*****
"Ya Tuhan... kemeja batiknya bahkan sampai terlihat sesak menahan perutnya. Celana kain yang ditarik tinggi hingga di atas pinggang, sepatu pantofel yang sudah usang... Benarkah ini orangnya? Ayah dan Ibu benar-benar ingin aku menghabiskan seluruh hidupku dengan pria ini?"
Kegundahan Athaya semakin memuncak saat Pak Heru melihat kehadiran Pak Heru. Pria itu tidak hanya tersenyum, tapi menatap Athaya dengan cara yang membuat bulu kuduknya meremang.
Pak Heru kemudian mengerlingkan matanya, sebuah kedipan yang menurutnya mungkin menggoda, namun di mata Athaya terlihat sangat janggal di balik kumis tebalnya itu.
Athaya berusaha tersenyum meski bibirnya kaku, dia merasa geli sekaligus mual.
"Geli sekali... Ya Allah, tatapannya itu seperti sedang menilai barang dagangan di pasar. Kenapa dia harus segenit itu? Apa Ayah dan Ibu tidak melihat betapa tidak nyamannya aku sekarang?"
Dia melirik ke arah Ayah dan Ibunya. Alih-alih menyadari kegelisahan Athaya, mereka justru tampak tersenyum puas. Bagi mereka, Pak Heru adalah penyelamat harga diri keluarga, sementara bagi Athaya, Pak Heru adalah mimpi buruk yang baru saja nyata.
Suasana semakin canggung. Pak Heru sepertinya ingin segera menetapkan tanggal pernikahan.
***
Suasana rumah malam itu berubah menjadi seperti meja perundingan bisnis. Pak Heru mengeluarkan sebuah buku catatan kecil dari saku kemejanya yang ketat, sementara Maysarah tampak langsung bugar, duduk tegak dengan mata berbinar-binar.
Pak Heru berdeham sekali, merapikan letak duduknya agar perutnya lebih nyaman.
"Begini Pak, Bu, dan Nak Athaya. Saya tidak mau main-main. Untuk menunjukkan keseriusan saya, saya sudah siapkan mahar yang pantas untuk guru secantik Nak Athaya," Pak Heru memulai pembicaraan itu.
Mata Maysarah berbinar, ini adalah bagian yang dia tunggu - tunggu sejak tadi.
"Apa itu Pak Heru? Duh, jadi tidak enak kami merepotkan begini," ucap Maysarah masih dengan senyumnya yang begitu sumringah.
Pria tambun itu tersenyum bangga, kembali memberikan kedipan genit ke arah Athaya.
"Saya sudah siapkan satu unit rumah di perumahan elite, kunci mobil atas nama Athaya, perhiasan satu set lengkap, dan emas batangan seberat 200 gram. Semua tunai saat akad nanti," jawab Pak Heru penuh kebanggaan.
Sang Ibu hampir memekik kegirangan, wajah pucatnya hilang seketika. Dia tidak menyangka Pak Heru akan menyiapkan mahar yang begitu banyak untuk anaknya.
"Masya Allah! Dengar itu, Atha? Rumah, mobil, emas! Pak Heru ini memang luar biasa. Ibu sudah bilang kan, kamu tidak akan hidup susah kalau sama Pak Heru. Kamu bakal jadi nyonya besar, Nak!"
Ramli mengangguk puas sambil menepuk bahu sang calon menantunya itu.
"Alhamdulillah. Kami tidak melihat hartanya, Pak Heru, tapi niat baik dan tanggung jawab Bapak ini yang kami hargai," ucapnya.
Athaya hanya terdiam, duduk di sudut ruangan. Baginya, deretan harta yang disebutkan Pak Heru terdengar seperti daftar harga untuk membeli kebebasannya. Dia merasa seperti barang lelang yang sedang ditawar tinggi.
"Emas batangan? Rumah? Mobil? Apa gunanya semua itu kalau setiap malam aku harus melihat kumis tebal itu di sampingku? Ibu... secepat itu Ibu sembuh hanya karena mendengar harta? Apa harga diriku memang setara dengan emas 200 gram?" bathin Athaya perih.
"Bagaimana, Nak Athaya? Masih kurang? Jangan malu-malu, apa pun yang Nak Athaya minta, selama saya mampu, pasti saya kabulkan. Asal Nak Athaya mau melayani saya dan anak-anak saya dengan baik," tanya Pak Heru pada Athaya.
"Sudah lebih dari cukup itu, Pak Heru! Duh, beruntung sekali kamu Atha. Ibu saja dulu maharnya hanya seperangkat alat sholat. Kamu ini benar-benar membawa rezeki buat keluarga!" pertanyaan dari Pak Heru barusan malah mendapatkan jawaban dari Maysarah.
Maysarah menatap Athaya dengan tatapan penuh tuntutan, seolah berkata, 'Jangan sampai kamu merusak suasana ini dengan penolakanmu'. Athaya menunduk, menatap lantai rumah yang dingin, merasa bahwa mulai malam ini, impiannya tentang cinta sejati telah terkubur oleh tumpukan emas batangan Pak Heru.
***
Pagi itu, udara terasa jauh lebih dingin dari biasanya bagi Athaya. Saat dia melangkah keluar rumah menuju sekolah, langkahnya terasa berat, seolah-olah emas batangan yang dijanjikan Pak Heru semalam sudah mulai membebani kakinya.
Namun, yang lebih menyakitkan daripada beban pikiran adalah bisik-bisik yang mulai merayap di telinganya begitu dia melewati kerumunan ibu-ibu di persimpangan gang.
"Eh, lihat tuh si Athaya. Katanya sudah terima lamaran Pak Heru ya? Itu lho, duda kaya yang kumisnya tebal itu," bisik tetangga dengan keras.
Athaya menunduk, mencoba mempercepat langkahnya, namun telinganya tetap menangkap suara-suara sumbang dari arah tukang sayur.
"Hah? Serius? Ya ampun, padahal Athaya kan cantik, guru lagi. Kok mau ya sama aki-aki begitu? Pak Heru kan usianya sudah pantas jadi bapaknya!" sahut ibu yang satunya, dengan sanggul yang tinggi.
"Halah, apalagi kalau bukan karena hartanya? Katanya dikasih rumah sama emas batangan. Ternyata selera guru TK tinggi juga ya, mau jadi istri simpanan eh, maksud saya istri muda duda kaya," tambah si ibu yang sedang memilih cabai ditangannya.
"Sayang banget ya... mending cari yang sederhana tapi sepadan. Ini mah kayak barang dagangan, ada harga ada rupa. Kelihatannya saja kalem, ternyata 'matre' juga,"
Athaya terus berjalan tanpa menoleh, namun setiap kata "matre", "harta", dan "tidak cocok" seperti anak panah yang menancap tepat di jantungnya.
Da ingin sekali berhenti dan berteriak pada mereka bahwa ia melakukan ini demi nyawa Ibunya, bukan demi emas atau mobil.
Salah satu ibu yang bernama Ratna menyindir dengan nada tinggi sambil melipat tangan di d**a.
"Oalah, jadi ini alasan dia itu dulu menolak anak saya habis-habisan? Athaya... Athaya... Padahal anak saya itu masih muda, ganteng, kerjanya juga jelas di kantor dinas," katanya.
"Iya ya, Bu Ratna. Padahal anaknya Bu Ratna itu cocok banget sama Athaya. Eh, malah milih jadi pengasuh duda demi mobil,"
"Kalian tidak tahu apa-apa... Kalian tidak tahu bagaimana rasanya melihat Ibu mogok makan di rumah sakit. Kalian tidak tahu rasanya dipaksa memilih antara durhaka atau menderita," bathin Athaya.
Air matanya hampir tumpah saat dia melihat bayangannya sendiri di kaca jendela sebuah toko yang ia lewati. Dia melihat seorang wanita muda yang cantik, rapi dengan seragam gurunya, namun matanya kosong. Di benaknya, dia membayangkan dirinya bersanding dengan Pak Heru, perbedaan fisik mereka yang mencolok pasti akan menjadi bahan tertawaan orang selamanya.
"Dulu aku bangga dikenal sebagai guru yang berprestasi. Sekarang, dalam semalam, aku hanya dikenal sebagai perempuan yang menjual dirinya demi mahar duda kaya. Benarkah ini jalan yang Engkau berikan, ya Allah?"
"Kenapa semua orang begitu kejam? Mereka menghakimi seolah-olah aku yang meminta semua mahar itu. Anak Bu Ratna dulu aku tolak karena memang aku belum siap, bukan karena harta. Tapi sekarang, gara-gara keputusan ini, semua kebaikanku di masa lalu terhapus. Aku hanya dianggap perempuan matre yang haus kemewahan," dia bergumam pelan dan lirih.
Dia sampai di depan gerbang sekolah dengan napas tersenggal. Dia melihat ke atas, ke arah langit, dan merasa seolah-olah seluruh dunia sedang menertawakannya. Dia merasa kotor, merasa rendah, dan merasa sendirian.
"Ibu... Ayah... lihatlah. Karena menuruti keinginan kalian, harga diriku habis diinjak-injak orang. Apakah ini yang kalian sebut dengan kebahagiaanku?"
***
"Bu Athaya... Keluarlah..."
baru saja Athaya meletakkan tasnya, suara teriakan yang keras dari depan rumah mengejutkannya. Ternyata beberapa dari orang tua murid yang datang.
"Oh, ini dia Guru Teladan kita. Ternyata benar ya kabar yang beredar? Bu Guru yang biasanya bicara soal moral di kelas, ternyata aslinya haus harta!"
"Ibu... ada apa ini? Kenapa tiba-tiba bicara begitu di rumah saya?" tanya Athaya bingung, Athaya terperangah kaget sampai membuat suaranya tercekat.
"Kami nggak mau basa-basi, Athaya. Kami datang ke sini mau bilang kalau kami sudah lapor ke Kepala Sekolah. Kami nggak sudi anak-anak kami diajar sama guru yang nggak punya harga diri, yang mau saja dijual sama orang tuanya ke duda kaya demi emas batangan!" teriak seorang ibu, ucapannya terdengar begitu tegas.
Athaya: "Demi Allah, Bu... ini masalah pribadi keluarga saya. Tidak ada hubungannya dengan cara saya mengajar di kelas."
"Guru itu untuk ditiru! Apa yang mau ditiru dari kamu? Cara mencari suami kaya yang penting tua dan mapan? Kami nggak mau anak-anak kami punya pikiran kalau jadi perempuan itu yang penting cantik supaya bisa dibeli laki-laki kaya! Kamu itu matre, Athaya. Kamu sudah mencoreng citra guru!"
"Lebih baik kamu mundur saja jadi guru. Kami malu punya guru yang cuma silau sama rumah dan mobil. Mulai besok, kami nggak akan biarkan anak-anak kami masuk ke kelas kamu kalau kamu masih di sana!"