"Gosipnya menyebar."
Geva menoleh ke Selly sambil bertopang dagu diiringi menghela napas, "Mereka dapat info begituan dari mana sih?"
"Info terpercaya katanya karena Kak Gio sendiri yang ngomong."
"Tanpa seizin gue?"
Selly mengangkat bahunya dan tersenyum, "Dia suka sama lo Gev."
Geva diam memandangi buku tulis miliknya yang hanya berupa lembaran kosong mencoba mencari sebuah pembenaran. Tadi pagi saat masuk sekolah, banyak tatapan mata dan bisik-bisik yang mengiringinya sampai ke dalam kelas. Lalu berita mengejutkan itu datang dari duo gendut sang wartawan infotaiment sekolah yang mengatakan kalau kemarin Gio dan Chelsea saling berhadapan entah membicarakan apa sampai akhirnya Kak Gio berkata seenaknya sendiri kalau sekarang mereka pacaran.
Geva nggak terlalu antusias mendengarnya malahan otaknya mendadak kosong ketika memikirkan alasan masuk akal yang bisa dia terima terkait sikap Gio. Dari awal mereka bertemu memang rasanya ada sesuatu yang samar di antara mereka tapi toh ngapain harus dipikirkan karena mereka nggak saling berhubungan lebih jauh. Walaupun akhirnya Kak Gio malah menjadi pelatih untuk eskul Taekwondonya.
Sikap cowok itu sama sekali tidak bisa dimengerti oleh Geva. Satu pun. Bahkan sampai hari ini saat pelajaran hampir berakhir, Geva sama sekali nggak ada ketemu sama Kak Gio dan juga Chelsea. Kata si duo gendut sih, Chelsea bolos beberapa hari untuk nyembuhin patah hatinya .
Geva bisa mengerti karena walaupun Chelsea seperti itu, Gio adalah cowok yang terang-terangan di sukainya. Kalau sudah begini bisa dipastikan setelah dia kembali, perang terbuka untuknya segera berkibar.
"Errghhh, Kak Gio ini bikin masalah baru aja," gumamnya seraya memegangi kepalanya.
"Dari awal dia udah perhatian sama lo,Gev." Selly memberi pendapat.
Geva menoleh, "Tapi kenapa? Kenapa harus gue? Atau dia berfikir gue sama dengan semua fans fanatiknya yang akan langsung menjerit heboh di semua sosial media karena bisa berpacaran dengan sang Casanova. Gila aja!! Sampai kita pindah ke Mars, gue nggak akan pernah bisa kayak gitu."
Selly terkekeh dan menggelengkan kepala, "Kamu lebay walaupun kalau misalnya neh gue jadi lo, gue pasti sudah ngelakuin apa yang lo bilang tadi sih." Geva memutar bola matanya jengah, Selly berbisik, "Asik kan bisa jadi Couple goals kekinian."
"Nggak penting banget sih begitu."
"Eh, zaman sekarang yang kayak gitu lagi trend tahu. Nanti foto-fotomu bakalan ada di tumbler, pinterest dan sejenisnya dengan hastag couplegoals. Keren gila!!" Selly berdecak dengan mata berbinar.
"Penting ya diakui begitu?"
"Penting banget."
"Untung gue jenis manusia yang masih waras tidak mendewakan teknologi apalagi eksis di dunia maya. Eksis di dunia nyata aja gue banyak musuh apalagi di sana yang pasti lebih banyak lagi para haters yang iri dengki dan mulut nyinyir betebaran. Gue mah ogah jadi bahan obrolan mereka."
"Ya nggak gitu juga kali Gev."
"Kenyataannya banyak begitu. Banyak yang iri pasti."
Selly menghela napas, "Kan memang begitu. Siapa yang punya pasangan ganteng atau cantik pasti bikin iri."
Geva terkekeh, "Jadi kamu baper neh?"
Selly menggangguk dan tertawa pelan lalu menepuk lengan Geva pelan hingga dia menoleh, "Lo harus minta penjelasan sama kak Gio sendiri nanti."
"Mana? Orangnya aja ngilang," dengus Geva.
"Tapi antek-enteknya nggak. Noh lihat di sebrang kelas kita di pinggir lapangan basket."
Selly menunjuk ke arah dua cowok yang berdiri terang-terangan di sana dengan tatapan mengarah ke kelasnya.
"Ngapain mereka?"
"Nggak tahu. Disuruh ngawasin lo kali."
"Lah buat apa? Gue kan bukan buronan."
"Iya tapi lo tersangka utama penyebab seluruh cewek penganggum seorang Giovani patah hati. Bisa aja mereka bertindak anarkis."
"Kok serem banget."
Selly terkekeh geli, "Kalau ini di Korea dan Kak Gio itu salah satu member Suju dengan fangirls segudang, mungkin lo sudah di kulitin hidup-hidup kali."
Geva menatap horror Selly yang langsung terkekeh geli melihat ekspresinya.
"Gue nggak suka sama drama korea kayak elo."
"Iya gue tahu karena lo berbeda."
Geva mendegus, "Memang. Gue masuk sini hanya karena besiswa. Orangtua gue bukan orang kaya walaupun kami hidup pas-pasan."
"Bukan itu Gevancia."
"Lah terus?"
Selly tersenyum, "Bukan tentang asal usul atau latar belakang lo tapi karena kepribadian lo."
"Gue nggak ngerti."
Selly memeluknya sesaat, "Gue ngerti kalau nggak semua masalah bisa diceritakan dengan orang lain tapi gue harap lo tahu kalau gue bersedia kapanpun elo butuhkan dan gue juga tahu lo pasti begitu juga sama gue kan."
Geva tersenyum, "Yes, of course."
"Kalau menurut gue sih, Kak Gio bakalan ngelindungi lo dari amukan Chelsea karena jelas cewek itu sudah kalah telak."
Geva menundukkan kepala, "Gue nggak butuh dilindungin Sell. Gue bisa jaga diri gue sendiri."
Sally berdecak dan berdiri dari duduknya, "Kadang-kadang lo butuh seseorang untuk ngelindungi lo dari sesuatu yang di luar dugaan Gev."
Geva mengangkat kepalanya, "Mau kemana lo ?"
"Beli minum dulu. Kebetulan banget pelajaran terakhir kita ini nggak ada gurunya. Lo disini aja ya."
Geva menganggukkan kepala. Setelah Selly keluar, Geva memakai lagi earphone nya dan menghela nafas. Dia kembali memikirkan kata-kata Selly tadi. Kalau ditanya sebelumnya apa Geva juga menyukai Gio jawabannya mungkin saja nggak karena Geva sudah terlanjur terpikat dengan Nino tapi beberapa hari ini berinteraksi dengan cowok itu, Geva merasakan sesuatu yang lain. Gio begitu berbeda, setidaknya itulah yang dilihatnya.
Geva menggelengkan kepala ketika memikirkan hal itu. Nanti dia akan meminta penjelasan sama Gio terkait kesalahpahaman ini. Bukan karena Geva sok sombong menolak rasa suka Gio, dia hanya merasa tidak pantas di sukai dengan cara seperti ini. Dia takut mengecewakan cowok itu setelah tahu seperti apa kehidupannya sesungguhnya.
"SINI LO !!!"
Geva tersentak ketika lengannya di tarik paksa oleh empat orang cewek yang Geva tahu adalah kakak kelasnya. Tanpa menunggu jawaban Geva, mereka langsung menyeretnya paksa keluar kelas dan membawanya entah kemana. Geva berusaha memberontak tapi dia kalah tenaga karena cewek itu begitu kuat mencengkram lengannya di tambah tiga lainnya yang mengelilingi.
Geva menoleh ke arah lapangan basket dan melihat kedua sahabat Gio tengah berbicara dengan seorang cewek membelakangi posisinya saat ini. Geva menggigit bibir karena sudah jelas ini tindakan pencekalan berencana.
Apa yang dikatakan Selly tadi ternyata bukan main-main. Fans Gio sedang marah saat ini.
Geva di seret paksa ke sebuah gudang yang benar-benar berada di belakang sekolah tertutup oleh rerumputan dan pohon. Disana dia di dorong hingga membentur barang-barang tidak terpakai.
"Kalian mau apa?" tanya Geva seraya berdiri tegak walaupun punggungnya lumayan sakit.
"Elo masih murid baru sudah berlagak kecentilan ngerebut Gio dari kami."
Geva menghela nafas, "Gue nggak kecentilan kak. Gue juga nggak tahu apa-apa."
Cewek yang wajahnya lumayan sangar itu maju seraya mengepalkan kedua tangannya.
"Elo harus terima akibatnya."
Geva mundur karena cewek itu maju bersamaan dengan yang lainnya. Lalu tanpa disadarinya dua yang lain memegangi kedua tangannya dan cewek dihadapannya maju dengan seringai iblisnya di sana.
Geva merasakan tamparan di kedua pipinya bergantian menyebabkan rasa yang lumayan menyakitkan. Satu hantaman di perutnya membuatnya tersungkur jatuh dan matanya berkunang. Geva pernah merasakan yang lebih dari ini sebelumnya saat dia di kejar-kejar bandit penagih hutang yang biasa mengikutinya. Rasa nyerinya menjalar hingga akhirnya dia tidak sadarkan diri di tengah derai tawa keempat cewek itu yang membahana.
***
Gio kalut !!!
Dia mengumpat, menendang dan menyeruak semua siswa yang keluar dari kelas karena bel pulang baru saja berbunyi.
"Kak, gue nggak bisa nemuin dia."
Selly yang sudah membawa barang-barang milik Geva dengan wajah panik mendekati Gio yang wajahnya sudah luar biasa mengerikan walaupun tetap ganteng maksimal. Gio mengacak rambutnya seraya mengedarkan pandangan lalu menoleh ke Selly,"Elo tunggu aja di kelas. Biar gue sama yang lainnya cari dia."
Selly hanya bisa mengangguk dengan tampang cemas . Gio langsung berlari mencari ke segala sudut terpencil yang bisa dia pikirkan saat ini. Sekolahnya memang luas dan Gio butuh lebih dari orang untuk bisa mencari ke semua tempat. Itulah gunanya menjadi seseorang yang punya kekuasaan di sekolah ini. Dia mengerahkan teman-teman yang lain untuk ikut mencari termasuk Nino.
"Ah s**l! Kalau sampai pelakunya ketemu, gue pastikan mereka menyesal!" geram Gio seraya mendekati sebuah gudang sekolah di area paling belakang dan bertemu dengan Septa.
"Nihil. Gudang itu kosong."
"Gimana yang lain?" tanyanya.
"Belum ada kabar sama sekali."
Gio menendang sebuah tong sampah yang berada dekat dengan kakinya dengan amarah menggelegak dan menoleh ke Septa, "Lo beneran nggak lihat siapa mereka?"
Septa hanya menggeleng dengan tatapan bersalah, "Gue sama Bima setengah harian berdiri di sana ngawasin. Saat kami lengah sedikit, dia udah nggak ada."
"Mereka merencanakannya. Oke kita cari lagi!!"
Septa mengangguk kemudian berlari ke arah area lain sekolah meninggalkan Gio sendirian di sana. Ini salahnya. Satu sekolah keburu tahu tentang omongannya kemarin dan Gio belum memberi perlindungan buat Geva. Seharian tadi dia memang nggak masuk sekolah karena harus menemani mamanya check-up bulanan dan langsung bergegas datang saat Bima meneleponnya.
Sekarang dia benar-benar merasa nggak berguna. Gio menyumpahi apapun di sana dengan emosi yang membludak. Gio baru aja akan pergi ketika mendengar suara rintihan yang sepertinya berasal dari gudang sekolah. Tanpa pikir panjang dia langsung bergegas masuk dan mencari ke setiap sudut. Matanya menangkap gerakan di salah satu sudut terjauh di bawah tumpukan kardus dan kayu-kayu bekas.
Gio menyingkirkan apapun yang ada di hadapannya sampai menemukan sosok Geva yang meringkuk dengan wajah memar dan darah di mulutnya.
"KEPARAAAT!!"
Gio mengumpat dan langsung mendekati Geva yang setengah sadar.
"Rosie," lirihnya seraya merengkuhnya dalam pelukannya.
Geva membuka sedikit matanya dan tersenyum lalu menyentuh pipi Gio dengan tangannya yang lemas dan berguman, "Ayah."
Gio terdiam kaku.
"Ayah datang buat Geva," katanya seraya tersenyum lemah. "Rasanya sakit yah tapi nggak seberapa di bandingkan dengan bandit yang biasa ngejar Geva."
Gio terduduk menarik Rosie semakin erat ke dalam pelukannya dengan perasaan kebas.
"Geva pengen ketemu Mama yah. Kalau Geva mati sekarang mungkin Mama bisa jemput Geva," lirihnya sebelum kesadarannya kembali hilang dan tangannya terjatuh ke sisi tubuhnya. Gio mengepalkan tangannya erat lalu berdiri dengan tubuh Geva di dalam rengkuhannya.
Seseorang harus membayar ini semua.
***