Jam sudah lewat pukul dua dini hari ketika Irish akhirnya menurunkan langkahnya di depan pagar rumah kecil itu—rumah yang sudah lama retak-retak dindingnya, namun tetap menjadi satu-satunya tempat yang bisa disebutnya pulang. Udara malam menusuk kulit, membawa aroma lembap dari tanah yang seharian panas. Lampu jalan di ujung gang berkedip pelan, seolah turut mengantuk, dan bayangannya memanjang di paving yang retak. Irish merapatkan jaketnya, menarik napas yang terasa sepadat beban di dadanya, lalu memasukkan kunci ke gembok pagar kecil itu, berusaha memutarnya tanpa suara, seolah ia takut dunia terbangun dan mengetahui apa pekerjaannya sebenarnya.
Begitu gembok terbuka, ia mendorong pagar perlahan, memastikan engsel tidak berdecit. Ia tahu ayahnya tidur lebih cepat karena sudah tua dan banyak pikiran. Tubuh ayahnya lelah dan renta lebih cepat dari seharusnya setelah kebangkrutan lima tahun lalu. Adik-adiknya yang bernama Dina dan Devan—pasti terlelap juga, tubuh kecil mereka hanya dibalut selimut tipis, tak tahu kakak mereka berada di dunia malam yang mereka hanya lihat di film atau dengar dari orang dewasa.
Irish masuk ke rumah tanpa menyalakan lampu. Ia berjalan cepat ke pintu kamar kecilnya yang berada tepat di sisi pintu depan. Ruangan itu dulu hanyalah gudang—penuh barang-barang tak terpakai dan debu—tapi ia sulap jadi kamar agar bisa keluar-masuk tanpa membangunkan siapa pun. Ia menutup pintu itu dengan sangat pelan, dan ketika suara klik terakhir terdengar, tubuhnya seperti kehilangan seluruh tenaga.
Ia berdiri sambil menyandarkan punggung pada pintu, matanya menatap gelap ruangan yang hanya diterangi rembesan cahaya dari ventilasi kecil. Dan saat itu, ingatan mulai datang—tanpa ia undang, tanpa bisa ia cegah.
Tangan pria itu.
Berat. Kasar. Lengah tapi agresif.
Lengannya melingkar di pinggang Irish, menariknya dari belakang. Nafas panas bercampur bau alkohol menempel di lehernya. Suara musik bar yang keras sampai memekakkan telinga. Tawa pria-pria lain yang memandang tubuhnya di bawah lampu remang-remang dan menyebutnya seksi, menggoda, menilai. Suara meja bar, suara gelas beradu, suara pria mabuk itu meraba pinggangnya dan meraba bagian depan tubuhnya tanpa sungkan, seperti ia punya hak atas tubuh itu hanya karena ia membayar minuman.
Irish menelan ludah hambar yang terasa mengganjal di tenggorokan. Ia memejamkan mata keras-keras. Tapi memejamkan mata justru membuat ingatan itu lebih jelas.
Bagaimana tangan itu meraba pahanya.
Bagaimana ia diam.
Bagaimana ia hanya menunggu, berharap pria itu berhenti sendiri.
Bagaimana ia memeluk tubuhnya dari belakang, bibirnya menempel pada leher Irish yang tiba-tiba terasa dingin dan menciumnya.
Bagaimana kulitnya terasa kotor karena bibir bekas alkohol dan rokok itu yang mengeksplore kulit lehernya.
Lalu pria itu tumbang sendiri.
Terlalu mabuk untuk bahkan mengingat nama Irish serta meraba-rabanya lagi.
Ada segepok uang di meja. Sudah disiapkan karena Irish sudah diam menemaninya minum. Tidak mau tahu. Irish mengambilnya; ia harus membayar cicilan hutang ayahnya, uang sekolah dua adiknya, obat ayahnya.
Lalu ia pergi.
Namun jejak tangan pria itu masih menempel di kulitnya.
Dan rasanya seperti bisa membuatnya muntah.
Dengan gerakan cepat, ia keluar dari kamar menuju kamar mandi kecil yang berada hanya beberapa langkah dari pintunya. Lampu kamar mandi berkedip dua kali sebelum menyala. Ruangan itu kecil dan dingin, dindingnya lembap dan cerminnya penuh serpih noda air kering.
Ia memutar keran.
Air keluar pelan pada awalnya, lalu semakin deras ketika Irish membuka kerannya lebih lebar.
Suara air itu memenuhi ruangan.
Namun tubuh Irish justru bergetar semakin hebat.
Ia memegang pinggir bak mandi, menunduk, napasnya tersengal. Kemudian sebuah suara pecah dari tenggorokannya—seperti isakan kecil yang dipaksa diam. Irish cepat-cepat membekap mulut dengan telapak tangan. Bahunya bergetar. Tubuhnya gemetar seperti anak kecil kedinginan.
Tangisnya mulai merembes, suara lirih teredam telapak tangannya.
Ia menggosok lengan, bahu, lehernya—tempat bibir itu menempel—menggosok lebih keras dan lebih keras lagi, seolah kulitnya bisa copot dengan gesekan. Ia menuang sabun cair banyak-banyak, menggosoknya hingga licin, hingga perih, hingga kulitnya memerah. Ia menggosok lengan bagian dalam—bagian yang tadi disentuh seolah ia properti publik.
Ia menangis tanpa suara. Air mata bercampur air dari keran.
“Hilaaang… tolong hilang… hilang semua…” gumamnya, nyaris tidak terdengar. “Aku benar-benar jijik!”
Ia merasa seolah tubuh ini bukan miliknya. Seolah ia hanya meminjamnya untuk bekerja. Seolah tubuh itu bukan tempat ia tinggal—tapi tempat orang lain mencoret-coret seenaknya.
Dan ketika ia teringat alasan ia melakukan semua ini—keluarganya—dadanya semakin sesak.
Keluarga yang ia cintai, tapi juga keluarga yang menahannya di titik ini.
Keluarga yang tanpa ia sadari menjadi alasan ia terus bertahan, meski ia sendiri terus patah.
Ia merosot duduk.
Punggungnya menyentuh dinding kamar mandi yang dingin.
Air keran terus mengalir, membasahi lantai yang sudah lama retak.
Ia memeluk dirinya sendiri.
Tidak ada yang tahu.
Tidak ada yang boleh tahu.
Tidak ada yang bisa tahu.
Ia menutup wajah dengan kedua tangannya dan menangis tanpa suara—jenis tangis yang membuat seseorang luluh dari dalam, meremukkan bagian hati yang sudah lama rapuh. Kini ia baru merasakan jika cantik itu menjadi luka bagi dirinya.
***
Keesokan malamnya, sementara kota Jakarta kembali hidup dengan lampu-lampu penuh gemerlapnya, Adric masih berada di kamar hotel. Sementara keluarganya sudah pulang sejak pagi, ia tetap terkubur di kasur besar hotel itu, menatap langit-langit dengan pandangan kosong yang sama sekali tidak menunjukkan ia hidup di dunia nyata. Sejak Yuri pergi, sejak wanita itu meninggalkannya tanpa penjelasan, ia seperti kehilangan arah—tidak bisa tidur, tidak bisa makan, tidak bisa bekerja, dan tidak ingin pulang ke rumah yang penuh kenangan bersama wanita itu.
Renzo sahabatnya akhirnya datang ke hotel setelah tadi pagi pergi untuk kembali kerja, meminta keycard darurat dari resepsionis setelah bosan memanggil nama Adric dari depan pintu lebih dari lima menit. Dion datang menyusul, wajahnya sudah terlihat jengah.
Begitu pintu dibuka, mereka menemukan Adric masih tertidur, atau mungkin pura-pura tidur, atau mungkin sekadar menatap kosong dari balik kelopak yang tertutup.
“Gila, Ric,” gumam Renzo sambil masuk tanpa izin. “Lo udah kayak zombie. Lo mau mati apa gimana?”
Dion menendang pelan sisi kasur. “Bangun, anjir. Masa lo ngurung diri terus? Kita tuh capek liat lo begini.”
Adric hanya memutar posisi tidur, memunggungi mereka. “Gue mau tidur.”
“Lo udah tidur dua hari!” seru Renzo. “Yuri pergi, bukan berarti lo yang harus mati, Ric!”
Adric menghela napas—panjang, dalam, berat.
Lalu ia bangun duduk, wajahnya tampak seperti seseorang yang kehilangan setengah jiwanya.
“Seengganya kita pergi keluar, makan dan minum.” Ucap Renzo dengan senyum isengnya.
Dion menghela napas, “minum alkohol maksud lo?”
Renzo terkekeh, “mau nggak?”
“Gue nggak mau ke mana-mana,” kata Adric pelan.
Renzo dan Dion saling memandang.
“Udah. Lo ikut,” Renzo menarik tangan Adric. “Lo nggak usah minum, nggak usah joget, nggak usah apa-apa. Kita cuma ngajak lo keluar biar otak lo nggak busuk.”
Dion lalu bersiul sambil mengambil kunci mobil Adric. “Noxx Bar. Kita tetap ke sana, mau lo mau apa nggak.”
Dan akhirnya Adric menyerah. Ia mengenakan jaket hitam, menyambar ponselnya tanpa benar-benar peduli, dan ikut dua sahabatnya dengan langkah gontai seperti orang yang diseret kehidupan.
***
Noxx Bar malam itu ramai. Lampu neon ungu dan biru menghiasi ruangan, musik bass memenuhi d**a, orang-orang tertawa dan menari dengan energi liar.
Renzo dan Dion menarik Adric ke salah satu kursi VIP.
Adric hanya duduk diam, menatap kosong meja kaca di depan mereka.
“Ric,” Renzo menepuk bahunya, “lo mau pesen apa?”
Adric mengambil black card dari dompet, menyerahkannya begitu saja.
“Pesen aja apa yang kalian mau.”
Renzo tertawa girang. “Nah gitu dong, mulai ada gunanya lo keluar kamar hotel.”
Dion lalu memanggil pelayan untuk menyebutkan pesanannya. Lalu tak lama kemudian datanglah Irish—dengan kemeja hitam, apron kecil, rambut terikat rapi—datang menghampiri dengan nampan berisi botol-botol minuman.
Ia meletakkan minuman di meja. “Ini pesanan meja tujuh—”
Adric meraih botol itu sebelum Irish meletakkannya sepenuhnya.
Telapak tangannya bersentuhan dengan Irish.
Lembut.
Tipis.
Dingin.
Seperti tangan Yuri.
Seperti perempuan yang membuat hidupnya berantakan.
Adric mendongak cepat.
Dan ia terpaku.
Mata itu mirip.
Hidungnya.
Bentuk wajahnya.
Tentu… model rambutnya berbeda… warnanya juga… tapi…
“Yuri?” suara Adric terdengar pelan tapi jelas.
Irish terkejut, matanya melebar sebelum buru-buru menarik tangannya.
Renzo dan Dion langsung panik.
“Ah, maaf banget kak,” Renzo tertawa canggung sambil mendorong bahu Adric. “Temen kita ini lagi mabuk berat. Dia ngira kakak—uh—mantannya.”
Dion memukul kepala Adric pelan. “Ric! Sadar napa, anjir?! Itu cuma pelayan biasa! Bukan Yuri!”
Irish hanya mengangguk kecil, mencoba tetap profesional, lalu mundur sedikit.
Namun Adric menepis tangan Dion, menatap Irish tanpa kedip.
“Tapi…” suaranya parau. “Kalian nggak ngerasa dia mirip Yuri?”
Renzo diam.
Dion diam.
Mereka pertukaran pandang.
Dan meski Dion tak mau mengakuinya, ia sendiri juga sempat tertegun tadi—hanya karena wajah Irish benar-benar mengingatkan pada Yuri, versi yang lebih sederhana, lebih natural, lebih… terluka. Sedangkan karena Yuri sudah menjadi penyanyi di televisi, wajah Yuri lebih terawat dan lebih mulus.
Tapi Dion tidak akan pernah mengakuinya.
Karena Adric sedang rapuh. Karena Adric butuh pulih dan Yuri si wanita gila itu meninggalkan Adric di hari pertunangannya.
“Lo cuma halu,” kata Dion akhirnya, tegas. “Lo terlalu kecewa sama Yuri sampai lo ngeliat dia di mana-mana.”
Adric menunduk, menatap botol minuman yang kini sudah ia genggam erat.
“Iya,” gumamnya perlahan. “Mungkin gue cuma halu.”
Ia meneguk alkohol itu—panjang, dingin, membakar tenggorokan.
Namun matanya tetap mengikuti Irish yang berjalan pergi, menyelinap di balik lampu ungu-biru. Seolah merasa ada yang memperhatikan, kemudian Irish menatap balik dirinya dengan tatapan bingung, heran, dan sedikit takut dari jarak jauh. Tatapan keduanya berserobot, saling mengunci satu sama lain, sama-sama tanpa ekspresi, sama-sama terlihat terluka.
Luka karena masalah masing-masing.
Irish yang tidak tahu apa-apa tentang Yuri.
Irish yang tidak tahu ia baru saja menjadi hantu masa lalu seseorang.
Dan Adric…
Adric tetap tidak bisa mengalihkan pandangannya.
Seolah ia baru melihat seseorang yang akan mengubah hidupnya tanpa ia sadari.
---
Follow me on IG: segalakenangann