Fitnah di Bawah Rembulan

1032 Words
***** "Astaghfirullah! Athaya? Apa yang kamu lakukan dengan laki - laki ini di tempat gelap begini?" suara senter warga memecah kegelapan. Cahaya senter yang menyilaukan membuat Athaya harus menyipitkan mata. Ia masih memeluk pria asing itu, tangannya gemetar menekan luka di perut sang pria yang kini membasahi seluruh telapak tangannya dengan cairan hangat dan lengket. "Tolong! Pria ini terluka parah! Cepat panggil ambulans!" teriak Athaya, suaranya parau karena panik. Namun, alih-alih menolong, kerumunan warga yang dipimpin oleh Pak RW dan beberapa pemuda desa justru berdiri mematung dengan tatapan menghakimi. Mereka melihat seorang guru TK yang selama ini dikenal suci dan sopan, tengah berada di semak-semak gelap, memangku seorang pria asing dengan pakaian yang berantakan. "Bu Guru, apa yang sebenarnya kalian lakukan di sini? Malam-malam, di tempat sepi seperti ini?" "Lho, kok bukan sama Pak Heru? Ini siapa lagi laki-laki ganteng yang dia tolong? Jangan-jangan simpanannya?" "Ibu Athaya tidak seharusnya berada ditempat seperti ini dengan laki laki yang bukan mahrom, anda," "Pak RT, tolong! Mobil ini menabrak pohon. Pria ini terluka parah di kepalanya. Cepat bawa ke puskesmas atau rumah sakit!" ​Salah satu warga mendekat sambil menyinari wajah pria asing itu. "Wah, mobilnya mewah sekali ini. Lebih mewah dari punya Pak Heru. Atha, kamu kenal sama orang ini? Kok bisa kamu ada di sini pas dia kecelakaan?" "Tolong jangan tanya macam-macam dulu! Cepat bantu angkat dia! Dia bisa kehabisan darah!" "Jangan banyak alasan kamu, Atha. Kalau memang mau niat menolong, seharusnya kamu berteriak minta tolong tadi. Bukannya malah pangku - pangkuan di semak - semak begini. Curiga aku Pak RT sama Athaya," "Apa maksud kalian? Dia kecelakaan! Lihat mobil itu!" Athaya menunjuk ke arah mobil perak yang ringsek. "Mobil itu bisa saja hanya alasan," timpal warga lain yang memang dikenal sebagai tukang gosip. "Cukup! Jaga bicara kalian!" Athaya berteriak, air mata mulai mengalir. "Dia bisa mati jika tidak segera diobati!" bisik Atahya dengan suara yang sedikit dia tekan. "Kita bawa saja mereka ke Balai Desa, Pak RW," usul salah seorang dari mereka. "Iya, Pak. Biar semua warga tahu apa yang sudah dilakukan ibu Atahya dengan pria asing ini," "Jangan - jangan kecelakaan ini hanya modus merek saja untuk berbuat m***m di desa kita," tuduh mereka menghakimi Atahya tanpa berpikir dengan jernih yang terjadi sebenarnya. Pria di pangkuan Athaya merintih pelan, wajahnya semakin putih seperti kertas. Tanpa peduli pada penjelasan Athaya, warga justru menyeret mereka berdua. Suasana di lokasi kecelakaan semakin memanas. Bukannya simpati melihat tangan Athaya yang luka tergores kaca, warga justru membentuk lingkaran seolah-olah sedang menangkap basah sepasang kekasih yang berbuat asusila. "Sudah! Tidak usah banyak alasan, Atha. Mau kamu bilang tidak kenal atau kebetulan lewat, kenyataannya kalian berduaan di tempat gelap jam segini. Ini melanggar aturan desa!" itu suara Pak RT, yang tadinya Athaya berharap dia bisa jadi penengah dalam masalah ini, tapi tetap dia juga tidak bisa bersikap dengan baik. ​"Aturan apa, Pak RT?" teriak Athaya histeris, suara bergetar menahan emosi pada warga. "Orang ini sedang sekarat! Darahnya terus mengalir! Apa Bapak-bapak lebih peduli aturan daripada nyawa manusia?" ucap Athaya lagi menatap bergantian wajah warga yang terus saja menyenteri wajah mereka. "Halah! Paling ini cuma taktik kamu supaya gagal nikah sama Pak Heru, kan? Kamu mau lari sama laki-laki ini tapi malah kecelakaan? Ayo, bawa mereka berdua ke Balai Desa!" "Panggil Ayahnya!" teriak salah satu warga yang mulai menarik lengan Athaya dengan paksa. ​Athaya memberontak agar bisa terlepas dari pegangan warga. "Lepas, Pak! Tolong bawa dia ke Puskesmas dulu! Jangan ke Balai Desa, dia bisa mati!" pinta Athaya memohon. ​"Biar dia diurus di sana nanti kalau sudah ada penjelasan jelas. Sekarang kamu ikut kami. Kita buktikan apa benar kamu guru yang punya moral, atau cuma perempuan yang pinter main drama!"bantah pria itu. Pria yang tak berdaya itu dibopong kasar oleh para pemuda, sementara Athaya dipaksa berjalan menuju Balai Desa yang jaraknya hanya beberapa ratus meter dari sana. "Duh, kasihan Pak Heru ya. Malam-malam begini mungkin lagi nyiapin emas batangan, eh ternyata calon istrinya lagi 'kerja bakti' sama laki-laki lain di semak-semak," cibir salah satu bapak yang sejak tadi terus memojokkan Athaya. ​"Kalau ini sampai ketahuan Pak Heru, bukan cuma lamaran yang batal, tapi keluarga kamu bisa diusir dari desa ini karena bikin malu, Atha!" Saat warga mulai mengangkat tubuh pria itu dan membantunya berjalan menuju Balai Desa, Athaya mendengar bisikan jahat dari belakangnya yang membuatnya merasa ingin tenggelam saja ke dasar sungai. ​"Lihat deh, tangannya Athaya sampai berdarah-darah demi mecahin kaca buat nyelametin itu cowok. Kalau sama Pak Heru, boro-boro mau megang, deket aja dia kayak orang jijik. Jelas banget ini mah ada apa-apanya," ​"Bener. Kasihan Pak Heru. Sudah keluar duit banyak, eh ternyata calon istrinya main belakang sama brondong kota. Kita lihat saja besok pagi, lamarannya jadi atau malah jadi ajang adu jotos!" ​Athaya berjalan di belakang mereka dengan kepala tertunduk. Dia merasa seperti domba yang digiring ke tempat p*********n. Pertolongannya malam ini justru menjadi senjata bagi orang desa untuk menghancurkan sisa-sisa kehormatannya. "Jangan-jangan ini alasan kamu selama ini ogah-ogahan sama Pak Heru? Ternyata kamu sudah punya simpanan orang kota ya? Pakai mobil mewah begini pula," ​Athaya mulai menangis karena tekanan dari para warga yang memaksa dia mengakui sesuatu yang tidak dia lakukan. "Demi Allah, Pak! Saya tidak kenal pria ini! Dia terluka parah, tolong bawa dia ke Puskesmas dulu, jangan malah menuduh saya yang bukan-bukan!" ​"Walah, Atha... kalau Pak Heru atau Ayahmu tahu kamu berduaan, bahkan sampai memangku kepalanya seperti tadi, apa mereka bakal percaya itu cuma refleks? Apalagi besok lamaran resminya. Bisa jadi skandal besar ini di desa kita!" "Ya Allah... maksudku menolong, tapi kenapa rasanya aku justru masuk ke lubang masalah yang baru? Besok lamaran Pak Heru, dan sekarang satu desa akan menganggap aku punya hubungan dengan pria asing ini," bathin Athaya yang mulai gelisah karena takut. "Kenapa semua hal yang aku lakukan selalu salah di mata mereka? Menolong orang dibilang cari selingkuhan, mau nikah dibilang matre. Ya Allah... apa Pak Heru akan percaya kalau aku menceritakan kejadian ini?" Balai Desa malam itu menjadi sangat riuh. Berita bahwa "Guru Kesayangan Desa" tertangkap basah sedang berduaan dengan pria asing menyebar secepat api yang membakar jerami kering. Lampu neon yang berkedip-kedip di langit-langit balai desa seolah menambah ketegangan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD