Jingga Diujung Senja

404 Words
Ketika kau mulai mencintai semua terasa cukup tapi ketika engkau mulai menyerah yang terlihat hanya kekuranganku.... Terimakasih untuk kalian berdua, aku kini mengenal apa arti kosong dalam hatiku dan mulai mengingat lagi apa itu sakitnya berkorban.. Doaku semoga kalian bahagia.. Aku menuliskannya dengan rasa merana yang teramat perih, tanganku bergetar hebat. Dan aku sekuat tenaga menahan isakku. Kuletakkan, secarik kertas itu diatas kado yang kubungkus dengan terburu-buru. Aku urung mengetuk pintu itu, yang sesaat lalu ingin kudobrak dan memaki-maki penghuninya. Nanar seketika, aku mendongakkan mataku menahan amarah yang menggelegar di ujung tenggorokanku. "Ngga, kalau kamu sedih dan airmatamu akan tumpah lihatlah keatas, dongakkan kepalamu, lihatlah langit jika dia biru, ingatlah ada yang lebih indah yang pantas kau kagumi daripada yang kau sedihkan" Tiba-tiba aku ingat seseorang yang dengan bodoh aku sakiti. Ketidaktahuanku dan kepolosanku mungkin menyakitinya dan seketika aku menyadari aku telah kehilangannya. Saat kutengadahkan wajahku dan merasakan semilir angin menerpaku sekilas aku melihat burung biru melintas diatas rumah kos ini. Dimana kah dia. Sebelum ku beranjak, kulepas cincin di jari manisku dan kuletakkan diatas kado itu. Sembari menengok aku ketuk pelan pintunya dan segera kuayunkan kakiku menuju jalan menjauh semoga saja semua mengabur dengan cepat luka-luka dan cintaku. ****************** Pintu brnomor 4 itu seraya mendengar ketukan halus itu, si lelaki pemilik kos itu terpaku pada bungkusan di depan pintunya. "Bara, katanya mau mandi?" Suara perempuan sesaat mengalihkan perhatiannya, hanya sesaat ia kembali sibuk membaca secarik kertas yang ditinggalkan jingga. "Yang, ngapain sih didepan pintu? Siapa yang dateng?" Si perempuan seketika terhenyak dengan pemandangan di depannya. Punggung lelakinya bergetar hebat dan dia terduduk bersimpuh. Ditangannya ada selingkar cincin emas bermata mutiara, dan secarik kertas, di sampingnya ada sekotak kue taart bertuliskan "happy anniversary 4th," dan sebungkus kotak kado yg terbuka berisi undangan pernikahan berwarna soga dan bertulis "Jingga Kamaratri & Erwin Kumbara" Pasangan itu terduduk diam, termangu dalam gamang seakan udara disekitar mereka terhenti. Dan ketika tersadar mereka telah kehilangan Tunangan dan sahabatnya. "Jingga.... jinggaaaaaa...." si lelaki berteriak putus asa. Dengan sekuat tenaga ia berlari masih bertelanjang dada dan bertelanjang kaki. Rambutnya kusut masai, matanya berkabut. Putus asa ia mengejarnya lalu duduk bersimpuh. Si Perempuan mengejarnya memeluk laki2 yg menjadi tunangannya, si laki2 menepis tangannya dan tertunduk lunglai. Jingga menatap mereka dalam diam dan bergetar hebat. Berusaha menahan supaya dia tidak terisak. Menyembunyikan tubuhnya dibalik pepohonan dan menahan tangisnya. Laki-laki yang ia cintai ternyata menodai kepercayaanya bermain api dengan sahabatnya yang telah bersuami. ************
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD