Amy mengajak sang dewa untuk naik mobilnya. Akan tetapi di sepanjang perjalanan, ulah pria itu tidak tenang. Tangannya terus saja memeriksa semua bagian dashboard, kursi bahkan spion. Bagi Amy, dia seperti sedang membawa orang kuno yang tak pernah menaiki mobil.
Memang benar. Sang dewa memang tak pernah memakai mobil. Dia bisa berpindah tempat semaunya, tak perlu berada di dalam sebuah kendaraan. Amy masih tak menyadari hal ini. Wanita ini masih tak percaya penglihatannya.
Saat mereka sudah sampai di halaman parkir rumah kakek, Amy baru keluar mobil, tapi tahu-tahu pria itu sudah berdiri di depan pintu, lalu mengetuknya.
"Heh?" Amy membandingkan jarak antara pintu mobilnya dengan pintu rumah sang kakek. Dia yakin saat keluar mobil, pria itu masih ada di dalam. Lantas kapan keluarnya?
"Selamat pagi!" Keno mengetuk pintu terus menerus selayaknya seorang anak yang tiba di rumah kakek-neneknya. "Mr. Williams! Aku Cernunnos!"
Amy mendekatinya, masih kebingungan dengan cara pria ini melangkah cepat dari mobil ke pintu rumah. "Aku tidak mendengar suara pintu mobil ditutup? Bagaimana-caramu-berjalan cepat?"
"Aku dewa, aku bisa melakukannya dengan mudah, dan ya aku juga bisa menundukkan binatang-" Keno menuding anjing herder tetangga yang kelihatan menggonggong padanya. Kalau saja anjing itu tak dirantai, giginya seolah sudah siap untuk menerkam mereka. "Diam, Stan."
Anjing itu langsung menunduk.
Amy mengerutkan dahinya. Dia semakin heran, bagaimana Keno bisa mengetahui nama anjing itu? padahal ia yakin tak mungkin ada orang asing ke rumah kakeknya, tapi dia tidak kenal. Apakah mereka kerabat?
Tak lama kemudian, pintu dibuka oleh seorang pria enam puluh tahunan. Pria ini memiliki tubuh bugar dan cukup berotot, bahkan dadanya tercetak bagus di dalik kaos yang dikenakan. Ketimbang disebut kakek, pria ini lebih pantas disebut instruktur gym. Sebagai mantan tentara, memang tubuhnya selalu terjaga sekalipun sudah pensiun. Wajah tegas, potongan rambut pun pendek rapi, benar-benar orang disiplin.
"Mr. Cernunnos God!" panggil Mr. Williams sambil memeluk pria dewa itu. "kau benar-benar tak berubah dari dulu, benar-benar seorang dewa."
Mr. Cernunnos God?, Amy menahan diri agar tak menertawai sebutan itu. dia benar-benar tak paham selera orangtua jaman sekarang dala menamai anaknya.
Keno membalas pelukan itu dengan hangat. "Kakek, aku merindukanmu. Aku selalu mengawasimu, tapi aku menunggu Amy menjemputku."
Amy menuding dirinya sendiri seolah berkata, 'Aku yang cucumu, Kek.'
"Masuklah, kau juga, Amy." Mr. Williams mengajak mereka masuk ke dalam. "kebetulan sekali aku memanen buah semangka di belakang tadi"
Di dalam ruang tengah, Amy masih tak percaya kakeknya baik pada orang asing. Selama ini, sang kakek terkenal dingin-bahkan tak jarang membuat tetangganya sebal. Dia benar-benar tak ramah, namun mengapa pada Keno sudah seperti saudara sendiri?
Mereka berdua mengobrol ringan di sofa panjang, meninggalkan Amy yang berdiri di depan mereka seperti patung. Wanita ini tak tahan diacuhkan, akhirnya bertanya, "Kek, siapa pria ini? Kakek kenal?"
"Dia dewa hutan bertanduk, Amy," kata sang kakek sambil menepuk bahu Keno dengan bangga, lalu bergurau, "sejak dulu, tubuhmu keras sekali seperti batang kayu."
Akan tetapi Keno malah salah paham, mengira itu adalah halangan untuk bersama Amy. "Tapi aku masih bisa menikahi manusia biasa."
"Tentu saja, aku tahu, aku tahu, aku hanya memujimu."
"Oh, terima kasih."
"Tapi aku masih tak percaya, ternyata ramalannya benar-benar terjadi, kau bertemu Amy lagi di usianya yang ke dua puluh dua tahun."
"Usia dua puluh dua tahun itu dikatakan sudah siap menikah."
Sang kakek tertawa. "Ya, itu ideal bagi wanita sekarang, dulu aku menikahi istriku saat usianya masih lima belas tahun."
Amy tak paham. "Kalian ini bahas apaan sih?" Dia melirik kakeknya. "Kek, jelaskan siapa dia! Aku tak percaya dengan hal-hal berbau mitologi, kau mau bilang dia dewa hutan dari mitologi celtik? Apa-apaan ini? Sejak kapan kakek jadi penganut pagan?"
Dewa itu berkata, "aku Cernunnos, dewa-,"
"Kalau kau berkata itu lagi, aku akan memanggilmu Ken, Ken itu pacar Barbie," potong Amy kesal kalau mendengar pria ini terus saja mengikrarkan diri sebagai dewa hutan.
Mr. Williams menyentak cucunya, "Amy! Sopanlah sedikit! Ini calon suamimu! Kau sudah ditunangkan dengan Cernunnos sejak bayi! Dan dia menuntutmu untuk menikahinya saat usia dewasamu sesuai kesepakatan kami saat itu tercapai, dua puluh dua tahun."
Amy menunjukkan daun telinganya pada sang kakek. "Maaf?"
"Seperti itu."
"Kakek bercanda'kan?"
"Tidak, ini serius. Memangnya aku pernah bercanda denganmu?"
Keno dengan santainya berkata pada Amy, "semoga kita bisa bahagia nanti."
"Bahagia tandukmu itu!" kesal Amy mulai uring-uringan. Dia melototi kakeknya seraya mengatakan, "bisa-bisanya kakek menjual cucu sendiri! Aku tahu ini-pria ini-" Melirik Keno dengan tatapan s***s, "kau pasti geng penjahat yang ngumpet di hutan, pencopet jaringan internasional, pantas saja tanganmu sangat cepat."
Sambil melepaskan topi rajutnya, dia mengatakan, "kau baik sekali mengingatkan, dari tadi tandukku terasa sangat tak nyaman kalau terbungkus topi." Dia sama sekali tak sadar ataupun tersinggung padahal barusan Amy mengatainya habis-habisan.
Amy menenangkan diri. "Kek- tolong katakan ini tanggal satu april." Dia berharap ini hanya lelucon di awal bulan April.
"Ini Juli." Kakeknya sama sekali tak ingin bercanda. "Maaf tak memberitahumu, karena kau akan membahasnya terus menerus, lebih baik begini-langsung pada intinya, calon pengantin bertemu, dan cepat menikah, selesai."
"Aku akan menangis di kuburan orangtuaku setelah ini." Amy menatap penuh perlawanan pada pria tua itu. "Lalu meratapi ternyata kakekku sendiri menjualku ke gembong narkoba."
"Jangan dramatis, kau tak seharusnya menghina Cernunnos dengan sebutan jahat begitu, dia dewa sungguhan, dia bersih dan suci, harusnya kau bangga dia menginginkanmu. Dia bahkan tak tahu kegunaan h****n, ini calon suami terbaik, Amy, kita harus memperbaiki keturunan Williams." Mr. Williams mengangguk bangga pada calon anggota keluarga baru Williams itu.
"Keturunan Williams baik-baik saja." Amy masih sebal, tapi tak bisa menolak.
"Aku tidak akan mengecewakanmu, Amy. Bagiku kau nomor satu." Keno lagi-lagi mengatakan hal yang sangat memalukan bagi Amy.
Mr. Williams malah yang tersipu. "Oh tidak ada pria sepertimu, Cernunnos." Dia sungguh terharu. "Baik hati, tidak banyak menuntut, dan yang paling penting sekalipun kau tampan, kau tidak terlalu percaya diri seperti~" Tatapannya menajam ke Amy. "Pria lain."
Amy menelan ludah. Dia paham sekali kalau berkat Tate Pearson, kakeknya pasti muak membuka channel penberitaan.
Mr. Williams teringat sesuatu, lalu menoleh pada Keno. "Oh iya, mumpung kau di sini, maukah kau memeriksa kebunku di belakang, aneh sekali-padahal aku sudah memberi mereka obat anti hama, tapi tetap saja tumbuh tak sehat."
Keno mengangguk. "Tentu. Aku bisa membuatnya langsung berbuah."
Mr. Williams memeluk dewa itu lagi, lalu berkata, "puja dewa Cernunnos, sungguh kau adalah penyelamat para petani! Aku benar-benar menyembahmu sekarang."
Sejak kapan sang kakek menjadi aneh? Pikiran Amy mendadak diselimuti kabut kelabu. Seumur hidup, figur pria tegap itu sangat ditakuti dan anti mengatakan hal konyol. Akan tetapi pemandangan sekarang sangatlah berbeda. Ada apa dengan dua puluh dua tahun hidupnya sekarang?
"Kau mau berkebun juga, Amy? Aku bisa membantumu," kata Keno dengan ramah.
"Tidak, tidak bisakah kau serius? Ini masalah serius! Kenapa kita bertunangan sejak bayi?" Amy tak percaya kalau pria ini tampak santai saja dengan perkataan kakeknya.
"Aku mencintaimu, Amy."
Ungkapan tulus itu membuat suasana dingin menebar di sekeliling tubuh Amy. Dia sungguh hanya ingin mengetahui siapa sosok dewa ini? Akan tetapi mengapa sekarang seperti terjebak dalam dunia drama romansa?
"Lihat? Mana ada pria seperti ini di San Fransisco-mu itu," kata Mr. Williams kembali menepuk bahu keras Keno. "Dia ini pria sejati dari segala pria sejati."
Amy mengerutkan dahi. "Kek, aku tidak kenal dengannya!"
"Kau hanya lupa, saat kecil kau sering diajak bermain." Kakeknya sepertinya sudah tidak bisa dibantah. "Tidak ada bantahan, kalian sudah kunyatakan bertunangan, jadi tidak ada pembicaraan lagi."
"Tunggu sebentar," ucap Amy menggeleng, "aku masih muda, aku masih berkarir, aku tak mau menikah."
"Ketimbang kau dikejar wartawan karena skandalmu, lebih baik segera saja menikah dan buat mereka tahu kau adalah wanita bersuami."
"Maaf, bukan salahku kalau teman kencanku brengsek."
"Teman kencan?" ulang Keno keberatan.
Sang kakek menjelaskan singkat, "teman mengobrol."
"Oh." Keno langsung percaya.
"Ini salah, aku sungguh tak kenal pria ini! Mungkin saja dia menghipnotismu, sadarlah! Dia hanya penipu! Lihatlah, dia bahkan punya tanduk palsu di atas kepalanya! Apalagi kalau bukan fanatik iblis mungkin."
"Tunjukkan padanya kalau kau benar-benar dewa hutan," pinta Mr. Williams pada Keno, "ini salahku, aku selalu menyuruhnya membaca ensiklopedi saat anak-anak lain harusnya membaca dongeng."
Keno menoleh ke jendela yang terbuka. Mata hijaunya seperti bercahaya saat melirik ke sebuah pohon apel di luar itu. Dia menaikkan tangan, dan seketika itu pula dahan pohonnya memanjang-panjang hingga menjalar masuk jendela. Dahan tersebut membesar dan menumbuhkan ranting-ranting kecil yang lengkap dengan dedaunan.
"Aku bisa mengendalikan kesuburan," katanya sambil berdiri, lalu menadahkan tangan kanannya di bawah dahan itu. Dan- sebuah apel merah pun terbentuk. Ia memetiknya. "Sudah matang, kau dulu suka sekali apel, bukan?"
Amy melongo, tak bisa menutup mulutnya. "Ya Tuhan, sekarang aku percaya Mutant benar-benar ada! Kau manusia super?"
Kakeknya mendehem. "Dia dewa, Amy, bukan manusia yang tercebur cairan asam."
Sambil menyerahkan buah itu pada Amy, Keno menyunggingkan senyuman manis. Tingkahnya ini hampir membuat wanita itu sesak napas lagi. Akan tetapi kali ini, bukan karena panik, melainkan gugup maksimal.
Padahal tadi dia sama sekali tak menaruh hati pada dewa itu, tapi Amy sadar, kenapa saat disodorkan sebuah apel, rasanya ada kupu-kupu berterbangan di dalam hati? Ia yakin ini bukan cinta, tapi hanya perasaan kagum akan kemampuannya.
"Aku tak percaya ini," ucapnya sambil menerima buah itu. "Bagaimana caramu melakukannya?" Menyentuh dahan pohon yang kini jadi pemandangan di tengah ruang keluarga. "Ini asli, Ya Tuhan, tidak mungkin-ini hanya properti film."
"Maafkan aku sekali lagi, Cernunnos, di saat anak lain membaca dongeng ibu peri dan Cinderella, cucuku mempelajari teori Darwin yang menyatakan nenek moyang manusia dari kera." Mr. Williams akhirnya berdiri, lalu pergi ke dapur. "Sudahlah, kenapa kita tidak makan siang dahulu? Lalu mengobrol lagi."
"Aku tetap tidak mau-" Amy tak sanggup melanjutkan ucapannya saat matanya tertaut dengan sang dewa hutan. Ia fokus melihat ke atas kepala. "Itu bukan tumor?"
Keno menyentuh dua tanduk kecil yang menonjol di kepalanya itu. "Bukan, dulu bentuknya lebih panjang-mirip rusa, tapi karena kejadian di masa lalu, jadi patah, dan aku meruncingkannya sekalian, biar tidak terlihat aneh."
"Rusa? Kau benar-benar rusa?"
"Iya, kau sering sekali memanggilku Tuan Rusa dulu, tapi lupakan saja," kata Keno seperti menyembunyikan sesuatu. Dia mengikuti jejak sang kakek. "Ayo makan dahulu, lalu mengobrolkan hal yang lebih penting-orang-orang yang mengejarmu saat itu."
Amy makin penasaran, siapa pria ini? Kenapa kakeknya bilang mereka pernah bertemu saat masih kecil?
______