Rania telah selesai dengan urusannya itu, ia beralih ke wastafel untuk mencuci tangan.
“Akhirnya lega,” batin Rania.
Tak sengaja ia melihat dari kaca wastefel, ada seseorang yang berdiri di belakangnya.
“Astaga!” kaget Rania saat melihat Aksa yang ada di belakangnya.
“Aku kira siapa,” kata Rania lagi, masih melanjutkan untuk mencuci tanga, ia juga memoles bibirnya sedikit agar terlihat cantik.
Rania tak terlalu takut saat tau itu adalah Aksa, bukankah hal biasa bagi mereka berada di satu ruangan yang sama.
“Perempuan memang merepotkan,” ucap Aksa saat melihat Rania mengeluarkan beberapa perlengkapan make up di tasnya.
“Agar terlihat cantik supaya tidak dicampakkan,” kata Rania, ia beralih memoles bedak padat di wajahnya.
Aksa menghela napas kasar saat Rania mengatakan itu, ia pun mendekat dan tepat berada di belakang Rania. Aksa juga ingin melihat penampilannya di kaca mana tau ada yang kurang.
“Astaga Aksa, kenapa dia harus berada di belakangku,” batin Rania, buluk kuduknya berdiri saat merasakan hembusan napas Aksa mengenai lehernya itu.
“Aksa, bisa ke sebelah sana,” kata Rania dengan suara pelan.
“Kenapa memangnya? Mau aku memelukmu seperti ini,” kata Aksa, memeluk Rania dari belakang.
Ini tujuan Aksa ke sini, mengerjai Rania.
“Tidak, bukan begitu,” kata Rania, ia ingin berbicara lembut dengan Aksa agar tak menimbulkan perdebatan panjang.
Aksa masih memeluk Rania dari belakang, bahkan Aksa menyingkirkan rambut Rania yang menghalaginya untuk melihat leher jenjang Rania.
“Bu—“ perkataan Rania terpotong saat melihat ada beberapa orang yang membuka pintu.
“Rania!” teriak beberapa orang.
Aksa dan Rania melihat bersama ke arah sumber suara, dengn sengaja Aksa mengecup leher Rania untuk menambah fantasi liar di otak rekan kerja Rania.
“Ini bukan seperti yang kalian lihat,” ucap Rania berusaha berjalan menuju temannya agar tak salah faham. Bisa bahaya kalau mereka salah faham.
“Sayang, kenapa pergi. Kita belum selesai,” kata Aksa lagi, ia sengaja ingin mengoda Rania.
“Tuan, maaf menganggu aktifitas kalian,” kata salah satu dari mereka.
Aksa tersenyum merespon mereka, “Tolong tutup pintunya,” kata Aksa lagi.
Aksa benar-benar ingin membuat Rania malu karena ulahnya itu. Bagaimana ia harus menjelaskan ke rekan kerjanya kalau Aksa sedang becanda. Pasti tidak ada yang percaya dengan Rania, apalagi orangnya itu adalah Aksa. Siapa yang akan percaya, parahnya lagi ia akan dipitnah nanti.
“Aksa! Kamu benar-benar ya,” kesal Rania, dengan kasar ia melepaskan tangan Aksa dari pingangnya itu.
“Hahahah.” Aksa tertawa terbahak-bahak melihat Rania kesal. Ia sangat bahagia melihat Rania marah.
“Kamu jahat!” bentak Rania, lalu benar-benar keluar dari kamar mandi.
Aksa masih tertawa saat membayangkan wajah kesal Rania terhadapnya.
“Astaga, ini sangat lucu,” kata Aksa melihat pantulan dirinya ke cermin.
Aksa mengingat bagaimana ia mencium leher Rania tadi.
“Apa ini?” batin Aksa tak tau perasaan apa yang ia miliki terhadap Rania.
Ia tak tau kenapa ia bisa refleks mencium Rania, rasanya campur aduk. Aksa tak bisa mendeskripsikan perasaannya saat ini.
***
Rania berjalan ke ruang rapat, banyak orang melihat ke arahnya sambil berbisik. Pasti mereka membicarakan kejadian di toilet.
“Aksa, benar-benar membuatku dalam bahaya,” batin Rania, pasrah dengan hidupnya.
“Sini.” Nara menarik tangan Rania untuk berbicara di pojok ruangan, ia ingin menanyakan detailnya kepada Rania.
“Apa yang aku lihat tadi, tidak benar bukan?” tanya Nara, tak percaya dengan penglihatannya.
“Nara, aku tidak bisa menjelaskan lebih detail. Intinya kejadian tadi hanya lelucon bagi Tuan Aksa,” kata Rania, berusaha menjelaskan kepada Nara.
“Lelucon? Aku rasa tadi kalian tidak sedang becanda,” kata Nara lagi.
“Lagipula, sejak kapan kamu dan Tuan Aksa begitu akrab. Sampai becanda ke …” Nara menghentikan ucapannya, ia tau pasti Rania mengerti maksudnya.
“Nanti saja aku jelaskan, Tuan Aksa sudah berada di sini,” kata Rania, lalu berjalan ke arah mejanya untuk memulai rapat.
Aksa sekilas melihat wajah Rania, ia memperhatikan Rania sampai Rania duduk di kurisnya.
Itu tak luput dari penglihatan Randi, Randi melihat dengan jelas kalau Aksa sedang menatap ke arah Rania.
“Apa hubungan Rania dan Tuan Aksa?” tanya Randi di dalam hatinya.
“Ok, bisa kita mulai rapatnya,” ucap Aksa dengan nada dingin dan datar.
Mereka sekarang fokus dengan rapat yang sedang berlangsung.
Mereka sangat serius saat perwakilan dari perusahaan Rania menyampaikan proyek kerja sama mereka.
***
Tak lama kemudian rapat pun selesai, mereka akan melanjutkan rapat setelah makan siang nanti. Ada beberapa hal yang akan dibahas.
“Mau makan apa?” tanya Rania ke Nara.
“Kita ke café biasa,” balas Nara.
“Rania!” teriak Danil dari depan.
Tentu beberapa karyawan yang ada di sini, mendengar teriakan dari Danil memanggil nama Rania.
“Iya?” jawab Rania dengan santai, sepertinya Rania lupa sedang berada di mana.
“Mau makan siang bersama kami?” tanya Danil.
“Kalian berdua saja, aku sudah ada janji dengan temanku,” ucap Rania tersenyum manis ke arah Danil.
“Baiklah,” balas Danil lagi, ia tak terlalu memaksa Rania.
Sebelum pergi, Rania melihat Aksa menatap tajam ke arahnya. Tau apa arti tatapan Aksa. Seperti tatapan mengancam Rania.
“Baiklah aku ikut kalian. Tapi Nara juga ikut dengan kita,” kata Rania lagi, ia tak ingin membuat mood Aksa menjadi buruk hari ini.
“Baiklah,” kata Danil senang, karena Rania adalah sumber mood Aksa.
Jika ada Rania mood Aksa akan sangat baik, dan tak akan marah-marah lagi. Begitu yang dipelajari Danil.
Rania menunggu Danil dan Aksa berjalan terlebih dahulu, mereka harus tau tempat. Tidak mungkin berjalan sejajar dengan Aksa.
***
Mereka telah sampai di cafe langanan Rania dan juga Nara.
“Apa tidak apa-apa kita makan bersama mereka?” bisik Nara.
Tentu saja semua orang bisa mendengar itu, termasuk Aksa sekalipun.
Danil melihat ke arah Aksa, Aksa pun melihat ke arah Danil.
“Saya bukan orang jahat,” balas Aksa dengan nada dingin dan datarnya.
Nara terkesiap dengan nada dingin yang dikeluarkan Aksa padanya.
“Tidak apa-apa, tidak usah takut,” ucap Rania sambil memegang tangan Nara, agar tak terlalu takut dengan Aksa maupun Danil.
Nara mengangguk, walaupun ada rasa ketakutan di hati Nara.
“Ouh ya, kita belum berkenalan,” kata Danil mengangkat tangannya untuk berkenalan dengan Nara.
“Aku Danil,” ucap Danil dengan nada santai.
“Ini Aksa, tentu kamu tau kan siapa dia,” kata Danil lagi, sedangkan Aksa tak tertarik dengan obrolan mereka bertiga.
“Saya Nara Tuan,” balas Nara, menunduk takut.
Siapa yang tidak takut, berhadapan dengan dua orang yang terkenal kejam ini.
“Santai saja,” kata Danil lagi.
“Kalau Aksa orangnya memang begitu, malu-malu kucing,”kata Danil, berusaha mencairkan suasana agar Nara tak takut dengan mereka.
Rania tertawa terbahak-bahak saat Danil mengatakan itu, Rania menjadi kasian dengan Danil berteman dengan tembok seperti Aksa.
“Jangan tertawa,” kata Aksa sambil menendang kecil kaki Rania yang dekat dengannya.
Aksa masih kesal melihat Rania menertawainya.
“Hahhaha.” Rania tak berhenti malah ia semakin tertawa dan Danil juga ikut tertawa dengan leluconnya.
“Argh! Perutku sakit sekali!” kata Rania, sambil memegang perutnya yang terasa keram.