Seusai pertunangan Aldillo dan Juwita, semua kembali ke rutinitas masing-masing. Begitu pun dengan Thania. Tiga hari berlalu setelah rencana liburan bersama keluarganya gagal, Thania belum bisa merencanakan ulang quality time bersama mama dan papanya. Panji kembali ke kesibukannya. Sedang Thania sendiri tinggal menunggu keberangkatannya ke Australia untuk melanjutkan kuliahnya. Segala keperluan di sana sudah di handle oleh teman masa kecil mamanya yang kebetulan sekarang tinggal di kota yang sama dengan tempat Thania akan menempuh pendidikan.
Hari ini Bella menyempatkan waktu untuk datang berkunjung kerumah Thania di sela-sela kesibukannya yang juga mempersiapkan kuliah kedokterannya di universitas swasta ternama di ibukota. Karena jadwal keberangkatan sahabatnya itu bentrok dengan acara nikahan kaka sepupu Bella di luar kota. Jadi nantinya Bella tidak bisa mengantar Thania ke bandara.
Thania sedang menata puding coklat di piring datar yang tadi pagi ia buat spesial untuk sahabatnya. Lalu tiba-tiba wanita paruh baya yang bekerja sebagai asisten rumah tangga dirumah Thania tergopoh menghampiri Thania di dapur.
"Non Thania, itu ada Non Bella baru aja sampe. Lagi parkirin mobilnya dulu."
"Oh iya Mbok, tapi kenapa Mbok ngos-ngosan begitu?"
"Iya Non, tadi Mbok yang bukain gerbangnya, soalnya lumayan lama Non Bella bunyiin klakson mobilnya gak dibuka-buka. Eh taunya Pak satpamnya lagi di toilet. Untung aja kunci gerbang gak dibawa juga ke dalam toilet. Abis tutup gerbang Mbok buru-buru ke dapur mau siapin minum sama puding coklat yang tadi pagi Non Thania bikin. Takutnya Non Thania lagi di kamar atau malah lupa gak sajiin pudingnya."
"Iya Mbok, kaya waktu itu. Aku udah sampe rumah dia baru chat kalo dia bikin puding buat aku. Telat banget kan??" Bella yang baru saja tiba langsung nimbrung dan menunjuk sebal ke arah Thania.
"Dateng-dateng langsung nyambung aja, ucap salam dulu kek," ucap Thania sambil terkekeh.
"Selamat pagi menjelang siang... Bella sudah berada di sini, mari kita ke basecamp kita yang tidak lain dan tidak bukan adalah kamar tidur dari Nyonya Julian."
Mata Thania membulat mendengar itu, spontan saja Thania mencubit lengan Bella.
"Aawww... Apaan sih Than, sakit tau!" Bella mengusap-usap lengannya yang terasa panas karena cubitan kecil dari Thania.
"Oke baiklah Nyonya David, mari kita ke basecamp. Sama tolong sekalian ambilin soft drink yang rasa stroberi di kulkas."
Thania tak mau kalah dengan balik menggoda Bella. Lalu melangkah menuju kamarnya di lantai dua sembari membawa nampan yang berisi puding dan berbagai cemilan makanan ringan lainnya. Sebenarnya asisten rumah tangganya sudah menawarkan diri agar dia saja yang menyiapkan cemilannya dan mengantarkan ke kamar. Tapi Thania menolaknya karena tidak mau merepotkan. Lagi pula jika hanya begini Thania bisa melakukannya sendiri. Walaupun Thania hidup berkecukupan, tapi Thania bukan anak manja yang apa-apa serba dilayani oleh asisten. Orang tuanya mendidiknya supaya bisa mandiri dan tidak ketergantungan orang lain.
Saat di kamar, Bella menyerahkan minuman bersoda rasa stroberi itu pada Thania yang sedang asyik memainkan ponselnya. Sambil mengunyah pudingnya, Bella mencebikan bibirnya iri saat tau Thania sedang berbalas pesan dengan Julian.
"Jadi gue kesini cuma mau nontonin pasangan beda benua ini lagi chatting-an nih??"
"Bentar ya Bell, gue balesin chat Kak Julian dulu." Thania tersenyum tersipu-sipu sambil membalas chat dari laki-laki yang dicintainya.
"Iya deh tau... Yang lagi kasmaran sampe segitunya. Lagian kan kalo di sini jam sepuluh pagi, berarti disana jam sepuluh malam kan?"
"Iya," jawab Thania singkat. Lalu meletakkan ponselnya di atas nakas. Kemudian mengambil toples berisi keripik kentang dari tangan Bella.
"Lah, udahan chat-nya? Kirain gue bakal bulukan dicuekin sampe sore."
"Ya nggak lah. Dia itu cuma ngasih kabar kegiatannya hari ini. Terus langsung pamit mau tidur. Soalnya kan udah malem juga disana. Yaudah deh gitu doang."
"Gitu aja? Terus?"
"Ya gue ucapin selamat tidur lah. Apa lagi? Masa orang mau tidur gue ucapin happy new year?"
"Iiihhh, maksud gue masa cuma begitu aja bikin lo senyum tersipu sampe merona gitu sih?" Bella yang kepo kini gantian merebut toples keripik kentang itu dari Thania.
"Kasih tau gak yaa...?" Thania tersenyum menggoda sengaja membuat Bella penasaran. Bella langsung mengambil ponsel Thania diatas nakas dan membaca chatting-an sahabatnya itu dengan Julian. Memang antara Bella dan Thania sudah tidak ada privasi antara satu sama lain. Mereka sangat terbuka, saling berbagi cerita apapun itu, bahkan untuk sandi ponsel masing-masing, mereka saling mengetahuinya.
Sesaat Bella tersenyum membaca isi chat Thania dan Julian. Lalu setelah itu bibirnya mengerucut dan meletakkan kembali ponsel milik sahabatnya itu di tempat semula.
"Kenapa Bell? Sirik? Makanya buka blokiran David biar bisa chat sama orangnya langsung. Gue mau pensiun ahh jadi perantara kalian"
"Entahlah ya Than, gue masih gondok aja kalo inget dia. Ya gue gak abis pikir aja. Setelah kejadian yang menimpa gue, bisa-bisanya dia minta gue bungkam dan gak mem-blow up masalah ini. Gue kan menderita gara-gara dia. Tapi dia malah seenaknya aja ke gue. Buat apa juga kontekan sama orang kayak begitu. Mending gue blok aja sekalian kan? Udah kebaca banget dia cuma mau mainin gue macam cewek-cewek pengikutnya. Dia kira gue gampangan apa? Dan kalo lo beneran sahabat gue, jangan pernah kasih info apapun tentang gue ke dia. Dan gue juga gak mau tau tentang dia."
Emosi Bella mendadak meluap-luap mengingat kejadian saat dirinya seharian terkurung di dalam toilet sekolah yang sudah tidak terpakai karena ulah David yang mendekatinya terang-terangan. Terlebih David juga yang melarang Bella mengungkapkan pelakunya.
Thania yang sudah paham sifat sahabatnya itu tidak merasa ciut mendengar ocehan Bella yang mirip petasan kembang api di malam tahun baru. Walaupun terdengar sangat emosi jika membahas David, tapi Thania tau betul jika dalam hatinya, Bella masih menyukai David. Thania malah terkekeh sambil menyodorkan minuman dingin pada Bella.
"Gak janji yaa, hehe. Nih dinginin dulu otak lo. Biar gak ngomel terus."
Bella menerimanya dan langsung meneguk minuman kaleng itu hingga hampir setengahnya.
"Eh tapi Bell, kalo David serius suka sama lo gimana?"
"Ya ga mungkin lah, Thania. Lo gak bisa menyimpulkan dari apa yang gue alamin? Kalo dia serius, pasti dia bantu gue buat ngelaporin pelakunya. Bukannya malah nyuruh gue bungkam." Kali ini nada bicara Bella kembali tenang. Tidak meluap seperti sebelumnya.
"Jangan berasumsi sendiri lah. Kan lo juga belum tau alasannya kenapa dia begitu. Siapa tau dia punya alasan khusus. Bukannya nanya alasannya, malah langsung diblokir aja."
"Males ahh bahas dia. Jadi badmood! Ehh iya Than, Lo sama Julian tuh resmi jadian gak sih?" Bella mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Hmmm gak tau juga yaa... kalo gue sih jalanin aja. Komunikasi kita juga lancar kok. Hampir tiap hari kita chat-an. Dia selalu ngabarin gue, dan gue pun sebaliknya. Jadi kayaknya gak ada yang perlu dikhawatirin. Masalah jadian resmi atau nggak nya, kalo menurut lo, gue sama kak Julian udah mirip orang pacaran belum, heum?" Thania tersenyum menggerakkan alisnya naik turun meminta pendapat Bella. Merasa pertanyaan Thania seperti mengejeknya yang masih jomblo, bukannya menjawab, Bella malah menjejalkan roti coklat ke mulut Thania "Bikin sirik aja iisshhh..." umpatnya kecil namun masih bisa terdengar oleh Thania. Thania tertawa kecil sambil mengunyah roti yang dijejalkan Bella.
Thania dan Bella menghabiskan waktunya dengan bercerita, menonton film, mengobrol, mengenang masa-masa sekolah, juga pastinya membahas David dan Julian. Walaupun Bella masih tetap pada pendiriannya, Thania tak lelah membujuk Bella agar mau berkomunikasi lagi dengan David. Sedang saat membahas Julian, Thania jadi sangat merindukan laki-laki itu. Semenjak pertemuan terakhir saat perpisahan sekolah, Thania tidak pernah bertemu Julian lagi. Walaupun Julian sering mengirim foto dirinya dan kegiatannya di sana, juga sesekali Julian menghubunginya dengan video call, tapi tetap saja rindu Thania belum terobati. Tapi Thania selalu ingat pesan Julian "bersabarlah untuk akhir cerita kita yang bahagia". Hanya dengan kata-kata itu Thania mencoba bertahan. Lagi pula kesabaran akan berbuah manis. Seperti kesabarannya mencintai Julian dalam diam yang ternyata tidak bertepuk sebelah tangan. Meskipun setelah cintanya terbalaskan, Thania harus berpisah dengan Julian. Thania semakin memantapkan hati untuk tetap bersabar menanti.
"Semoga Kakak bisa segera menepati janji Kakak. Aku merindukanmu!" batin Thania bergumam.