Kembang Kampus

1220 Words
Embun pagi masih menari di pucuk rerumputan, dan hutan-hutan mini yang berjajar mengelilingi kampus megah itu, seolah menghalangi sinar matahari yang hendak memanaskan bumi dan seisinya. Sepagian itu, kampus di universitas favorit di sudut metropolitan itu sudah ramai dengan riuh rendah tawa mahasiswa. Ada yang berjalan sambil menenteng  buku-buku tebal, ada yang asyik duduk di gazebo sambil asyik menekuni laptop masing-masing, ada yang sekedar ngobrol dan tertawa-tawa sambil menghirup kopi atau jus favorit di kantin sudut kampus. “Anggita, woiii … sini ….” Sebuah suara dengan timbre tipis alias cempreng, menjerit tak menghiraukan sekeliling yang menatap heran atau sebal ke arahnya. Ia melambaikan tangan dengan semangat, juga abai dengan gelas jus yang hampir terguling dari meja Kantian, karena lambaian tangannya. Yang dipanggil Anggita menoleh, dan tersenyum. Ia berjalan perlahan dari parkiran, setelah mengunci mobil maticnya dengan anggun. “Klik” Lalu menyimpan kunci mobil di tas kuliah yang semua bisa menduga berapa harganya. Mahal. Branded. Ratusan juta harganya. Masih mahasiswi, lho. Ia tak peduli pada semua pasang mata yang menoleh, dan menatapnya tak berkedip. Senyumnya mengembang seirama dengan lambaian sahabatnya yang terlalu bersemangat. Rambut panjangnya tergerai hampir menyentuh pinggang rampingnya. Warna hitam legam rambutnya, seolah bersinar diterpa sinar mentari yang masih saja mengintip malu-malu. “Lo udah pesenin gue jus mangga, kan Ra?” Tanyanya, masih abai pada orang-orang di sekelilingnya, yang terus menatapnya tak berkedip. Siapa sih, yang tak kenal gadis itu? Anggita Larasati. Mantan None Jakarta yang juga salah satu finalis putri kampus tingkat nasional itu, memang ikonik kecantikan perempuan masa kini. Beruntung terlahir sebagai putri sulung Brotoseno, konglomerat lawas pemilik percetakan terbesar di negeri ini. Kaya raya, dan dilimpahi segudang keberuntungan yang tak semua orang punya. Paket komplit. Paket lengkap. Wajar jadi obyek cemburu para gadis sekampus, atau jadi obyek incaran pemuda sekampus. Tubuh 175 cm nya dibalut jins belel dan kaos ketat warna putih. Lengan panjang, berbahan rajut. Sederhana. Tapi chic. Wajah lonjongnya yang berdagu belah ia balut tipis-tipis dengan bedak sewarna madu dan lipstick sewarna limau. Ranum. Segar. Meski tampilannya terlihat simple dengan sneakers putih dan kaos kaki pendek senada, kalian tak bisa menganggap penampilannya bersahaja, lho. Selain BMW seri terbaru yang baru saja ia parkir dan tas ratusan juta yang ia sandang dengan ringan di bahunya, jam tangan mungil keperakan melingkar manis. Rolex. Edisi terbatas. Jelas bukan edisi KW apalagi beli di Tanah Abang. Ia tersenyum tipis, pada siapa pun yang memandangnya, atau mengaguminya. Hanya itu. Sudah terlalu biasa ia menerima pandangan kagum dan terkesima dari orang-orang yang menatapnya. Sehingga, ia tak merasa tinggi hati atau pun risih dengan hal itu. Semua seolah sudah sewajarnya. Sudah sepantasnya. Bila kekaguman tertuju padanya. Jalannya melenggang menuju kantin, lalu langsung memeluk Ira sahabatnya erat-erat. “Gue kangeennnn ….”  Serunya. Mereka berdua berpelukan dan tertawa, abai jadi perhatian seisi kantin. “Liburan keliling Eropa, itu elo. Liburan ngerjain cucian segunung, itu gue. Nasiiib …” Ira menepuk dahinya dengan gaya lucu, segera setelah Anggita duduk manis di bangku kayu itu. “Lo jangan sedih. Nggak gitu juga kali, Ra. Nggak sengenes itu deh, hidup lo …” katanya sambil melambaikan paper bag bermerek Torry Burch di depan mata Ira. “Ya Allah, elo serius ini buat gue, Ta?” Ira membelalakkan matanya, melihat paper bag dan isi di dalamnya. Anggita hanya mengangguk sambil menyedot jusnya. “Buka aja.” “Ya Allah, Taaaa … Ini kan muahallll banget, nggak sanggup gue bayar ini, mah. Uang jajan gue setahun juga nggak sanggup, ganti ini, mah Taaa. Gue kan Cuma bercanda minta oleh-oleh waktu itu.” Ira mulai panik, melihat paper bag berlogo T itu berisi dus sepatu, yang ketika ia buka, tadaaa … flat shoes cantik berbahan suede berwarna maroon, menyembul malu-malu. “Coba, pake Ta. Ayo.” Ia lantas menunduk, mengangsurkan sepatu itu ke kaki Ira. Persis, seperti layaknya SPG di sebuah butik ternama. Malu-malu, Ira mencoba flat shoes cantik itu. “Pas. Ya Allah, passss. Jodoh ini mah, Taaa …” suaranya mulai sengau. Setetes air mata mengambang dari kelopak matanya. “Itu emang jodoh lo, Cong. Udah gue bilang kan, mau bawain lo oleh-oleh.” “Jadi ini seriusan buat gue, Cong? Gue nggak bayar?” Anggita tertawa dan menggeleng, sambil menoyor dahi sahabatnya. “Sekarang aje lu ye, sok iyeh nanya bayar-bayar. Pas itu  kaki yang jempol semua, udah keburu masuk di sepatu itu.” Ira terkekeh. Menggoyang-goyangkan kakinya ke kanan dan ke kiri, sambil menikmati pemandangan indah di kakinya. “Sepatu kuliah lo udah butut banget, tau. Sepatu lo yang rada formal juga udah jebol, kayaknya. Jadi ya, gue pilih flat shoes ini deh, bisa lo pake kuliah, kalo lo mau magang di kantoran nanti kan, juga masih pantes, kan Ra?” Ira mengangguk, terharu. “Asal jangan lo lewat genangan air becek, lo terabas juga, Ya sama aja  boong, jebol juga tuh sepatu.” Anggita mengernyitkan bahunya lucu. “Aduh Taaa, lo baeeek banget, sih. Senang banget gue punya sahabat kayak elo.” Ira memeluk sahabatnya dengan erat. Anggita hanya tersenyum dan perlahan membuka  laptop mungilnya di tas, siap-siap fokus pada tugas yang belum ia tuntaskan. “Gue harus doain lo apa ya, Ta, buat ngebales kebaikan lo? Doain lo banyak duit, lo udah tajir dari lahir. Doain lo glowing dan kinclong, lah elo dari lahir emang udah jadi putri raja.” “Lebay, lu …” Anggita menimpuk sahabatnya dengan tisu bekas yang ada di meja. “Nahhh, gue doain lo dapet pacar aja gimana? Masa udah cakep, tajir melintir, masih jomblo gini sih, Taaa?” Anggita tersenyum. “Doain gue, lulus mata kuliah statistik, nih. Susah banget, gilak. Mana dosennya killer. Tugasnya bejibun. Ujiannya juga close book terus, nggak boleh nyontek rumus. Puyeng gue. Bisa ubanan nih rambut?” Cemberut, sambil menggoyang-goyangkan ujung rambutnya. Ira ngakak dan tertawa lebar. “Dasar ambissss! Super ambisius. Didoain dapet pacar, malah puyeng sama statistik.” “Woiii cewek-cewek berisik banget dari tadi. Ini kantin bukan punya lo tauuu …” Seorang pria bertubuh kurus, jangkung, dengan tinggi hampir 180 cm, berkaca mata tebal dan mengenakan kemeja flannel warna navy itu mendekat dan menggebrak meja mereka. Bukannya marah, kedua gadis itu tertawa-tawa. Anggita mengangsurkan sekantong cokelat buat Angga. “Oleh-oleh nih, Ga. Buat elo. Jangan ditelen semua ya, ntar gigi lo ompong tuh.” Angga tersenyum. Matanya berbinar menerima sekantong cokelat yang tampak mahal itu. “Hooh, gue beli di  Swiss nih cokelat, bingung mau bawain apa buat temen-temen sekelas.” “Thank you, Ta. You are the best deh. Entar gue bagi-bagi ke temen sekelas yang lain, ya.” Tawa lebarnya tak pernah lepas menatap kedua gadis cantik di depannya. Eh, satu doang deh, yang cantik. Yang satunya, bulat, chubby, bogel, tapi sumpah, manis banget. Bisik Angga mengagumi Ira dalam hati. “Yuuk, masuk kelas. Lima menit lagi kelas mulai nih, entar diusir lho sama dosen killer kalo telat.” Angga menggiring kedua gadis itu menuju kelas mereka. “Halah, bawel banget sih lo, ketua kelas sok kuasa. Belon abis nih bakso sama jus nya, gue masih laper, tauuu,” rutuk Ira kesal. “Bawa aja jusnya, trus beli roti, deh. Entar gue yang traktir oke? Lengan kanannya menggamit pundak Ira, dan lengan kirinya, menggandeng tangan Anggita. Mereka  bertiga memang akrab. Ciee, ada yang sirik nggak nih, cowok kurus kayak Angga bisa gandeng dua jelita kampus? ***   
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD