14. Ini Bukan Mimpi (Lagi)

1543 Words
Cernunnos menggendong Amy untuk memasuki kawasan kediamannya, Manor Dewa Hutan. Anehnya, bangunan itu terlihat sangat berbeda dari bangunan yang sebelumnya dilihat oleh Amy. Selain terawat, tidak ada sedikitpun rumput atau benalu liar yang merambat di tembok maupun pilarnya. Ya, pilarnya yang ada di teras itu bisa bergeser sesuka hati. Ketika tuan mereka menaiki undakan, mereka berpindah seakan mempersilakan untuk menuju pintu utama. Pintu ganda kediaman ini terbuka sendiri begitu Cernunnos sudah dekat. Dewa itu terus melangkah tanpa hambatan. Sesekali dia menoleh ke wanita yang sedang dia bawa di lengannya itu. Ada perasaan buruk setelah melihatnya, tapi dia tidak mengetahuinya—namun yang pasti, dia yakin kalau itu adalah Daireya. Bagian dalam kediaman ini tidak suram sama sekali, semuanya terlihat cerah, sinar mentari menembus ke dalam melalui jendela yang terbuka, kelambu putihnya tampak melambai-lambai akibat angin. Harum semerbak dari berbagai bunga memenuhi udara di tempat ini. Parfum alami berupa bunga-bunga berbagai jenis dan warna yang tumbuh di langit-langit. Berada di dalam tempak ini rasanya seperti berada di dunia lain, terlalu indah, terlebih arsitekturnya yang alami, sebagian besar terbuat dari batuan sungai—sisanya adalah kayu yang langsung tumbuh dari lantai. Seekor tupai meloncat dari lampu gantung. Binatang berbulu coklat ini sangat mengingatkan pada Peanut. Akan tetapi itu bukanlah dia, terbukti dari Cernunnos yang memanggilnya, “Nutty? Kau tidak harus berada di disini.” Binatang magis perempuan bernama Nutty itu menyahut, “Nutty akan terus berada di sini, itu sudah tugas turun temurun.” “Padahal kau baru saja punya anak ‘kan? Siapa namanya—Pea? namanya bagus,” kata Cernunnos menaiki anak tangga menuju ke kamarnya, “sekarang aku harus mengurus ini.” Nutty mengikutinya. “Terima kasih, Tuan Cernunnos.” Dia melompat kesana-kemari untuk melirik ke wajah wanita yang sedang di bawa oleh tuannya itu. “Ngomong-ngomong siapa itu, Tuan? Dari baunya, dia manusia.” “Ya, manusia.” “Tapi aku seperti mencium bau lain." Cernunnos tak menjawabnya. Mereka sampai di lantai atas. Pintu kamar pribadi Cernunnos terbuka sendiri, membiarkan mereka masuk. Ruangan ini sangat cerah dan temboknya terlihat dirambati oleh akar yang menyeruak dari retakan lantai. Namun, akar itu terlihat bergerak-gerak layaknya ular, agak menakutkan sekaligus indah karena perlahan muncul bunga-bunga dari dalamnya. Cernunnos membaringkan Amy di atas ranjang berukuran jumbo. Sembari duduk di tepian ranjang tersebut, dia mengatakan, “entah kenapa menurutku dia adalah Daireya.” “Tapi Nona Daireya ada di ...” “Ya, aku tahu, ada yang tidak beres,” kata Cernunnos mengerutkan dahi, “aku harus memeriksa jam yang ada di perpustakaan itu, itu satu-satunya alat yang bisa menembus waktu.” “Tunggu sebentar, Tuan, apakah menurut anda, dia ini ...” Ucapan Nutty terhenti ketika melihat ada gerakan di tangan Amy. Dia lantas melompat ke samping bantal yang ditiduri oleh wanita itu. “Apa dia akan takut kalau melihatku bicara?” “Entahlah, kau—bersikaplah seperti ... tupai,” pinta Cernunnos yang merasa aneh sendiri karena menyuruh seekor tupai bersikap seperti tupai, “maksudku secara umum.” Tupai itu langsung membungkam mulutnya dan mengangguk. Dia juga mundur demi menghindari masalah. Mata Amy perlahan terbuka, dia masih bisa merasakan gigitan semut aneh di kakinya. Bekasnya pun meninggalkan bentol kemerahan. Dengan bibir meringis nyeri, dia membuka mata. Pemandangan pertama yang dia lihat adalah langit-langit penuh bunga dan lampu gantung yang terbuat dari kayu. Setelah itu matanya menoleh ke arah Cernunnos yang tetap setia menunggunya bangun. Dia tidak terkejut melihat dewa itu, tapi saat mendongak sedikit—barulah tanduk rusanya membuatnya menelan ludah. Apa yang dia lihat sebelumnya bukanlah mimpi, lantas dimanakah dia sekarang? Mengapa Cernunnos memiliki tanduk? “Hallo?” sambut Cernunnos tersenyum. Amy bangun dengan terburu-buru, napasnya tertahan dan berniat untuk turun, tapi kaget kembali saat melihat sosok tupai di sampingnya. “Ah ... Pea?” “Pea?” ulang Nutty tanpa sengaja bicara. Spontan dia menutup mulutnya, tapi lalu tersadar pula bahwa tupai tidak bisa mengendalikan tangan seperti itu. Dia menurunkan tangannya, lalu melompat turun ranjang dan meloncat kemana-mana bertingkah layaknya tupai gila. “Eh ...” Amy tidak tahu harus berbuat apa. Cernunnos pun merasa ingin tertawa. “Nutty, kau tidak perlu seheboh itu. Sebaiknya kau keluar saja, rawat saja anakmu.” “Terima kasih, Tuan,” sahut Nutty yang langsung kabur melalui jendela tinggi kamar ini. Jendelanya itu sendiri tidak ada penghalangnya, hanya sebatas kelambu putih yang masih berkibar diterpa angin sejuk. Amy menoleh lagi ke arah Cernunnos. “Hei, itu barusan Pea ‘kan? Eh—maksudku, aku tidak yakin bisa membedakan wajah tupai, tapi aku yakin itu barusan Pea, kenapa kau memanggilnya Nutty?” “Karena dia memang Nutty, dia perempuan,” kata Cernunnos meralat jawaban Amy. Dia semakin yakin apa yang sedang terjadi. Sembari tersenyum pedih, dia menyentuh kaki Amy yang telah digigit tadi. Tidak ada rasa takut sama sekali dalam hati Amy karena dia tahu ini adalah Cernunnos yang dia kenal. Hanya saja, dia masih belum mengetahui mengapa pria ini memiliki tanduk yang utuh. Berdasarkan apa yang dikatakan oleh sang kakek, seharusnya tanduk itu sudah digantikan sebagai pertukaran nyawanya. Sentuhan Cernunnos menyerap semua rasa nyeri di kulit Amy, membuat bentolnya kempes, lalu kembali seperti semula. Pria ini kemudian berkata, “maaf, di dalam hutan magis, semuanya bisa terjadi—dan normalnya manusia tidak bisa masuk tanpa diundang oleh ular.” “Maksudmu digigit ular?” Amy teringat bagaimana dia bisa masuk ke dalam wilayah Manor Dewa Hutan ini. Dia tertegun sejenak begitu sadar sedang berada di atas ranjang yang sama yang seharusnya ditiduri oleh Cernunnos. Matanya menyelidik ke berbagai sudut ruangan ini. Terawat, cerah, wangi, sama sekali tidak suram. Ini tempat yang sama dengan kondisi yang berbeda. Cernunnos berkata, “ular yang kau maksud—yang warnanya hitam itu adalah sebagian dari diriku, ya—aku tidak bisa mengatakan itu aku, tapi anggap saja itu makhluk magis yang kuciptakan dari sebagian dari diriku. Hanya dengan bisa ular itu, seorang manusia bisa masuk kemari, dan kau bisa masuk—artinya ...” “Sebentar, Keno, aku harus menjelaskan sesuatu padamu ...” “Keno?” “Eh, aku memanggilmu Keno, ingat?” Amy masih berharap ini adalah Cernunnos yang dia tahu. Akan tetapi dia benar-benar tidak bisa menjelaskan secara logika sebenarnya ada apa ini? Mana Manor yang terkesan suram dan mengapa si dewa ini tidak tidur? Apakah ini mimpi? “Ini bukan mimpi,” sahut Cernunnos yang mengetahui apa yang sedang dipikirkan wanita itu. “Dengar, katakan saja, bagaimana bisa kau ada disini?” “Dengan jam berdiri di perpustakaan.” “Jam?” “Ya, aku sedang mencari cara untuk membangunkanmu, aku diajak ke perpustaan itu oleh Pea, dan setelah itu tiba-tiba ada jam yang muncul mendadak, dan ketika aku mendekat—ada semacam akar yang menarikku masuk, dan aku disini.” “Aku tidur?” “Ya, kau tidur dan tidak bisa bangun, Pea bilang kau mungkin sedang menyembuhkan diri—tapi aku tidak mengerti, kau dewa, oke, aku mengakui ini, kau seorang dewa, dan aku tidak tahu cara kerja tubuhmu. Kau hidup, tapi tidak bisa bangun. Itulah alasan Pea menyarankanku mungkin kami bisa mencari informasi tentang Cernunnos di perpustakaan milikmu, tapi kami belum menemukan apapun.” “Dewa itu ada karena kehidupan itu ada, selama alam masih ada—aku akan selalu hidup,” kata Cernunnos memandangi kebingungan di wajah Amy. Dia kemudian mengulurkan tangannya. “Sebelum aku menjawab semua keraguanmu, boleh aku tanya siapa namamu?” Amy melongo, ada sensasi aneh ketika Cernunnos mengatakan itu. Ia perlahan menggenggam tangan tersebut, kemudian menjawab, “Amy Williams.” “Namaku Cernunnos, aku dewa hutan.” Cernunnos tersenyum. Untuk sejenak, Amy merasa ini adalah pertemuannya dengan Cernunnos untuk kesekian kalinya. Akan tetapi perasaan yang berkembang di dalam hatinya terasa berbeda sekarang. Ada sesuatu yang membuatnya yakin kalau sebenarnya dari masa ke masa, dia sering melakukan ini—berkenalan dengan Cernunnos. “Sebenarnya aku ada dimana?” tanyanya. “Tolong jangan panik, kemungkinan kau terbawa ke aliran waktu masa lalu. Ini adalah masa lalu—dan untuk membuat segalanya agar tetap seperti ini, kau harus tetap berada di sini sampai jam ajaib di perpustakaanku muncul lagi, aku memang tidak tahu kapan benda itu muncul, dia hidup—dan aku sendiri tidak bisa mengontrol keberadaannya.” “Jadi maksudmu ...” “Aku adalah Keno yang kau kenal di masa depan. Bagaimana pertemuanmu denganku di masa depan? Apa aku mengenalmu sebelum kau memperkenalkan diri?” Amy terbelalak. “Iya! Kau mengenalku, itu yang membuatku heran, kau mengenalku. Kau menyelamatkanku saat aku berlarian ke hutan karena dikejar banyak orang misterius. Kau menolongku, aku pingsan—dan tiba-tiba aku terbangun dan semuanya seperti sudah terhipnotis kalau kejadian itu tidak pernah terjadi.” “Lalu?” “Lalu aku kembali ke hutanmu, disitu kau menghampiriku dan mengenalku, bahkan mengenali kakekku—intinya kakekku bilang kau pernah menyelamatkanku saat aku kecil, aku sudah mati seharusnya, tapi kau memberikan tandukmu dan menghidupkanku kembali. Aku tidak yakin itu masuk akal, tapi—keberadaanmu saja itu sudah tidak masuk akal, jadi aku mulai percaya itu semua.” “Kemudian?” “Kemudian kakekku bilang untuk membalas budimu, kakek memberikanku padamu sebagai pengantin—dan kau bilang kita harus hidup di hutan setelah pernikahan. Kita tinggal satu apartemen berdua untuk persiapan, tadinya aku berusaha untuk membuatmu pergi—tapi kemudian aku sadar, kau benar-benar serius tentangku.” “Lalu kenapa aku bisa tidur?” “Itu yang ingin aku ketahui.” “Dengar, Amy, aku adalah dewa hutan, dan memang jika tubuhku melemah, itu membuatku tidur seperti pohon, tapi itu sedikit mustahil—sekalipun aku kehilangan tanduk, aku tidak mungkin melemah tanpa sebab.” Amy teringat akan serangan peri waktu itu. “Oh benar, peri itu ...” “Peri?” Cernunnos mulai penasaran. “Peri apa?” “Kau menyebutnya peri—jahat, semacam elf mungkin, dia menyerang kita sewaktu di apartemen, dan sejak saat itu aku merasa kau berubah, lalu tiba-tiba kau menghilang dari apartemen, dan itulah awal aku mencarimu di hutan dan bertemu Pea yang menjagamu di ranjang—ini.” Amy menepuk kasur yang dia duduki. “Ya, aku yakin kau seharusnya tidur disini, sekalipun kau kupanggil, kau tidak bereaksi.” “Kalau begitu gawat.” Cernunnos paham situasinya. “Berapa usiamu?” Amy mengeryitkan dahi. “Dua puluh dua tahun.” “Kemungkinan ada serangan sebentar lagi.” Kerutan di kening Amy semakin lebar. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD