Malam itu. Hujan deras. Suara tangisan Azura di sampingnya seakan hanya angin lalu yang berhembus di telinganya. Samar-samar suara seseorang mendekat sama sekali tidak bisa ia dengar. Matanya mengembun dengan cairan bening yang masih berkumpul pada pelupuk matanya. Pemuda itu duduk dengan membeku. Dunianya seakan hancur mendengar kedua orang tuanya sudah tidak bernyawa lagi. Kepalan tangannya semakin erat seiring dengan rahangnya yang mengeras. Minuman kaleng yang diberikan Bagas tadi sudah ia remas membuat kaleng minuman bersoda itu menyemburkan isinya. Tetesan darah dari tangannya mulai menetesi lantai rumah sakit. Bagas yang berdiri di sampingnya jadi mendekat, "tangan lo luka." Ujar pemuda itu sembari mengambil alih kaleng yang sudah runcing dengan bercak darah Azzam di sana. Azza

