Ep. 6 - Iri

1014 Words
Genap sebulan aku menjadi siswa SMA, sedih mulai menyelimuti keluargaku. TK yang selama ini dirintis oleh kedua orangtuaku kini jadi rebutan anak-anak kakek tua itu. Semua guru yang direkrut ibuku kini mulai menjadi musuh dalam selimut. Kasihan ibuku, ia sangat sedih. Aku bisa melihat raut kesedihan di wajah ayah dan ibuku. Aku tidak tau harus berbuat apa karena itu urusan orang dewasa. Yang bisa kulakukan hanyalah mendengarkan curhatan kesedihan ibuku dan menghiburnya. Aku ingin marah pada mereka, kenapa hanya karena jabatan mereka tega memperlakukan orang telah berbuat baik pada mereka seperti ini. Kami bukan tamak harta, tapi ingatlah jasa kedua orangtuaku yang telah mengubah semak-semak menjadi sekolah yang bagus. Jangan membuangnya begitu saja setelah semua tujuan kalian tercapai. Dan aku menyadari satu hal, bahwa mereka semua memanfaatkan orangtuaku. Ibuku sudah tidak dianggap lagi disekolah itu, semua wali murid pun juga ikut-ikutan memusuhi ibuku. Fitnah apa yang mereka sebar hingga semua orang membenci kedua orangtuaku. Mereka memalingkan wajah saat berpapasan dijalan dengan ibuku. Emosiku mendidih, rasanya ingin ku jambak rambut mereka yang menyakiti hati orangtuaku. "Udah ma nggak usah ditengok muka mereka, nggak perlu membuang-buang energi untuk menatap muka penjilat mereka" ucapku menahan emosi saat melihat salah satu wali murid yang dulunya melas-melas memohon agar anaknya bisa diterima ibuku, kini memalingkan wajah saat berpapasan dengan ibuku. "Dasar manusia penjilat nggak punya akhlak" maki ku dalam hati. Dan lagi-lagi kulihat mata ibuku merah berair, artinya ibuku sedang menahan tangisnya didepanku. "Laura ada cerita di sekolah tadi. Kemarin kami ujian sejarah dan tadi kertas ulangannya dibagikan, Laura benar semua tapi nilainya 99. Laura pergi ke kantor jumpai gurunya, terus Laura nanya. Pak saya kan benar semua, kok nilainya 99 pak. Terus kata bapaknya, nilai 100 itu nilai sempurna dan kesempurnaan itu hanya milik Tuhan. Manusia tidak ada yang sempurna, makanya meski kamu benar semua kamu hanya mendapat nilai 99. Ya muterlah kepala Laura ma, apa hubungannya nilai sejarah sama manusia tidak ada sempurna. Guru-guru lain pada nahan ketawa" ceritaku untuk mengibur ibuku dan ternyata manjur. Ibuku tertawa dan rautnya berubah menjadi gembira. "hahahah... ada-ada saja gurumu ra.. Benar sih yang dibilangnya, tapi.. hahah.."ibu tidak sanggup melanjutkan perkataannya karena terus tertawa. Aku bahagia melihat ibu bisa tersenyum lagi seperti ini. ******* Hari ini pelajaran seni budaya bertema teater dan kami dibagi menjadi 2 kelompok yang beranggotakan 20 orang perkelompok untuk menampilkan teater bertema komedi. Entah mengapa kami berempat bisa berada dalam satu kelompok padahal pemilihan kelompok tadi sistem cabut nomor, ternyata kami sama-sama mendapat nomor 1. Kemudian guru meminta kami bergabung ke kelompok untuk rapat kecil membagi tugas-tugas seluruh anggota. "Wah.. kalau ada Laura, aman deh nilai kita" kata salah seorang anggota kelompokku. "Iya.. iyaa.." yang lain mengiyakan. "Iiihhh... nggak gitulah. Kalau kita nggak kompak nilai kita nggak bakal aman" aku tersenyum menanggapi perkataan mereka. "Aku saja yang jadi sutradara.." tiba-tiba Rury mengajukan diri. "Eh nggak usah Rur. Laura aja yang jadi sutradara.." dengan cepat Riski membantah pekataan Rury, lalu semua pun mengatakan hal yang sama. Mereka meminta aku untuk menjadi sutradara di kelompok ini. Aku terdiam, segan banget sama Rury. Kulirik wajahnya, tampak sedih, malu dan kesal terpancar. Mereka terus memaksa aku untuk menerima tugas tersebut. Akhirnya dengan tidak enak hati kuterima tugas tersebut. Lalu mereka memintaku lagi untuk memilih penanggung jawab setiap bagian. Aku tidak tau apakah itu termasuk tugas seorang sutradara atau tidak, yang pasti mereka memintaku menentukan semuanya, mereka tinggal menjalankan tugas yang telah kuberi. Kami diperbolehkan mengadakan rapat diluar kelas dan kamipun keluar. Aku memang membutuhkan udara segar agar bisa berpikir jernih. Aku berusaha seobjektif mungkin dalam membagi tugas dan peran mereka tanpa mengkhususkan sahabat-sahabatku. Saat tengah membagi tugas mereka, aku mencari-cari sosok Rury yang tidak berada disekelilingku. Aku celingukan sampai aku melihat seseorang setengah bersembunyi dibalik tembok yang terus memandang ke arah kami. Aku kasihan melihat dia mengasingkan diri seperti itu. "Bentar ya.." izinku sebentar pada semua tim yang sedang melingkariku. "Rury.. ngapain kamu sendirian disini, ayo gabung situ.." kupegang tangannya lalu membawanya bergabung ke kelompok. Aku benar-benar merasa tidak enak dan kasihan, tak ada yang menyadari ketiadaan Rury dikelompok, semua hanya sibuk dengan urusan masing-masing. Setelah pembagian tugas selesai aku meminta setiap penanggung jawab menunjukkan perkembangan tugas mereka minggu depan. Bel istirahatpun berbunyi. "Ra.. kamu kok baik banget sama si Rury, dia kan pernah nyebarin gosip yang nggak bener tentang kamu dan Riski.." tanya Eka. Rury memang pernah menyebarkan gosip yang nggak benar tentang aku dan Riski, tapi aku nggak marah ataupun dendam dengannya karena itu hanya ungkapan kekesalannya. *Flashback ke beberapa minggu sebelumnya* Waktu itu bu Sri memanggilku dan memberitahu bahwa aku diikut sertakan dalam lomba langgam melayu pekan siswa SMA se Kota Batam. Karena setiap sekolah harus membawa perwakilan sepasang, aku disuruh mencari putranya yang menurutku bisa bernyanyi nuansa Melayu. Akhirnya Riskilah yang kupilih karena aku pernah dengar dia nyanyi lagu melayu dan bagus. Rury yang mengetahui itu juga ingin ikut. Ia meminta kepadaku agar ia juga diajak. "Ra aku ikut dong.. aku pengen ikut lomba itu" aku menatapnya lalu menatap sahabat-sahabatku dengan bingung. "Hmmm.. Gimana ya Rur, bu Sri cuma minta aku mencarikan yang cowok... tapi ya coba aja mungkin aja bisa.." balasku ragu, disisi lain aku juga tidak tega menolaknya. Akhirnya kami bertiga pergi ke kantor menemui bu Sri. "Bu, ini Riski. Hmm bu... Rury ingin ikut juga..." ungkapku ragu. Aku hanya bisa terdiam menunggu perkataan bu Sri. Bu sri tampak berpikir sejenak lalu berkata, "Untuk tahun ini Rury belum bisa ikut karena setiap sekolah hanya boleh membawa perwakilan 2 orang, satu putra dan satu putri. Nggak apa ya. Rury kembali lagi ke kelas ya" ucap bu Sri halus. Aku hanya menyunggingkan senyum gak enak hati tanpa berani menatapnya. Dia kembali ke kelas dan kami langsung pergi ke tempat seleksi. Didalam ruangan aku dan riski diseleksi oleh 3 orang juri dan hasilnya hanya aku lolos menjadi perwakilan sekolah, lalu kami kembali kesekolah. Karena sangat lapar kami makan terlebih dahulu di kantin benar-benar hanya berdua, berhubung masih 20 menit lagi waktu istirahat jadi para siswa masih berada didalam kelas. Setelah bel istirahat kami kembali kedalam kelas, teman-teman pada sibuk bertanya "gimana...gimana tadi..." sementara Rury memandagiku dengan wajah kesal.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD