Bab 6

1049 Words
Setelah selesai sarapan, Elang membawa bekas sarapannya ke dapur. Ia melihat Rara tengah membawa pakaian yang sudah rapi ke dalam kamar. "Ra? Capek?" "Lumayan," jawab Rara sambil masuk ke kamar. Elang tersenyum penuh arti, ia bergegas mandi. Weekend pertamanya sebagai seorang suami begitu istimewa. Weekend sebelumnya mereka justru tidak menikmati karena kedatangan dua wanita penting. Ia melihat Rara sangat sibuk di rumah sebagai seorang isteri. Elang tahu, itu tidaklah mudah bagi Rara, karena wanita itu sendiri adalah anak semata wayang dan berasal dari keluarga berada juga. Mamanya sendiri mengatakan kalau Rara jarang melakukan pekerjaan rumah. Tapi, di sini ia terlihat cukup terampil mengatasi semuanya. Rara keluar dari kamar, menatap Elang yang masih berdiri di tempatnya."Kamu mau dimasakin apa?" "Enggak usah masak deh, Ra. Kita makan di luar aja. Kamu kayak lagi capek banget." Elang berusaha tersenyum semanis mungkin. Ia ingin menjadi suami idaman yang tidak akan membuat istrinya capek akan pekerjaan rumah tangga. "Masakanku enggak enak, ya?" rara menyipitkan matanya, seperti curiga pada Elang. Elang menggeleng cepat."Bukan. Aku cuma kasihan aja sama kamu." "Bilang aja masakanku enggak enak. Makanya kamu maunya makan di luar." Rara terlihat cemberut. Kemudian pergi ke dapur. Elang langsung menyusul Rara. "Sayang...aku mau masakan kamu. Ya udah...kamu masakin aku ya." Rara yang sudah telanjur kesal tidak menjawab. Ia sibuk mengeluarkan bahan makanan dari kulkas. "Eh ada ayam. Kayaknya...dibikin ayam kecap atau digoreng pakai sambel enak, nih," kata Elang. "Ya udah...aku masak ayam kecap aja ya?" Rara mengeluarkan ayam dari freezer. "Oke. Kalau capek bilang ya. Nanti aku pijitin." Elang memijit pundak Rara. "Ya udah...kamu mandi sana," kata Rara sambil memotong cabai. Elang segera mandi, ia terlihat begitu bersemangat karena sikap Rara perlahan mulai melunak. Walaupun kadang-kadang Rara masih berubah menjadi singa betina kalau ada hal yang tidak ia sukai. Sekarang, Elang mengintip dari pintu dapur, isterinya masih memasak. Ia berjingkat menghampiri Rara "Baunya enak." Rara tersentak, lalu mengusap dadanya."Bikin kaget aja deh." "Kan mau lihat isteriku masak." "Jangan dekat-dekat,nanti kutusuk kamu!" ancam Rara sambil menodongkan pisau ke arah Elang."Sana. Sebentar lagi selesai kok." Elang terkekeh."Wah,serem juga ya mau nusuk suami sendiri." "Udah deh...jangan becanda. Aku lagi males nanggepin kamu. Hush...hush...," usir Rara. Elang mengembuskan napas kesal, kemudian perlahan meninggalkan Rara. Rara pun melanjutkan memasaknya. "Muuahhh!" Elang datang tiba-tiba dan mengecup pipi Rara, kemudian ia kabur. "Elang!" teriak Rara kesal, ia mengusap bekas bibir Elang di pipinya."Awas kamu! Nanti tidur di sofa!" Elang tertawa, ia tidak peduli dengan ancaman Rara. Sekarang, mengganggu isterinya menjadi sesuatu yang menarik dan sangat ia tunggu. Ia suka saat melihat Rara berteriak kesal sambil memanggil namanya. Rara sudah selesai memasak. Tubuhnya berkeringat, ia memutuskan untuk mandi sebelum menghidangkan makan siang pada Elang. Ini juga belum waktunya makan siang, begitu pikirnya. Elang melirik Rara masuk ke dalam kamar, ia mengikutinya. Setelah tahu ternyata Rara sedang mandi, ia segera pergi ke dapur. Udara terlihat begitu panas siang ini. Rara mengeringkan rambutnya dengan handuk, menyisirnya pelan lalu keluar dari kamar. Hari ini ia memakai kaus yang sedikit kebesaran serta celana selutut. Rara duduk di teras samping, mengistirahatkan dirinya sejenak sebelum makan siang.  "Nih!" Elang duduk di hadapan Rara sbil meletakkan segelas minuman cantik. Rara melihat minuman itu dengan senyuman kecil. Minuman dingin seperti itu memang sangat cocok untuk siang yang panas ini."Apa ini?" "Racun!" Wajah Rara langsung cemberut."Jahat!" "Ini minuman dong, sayangku. Tadi aku bikin milkshake stroberi. Kamu udah capek banget ngerjain pekerjaan rumah. Diminum. Maaf, aku bisanya bikin itu." Elang menatap Rara dengan terpesona. Rambut basah serta wajah polos tanpa make up itu membuatnya gemas dan ingin langsung menghempaskan Rara ke tempat tidur. Lalu bercinta sepanjang hari. Rara meraih gelas tersebut lalu menyedotnya. Rasanya segar dan nikmat."Terima kasih." "Cium dong!" Elang menyodorkan pipinya. Rara terdiam, lalu mengecup pipi Elang. Pria itu tampak terkejut sekali. Padahal tadinya ia cuma iseng minta dicium. Semoga setelah ini ia bisa meminta lebih dari sekedar cium pipi. Wajah Elang tampak merona. Sementara Rara berusaha bersikap biasa saja walaupun jantungnya juga berdegup kencang."Terima kasih, sayang." "Kita makan sekarang?" tanya Rara. Elang mengangguk, ia membawakan gelas milkshake Rara ke ruang makan. Sementara satu tangan yang lainnya menggenggam jemari Rara dengan begitu erat.   **   Suara air dari kamar mandi terdengar begitu keras. Rara hanya bisa menggelengkan kepalanya karena ia yakin Elang tidak menutup pintu kamar mandi dengan benar. Ia sendiri saat ini sedang mengganti sprei. Ia sudah mandi, tidak ada rencana apa-apa malam ini. Hanya beraktivitas seperti biasa. Elang selesai mandi, lalu berpakaian. Ia menghampiri Rara. "Rara! Bra kamu nih...!" kata Elang sambil mengangkat sebuah bra bewarna hitam. Rara terbelalak."Kok bisa ada di kamu?" Elang mengangkat kedua bahunya."Kan kamu yang urusin pakaian, kamu yang letakin di lemariku." "Oh, mungkin enggak sengaja kebawa pas masukin pakaian kamu," kata Rara sambil meraih bra dari tangan Elang. Elang terus memandang isterinya."Ra!" "Ya?" "Besar juga, ya!" ucap Elang dengan santainya. Rara mengernyitkan keningnya, masih belum paham apa yang dimaksud Elang."Besar? Apanya?" Elang menunjuk bra yang dipegang Rara dengan bibirnya. Rara menatap bra itu, lalu melemparkannya ke Elang."m***m!" "Eh, Ra...kenapa dilemparin ke aku? Aku enggak butuh bra, Ra. Aku butuh isinya!" teriak Elang. "Bodo amat!" "Rara!" panggil Elang sambil tertawa geli. Rara hanya memanyunkan bibirnya. Kemudian mengambil lagi bra tersebut, menyimpannya ke lemari. Lalu kembali ke tempat tidur. "Kamu udah mau tidur?" Rara mengangkat kedua bahunya."Ya habisnya enggak tahu mau ngapain." "Kita jalan-jalan yuk," ajak Elang. "Jalan-jalan?" "Iya...dinner kah, nonton, belanja atau apalah...kamu pengennya. Kan udah seminggu kita menikah...aku belum ajak kamu kemana-mana. Aku sibuk terus di kantor." "Aku pengen es krim." Mata Rara berbinar-binar. Elang mengusap kepala Rara."Kasihan banget pengen es krim sampai kayak pengen beli berlian, enggak keturutan." "Ya udah...nanti mampir ke supermarket. Beli es krim yang banyak buat stok di rumah." "Kita naik motor ya?" "Naik motor? Memangnya mobil kamu kenapa?" "Ya aku pengen naik motor...lebih asyik gitu. Ini kan malam Minggu, biasanya macet. Kalau naik motor bisa salip-salip kan." "Bilang aja...kamu mau dipeluk. Motor kamu, kan boncengannya tinggi!" "Ya enggak apa-apalah, Ra. Sesekali ini...lagi pula aku, kan suami kamu. Mau ya?" "Kalau naik motor...ntar enggak bisa belanja dong." "Ya udah belanjanya besok aja. Malam ini aku pengen pacaran sama kamu." Rara tampak menimbang-nimbang. Sejak pertunangannya dengan Elang dahulu, ia memang tidak pernah lagi jalan-jalan keluar. Sekarang, ia sudah menjadi isteri dari Dimas Erlangga, ia bebas pergi kemana saja bersama pria itu, membeli apa saja yang ia inginkan."Ya udah kalau gitu. Aku mau."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD