Ancaman Sang Ibu

1387 Words
*** "Ini semua karena kamu, Atha," teriak Ramli, ayah Athaya saat Athaya baru saja masuk kedalam rumah. Athaya berhenti sejenak. Dia mengernyit, bingung, Athaya yang baru saja sampai kerumah setelah lelah mengajar disuguhkan ucapan yang tidak mengenakkan dari sang ayah. Padahal tubuhnya saat ini sangat lelah. "Gara-gara kamu, ibumu sejak pagi tidak mau makan. Ini semua salah kamu," kata Ramli lagi. "Ayah kenapa sih? Kok aku yang disalahkan ibu nggak mau makan?" bathin Athaya. "Kok salah, Atha? Memangnya ibu kenapa tidak mau makan? Apa ibu sedang sakit?" tanya Athaya setelah dia ngefreez beberapa saat ditempatnya. ​"Lebih parah dari sakit! Dia nggak mau makan dari pagi. Dibujuk pakai apa pun diam saja. Kamu tahu sebabnya, kan?" ​Athaya menghela napas panjang, sudah menduga arah pembicaraan. "Yah, kalau soal itu lagi... Athaya baru pulang mengajar, otak Athaya masih penuh sama urusan sekolah," ​Ramli berdiri dari kursi. "Justru itu masalahnya! Kamu terlalu sibuk mengurus anak orang, sampai lupa urusan diri sendiri. Ibu kamu itu malu, Atha. Teman-temannya sudah menimang cucu, sedangkan kamu? Dilamar orang baik-baik malah banyak alasan!" ​"Bukan banyak alasan, Yah. Athaya cuma mau menikah dengan orang yang tepat. Menikah itu bukan lomba lari," ​"Tapi buat Ibu kamu, ini soal waktu! Dia sampai mogok makan itu bentuk protes karena dia sudah nggak tahu lagi harus ngomong apa sama kamu. Kamu mau tanggung jawab kalau kondisi fisiknya drop? Kamu mau dianggap anak durhaka karena membiarkan ibumu kelaparan cuma gara-gara ego kamu?" ​"Kenapa jadi ego Athaya yang disalahkan? Apa adil kalau Athaya dipaksa menikah hanya supaya Ibu mau makan? Itu namanya tekanan, Yah, bukan kasih sayang," jawab Athaya, suaranya mulai bergetar. ​"Cukup! Jangan menjawab terus pakai logika guru kamu itu. Sekarang pilih, temui Ibu, minta maaf, dan turuti kemauannya, atau jangan salahkan Ayah kalau Ayah nggak mau bicara lagi sama kamu sampai kamu bawa calon ke rumah!" ​Ramli berjalan melewati Athaya dengan kasar, meninggalkan Athaya yang terpaku di tengah ruangan dalam keheningan yang menyesakkan. ​Athaya berdiri sejenak di depan pintu kayu kamar ibunya. Setelah menarik napas panjang dan menghapus sudut matanya yang sedikit basah, ia memutar kenop pintu perlahan. Kamar itu remang-remang, hanya diterangi lampu tidur. Ibunya berbaring membelakangi pintu. "Ibu, Athaya pulang," seru Athaya lembut, suaranya hampir tidak terdengar. ​Tidak ada jawaban. Ibunya tetap diam, hanya deru napas pelan yang terdengar. ​Athaya pun duduk di tepi ranjang. Dia melihat siapa basah diatas bantal. Mungkin karena air mata Maysarah. "Ayah bilang Ibu belum makan dari pagi. Ayo, buk. Atha temani ibu makan, makan sedikit saja, nanti maaf ibu kambuh loh," bujuk Athaya. Maysarah berbalik pelan, matanya sembab karena terus saja menangis sejak tadi. "Ibu nggak lapar. Perut Ibu rasanya kenyang sama omongan tetangga," ​Athaya menghela napas, hatinya perih. "Kenapa harus didengarkan, Bu? Mereka nggak menjalani hidup kita. Kenapa Ibu sampai menyiksa diri begini? Kalau Ibu sakit, Athaya yang paling sedih, bukan mereka," "Ibu sedih, Atha. Tadi diwarung, para tetangga terus membicarakan kamu. Mereka bilang kamu terlalu banyak pilihan makanya sampai sekarang belum juga menikah. Bahkan dari ibu - ibu itu adalah orang tua yang anaknya pernah melamar kamu, tapi kamu tolak," "Bu, diamkan saja. Nanti juga diam sediri kalau mereka sudah punya topik baru buat digosipin," "Mana ada habisnya sebelum kamu menikah, Atha. Memangnya kamu belum punya pilihan gitu untuk menjadi suami kamu. Masa sih selama bekerja kamu tidak pernah berkenalan dengan laki - laki diluar sana?" "Bu, Atha niatnya cuma bekerja, bukan untuk berkenalan dengan laki - laki," "Sampai kapan? Kalau kamu tidak mencari jodoh kamu, kapan kamu akan menikahinya?" "Atau jangan - jangan kamu memang berniat tidak mau menikah ya? Kamu mau jadi perawan tua?" tanya sang ibu, nada suaranya sedikit naik. "Astaghfirullah, ibu kok ngomongnya seperti itu sih? Atha juga ingin segera menikah, Bu. Hanya saja Atha belum bertemu dengan calon suami yang Allah jodohkan untuk Atha," jawab Athaya, dia mengusap dadanya pelan. Ucapan sang ibu telah menusuk ulu hatinya saat ini. "Baiklah, jika menurutmu Allah belum mempertemukan kamu dengan jodoh kamu, biar ibu yang pertemukan kamu dengan jodoh kamu," ucap sang ibu dengan yakin. Athaya menyipitkan matanya, dia bingung dengan maksud ucapan sang ibu padanya. Bagaimana bisa ibunya mempertemukan dia dengan jodohnya sedangkan Allah belum memberikan itu padanya. Ibu Athaya menarik sebuah foto dari balik saku daster. Foto seorang pria berusia sekitar empat puluh tahun, bertubuh tambun, mengenakan setelan jas yang tampak mahal. "Foto siapa itu, Bu?" tanya Athaya saat sang ibu menatap foto yang dia pegang sejenak. "Ini Pak Heru. Dia duda, istrinya meninggal dua tahun lalu. Dia punya toko bangunan besar di kota sebelah. Dia mencari istri yang sabar, dan Ibu sudah bilang kalau kamu adalah orangnya," "Baiklah, jika menurutmu Allah belum mempertemukan kamu dengan jodoh kamu, biar ibu yang pertemukan kamu dengan jodoh kamu," ucap sang ibu dengan yakin. Athaya menyipitkan matanya, dia bingung dengan maksud ucapan sang ibu padanya. Bagaimana bisa ibunya mempertemukan dia dengan jodohnya sedangkan Allah belum memberikan itu padanya. Ibu Athaya menarik sebuah foto dari balik saku daster. Foto seorang pria berusia sekitar empat puluh tahun, bertubuh tambun, mengenakan setelan jas yang tampak mahal. "Foto siapa itu, Bu?" tanya Athaya saat sang ibu menatap foto yang dia pegang sejenak. "Ini Pak Heru. Dia duda, istrinya meninggal dua tahun lalu. Dia punya toko bangunan besar di kota sebelah. Dia mencari istri yang sabar, dan Ibu sudah bilang kalau kamu adalah orangnya," Athaya menarik napas panjang. "Bu, Atha baru saja pulang. Atha lelah, bisa kita jangan membahas soal ini sekarang?" tolak Athaya, Athaya memang selalu menghindar sebisa mungkin setiap kali sang ibu atau pun ayahnya membicarakan soal jodoh. Karena apapun jawaban Athaya akan tetap salah di mata kedua orang tuanya. "Lelah sampai kapan, Atha?" Ayahnya akhirnya bersuara, meletakkan korannya dengan dentuman kecil di meja. "Usiamu sudah tidak muda lagi. Tetangga sudah mulai bertanya-tanya apakah kamu tidak laku. Kami ini mau melihatmu ada yang menjaga sebelum kami semakin tua dan meninggal dunia!" "Tapi Atha tidak kenal dia, Yah. Atha ingin menikah dengan orang yang Atha cintai," bantah Athaya lirih. "Kalian bisa saling mengenal setelah kalian menikah," Ibunya tiba-tiba berdiri, matanya melotot namun air matanya mengalir deras. "Cinta? Sampai kapan kamu mau menunggu cinta yang tidak datang-datang itu? Pokoknya besok malam Pak Heru akan datang ke sini untuk melamar kamu. Kalau kamu masih menolak Pak Heru, lebih baik Ibu mati kelaparan saja, Athaya! Biar kamu puas melihat ibumu ini menderita!" *** ​Malam semakin larut. Athaya baru saja kembali dari luar. Ia membawa bungkusan hangat berisi sate ayam langganan ibunya, makanan yang biasanya selalu berhasil membangkitkan selera makan sang Ibu. Dengan langkah berat, ia kembali masuk ke kamar. "Bu... ini Athaya belikan sate Pak Haji yang di depan kompleks. Masih hangat, bumbunya sengaja Athaya minta banyakin. Kita makan bareng ya? Sedikit saja, supaya Ibu bisa minum obat," Athaya membuka bungkusan itu, aromanya memenuhi ruangan. Dia menyendokkan sedikit nasi dan potongan sate, lalu mendekat ke arah Ibunya yang masih bergeming. ​"Ibu sudah bilang, Atha. Ibu nggak akan makan sebelum hati Ibu tenang," "Bu, jangan begini. Athaya sayang sama Ibu. Athaya nggak bisa lihat Ibu lemah seperti ini. Tolonglah, demi Athaya, makan satu suap saja..." suara Athaya semakin bergetar menahan tangis yang ingin segera pecah. Tiba - tiba Maysarah berbalik dan menatap Athaya tajam. "Kalau kamu benar-benar sayang, kenapa kamu nggak bisa mengabulkan satu saja permintaan Ibu? Ibu nggak minta harta kamu. Ibu cuma minta kamu terima lamaran Pak Heru. Kenapa begitu sulit untuk kamu menunjukkan bakti kamu kepada orang tua kamu, Atha?" ​Athaya akhirnya keluar dari kamar Ibu dengan piring yang masih utuh. Ia duduk di kursi meja makan yang sepi, menatap lampu gantung yang berpijar redup. Di luar, suara rintik hujan mulai terdengar, menambah dingin suasana hatinya. "Apa artinya menjadi anak berbakti jika harganya adalah seluruh masa depanku? Apakah surga yang katanya di bawah telapak kaki ibu harus kutukar dengan sisa usiaku yang mungkin akan penuh air mata?" bathin Athaya bermonolog sendiri. Bayangan Pak Heru, pria dewasa yang sopan namun terasa asing melintas di pikirannya. Ada rasa mual yang muncul bukan karena lapar, tapi karena bayangan pernikahan tanpa rasa. Namun, bayangan tubuh Ibunya yang semakin lemas dan wajah Ayahnya yang kecewa jauh lebih menakutkan baginya. Athaya menyembunyikan wajah di kedua lipatan tangannya di atas meja, terisak dalam diam. Ia merasa seperti sedang berdiri di tepi jurang; melompat berarti hancur, namun tetap diam berarti melihat orang tuanya perlahan 'menghilang' karena ulahnya sendiri.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD