SELAMAT MEMBACA
***
Utari saat ini sudah duduk di samping Abi, di hadapannya sudah ada penghulu dan kedua saksi untuk pernikahannya. Pagi ini akan berlangsung pernikahan antara dirinya dengan Abi, tidak banyak orang yang hadir. Memangnya apa yang dia harapkan, ini hanya sebuah pernikahan siri yang berlandaskan sebuah keuntungan.
Utari melihat satu persatu orang yang hadir di sana, hanya ada Pak RT, Pak RW, dua orang saksi penghulu sopir dan pembantu di rumah Abi. Bahkan, Utari tidak mengabari Siska jika dirinya akan menikah. Semalam saat mereka bertukar kabar, Utari hanya berterima kasih dengan temannya itu karena telah memberinya jalan untuk melunasi hutangnya. Utari kembali tersenyum getir melihat nasibnya, semua wanita begitu menginginkan pernikahan yang mewah bersama orang yang dia cintai termasuk dirinya. Dia juga bermimpi akan menikah dengan laki-laki yang mencintai dan menyayangi dirinya, menikah dengan pesta yang meriah dan hidup bahagia membangun sebuah keluarga kecil yang harmonis. Namun, nampaknya Tuhan sama sekali tidak merestui keinginannya, Tuhan justru menakdirkan dirinya menjadi istri siri dari suami orang lain yang hanya dibutuhkan karena dia memilik rahim.
"Sah...."
Utari tersentak begitu mendengar suara orang bersamaan, mengatakan sah. Sepertinya terlalu larut akan lamunannya yang meratapi nasibnya sejak tadi Utari tidak sadar jika pernikahannya telah dilaksanakan.
"Sekarang kalian telah resmi menjadi pasangan suami istri secara hukum syariat agama. Ada hak dan kewajiban yang harus kalian laksanakan satu sama lain." Utari dan Abi mendengarkan nasihat dari penghulu itu dengan seksama. Meski tidak menjawab apapun, Utari memahami dengan jelas apa yang disampaikan penghulu itu.
Setelah itu, Abi menerima beberapa lembar surat yang telah ditandatangani oleh penghulu dan kedua Saksi, Abi serta dirinya. Utari tidak pernah tahu jika menikah siri juga akan memiliki surat-surat dan tandatangan. Meski dia tidak tahu surat apa yang dia tandatangani, karena surat itu diberikan kepada Abi dan Utari sama sekali tidak berminat untuk membacanya atau pun mengetahui isinya. Yang Utari tahu sekarang dia adalah istri Abi yang bertugas melahirkan anak dari laki-laki itu setelah itu dirinya tidak akan dibutuhkan lagi. Dia bisa kembali ke kehidupan normalnya tanpa dikejar-kejar hutang. Sesederhana itu yang ada di dalam pikiran Utari.
***
Setelah semua orang pergi, Utari pun pergi ke kamarnya. Abi pun pergi entah ke mana, Utari tidak tahu. Utari ingin mengganti pakaiannya dan membantu Mbok Kem memasak.
"Apa yang bisa Tari bantu Mbok?" Utari melihat Mbok Kem sudah berkutat dengan berbagai bahan masakan di dapur. Mendengar suara Utari Mbok Kem sedikit terkejut.
"Tidak usah, biar Simbok saja," jawab Mbok Kem pelan.
Namun Utari tetap mendekat ke arah Mbok Kem dan membantu wanita tua itu menyiapkan berbagai bahan masakan.
"Tidak papa Mbok, biar Tari bantu."
"Tapi usah, ini Simbok bisa sendiri. Masa istri majikan ikut masak sama pembantu." Mbok Kem tersenyum sungkan pada Utari.
Mendengar anggapan Mbok Kem untuk posisi dirinya, membuat Utari kembali mengingat betapa getir hidupnya. Istri majikan yang disematkan untuk dirinya, membuat dia sadar akan statusnya. Itu bukan sebuah sanjungan namun bagi Utari itu adalah sebuah ejekan akan keadaannya. Meski pun Utari tahu jika Mbok Kem tidak bermaksud seperti itu, namun hati Utari yang sadar akan posisinya sendiri.
"Jangan anggap Tari begitu Mbok, anggap saja Tari ini sama seperti Simbok. Kita sama-sama bekerja di sini. Tari tidak nyaman dengan status Tari jika Simbok mengungkitnya." Utari berkata, sambil tangannya sibuk mencuci berbagai sayuran.
"Sama bagaimana, orang sudah menikah dengan Tuan ya jelas tidak sama dengan Simbok. Simbok samanya dengan Asep itu baru benar."
"Tari kan hanya istri siri Om Abi, Mbok. Sebelum hari ini Tari ini hanya gadis miskin yang selalu dikejar-kejar hutang. Jadi tidak ada sejarahnya Tari jadi istri majikan. Tari memang istri Om Abi tapi kan istri siri.”
Mbok Kem memandang gadis di hadapannya itu dengan pandangan teduhnya. Dia tidak menghakimi Utari sebagai istri siri tuannya, dia tahu apa yang menyebabkan gadis malang di hadapannya itu terjebak di posisinya sekarang. Justru Mbok Kem merasa prihatin dengan keadaannya, dia salut dengan gadis itu karena bisa bertahan hidup menghadapi dunia yang terkadang berlaku tidak adil ini sendirian.
"Iya, kalau begitu Simbok akan menganggap Tari seperti anak Simbok sendiri. Jangan sedih ya, Simbok yakin kamu akan bahagia suatu saat nanti." Mbok Kem mengusap pelan surai halus gadis malang di hadapannya itu.
"Tari jadi rindu ibu sama bapak, Mbok. Tari menikah tanpa mereka." Mata Utari sudah berkaca-kaca sejak tadi dia sudah ingin menangis mengingat bapak dan ibunya, tapi sekuat tenaga dia menghalau perasaannya. Dan sekarang, mendapat perlakuan yang begitu lembut dari Mbok Kem membuat Utari kembali bersedih dan ingin sekali menangis.
"Besok pergi ke makam bapak sama ibumu, doakan mereka. Mereka pasti bangga karena memilik anak sehabat kamu, Nduk."
Utari hanya bisa mengangguk, dia yakin air matanya akan jatuh jika dia membuka suaranya.
"Sekarang ayo bantu Simbok masak, Tuan Abi akan marah jika makan siangnya terlambat."
Utari kembali melupakan sejenak kesedihannya, dia mengambil sayur-sayur yang telah selesai dia cuci untuk dipotong-potong.
Berkutat dengan masakan hampir satu jam, akhirnya beberapa menu terhidang di atas meja makan. Bersamaan dengan itu, Abi turun dari lantai dua rumah itu dan berjalan mendekat ke arah meja makan.
"Kamu membantu Simbok masak, atau menggangu Tari?" Abi mengatakan dengan santai, sambil melihat Utari yang menyusun beberapa gelas untuk minuman di sana.
"Bantuin masak juga Om. Memangnya Om kira aku tidak bisa masak, jelek-jelek begini aku juga bisa masak Om." Utari tahu jika pertanyaan Abi adalah sebuah ejekan, dan dia sangat kesal akan hal itu. Abi meremehkan kemampuannya dalam hal memasak, padahal selama ini dia tinggal sendiri dengan keterbatasan ekonomi dia selalu memasak untuk menekan pengeluarannya jadi mau tidak mau dia sudah sangat bersahabat dengan bahan-bahan dan peralatan masak.
"Perempuan jaman sekarang mana ada yang bisa masak."
"Ada Om, aku ini anak milenial. Tapi aku juga bisa masak." Sambil tangannya sibuk mengambilkan makanan untuk Abi, Utari terus menjawab ucapan Abi. Meski mereka hanya menikah siri gelar istri tatap Utari sandang dan kewajiban seorang istri tetap harus Utari jalankan. Mengambilkan makanan untuk Abi adalah satu dan sekian banyak kewajibannya yang bisa dia lakukan jadi kenapa tidak dia lakukan. Lagi pula Abi bersikap baik kepadanya, dia tidak canggung atau pun bersikap yang tidak baik kepada Utari jadi tidak ada salahnya juga jika Utari mulai berdamai dengan keadaan dan bersikap baik pula dengan laki-laki yang kini berstatus sebagi suaminya sekaligus tuannya itu.
"Cukup Om?"
"Apanya?" tanya Abi bingung.
"Ini Om, mau pakai lauk yang mana?"
"Kamu ambil makanan untuk saya?" tanya Abi tidak percaya.
"Memangnya untuk siapa lagi?"
"Ambil kan semuanya sedikit-sedikit."
Utari mengambil semua lauk yang ada di sana sedikit-sedikit untuk Abi lalu menyerahkannya kepada laki-laki itu. Abi menerima dengan senang, hatinya merasa hangat untuk pertama kalinya dalam cerita dia menjadi seorang suami diambilkan makan oleh istrinya. Meski itu bukan Naina istri yang sangat dia cintai, namun Utari juga istrinya kan. Istri siri yang baru saja dia nikahi jadi sama-sama istri.
“Terima kasih,” ucap Abi sambil mengambil piring yang sudah berisi makanan itu dari tangan Utari.
***