"Aku sudah menahan sedari tadi, Mas. Waktu mandi, aku udah mau banget. Tapi karena kita harus bertemu Janu dan harus menenangkannya, ya aku harus tahan.” Ajeng menatap wajah Lintang yang sayu, dan kedua tangannya melingkar di leher Lintang. Lintang menatap wajah Ajeng yang jauh lebih segar tanpa riasan, lebih alami dan sangat cantik dan tentu saja menggairahkan. Lintang mencium bibir Ajeng bertubi-tubi lalu melumatnya, dan Ajeng membalasnya dengan desahan, hingga membuat Lintang benar-benar terangsang dan ingin segera menuntaskan hasrat yang memuncak. “Jadi basah nih?” goda Lintang lagi. “Banjir, Mas. Pasti akan lancar kalo masuk, dan aku nggak akan kesakitan lagi,” balas Ajeng dengan raut wajah yang seolah menantang. Lintang mendengus, lalu menggeleng mendengar kata-kata Ajeng yan

