Cinta Jingga di Kampus Biru

759 Words
Kantin Sastra, atau kami menyebutnya bonbin. Hahaha bonbin dari kebun binatang, jika kamu datang ke fakultas ilmu budaya kamu bisa ke kantin ini. Kamu akan melihatnya, rangkuman kehidupan sastra di fakultas ini hanya dari aktivitas penghuni bonbin ini. Ada yang suka berkerumun dan berdiskusi tentang politik, ada kerumunan laki-laki gondrong berkaus oblong bersandal jepit yang berdiskusi tentang puisi, seni dan bergenjreng-genjreng gitar. Adapula kerumunan mahasiswi sastra Inggris dengan dandanan feminimnya, jurusan ini terkenal populasi mahasiswi cantiknya yang melebihi rata-rata. Atau kerumunan seperti kami. Mahasiswa rata-rata bukan dari jurusan populer atau anggota komunitas populer. Untuk menembus rimba raya bonbin kami harus bergerombol hanya mengejar makan siang murah. "Hai jingga, kau sudah kerjakan itu makalah pak abi?" belum." "Nih, kamu butuh ini kan?" Kuangsurkan beberapa fotokopi jurnal. "Sudah ku stabilo yang penting tinggal kamu kembangin sendiri" "Ah gaya kamu do, utang kuliah lapangan kemaren belum dibayar ko mau ngajak anak orang, bayar sik utangmu" Dina, salah satu dari 4 perempuan di angkatan kami, gadis jogja asli yang berperawakan mungil. Dia lalu menjadi sahabatku sejak aku datang ke kota ini. "Bonbin penuh bianget ko an ya cah?" Duduk mana kita?" Ketika Dina sibuk mencari tempat untuk kami duduk aku melihatnya. Pemuda itu berperawakan tinggi, seakan dia mengerti dengan kebingungan kami tanpa suara dia berdiri seakan memberi kami tempat duduknya. Dia bangkit dan menyelempangkan tas kulitnya yang bergaya ala messenger bag, mengikat rambut gondrongnya dan menggelungnya, serta mengambil jaket parkanya. Seketika kami duduk dan berterimakasih, dan dia hanya tersenyum dan berlalu. Aku masih terpaku mengikuti gerakannya. "Keren ya ngga?" "Ha? Apa?" Dan aku masih menatapnya. "Duh segitunya ngliatinnya, officialy falling in love at the first sight ni?" "Apaan sih Din rese" Tapi diam-diam aku tetap memperhatikannya, aku yakin itu dia. Walau sekarang tubuhnya jauh lebih tinggi, rambutnya jauh lebih panjang namun aku ingat rambut ikalnya yang berwarna hitam legam. Aku ingat mata itu, mata indahnya berwarna coklat tua dan diujungnya dihiasi tahi lalat yang cukup besar, dan tentu senyumnya ah senyumnya yang renyah. Dia selalu tertawa lebar sehingga memperlihatkan gigi depannya yang berjarak. Aku yakin itu dia, aku ingat jelas dia melihatku tadi apakah dia lupa? Sial jantung ini tidak mau berhenti berisik. Seketika pipiku terasa panas dan mendadak soto ayam yu jum tak membuatku berselera makan. Salatiga, 23 juni 2000 "kumbara" "Piye ngga? Menang aku kan kali ini 80 buat reading ku hahaha.. liat besok bakalan aku masuk SMA 3 hahaha" "Aku ngga lagi mau pamer bar, cuma mau nyerahin undangan rapat osis" "Ooo... lha kenapa ga kamu ae to ngga.. kan kamu ketuanya aku lho wakile" "Males bar, kayaknya aku mau mundur deh sama jabatan ini, too much drama in my life now" "Hahaha Jinggaaaa ngomongmundah kaya tante-tante" "mbar, kebiasaan ya jangan ngacak-acak rambutku" "bar" "Yes ndoro?" "Maem babat gongso yuk." ......... Bara namanya, kenangan manis masa SMP ku dulu. Kami berteman, tidak bersahabat dan tidak dekat. Namun ada yang terasa manis di kenangan tentangnya. Sejak menengah pertama bara memang lain. Dia bukan tipe populer yang sangat tampan dan kaya. Tapi dia lain, bara dan aku sering tak sengaja bertemu di perpustakaan. Kami berlomba menyebarkan nama di kartu pinjam perpustakaan. Yang berarti kami berlomba untuk menghabiskan seluruh bacaan bertema sastra di perpustakaan. Di saat lain ia bisa bersikap ramah dan bersahabat namun di lain waktu ia menunjukkan sifat acuhnya. Bara, yang misterius yang sangat menyukai vespa. *************** Aku melirik jamku, 7.00, tigapuluh menit sebelum kuliah pertama mulai. Aku langkahkan kakiku menuju pelataran bonbin, sepi tentusaja semua denyut kehidupan di fakultas ini dimulai pukul 8. Aku menghela nafas berat ketika mengingat kenanganku di kota kecil itu. Tentang tragedi keluarga kami dan sosok itu, Mas Ijal atau Terjal Adiguna Liem. Remaja kikuk berbadan tambun dan kikuk, walau usia kami terpaut 5 tahun tapi dengan sikap kikuknya terkadang menggemaskan dan seringkali aku menggodanya. Tragedi itu cukup memukul keluarga kami, yang sedikit banyak akulah penyebabnya. Kala itu hidupku menjadi abu-abu dan aku kerap kali membolos sekolah, dan hanya menghabiskan waktuku menangis. "Bruk" aku terkesiap ketika tiba-tiba di kepalaku ada jaket menutupi seluruh kepalaku. Wangi musk menguar dari jaket ini, yang bisa dipastikan laki-laki pemiliknya. "Masi suka nangis kamu ngga" suara baritonnya membuatku berdebar2 "Bara?" Kubuka jaket yang mengerudungiku terlihat cowo gondrong itu memamerkan giginya. Aku tertegun tanpa tau harus bereaksi apa ketika dia lalu berdiri dan memperbaiki rambutku. Lalu berlalu dan berkata sekilas "Cantik" ha? lalu dengan gaya acuhnya berlalu. aku yang kemudian tersadar mengejarnya berlalu kearah gerbang fakultas. "Bara...Jaketmu" teriakku dia berbalik lalu bekata "Simpenin nanti aku ambil" lalu dia berlalu sambil bersenandung yang kuingat hanya rambut gondrongnya bergoyang2 dihembus angin. Lalu dia berlalu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD