Menemukan Kejanggalan

1171 Words
            “Ibu tidak perlu khawatir. Saya bisa menjaga diri. Saya tidak akan bertindak sembrono,” kata Indah menenangkan hati ibunya.             “Jadi kamu tetap akan meneruskan niatmu itu, Ndah?” cetus Bu Wiryono dengan ekspresi sedih.             “Ya.”             “Tapi, Ndah….?”             “Sudahlah, ibu tak perlu khawatir. Saya kan cuma ingin mencari keterangan pada Pak Tarmo.”             Bu Wiryono menghela napas panjang. Dia memandang Indah seksama. “Bagaimana dengan rencanamu nanti, Ndah? Kamu akan kembali ke kota dan ikut interview di perusahaan besar itu, kan?” ujarnya mengalihkan pembicaraan.             Indah menggeleng pelan. “Saya belum ada rencana kembali ke kota, Bu. Saya ingin menunggui Bapak dulu di sini. Saya tidak akan mengikuti interview,” jawabnya lirih.             “Tapi, Ndah. Ini kesempatan besar. Kamu jangan menyia-nyiakannya?”             “Masih ada kesempatan lain kok, Bu. Saya ingin memikirkan yang lebih penting dulu. Dan bagi saya masalah Bapak adalah hal paling penting untuk saya pikirkan saat ini!” tegas Indah.             Bu Wiryono tak berkata apa-apa lagi. Sepertinya kemauan Indah tak bisa dihalangi lagi. Anak itu memang sangat keras kepala. Dia tidak mau dihentikan jika sudah melangkahkan kakinya ke suatu arah. Keyakinannya begitu kuat! Bu Wiryono hanya bisa pasrah dan berdoa agar anaknya diberi keselamatan.               Indah tiba di rumah Pak Tarmo. Kedatangannya disambut oleh istri Pak Tarmo yang sudah cukup tua. Usianya lebih tua dari ibu Indah. Bu Tarmo menyambutnya dengan ramah dan hangat.             “Silahkan duduk dulu, Nak. Bapak masih ada di belakang. Bagaimana keadaan bapakmu? Beliau sudah mulai sehat, kan?” tanya Bu Tarmo.             “Alhamdulillah, Bapak sudah mulai sehat,” jawab Indah basa-basi.             “Oya, ibu lupa mengucapkan selamat atas wisudanya Nak Indah menjadi Sarjana kemarin. Nak Indah tentu sangat bahagia sekali karena sekarang sudah menyandang gelar Sarjana. “             Indah hanya tersenyum kecil. Tiba-tiba Pak Tarmo muncul dari ruang dalam. Orang tua itu tampak sumringah melihat Indah.             “O, ada nak Indah rupanya? Tumben main ke sini?” ujar Pak Tarmo seraya menyalami Indah.             Pak Tarmo duduk di kursi. Istrinya masuk ke dalam, sepertinya hendak membuatkan minuman. Indah duduk di depan orang tua itu. Sejenak dia mengatur duduknya.             “Maaf, Pak. Kedatangan saya ke sini ada hal penting yang ingin saya bicarakan dengan Bapak,” kata Indah to the point.             “Hal penting apa?” tanya Pak Tarmo dengan kening berkerut dalam.             “Soal tuntutan warga terhadap Bapak saya menyangkut tanah di ujung desa itu. Mungkin Pak Tarmo bisa menjelaskan, apa yang sebenarnya terjadi? Saya yakin Pak Tarmolah yang tahu persis masalah itu?”             Pak Tarmo terdiam sesaat. Ekspresi wajahnya terlihat sedikit tegang, menampakkan kerut-kerut di sekitar keningnya. Sepertinya ia sedang mencoba menata sesuatu yang berkecamuk dalam benaknya.             “Apakah Bapakmu tidak menceritakan kejadian sebenarnya?” ujar orang tua itu lebih dulu bertanya.             “Bapak bilang pembelian tanah itu sudah sesuai prosedur. Sayangnya Bapak agak lupa dengan proses pembelian tanah itu. Bapak hanya bilang semua data-datanya disimpan Pak Tarmo. Karena itulah saya ke sini.”             “Bagus pernah bilang masalah ini sudah diserahkan pada pengacara, tapi kenapa kamu ingin tahu juga?”             “Sebagai anaknya, apakah saya tidak berhak tahu masalah ayah saya?” Nada suara Indah sedikit tinggi, karena dari nada ucapan Pak Tarmo sepertinya orang tua itu keberatan untuk memberikan informasi.             “Kamu jangan tersinggung, Nak. Maksud Bapak, apa perlunya kamu campur tangan masalah ini? Masalah ini sangat sensitif dan menyangkut banyak pihak. Bapak khawatir dengan keselamatanmu. Kamu seorang perempuan. Jika sampai terjadi apa-apa sama kamu….?” Ucap Pak Tarmo tak meneruskan kalimatnya, seakan ingin memberi peringatan pada Indah.             Kembali Indah merasakan pandangan diskriminatif yang menghiasi watak orang-orang desanya. Seperti ayahnya, Pak Tarmo tampaknya juga masih berpikiran bahwa perempuan tak bisa berbuat apa-apa. Perempuan tak perlu tahu dengan persoalan yang biasa ditangani kaum laki-laki. Perempuan hanya makhluk lemah dan kelas dua yang tak pantas berurusan dengan masalah publik. Sungguh, pandangan seperti inilah yang justru membuat Indah merasa kesal dan muak!             “Bapak jangan memandang saya sebagai perempuan. Bapak tidak ingat, sekarang saya sudah bergelar Sarjana. Bukannya saya mau menyombongkan diri, tapi dengan ilmu yang saya dapatkan di perguruan tinggi saya memiliki bekal cukup untuk menelaah sebuah masalah. Saya yakin, saya mampu menghadapi masalah seperti ini!” tegas Indah dengan nada serius.             Pak Tarmo jadi salah tingkah. Duduknya mulai tidak tenang. Sepertinya ia sadar tidak sedang berhadapan dengan seorang gadis kecil yang dulu sering digendongnya. Sekarang yang dihadapinya adalah Indah dalam sosoknya yang matang dan dewasa. Bukan gadis kecil yang kolokan, manja, dan tidak tahu apa-apa. Indah sudah menjelma menjadi wanita yang tegar dan mandiri. Namun hal itu tak lantas menurunkan derajat kesadarannya pada kesetaraan gender. Pak Tarmo adalah orang tua yang masih kolot.             “Bapak tahu kamu sekarang sudah Sarjana. Kamu seorang berpendidikan tinggi. Tapi kamu mesti ingat satu hal, Nak. Dalam persoalan ini bukan kemampuan akademik dan berdiplomasi saja yang diperlukan, tapi juga kemampuan menghadapi emosi massa. Warga di luar sana sudah terlanjur termakan isu tentang kesalahan ayahmu selama menjabat Kades. Dan itu sudah cukup membuat mereka bertindak melewati batas-batas hukum!” tutur Pak Tarmo dengan nada serius pula.             “Maksud Bapak apa?” Indah jadi tak mengerti.             “Dari segi hukum formal, apa yang dilakukan ayahmu dulu sudah benar. Tak ada unsur korupsi dan kolusi dalam proses pembelian tanah itu. Jadi kamu tak perlu khawatir. Bapakmu akan menang di pengadilan. Tapi sebenarnya bukan itu pokok masalah yang kita hadapi, melainkan bagaimana penerimaan warga desa nanti. Kamu tahu, mereka rata-rata berpendidikan rendah. Mereka tentu tak akan menerima begitu saja sebuah kekalahan di pengadilan. Jadi yang kita hadapi adalah emosi massa! Dan itu sangat berbahaya bagi anak perempuan sepertimu!” tandas Pak Tarmo tajam.             Indah tercenung sesaat. Kini ia mengerti maksud Pak Tarmo. Orang tua itu mengkhawatirkan keselamatan dirinya jika nanti berhadapan dengan masyarakat yang buta hukum. Indah sadar dengan kemungkinan buruk itu. Tapi justru keadaan inilah yang ingin dia atasi.  “Saya tahu, yang saya hadapi sekarang adalah masyarakat yang tidak mengenal hukum. Karena itulah saya akan berusaha memberikan penyadaran pada mereka. Kebenaran tidak hanya cukup ditegakkan di atas hukum formal, tapi juga dengan hati nurani dan kebijaksanaan!” ujar Indah kemudian mengungkapkan pendapatnya.             “Kamu tak akan bisa merubah pandangan mereka!”             “Jika sebatang besi saja bisa dibengkokkan, kenapa hati manusia tidak?”             Ucapan Indah itu membuat Pak Tarmo terpekur. Sepertinya percuma saja dirinya memperingatkan dan menghalangi Indah. Gadis itu punya kemauan keras dan kegigihan yang sulit dipatahkan. Meski ada rasa cemas dan risau membayangi hatinya, tapi ia akhirnya mau memenuhi permintaan Indah. Dia mengambilkan dokumen-dokumen menyangkut proses pembelian tanah itu.             “Ini hanya dalam bentuk salinan, sementara yang asli disimpan di kantor Balai Desa. Tapi bukti ini sudah cukup sahih dan valid. Jika kamu belum puas, nanti kamu bisa mengeceknya di kantor desa Sumbersari. Di sana ada buku desa yang memuat segala kejadian menyangkut proses jual beli tanah dan lain sebagainya!” ujar Pak Tarmo menerangkan.             Indah meneliti sebentar dokumen-dokumen yang ditunjukkan oleh Pak Tarmo. Dia membacanya dengan seksama. Semuanya tampak sah dan meyakinkan. Indah merasa puas. Dia meminta ijin ingin mempelajari semua dokumen itu di rumah. Pak Tarmo menyilahkan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD