tuhan padanya dan keluarganya. Thania benar-benar bahagia dan berharap semoga kebahagiaan keluarga ini tak pernah berakhir.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD