TERJAL II

761 Words
Ruang tunggu LAX ini mempunyai penghangat ruangan yang cukup hangat untuk menghalau hawa dingin dari hujan salju di luar. Namun entah mengapa aku masih menggigil kedinginan, sudah bertahun-tahun kulupakan wajah nya hanya siluet punggung dan rambut mayangnya yang selalu mampir selintas ketika aku bersama dengan wanita-wanitaku. Kenapa? Malam tadi berbeda? Aku mengingatnya dengan jelas? Dia yang masih remaja, namun dapat mencapkan bilah luka di hatiku. Wajah bulatnya yang sempurna dengan matanya yang besar dan bulat dihiasi bulu mata yang lentik teramat lentik. Atau hidungnya yang mungil dan menggemaskan. Bibir indahnya yang merah dan menambah keayuan wajahnya. Ah, tentu ia begitu indah dan menggetarkan. Kini, seperti venom semua indera perasaku mengingatnya. Mengingat harum shampo merang yang selalu ia pakai. Atau bau lembut vanilla yang selalu menguar ketika ia akan berangkat sekolah. Kulit langsat dan putihnya yang lembab bagaikan pualam. Tentu aku mengingatnya dengan jelas ketika tak sengaja aku memeluknya. Atau suara gerincing gelang kakinya yang selalu berdenting ketika ia berlatih menari tarian bedhaya di pendapa depan rumahnya? Kala itu, aku hanya seorang remaja lelaki yang beranjak dewasa. Tak ada yang menarik dariku, hanya seorang lelaki tambun bermuka oriental dengan jerawat memenuhi mukanya. Tapi, hanya perempuan itu yang selalu berbinar ketika deru motorku memasuki pendapa tempatnya berlatih. Hanya dia yang selalu antusias mendengarku menceritakan teori fotografi atau tertawa geli ketika aku berkeluh-kesah tentang teamku yang kalah perang di game online. Dia istimewa, namun dia sial! Semakin kudukku merinding mengingatnya, dan berhasrat memeluknya lagi. Semakin darahku mendidih membencinya, dia dan semua yang berhubungan dengannya. Ku geleng-gelengkan kepalaku mencoba menghalau bayangannya. Merutuk diri sendiri yang tak habisnya berbodoh diri tak bisa melupakannya. Dia bukanlah perempuan tercantik di dunia. Bahkan, aku pernah tidur dengan wanita yang jauh lebih cantik darinya. Bertubuh lebih langsing atau bertubuh lebih seksi darinya. Berbau lebih harum dan mahal. "Bodohnya aku" seruku seraya beranjak dari kursi dan melangkah menuju boarding pass. "Bruk" " oh, maaf-maaf" oh, man... lagi-lagi bodoh seruku dalam hati. Ini bukan Indonesia, kenapa aku meminta maaf dengan bahasa Indonesia? Sial, sial racunnya sudah membutakan syaraf otakku. Aku harus menghetikan kegilaan imi secepatnya. ***************** "Bapak sama sinyo di ada diruang kerjanya nyo" "Iya budhe aku kesana, turnuwun ya" aku tersenyum geli, budhe Tinuk ini adalah pengasuh kami anak-anak Papi yang sejak aku lahir sudah bekerja disini, dan lucunya semua anak dipanggil "sinyo singkek" yang setauku sinyo seperti sebutan untuk anak belanda dan singkek itu sendiri sebutan untuk orang cina totok. Nafasku berhenti sesaat dan menghela nafas panjang sebelum kuberanikan diri mengetuk pintu pintu didepanku ini. "Siapa?" "Terjal pi" "Masuk, jal" Dan tak kusangka 30 menit berikutnya membalikkan duniaku. ************* "Menikah?" "Papi becanda kan?" "Ijal ga mau nikah pi" "Ga bisa ditawar lagi jal, papi udah tua capek kalau harus mberesin urusan-urusanmu tiap saat?" Aku terbatuk keras. "Maksud Papi?" "Urusan apa" "Ga usah pura-pura sok ga tau jal, tiap kali kamu bikin ulah sama istri orang, papimu yang harus beresin urusan sama suaminya, bayar inilah itulah. Belum lagi masalah kecanduanmu berapa kali sih kamu bolos program? Kamu udah gede jal, punya otak bukannya dipake buat yang bener adanya nyusahin keluarga aja" "kak ga usah ikut-ikut deh, mending dia aja yang nikah pi. Biar ga repot ngurusin urusan orang" Ini yang bikin aku sebal pulang kerumah menghadapi dua kakak perempuanku yang keduanya tak berpasangan. Diane, memutuskan tak menikah dan mengejar ilmunya hingga doktoral di bidang rekayasa genetika, dan Sarah barusan bercerai dengan suaminya dan memutuskan membantu manajemen rumah sakit milik Papi. Keduanya sama-sama selalu ribut dan rese jikamenyangkut kehidupanku. "Sudah-sudah, jal papi sudah memutuskan, kamu menikah dan kembali selesaikan kuliahmu. Kebetulan calon istrimu juga sudah tahap akhir kuliah" "Kalau ijal ga mau pi" terbayang aku menikah dengan perempuan seperti kedua kakakku itu dan kebebasanku terenggut? Bunuh diri namanya. "Tidak ada platinum card lagi, bayar sendiri hutangmu di las vegas dan kamu papi coret dari daftar ahli waris" Mati aku "Lalu, siapa dia pi" "Kamu kenal dia kok jal" saut sarah dengan senyum khasnya yang mematikan. Seketika aku merasakan firasat yang buruk. "Anaknya om Lanang jal" jawab papi seraya menyerahnkan tabletnya, disana ada foto gadis cantik yang sederhana aku menangkap bayangan rambut mayangnya. "Jingga?" Seketika aku ingin terjungkal dari kursiku, kali ini sungguh bertubi-tubi. Aku dapat menemuinya lagi, apa yang akan terjadi? Lalu kulihat selintas bayangan burung biru lagi. Namun, kali ini dia berubah merah darah. Seulas senyumku menjawab tantangan keluargaku. "Baik pi, kalau sama dia ijal mau" " tuh kan di dia mau apa kataku tadi?" Saut kakakku mereka berdua tersenyum lega. Aku pun demikian, rindu dendam ini akan tuntas. Bukan rindu lagi tapi dendam, dendam yang sangat meruak dari hatiku kini.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD