Para petinggi kerajaan Sankirya tengah berkumpul di dalam sebuah ruangan cukup luas. Seorang pria mengenakan jubah merah bersulam sebuah naga terbuat dari emas, tengah duduk di depan mereka, seolah orang itu merupakan seseorang berkedudukan tinggi yang begitu dihormati. Suasana hening pada awalnya karena tak ada satu pun yang berani mengeluarkan suara, hingga suara salah seorang menteri memecah keheningan tersebut. “Tuan, Saya merasa Raja Reiga bersikap aneh belakangan ini. Sepertinya dia mulai berani melawan kita,” katanya. “Benar, Tuan. Selain sudah berani melawan kita, dia juga dengan lancang telah menghina kita semua. Padahal, dulu dia raja yang pengecut. Raja bodoh yang selalu menuruti perkataan kita,” timpal menteri yang lain. Saat suara dehaman meluncur dari mulut sosok berj

