Di sebuah ruangan bergaya klasik dan dipenuhi oleh buku-buku Melly terlihat menangis sesenggukan meminta maaf kepada ayahnya. Disebelah ayah Melly duduk seorang psikiater yang dahulu pernah merawat Melly. Namanya dokter Bram. Bram hanya memperhatikan setiap tingkah yang ditunjukkan Melly saat berada di ruangan itu. Namun akhirnya dokter Bram pun berbicara kepada Melly. “Melly, apakah belakangan ini ada hal yang membuat kamu kecewa?” Tangis Melly sudah mulai mereda, tapi masih terdengar sesenggukan dari sisa tangisannya. Banyak yang ingin Melly katakan, tapi ia sadar bahwa semuanya sudah terlambat. Dan Melly harus menanggung resiko dari apa yang sudah diperbuat. “Melly, kamu dengar pertanyaan dokter? Ayo jawab.” Ucap ayah Melly dengan nada suara tegas. “Tenang pak, biar kita dengar ter

