Dalam ruangan temaram itu, terlihat Aeera tengah mengerang kesakitan. Kedua tangannya mencengkram erat karpet yang melapisi lantai dingin yang dia duduki. Peluh membanjiri sekujur tubuhnya dan berpusat di wajahnya. Kedua matanya terpejam erat yang mana mulutnya tak hentinya mengeluarkan erangan memilukan. Dia benar-benar kesakitan. Merasakan puncak dari rasa sakit itu, Aeera berteriak sekencang yang dia bisa. Bersamaan dengan itu, ketiga ekornya muncul satu demi satu. Hingga akhirnya sumber dari rasa sakitnya ikut tumbuh dengan perlahan. Ekor keempat Aeera akhirnya berhasil tumbuh sebagai hasil dari semedinya selama dua minggu ini. Aeera terengah menahan rasa lelah serta sisa-sisa rasa sakit yang perlahan mulai menghilang. Tersenyum lega saat dirinya menoleh ke arah belakangnya dan men

