Tiba-tiba saja Zian teringat kembali pada senyum yang dahulu pernah hadir di dalam hidupnya. Senyum yang menghilang dan selalu ia rindukan baik malam atau pun siang. Senyuman itu kini hadir dari seorang gadis yang sedang berdiri di hadapannya dan menatap dirinya dengan kebingungan. Suasana ruangan auditorium yang ramai mendadak lengang dalam pandangan Zian. Matanya hanya terpaku pada gadis itu. Seorang gadis yang dahulu memberikan gelang matahari kepada dirinya. Seorang gadis yang dahulu berjanji akan selalu ada disisinya. Apakah ini mimpi? Atau ini semua hanya halusinasi yang tercipta di dalam benak Zian saja? “Hai kak? Kenapa kok diam?” tanya gadis itu lagi. “Eh, maaf. Tadi kamu butuh apa?” Zian baru saja tersadar dari lamunannya. “Aku butuh data mahasiswa lama untuk digabungkan denga

