3. Latihan Fisik

1369 Words
Membawa beban 30 liter, yang artinya hampir mendekati 23 Kg. Sungguh membuat Reinald kewalahan. Jangankan membawa, bahkan mengangkatnya saja Reinald butuh perjuangan yang sangat keras. Reinald sudah ingin menyerah ketika Jonathan datang dan membisikkan sesuatu di telinganya. Setelahnya semangat Reinald kembali terpacu. Energinya seolah terisi penuh kembali, kekuatannya seolah meningkat. Melihat itu mau tak mau membuat William penasaran. “Jonathan, sir. Apa yang anda katakan padanya? Yang membuat dia kembali bersemangat?” “Hanya sedikit motivasi Will. kau tahu, agar dia lebih serius dalam bekerja” jawab Jonathan sambil tersenyum misterius. Mendengar jawaban Jonathan, tentu William tidak banyak bertanya. Selain tidak pantas baginya untuk bertanya, bukankah Reinald adalah Putra Jonathan, jadi apapun yang dilakukan Jonathan pada Reinald benar-benar diluar jangkauan William. Ya, selama tidak membahayakan nyawa atau kesehatan mental Reinald rasa-rasanya semua akan baik-baik saja. Hanya saja, Willian tidak bisa berhenti memikirkan apa yang menjadi motivasi Reinald. Ancaman? Jika melihat sifat Reinald yang kadang menjadi sangat liar dan sulit dikendalikan, rasanya hanya sedikit yang bisa membuat Reinald merasa terancam. Harta? Bahkan baju yang digunakan Reinald terlihat sangat kusam, entah baju itu telah berumur berapa lama, dan Reinald terlihat masih nyaman menggunakan nya. Lapar? Reinald pernah datang ke rumahnya dan mengatakan bahwa dia lapar ketika Will hanya punya roti kering untuk dimakan karena kehabisan gandum dan tak mampu beli, nyatanya Rei makan juga. Wanita? Tempat yang paling sering dikunjungi Reinald adalah ladang, dan dia hampir tidak pernah keluar rumah selain ke ladang, kapan Rei akan bertemu wanita? Apalagi dia baru enam tahun. Jadi ancaman macam apa yang mempan untuk Reinald? Ketika Will sedang asyik memikirkan segala kemungkinan yang membuat Rei takut, yang membuat wajahnya seperti orang yang sedang menahan pup. Jonathan yang berada di dekat William akhirnya tidak tahan. “Kau tahu Will. Reinald takut pada satu hal.” kata Jonathan. “Apa itu sir?” tanya William. “Cubitan ibunya” jawab Jonathan. “Pernah suatu ketika Reinald membuat ibunya sangat kesal, sampai-sampai ibunya mencubit Rei dan dia langsung terguling sambil mengatakan bahwa cubitan ibunya sangat sakit sekali, seperti habis dibakar dengan api yang kemudian menjalar di seluruh badan katanya, dan tadi aku mengancamnya dengan itu.” Dengan semangat membara Reinald memikul air, namun semangat yang dibangun olehnya ternyata tidak sebanding dengan kekuatan fisik yang dimilikinya. Baru saja menempuh jarak 10 meter, Reinald sudah merasa sangat kelelahan, pundaknya terasa hampir patah. Ayolah, Reinald bukan Orc yang terlahir dengan kemampuan fisik luar biasa. Reinald hanya bocah manusia yang baru berusia enam tahun. Walaupun sebenarnya, pencapaian Reinald bisa dikatakan sudah melebihi sewajar anak manusia. Bayangkan saja, seorang anak enam tahun mengangkat galon Aq** yang terisi penuh dengan air. Luar biasa bukan? Padahal isi galon tersebut maksimal 20 liter, biasanya hanya berisi 19 liter, dan Reinald memikul 30 liter. “Lelah Rei?” tanya Jonathan “Biarkan aku istirahat sebentar ayah, bahuku terasa akan patah” jawab Reinald. “Kau tahu, semakin luas tumpuan semakin luas sebaran beban, yang artinya beban akan terasa lebih ringan, dan tentu saja semakin kuat bahumu, semakin banyak beban yang bisa kau pikul” kata Jonathan. “Aku tak mengerti ayah” kata Reinald. “Tak apa jika kau tak mengerti, pikirkan saja sambil beristirahat, dan coba perhatikan tongkat itu. Barangkali kau mau mencoba sesuatu.” kata Jonathan. Reinald yang masih kelelahan jelas saja tak mengerti apa maksud dari ayahnya. Cukup lama dia terdiam sambil memikirkan apa yang ayahnya katakan. Sambil berbaring Reinald memperhatikan pekerja yang lain. “Ah, mungkin itu maksud ayah” batin Reinald. Reinald kemudian duduk sambil memperhatikan sekelilingnya, mencari-cari sesuatu. Kemudian Reinald berdiri, menuju sumber mata air. Ada beberapa batang pisang yang sudah dipotong-potong disana. Reinald mengambil beberapa potong, juga mengambil beberapa batang pisang kering. Kemudian Reinald mengikat batang pohon yang sudah dipotong itu ke bahunya dengan batang pisang kering. Reinald memastikan batang pohon pisang itu cukup tebal untuk melindungi bahunya, dia mengikat memanjang kesamping mengikuti bentuk bahunya. Setelah dirasa cukup Reinald berjalan menuju tempat dia meninggalkan air yang seharusnya dia bawa. Mencoba memikulnya kembali. Masih terasa berat, tapi setidaknya bahunya tidak terlalu nyeri lagi. Reinald kembali menurunkan air yang dia bawa. Kemudian dia kembali lagi menuju mata air, dan mengulangi membungkus bahunya yang lain dengan batang pisang. Setelah selesai dia kemudian mulai membawa air menuju sawah. “Semangat Rei, kau hanya perlu melangkah kedepan untuk sampai, tak perlu banyak langkah cukup dua langkah saja, kau hanya perlu mengulangi dua langkah hingga kau sampai” batin Reinald menyemangati dirinya sendiri. Terdengar absurd mungkin apalagi jika didengar oleh Jonathan, tapi itu adalah cara Reinald untuk menjaga semangatnya. Cukup lama waktu yang dibutuhkan Reinald untuk sampai. Bahkan sudah tak terhitung lagi berapa kali pekerja lain melewati dirinya, entah untuk yang keberapa kalinya. Saat Reinald sampai, sudah ¾ ladang yang telah selesai diberi ramuan. Racikan terakhir sudah akan dibuat. Ya bisa dibilang air yang diambil Reinald adalah air untuk ramuan terakhir. Lumayan, masih digunakan, daripada sampai ketika pekerjaan telah selesai. “Tidak buruk, apa yang kau lakukan masih terhitung membantu” kata Jonathan. “Ya ayah, biarkan aku mengatur napasku terlebih dahulu” sahut Reinald dengan napas terengah-engah. Selang beberapa lama setelah Reinald beristirahat, Jonathan mengajak Reinald untuk pulang. Sudah lewat tengah hari. Tadinya Reinald tidak merasa lapar, mungkin karena terlalu lelah. Tapi begitu masuk pintu rumah, tercium samar-samar bau masakan Irene yang seketika membuat perut Reinald keroncongan. Rupanya dia sudah sangat lapar. Reinald bergegas menuju dapur, hanya untuk mendapatkan bahwa masakan ibunya belum siap. Dengan langkah gontai Reinald menghampiri ibunya. “Masakannya belum matang bu?” tanya Reinald dengan suara lesu yang dibuat semelas mungkin. “Belum sayang, maaf ya, tadi ibu terlambat masak ibu masih harus menyiapkan beberapa hal sebelum mulai masak.” jawab Irene. “Oh tidak, bagaimana ini. Cacing-cacing di perutku sudah berdemo” kata Reinald dengan suara panik. “Aaah.. mereka mulai menyakiti ususku, cepatlah ibu, jika tidak ususku akan segera dihabiskan mereka” lanjut Reinald dengan suara panik semakin menjadi, yang membuat kesan paniknya malah semakin kentara jika itu hanyalah hal yang dibuat-buat. “Biarkan saja ususmu dimakan cacing, jika perlu makan saja semua ususnya, biar kau jadi sering makan karena sistem pencernaanmu dipangkas.” sahut Jonathan yang disambut kekehan Irene. “Ibu, lihatlah ayah, dia sudah tak peduli padaku. Bahkan setelah dia menyiksaku. Bayangkan saja ibu. Ayah menyuruh aku memikul 30 liter air dari mata air menuju ladang. Bukankah ayah sangat kejam ibu?” adu Reinald pada ibunya. Mendengar hal itu, sontak mata Irene membelalak. Kemudian Irene menatap Jonathan seolah bertanya “benarkah” yang hanya direspon dengan anggukan singkat oleh Jonathan. “Wow” kata Irene tanpa suara. Kini Irene mulai percaya bahwa Reinald memang perlu melatih fisiknya. Alih-alih bermalas-malasan sambil membaca. Kemampuan Reinald dalam membaca saja sudah membuat Irene dan Jonathan terkagum-kagum. Bagaimana tidak, Irene mengenalkan Reinald pada huruf ketika dia berusia tiga tahun, jika normalnya seorang anak tidak akan mudah mengingat apa yang dia lihat, dan biasanya pada usia tiga tahun belum mampu membedakan huruf, nyatanya Reinald saat itu sudah mampu. Bahkan Reinald sudah fasih membaca ketika umurnya baru empat tahun. Hal yang membuat dia semakin keranjingan membaca. Hingga saat ini entah sudah berapa banyak koleksi buku milik Jonathan dan Irene yang telah selesai dibaca oleh Reinald. Beruntung dulu Irene sempat membeli dan membawa banyak buku sebelum pindah. Irene sendiri adalah orang yang suka membaca. Makanya dia memiliki banyak sekali koleksi buku. Hanya saja beberapa waktu ini dia tidak sempat membaca. Sehingga masih lumayan banyak buku yang baru dia beli tapi belum sempat terbaca. Kini Jonathan dan Irene semakin yakin jika Reinald akan mampu menguasai banyak hal. Dan tugas mereka untuk membimbing Reinald akan menjadi semakin sulit. Bukan mereka tak yakin, hanya saja mengajari dan mengarahkan anak yang cerdas, bukankah memiliki tantangan tersendiri. Belum lagi jika anak itu kritis. Kini setelah hidangan santap siang yang sedikit terlambat telah selesai dibuat. Mereka bersiap untuk menyantap hidangan tersebut. Hidangan hari ini, berupa salad, sup kacang, mashed potato, wortel dan grilled salmon. Reinald sangat menikmati makan siang kali ini, selain dia merasa sangat lapar, juga kesal pada ayahnya. Masakan Irene selalu nikmat di lidah Reinald. Membuat mood nya yang sebelumnya turun drastis kini naik kembali. Well, hanya saja Reinald belum tahu, bahwa sore ini Jonathan akan memperkenalkan dia pada “mainan” yang telah dibuat untuknya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD