***
"Kenapa harus Pak Heru?" gumamnya lirih.
Malam itu terasa begitu panjang bagi Athaya. Suara detak jam dinding di kamarnya terdengar seperti palu yang menghantam ulu hati. Dia berbaring, namun matanya tetap terjaga, menatap langit-langit kamar yang tampak makin menyempit.
Athaya membalikkan badannya ke kanan, lalu ke kiri, mencari posisi yang nyaman namun tak kunjung menemukannya. Pikirannya benar-benar kalut.
Setiap kali dia memejamkan mata, bayangan wajah Ibunya yang pucat dan tatapan kecewa Ayahnya muncul bergantian. Dia merasa seperti sedang diadili oleh orang-orang yang paling dia cintai.
Athaya bangkit dari tempat tidur, berjalan menuju jendela yang berembun. Dia menatap ke arah luar, ke arah rumah-rumah tetangga yang lampunya sudah banyak yang padam.
Dunia seolah tenang, kecuali dunianya sendiri.
"Kalau aku bilang 'Iya' besok pagi, bebanku hilang, tapi jiwaku mati," batinnya.
"Tapi kalau aku tetap bilang 'Tidak', dan sesuatu terjadi pada Ibu... aku tidak akan pernah bisa memaafkan diriku seumur hidup,"
Dilema itu terasa mencekik. Pak Heru mungkin orang baik, tapi bagi Athaya, dia adalah simbol dari hilangnya kendali atas hidupnya sendiri. Di sisi lain, piring nasi yang tetap utuh di kamar ibunya adalah senjata yang paling mematikan bagi nurani Athaya.
***
Athaya duduk di kursi plastik kecil, matanya terpaku pada krayon yang berserakan di meja, namun pikirannya melayang jauh ke meja makan di rumahnya yang dingin.
"Dulu aku belajar setinggi ini agar bisa mendidik anak-anak menjadi bebas, tapi kenapa aku sendiri merasa seperti burung di dalam sangkar emas yang pintunya dikunci oleh ibuku sendiri?" bathin Athaya lirih.
Dia melihat salah satu muridnya sedang menggambar sosok ayah dan ibu yang bergandengan tangan. Pemandangan itu bukannya membuatnya tersenyum, malah membuat dadanya sesak.
Disaat jam istirahat, Athaya hanya duduk di koridor sekolah sambil menatap lurus kedepan. Semua anak - anak sedang istirahat dan sedang bermain di halaman sekolah.
Baim tiba-tiba berlari ke tengah aspal mengejar bola plastiknya yang menggelinding. Dari arah kanan, sebuah motor melaju cukup kencang. Suara decit rem yang memekakkan telinga merobek ketenangan pagi itu. Motor itu berhenti miring, hanya beberapa senti dari kaki Baim yang gemetar.
"Bu Atha... Bu Atha...!"
Suara teriakan itu tidak masuk ke kesadarannya. Athaya baru tersentak saat mendengar suara decit rem motor yang sangat keras.
"ASTAGA!" teriak salah satu orang tua murid.
Athaya tersadar tepat saat seorang murid kecilnya, Baim, berdiri mematung di tengah jalan karena mengejar bola yang terlepas, sementara sebuah motor berhenti hanya beberapa sentimeter dari kakinya.
Pengendara motor itu marah-marah, dan suasana sekolah mendadak riuh. Athaya membeku, jantungnya serasa berhenti detak.
Setelah pengendara motor itu pergi dengan emosi, Athaya membawa Baim masuk ke dalam kelas dengan tangan yang masih gemetar hebat.
Tak lama kemudian, seorang staf tata usaha menghampirinya.
"Bu Athaya, dipanggil Ibu Kepala Sekolah sekarang ke ruangannya,"
Athaya melangkah gontai. Di dalam ruangan yang dingin itu, Ibu Kepala Sekolah sudah menunggu dengan raut wajah yang sangat kecewa.
Kepala Sekolah meletakkan pulpennya ke meja dengan gerakan tegas.
"Duduk, Athaya. Saya rasa kamu tahu kenapa saya memanggil kamu ke sini,"
Athaya menunduk dalam, jari-jarinya bertautan di pangkuan.
"Saya tahu, Bu. Saya minta maaf sebesar-besarnya atas kejadian di gerbang tadi,"
"Minta maaf saja tidak cukup, Athaya. Saya menerima laporan dari orang tua murid lainnya. Mereka bilang kamu hanya berdiri mematung. Untung saja pengendara itu sempat mengerem. Kamu bayangkan kalau tidak? Nama baik sekolah ini taruhannya, dan yang paling utama, nyawa anak didik kita!"
"Saya benar-benar khilaf, Bu... saya sedang tidak fokus,"
"Tidak fokus? Athaya, kamu sudah mengajar di sini cukup lama. Kamu tahu aturan emas kita, saat di sekolah, mata dan telinga harus 100% untuk anak-anak. Kamu gagal menjaga murid kamu hari ini, Athaya. Kamu gagal menjalankan tanggung jawab paling dasar sebagai guru TK,"
"Saya mengerti, Bu. Saya siap menerima sanksi apa pun," suaranya serak dengan air mata yang mulai menetes.
Kepala Sekolah menghela napas panjang, nadanya sedikit melunak tapi tetap tegas.
"Saya tidak tahu apa yang sedang membebani pikiranmu sampai kamu kosong seperti tadi. Tapi jika masalah pribadimu sudah mengancam keselamatan murid, itu sudah lampu merah. Saya beri kamu teguran keras tertulis hari ini. Kalau besok saya lihat kamu masih melamun, lebih baik kamu ambil cuti atau pikirkan lagi apakah kamu masih sanggup mengajar di sini,"
Athaya kini terisak kecil dihadapan Ibu Kepala Sekolah.
"Terima kasih atas tegurannya, Bu. Saya akan berusaha memperbaiki diri,"
"Pulanglah nanti dan selesaikan apa pun yang mengganggu kepalamu itu. Saya butuh Bu Guru Athaya yang ceria dan sigap, bukan raga yang tanpa jiwa,"
Athaya keluar dari ruangan itu dengan perasaan hancur berkeping-keping. Dunia kerjanya yang selama ini menjadi tempat pelarian dari masalah rumah, kini justru ikut menjadi neraka baginya.
***
Athaya melihat pintu rumahnya tertutup. Suasana disana sunyi. Biasanya ada Ramli yang duduk di teras sambil membaca koran ditemani secangkir kopi.
Langkahnya terhenti saat dering ponsel didalam tasnya berdering. Athaya mengambil ponselnya dan mengangkat panggilan itu.
Itu adalah panggilan dari Ramli yang mengabarkan jika ibunya masuk rumah sakit.
"Baiklah, Ayah. Atha bersiap - siap dulu, setelah itu Atha akan langsung ke rumah sakit,"
Sambungan telpon pun putus. Athaya memutuskan masuk kedalam rumah untuk menjalankan shalat Dzuhur.
Di atas sajadah lusuh itu, ia tumpahkan segala sesak yang sejak pagi menghimpit dadanya. Tangisnya pecah dalam sujud yang panjang.
"Ya Allah, Engkau Maha Mengetahui apa yang tidak sanggup aku ucapkan. Hari ini aku nyaris mencelakai orang lain karena pikiranku yang kacau. Aku merasa gagal menjadi anak, dan hari ini aku juga merasa gagal menjadi guru. Ya Allah, tunjukkanlah aku jalan yang lurus. Aku ingin menjadi anak yang berbakti, aku tidak ingin Ibu sakit karena aku, aku tidak ingin Ayah marah karena egoku. Tapi ya Allah... aku juga takut mengkhianati hati yang Kau titipkan padaku. Aku takut jika aku menikah tanpa restu hatiku, aku justru akan melukai Pak Heru dan menciptakan ketidakbahagiaan baru,"
***
Athaya duduk di samping brankar. Ibunya terbaring lemah dengan selang infus menempel di tangan. Wajahnya pucat pasi, bibirnya kering pecah-pecah karena tetap tidak mau makan.
Dengan gerakan yang tenang, Athaya membuka rantang yang dia bawa.
"Bu, Athaya masak sayur bening dan ayam ungkep kesukaan Ibu. Athaya sendiri yang masak tadi. Ibu makan ya? Sedikit saja... demi Athaya,"
Ibunya perlahan membuka mata, lalu memalingkan wajah ke arah jendela, kembali menunjukkan penolakan yang membisu.
Air mata Athaya jatuh ke punggung tangannya.
"Bu... cukup. Athaya menyerah. Athaya nggak sanggup lagi lihat Ibu seperti ini. Athaya nggak sanggup kalau harus kehilangan Ibu,"
Mendengar itu, Maysarah sedikit menoleh.
"Kalau Ibu mau makan, kalau Ibu mau sehat lagi... Athaya akan terima lamaran Pak Heru. Athaya akan turuti kemauan Ibu dan Ayah," ucap Athaya yang terasa seperti duri yang dia telan.
"Kamu... kamu nggak bohong, Atha? Kamu nggak terpaksa?"
Athaya tersenyum pedih sambil menyuapkan sesendok nasi ke arah ibunya.
"Sekarang yang paling penting Ibu sehat. Athaya mau Ibu sembuh. Ayo, Bu... buka mulutnya. Makan ya?"
Maysarah mulai membuka mulutnya perlahan, menerima suapan pertama dengan mata yang berkaca-kaca.
"Terima kasih, Nak... kamu benar-benar anak yang berbakti. Ibu lakukan ini semua supaya kamu ada yang menjaga,"
Athaya terus menyuapi ibunya dengan tangan gemetar. Di satu sisi, dia lega melihat ibunya kembali memiliki semangat hidup, namun di sisi lain, dia merasa sebagian dari dirinya baru saja mati. Dia telah menukar kebebasan hidupnya dengan kesembuhan ibunya.
***
Dua hari setelah hari itu, Maysarah sudah diperbolehkan pulang ke rumah. Dan malam ini mereka siap menyambut kedatangan Pak Heru untuk melamar Athaya.
"Atha, ini Pak Heru. Beliau langsung datang begitu Ayah beri kabar kalau Ibu sudah mau makan dan kamu sudah bersedia,"
Athaya terpaku, matanya membelalak tak percaya.
"P-pak Heru?"
Dalam bayangan Athaya, Pak Heru mungkin hanya seorang pria dewasa biasa. Namun, sosok di depannya jauh dari apa yang dia bayangkan. Pria itu bertubuh sangat tambun, dengan perut yang menyembul di balik kemeja batiknya yang ketat. Yang paling mencolok adalah kumis hitam tebal yang melintang kaku di atas bibirnya, tipikal penampilan bapak-bapak yang sering ia temui di kantor kelurahan atau pasar.