Satu

3481 Words
Forestfall, Maret 2021 Seorang pemuda terseok-seok tanpa alas kaki berlari ke arah hutan di atas bukit. Ada kalanya ia terjatuh tersungkur karena tersangkut dahan pohon atau terguling ke dalam lembah hutan. Pakaiannya menjadi compang-camping dan kotor oleh lumpur. Pemuda itu terus saja berlari seperti ada yang mengejarnya dan ia sangat ketakutan. Entah sudah berapa lama ia berlari hingga telapak kakinya berdarah dan mati rasa. Ia pun terduduk di bawah pohon besar. Napasnya tersengal-sengal. Ia haus. Tak ada air di sekelilingnya, hanya kubangan kotor. Ia mencoba membersihkan ranting-ranting dan rumput yang ada di lengan kanan-kirinya. Tak disangkanya bahwa hal itu akan membuat dirinya kesakitan. Pemuda itu mengerang, namun tak bisa berteriak mengadu, karena ia takut ada yang mendengarnya. Rupanya rasa sakit itu diakibatkan oleh luka bakar hampir di sepanjang kedua tangannya. "Apa yang sebenarnya terjadi?" tanyanya dalam hati. Pemandangan jauh di bawah sana. Sebuah kota kecil yang habis dilalap api, yang tidak menyisakan satu bangunan pun, bahkan makhluk hidup. Hanya dia sendiri yang berhasil lolos. Mencoba membayangkan sekali lagi peristiwa yang baru saja dialaminya. Saat kebakaran terjadi, ia menuntun adik perempuan dan orang tua berjalan ke arah pintu belakang. Asap memedihkan mata, dengan perlahan ia sampai di pintu belakang dan keluar dengan selamat. Tetapi mendadak ia kebingungan karena di belakangnya tidak seorangpun yang mengikuti dirinya. Panik. Pemuda itu memanggil-manggil orangtua dan adiknya. Tidak ada sahutan dari dalam. Api semakin membesar. Ia bertekad untuk masuk kembali, tetapi atap pun runtuh. Ia memutar ke arah depan. Pintu dan jendela semua sudah terbakar. Frustasi. Kembali berteriak memanggil. Sekali lagi, tanpa sahutan. Ia berlari ke jalan raya. Pemandangannya lebih menakutkan. Semua rumah-rumah warga kota terbakar. Toko, kantor, bank, mobil, sepeda, dan lain-lain. Terbakar. Semuanya. Tidak ada sisa. Tak berdaya, ia berlutut di tengah jalan itu sambil menangis meraung-raung. Tangisannya berhenti ketika dilihatnya sesosok bayangan seseorang agak jauh dari sepelemparan batu. Ia pun bangkit, berlari mendekati sosok itu untuk meminta pertolongan. Ketika hampir mendekati sosok yang tengah membelakanginya itu tiba-tiba berbalik sambil menghunus pedang panjang yang bernyala-nyala. Sontak ia memutar tubuhnya untuk berlari kembali. Kali ini berlari menjauh. Sangking ketakutannya, ia terjatuh-jatuh di jalanan aspal. Tanpa melihat ke belakang lagi, ia berlari dan berlari. *** "Selamat siang. Saya akan memeriksa luka di wajah anda" kata seorang wanita berpakaian putih-putih. "Apakah anda sudah mengingat nama anda?" tanyanya lagi sambil memegang senter kecil yang diarahkan ke kedua mata pasien. Bola mata hijau pasien mengikuti arah senter itu bergerak, "anda berada di Rumah Sakit Mercy di Grayson. Tim SAR menemukanmu di hutan." Grayson adalah kota terdekat Forestfall. Jaraknya sekitar satu jam lima belas menit berkendara. Kota yang lebih lengkap fasilitasnya. Namaku? Haruskah kuberitahukan namaku? Apakah aku bermasalah nantinya jika mereka tahu namaku? Polisi datang? Aahh.. Dua orang pria berseragam mendekat. "Selamat siang. Dokter Fannigan, kami dari Alabama Highway Patrol. Kami mau bertanya sedikit kepada pasien". Wanita berpakaian putih itu mengangguk pelan dan pergi. "Apakah benar anda adalah satu-satunya korban selamat dari kebakaran Forestfall?" tanya seorang pria, "oya, siapa nama anda?" "Aku..aku hanya kebetulan melintas. Aku seorang pengunjung. Itu saja." "Anda berada di mana pada saat kejadian. Apakah anda melihat sesuatu yang mencurigakan, mungkin?" "Aku berada di Inn (penginapan). Tidak. Aku tidak melihat apa-apa." Mike mencoba mengusap rambut hitamnya namun gagal. Balutan di sepanjang lengannya membuatnya tak bisa menarik tangannya ke atas. Mike nampak kesal. "Bisa anda ceritakan sedikit tentang kebakaran itu?" "Aku tidak ingat apa-apa.." Tidak.. orangtuaku, adikku, masih di dalam.. api dimana-mana. "Aku tidak tahu, tiba-tiba saja api sudah membakar kamarku. Aku mendobrak pintu dan keluar. Itu saja". "Anda tidak bertemu siapapun? Maksudku, apakah ada orang lain juga yang berhasil ke luar dari kobaran api?" Ada seseorang... Dia menghunus pedang. "Tidak ada. Hanya aku". Suasana hening. Salah satu pria mencatat pernyataan dari pasien yang kedua lengannya di balut perban. Sebagian wajah pasien juga dibalut perban. "Baiklah. Itu saja dulu cukup. Kami akan kembali besok, " pria-pria itu sudah siap beranjak pergi, "oh, siapa nama anda? Saya tidak mendengar anda menyebut nama tadi". Si pasien tersentak dan gelisah karena yakin kedua polisi ini tak akan pergi sebelum sebuah nama diberikan. "Miller. Mike Miller." *** Sumpah. Aku harus keluar dari sini. Jika aku terlalu lama, mereka mungkin akan menyuruhku untuk tes DNA atau apalah untuk mencari tahu tentang aku dan apa yang kulakukan di Forestfall. Dengan susah payah Mike Miller -setidaknya itu nama yang dia sebut di depan polisi- berusaha bangun dari tempat tidurnya. Akhirnya ia berhasil duduk di tepi tempat tidur. Kedua lengan yang dibalut membuat gerakannya terbatas. Mike berhasil keluar dengan memanfaatkan kesibukan aktivitas rumah sakit. Mike masuk ke dalam ruangan loker staf rumah sakit. Mike membuka salah satu loker yang tidak terkunci dan membongkarnya. Mike membanting pintu loker karena tidak menemukan apa yang dibutuhkannya. Dalam kepanikan matanya menangkap sesuatu di dalam keranjang di lantai. Pakaian pria. Mike segera melepas pakaian rumah sakit dan menggantinya dengan pakaian yang ia temukan. Semakin frustasi karena balutan di kedua lengannya, ia pun berhasil juga. Dibukanya balutan di wajahnya. Bibirnya meringis saat kain perban lapisan terakhir ditariknya. Ada beberapa luka yang masih basah. Lalu diraihnya topi baseball hitam, jaket senada dengan topi, dan ransel yang tergantung di balik pintu ruangan. Setelah melihat pantulan dirinya di cermin, ia pun mengawasi suasana di balik pintu. Setelah yakin aman, Mike pun melangkah santai sambil menunduk menuju pintu utama rumah sakit dan menjauh. Sore itu, kepanikan datang dari dalam ruangan tempatnya di rawat tadi. Perawat yang bertugas memberi obat menemukan tempat tidur yang kosong. Begitu pula dengan polisi yang kembali untuk keperluan interogasi. Semua staf dikerahkan untuk mencari dimana Mike Miller. Tetapi pria itu tidak ada dimana pun. *** Mike Miller naik bis menuju Birmingham. Ia menemukan uang beberapa dollar di dalam ransel. Ia mengamati sekeliling. Sepertinya aman, karena aku tidak mengenal mereka semua. Tiba-tiba seorang gadis muda duduk di sebelahnya. Wajahnya tak tampak jelas karena ia memakai hoodie dan lagi sebagian rambut keemasannya menutupi sebagian wajahnya. Gadis itu hanya menunduk. Mike menghela nafas. Ia hanya ingin duduk sendirian karena ingin tidur dalam perjalanan. Tetapi gadis ini sudah membuyarkan keinginannya. Mike memeluk ranselnya dan memalingkan wajah ke jendela bis. "Apa ini bis menuju Birmingham?" Hening. Tidak ada jawaban. "Apa ini bis menuju Birmingham?" Lagi, terdengar pertanyaan yang sama, dengan suara yang lebih tinggi. Mike terkesiap. Bagaimana tidak, ia sudah akan tertidur. "Ha? Kau bicara denganku?" tanya Mike kepada gadis di sebelahnya. Gadis yang masih saja menunduk itu mengangguk pelan. "Ya. Tentu saja. Ini bis ke Birmingham. Kenapa? Kau salah naik bis?" Gadis itu menggeleng pelan. "Aku tidak salah naik bis. Bahkan sangat benar." Serta-merta gadis itu menoleh. Wajahnya adalah api. Tiba-tiba ia sudah berdiri di hadapan Mike sambil menghunus pedang berapi. Mike kanget setengah mati. Rasa kantuknya hilang. Tahu-tahu dia sudah berada di jalan raya yang sepi. Di belakangnya tampak bis yang ditumpanginya terbalik dan terbakar. Mayat-mayat bergelimpangan. Di hadapannya, gadis berwajah api dan menghunus pedang tengah berjalan perlahan menuju ke arah Mike terduduk. Kali ini Mike tidak bisa lolos. Gadis itu mengurungnya dengan api. Tidak ada jalan keluar. Gadis itu semakin dekat. Ia menebas leher Mike. *** Mike terbangun. nafasnya tersengal-sengal. Dia mengalami mimpi buruk. Diamatinya sekitar. Masih bis yang sama. Penumpang dan pengemudi yang sama. Sontak Mike menoleh ke samping tempat duduknya. Tidak ada orang. Tidak ada gadis berambut keemasan dan memakai hoodie. Mike menghempaskan punggungnya ke jok tempat duduk. Ia menghela nafas panjang. Aku bermimpi. Sial. Tampak nyata bagiku. Apakah benar yang berpedang api malam itu adalah seorang gadis? Apakah dia orang Forestfall? Siapa? Malam itu Mike memutuskan untuk tidak tertidur. Ia membeli dua gelas kopi di perhentian penumpang yang ingin beristirahat sebentar. Tetapi dua gelas kopi pun tidak mampu menahan kantuk Mike. "Nak, sudah sampai." Mike membuka mata yang masih terasa berat. Seorang pria tua berpakaian seragam Bus Travel tengah memandangnya. Mike melihat sekeliling. Sudah tidak ada orang. Sontak dia meloncat kaget. Menyangka bahwa ia sedang bermimpi kembali. Dalam hatinya Mike mengutuk kopi-kopi yang diminumnya. "Hey, tenanglah. Ada apa denganmu? Turunlah. Aku mau melanjutkan perjalanan ke Atlanta." Rupanya sang pengemudi yang membangunkannya, terheran-heran karena pemuda yang dibangunkannya seperti ketakutan. *** Mike tiba di apartemen kecilnya di pinggiran kota Birmingham. Dia menjebol pintu dengan paksa. Mengambil barang-barang pribadinya, uang, pakaian, surat-surat, juga paspor. Dilihatnya foto keluarganya di dinding. Mike menangis sebentar. Kemudian membanting pigura itu dan mengambil fotonya. Menuju kompor dan membakarnya. Mike berdiri di depan kompor memastikan foto itu benar-benar musnah. Setelah yakin bahwa ia sudah mendapatkan semua keperluannya, Mike mengacak-acak perabotnya, dan meninggalkan kesan bahwa apartemen ini dimasuki pencuri. Tak lupa ia merusak kamera pengintai yang terpasang di ujung lorong. Mike pun sudah berganti pakaian bersih miliknya sendiri. Memasukkan dalam plastik laundry pakaian dan perban di tangannya kemudian membuangnya ke pembuangan dan membakar semua isinya. Mike mampir ke apotik membeli salep untuk luka bakar. Naik trem, lalu masuk ke sebuah apartemen bergaya moderen. Menuju ke lantai limabelas dengan elevator. Lalu mengetuk pintu paling ujung dekat tangga darurat. Seorang gadis muda berpakaian minim membukakan pintunya. Gadis itu hendak mengatakan sesuatu namun batal karena Mike menyeruak masuk sambil memegang kepalanya dan membekap mulutnya. Setelag mendudukkan gadis itu di sofa, Mike memberi isyarat dengan jari telunjuknya, dan membuka topi yang dikenakannya. Memastikan bahwa gadis itu mengenali dirinya. Alih-alih merasa tenang, gadis itu malah melempari Mike dengan bantal-bantal sofa. "Becks.. Becky. Astaga.. Ini aku. Sssttt..." Gadis yang dipanggil Becky itu pun segera menghentikan aksinya melempar bantal. "Kau kurang ajar! Kau tidak menghubungiku ketika kau pulang ke Forestfall lalu kau muncul lagi disini? Keluar kau!" Becky berdiri dengan telunjuk ke arah pintu. Gadis bermata coklat dan berambut merah sebahu itu nampak marah besar. Mike masih terdiam. Lalu menghempaskan diri di sofa, mengangkat kedua kakinya ke atas meja. "Aku juga merindukanmu, Becks." Becky segera menurunkan kaki-kaki Mike. Mike segera duduk tegak. Mendekatkan wajah ke arah telinga Becky, "mulai sekarang, panggil aku Mike. Aku Mike Miller. Asalku dari Atlanta. Siapa pun yang bertanya padamu. Katakan seperti yang aku suruh. OK" "Tidak mau." Becky bersedekap. Mike membawa Becky duduk di sebelahnya. "Dengar, Becks. Aku minta maaf jika aku pergi ke Forestfall tanpa memberitahumu. Orangtuaku sedang merayakan ulang tahun pernikahan mereka - tidak, aku bohong. Aku berencana untuk menghindarimu - jadi aku harus datang. Lagipula saat ini polisi Alabama sedang mencariku." "Hah? Kenapa? Apa karena kebakaran itu? Aku lihat beritanya di TV. Habis satu kota karena kebakaran?" Becky tiba-tiba berlari ke dapur dan mengambil sebilah pisau. "Apa yang sudah kau perbuat di sana?" Becky menghunus pisau pada Mike. "Becks, apa maksudmu? Bukan aku, Becks. Percayalah." Mike berusaha untuk meyakinkan Becky yang mendekat. Mike menghindari ayunan pisau Becky. "Becks, aku tidak bohong. Kau lihat ini?" Mike menunjuk wajahnya yang luka-luka, "dan ini?" Kali ini Mike menggulung lengan kemejanya, memperlihatkan pada Becky luka-luka bakar yang didapatnya. "Kalau aku pelakunya, kenapa juga aku yang mesti terbakar, ha?" "Karena orang yang bermain api akan terbakar.. hiyaaa.." Becky melompat menjejakkan kaki di atas sofa. Masih dengan pisau di tangan. Kali ini dia mengayunkan pisau itu seperti sedang membuat jurus-jurus kungfu. Mike tertawa meringis melihat itu. "Orangtua dan adik perempuanku juga tewas terpanggang, Becks. Aku berusaha menyelamatkan mereka" Mike terduduk bersandar di dinding, "aku menuntun mereka ke arah pintu. Tapi rupanya hal itu tidak berhasil. Hanya aku yang berhasil selamat. Itulah sebabnya polisi mencariku" Mike mulai menangis. "Kasihan mereka. Bagaimana rasanya ketika api menjilati tubuh mereka?" Becky mulai melunak. Perlahan ia turun dari sofa, mendekati Mike dan duduk di hadapannya. "Aku ikut berduka. Maafkan aku. Aku pernah tak sengaja pegang panci panas. Dan itu rasanya sakit. Perih." Mike tertawa kecil seiring tangisnya berhenti. "Aku akan merawat luka-lukamu." Becky meraih lengan-lengan Mike. Tapi tiba-tiba mimik Becky berubah. Padahal dia antusias ingin merawat Mike. Alih-alih memberi obat Becky malah berlari ke kamar mandi dan muntah-muntah. Sebentar kemudian dia kembali sambil merasa sedih. "Maaf. Aku jadi jijik melihat luka-lukamu." Mike melongo sambil menghapus sisa-sisa air mata. Seharusnya Mike sadar bahwa Becky adalah orang yang tidak suka melihat luka, sampah, muntahan, kotoran binatang dan lain-lain yang menimbulkan bau tidak sedap. *** Becky bersikeras merawat Mike. Padahal Mike tidak pernah memintanya. Becky mengoleskan salep tiga kali sehari dan membantu Mike dalam berpakaian. Luka-luka Mike memang tidak diperban lagi karena menurut Becky jika diperban lukanya tidak akan cepat kering. Mike pun setuju akan hal itu. Mike membiarkan lukanya terbuka. Tanpa terasa enam bulan berlalu dan luka itu sudah mengering. Namun meninggalkan bekas. Mike memandangi bekas-bekas luka itu dan terpaksa setuju dengan Becky bahwa ia harus selalu memakai kemeja lengan panjang untuk menyembunyikannya. Luka di wajah Mike juga sudah sembuh. Beruntungnya bahwa itu bukan luka bakar karena Mike menutupi wajah dan kepalanya dengan lengannya. Luka di wajah itu didapat Mike ketika ia terjatuh ke dalam lembah di hutan. "Oh, Mike. Dengar, " Becky sudah terbiasa dengan nama barunya, "bisa kah kau mampir untuk belanja kebutuhan? Kulkas sudah kosong. Belikan aku yogurt yang banyak ya." kata Becky ketika Mike hendak berangkat kerja. Mike sungguh sangat beruntung karena ia bisa memulai kehidupan baru dan mendapatkan pekerjaan sebagai waiter di sebuah restoran Italia. Tetapi sebelumnya Mike mengeluarkan uang yang lumayan banyak untuk membuat identitas barunya. Melalui Becky yang mengenal seseorang dari kantor sipil, ia berhasil mendapatkan surat kelahirannya, dengan tanggal yang berbeda. Mengurus paspor, surat mengemudi dan lainnya. Semua berjalan dengan baik. Walaupun harus berhutang banyak pada Becky. Becky adalah seorang gadis yang baik. Ketika remaja, ibunya mengusirnya kareba menuduhnya telah tidur dengan ayah tirinya. Tentu saja hal itu tidak benar. Ibunya hanya cemburu karena suami barunya, yaitu ayah tiri Becky lebih memperhatikan putrinya daripada dirinya. Woody memang berwajah seram. Jenggot hampir memenuhi wajahnya, dan dia adalah seorang butcher (tukang daging). Walau tampangnya seram tetapi Woody sangatlah baik hati. Dia adalah pria yang bertanggung jawab. Dia rela bekerja siang malam, ia pun rela bangun tengah malam jika ada pelanggan yang minta diantarkan segera daging-daging yang masih segar. Kebanyakan restoran dan cafe. Bahkan Becky dimasukkannya ke sekolah yang favorit. Namun, Becky dikeluarkan dari sekolah itu karena ibunya datang dan meminta kembali uang deposit untuk sekolahnya. Woody tidak pernah tahu itu, sampai akhirnya menyadari kalau Becky hanya berada di rumah dan tidak bersekolah. Saat itu, Woody marah besar dan mengancam akan menceraikan Lorna jika ia tidak segera mengembalikan uang deposit sekolah yang sudah ditariknya itu. Lorna, ibu Becky yang tamak itu menolak mentah-mentah. Mereka bertengkar hebat malam itu. Malam yang membuat Woody tiba-tiba jatuh sambil memegang dadanya yang sakit. Woody dilarikan ke rumah sakit, tetapi nyawanya tidak tertolong. Becky menangisi ayah tirinya yang baik hati itu. Tetapi Lorna menganggap semua itu hanya sandiwara untuk menutupi hubungan gelap ayah tiri dan putrinya. Becky berontak dan meninggalkan rumah hari itu juga. Sepeninggal Woody, Lorna menjual toko daging dan berfoya-foya dengan uang hasil penjualannya. Lorna pindah ke penthouse. Setiap malam ia pergi keluar masuk kelab malam dan menghabiskan banyak uang di sana. Di suatu malam, Lorna seperti biasanya mendatangi sebuah kelab malam. Seseorang sudah mengintainya sejak beberapa hari sebelumnya. Ketika hendak ke toilet, pengintai itu menusuk perutnya dan merampok semua uang dalam dompet, berikut perhiasan yang dikenakannya. Lorna kehabisan darah. Ia meninggal dalam perjalanan ke rumah sakit. Becky yang sedang ada kelas drama saat itu dihubungi segera pergi untuk proses identifikasi mayat ibunya. Becky menguburkan ibunya seorang diri, hanya petugas pemakaman bersamanya, tidak ada pelayat karena Lorna bukanlah orang yang baik. Perilakunya buruk di masyarakat. Sehingga tetangga mereka enggan melayat. Akhirnya, penthouse itu dijual. Lorna masih meninggalkan uang sebesar delapan puluh tujuh ribu dollar di rekening pribadinya, dan melalui proses hukum menjadi sah milik Becky. Begitu pula dengan hasil penjualan penthouse. Pria yang menikam Lorna tertangkap ketika menjual perhiasan Lorna dan terlacak oleh polisi. Ia dijatuhi hukuman lima belas tahun penjara. Itu masih terlalu ringan, menurut Becky pada saat itu tetapi Becky menghormati hukum. Ia menerima semuanya. Becky memaafkan ibunya. Saat ini Becky dan Mike tinggal serumah. Tetapi bukan sebagai pasangan. Mike tidak pernah mencintai Becky. Terlintas di pikiran pun tidak. Hanya cinta Becky yang bertepuk sebelah tangan. Becky terlalu terang-terangan mengejar Mike. Bahkan menguntit. Mike tidak tahan lagi. Demi menghindari Becky, makanya ia pergi ke Forestfall, saat itu. Tetapi siapa lagi yang dapat membantu Mike saat itu. Mike hanya mengingat satu orang. Becky. Gadis kurus bermata coklat berambut pirang yang ternyata adalah gadis yang baik, namun ceroboh. *** Suatu hari saat Mike sedang libur bekerja, ia dan Becky berjalan-jalan di taman kota Birmingham. Sebelum pergi Mike menegaskan bahwa ini bukanlah kencan. Becky setuju. Bukan setuju untuk ketegasan bahwa itu bukanlah kencan, tetapi setuju bahwa mereka akan berjalan-jalan di taman saja. Mereka mengelilingi taman bunga. Ketika kaki-kaki mulai terasa pegal, mereka duduk-duduk di bench yang ada di sepanjang jalanan taman. Memandangi air mancur dan bunga-bunga camelia yang ada di sekitar air mancur itu. Tiba-tiba Becky merasakan suatu keanehan. Sesuatu yang salah pada dirinya. Becky memegang d**a kanannya. Becky kesakitan. "Becky, kau kenapa? Katakan padaku. Ada apa?" Becky menjawab terbata-bata. "Mike, dadaku sakit. Kita pulang, Mike. Sekarang. Sakit sekali." Becky mengerang sambil mengatup bibir untuk menahan rasa sakit itu. Mike segera menggendong Becky di pundaknya dan berlari menuju apartemen. Sepasang mata mengikuti mereka sejak keluar dari apartemen. Mike membaringkan Becky di tempat tidurnya, lalu mengambilkan air. "Kau tidak apa-apa?" tanya Mike risau. Becky menggelengkan kepala beberapa kali. "Rasanya sudah lama sekali aku tidak merasakan sakit di dadaku, " Becky memegang d**a kanannya yang kini sudah tidak apa-apa, "kenapa tiba-tiba sakit kembali? Apakah mereka sudah mulai berdatangan kembali?" "Mereka? Siapa mereka yang kamu maksudkan itu, Becks?" Mike sungguh-sungguh bingung dengan kata-kata Becky, "kenapa mereka datang kau yang harus sakit?" Mike duduk di pinggir tempat tidur di samping Becky yang tiba-tiba melonjak kaget. Becky jadi susah bernafas, jantung nya berdegup kencang. "Ini akan jadi mimpi buruk." "Apa, Becks? Kamu semakin lama semakin tidak jelas bicara. Apa kah penagih hutang mu datang? Kau kaya raya, mengapa berhutang?" Lebih baik Mike tidak usah tahu tentang hal ini. "OK. Baiklah. Bagaimana kalau aku memasak, kau yang mencuci piring?" Becky menarik tangan Mike dan membawa pemuda itu ke dapur. "Setuju. Asal jangan masakan Italia. Aku bosan sekali." Dan Becky tertawa kecil. Malam itu Becky memasak semur daging sapi. Ia pandai mengolah daging sapi karena ayah tirinya yang mengajarinya. Sepanjang memasak, otaknya berpikir keras. Astaga, apa yang akan terjadi lagi nanti. Apakah salah satu dari mereka datang kembali. Atau kah mereka bertujuh. Hhhh... aku tidak ingin bertemu dengan mereka lagi. Tidak mau. Tapi, kenapa tiba-tiba setelah sekian lama aku merasakan kedamaian inu. Sudah lama. Mungkin aku harus membawa terus moon pill lagi. Selesai makan, Mike menepati janjinya akan mencuci piring. Sementara itu Becky masuk ke gudang untuk buku-buku di samping pintu kamarnya. Pintu masuknya sangat tersembunyi. Bahkan Mike tidak pernah tahu ruangan itu. Becky mendorong pelan, dan masuk. Pintu itu menutup kembali, menjadi sama seperti dinding, seperti sediakala. Ternya ruangan itu sangat besar dan luas. Penuh buku-buku peninggalan ayah kandungnya dan beberapa lukisan yang ditutupi oleh kain hitam. Bau kayu lapuk dan debu mendominasi hidungnya. Di pojok ruangan sebuah nakas kecil bewarna putih dengan ukiran-ukiran di atasnya. Becky membuka laci nakas paling atas. Foto-foto lama ayahnya sedang menggendong dirinya, Becky tersenyum melihat foto itu. Aku merindukanmu, Ayah. Batinnya. Lalu ada juga foto-foto lain yaitu foto tanpa warna barisan orang-orang berpakaian tahun duapuluhan. Becky menggelengkan kepalanya. Dia tidak mengenal orang-orangnya ini. Juga bukan itu yang dicarinya. Becky membuka nakas kedua, sebuah botol berbentuk seperti vas bunga kecil dengan tutup unik menggelinding di lantai laci nakas. Ini dia. Ayahnya memberi botol berisi pil bulan itu sambil memberitahunya, bahwa ia harus meminumnya jika d**a kanannya terasa sakit. Tadi sakit, ayah. Sekarang tidak lagi. Tapi, ini aku ambil, aku simpan dalam tasku. Aku punya firasat, bahwa aku akan selalu membutuhkannya. Becky berdiri di depan cermin besar di dinding sebelah nakas, membuka sedikit kancing bajunya, dan menariknya ke arah bahu kanan. Ia melihat bercak berbentuk bintang. Itu sudah seperti tanda lahir baginya, namun lama kelamaan, menjadi gambar bintang yang sempurna. dengan lima sudutnya. Becky tersentak kaget demi mendengar suara Mike memanggilnya. Ia baru ingat kalau ia meninggalkan Mike seorang diri di dapur. Segera ia merapikan kancing baju dan rambutnya, lalu keluar perlahan. Tanpa disadari Mike, Becky sudah berada di belakangnya.Mike berbalik. "Astaga, kau mengagetkanku. Darimana saja kau, Becks?" Becky pura-pura heran. "Kau ini kenapa? Aku disini, koq." Mike kemudian mengajaknya menonton film di televisi. "Sakitmu bagaimana?" tanya Mike lima menit setelah film dimulai. Lagi-lagi Becky menggelengka pelan. "Aku sudah bilang daritadi, aku tidak apa-apa. Cukup! Aku tidak mau ditanya-tanya lagi. Nonton saja filmnya, jangan sampai tidur. Aku tidak mau menceritakan ulang. Capek!" Mike tertawa. Jauh di bawah sana, sepasang mata mengawasi jendela apartemen mereka yang masih terbuka. Ia lalu mengangkat dagu dan meniup pelan. Di apartemen, Mike yang merasa kedinginan segera menutup jendela. Ia merasa tidak nyaman, karena hembusan angin dingin yang membuat bulu kuduknya berdiri. Mike melihat ke bawah. "Hey, Becks.. Kau kenal dengan orang itu?" tanya Mike. "Siapa? Mana?" Becky mencari-cari seseorang yang Mike maksud. Mike menunjuk sesorang. Ternyata sudah tidak ada siapa-siapa, karena hari sudah menjelang malam, jalanan mulai sepi. Hanya mobil-mobil yang melintas. "Ah, sudahlah." Mereka kembali duduk di sofa dan melanjutkan nonton film. Senyuman seseorang merekah saat melihat ada dua orang menyembulkan kepala di jendela. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD