Dua bulan berlalu sejak hadirnya Aiden Peter Harrison di sekolah Anastasia. Cowok itu masih bersikap baik dan menuruti setiap permintaan Anastasia. Sampai akhirnya Alleen, sahabat Anastasia merasa bahwa Aiden adalah laki-laki yang benar-benar sangat baik.
“Kamu mending udahin aja deh mainin perasaan Aiden, Anna. Ini enggak adil buat dia. Dia akan sakit hati banget kalau tahu kamu cuma main-main sama dia,” nasehat Alleen.
Sambil mengepulkan asap rokok dari mulutnya, Anastasia menarik napasnya dan mematikan rokoknya tersebut. Dia menatap sahabatnya lekat-lekat. “Aku enggak mainin perasaannya Leen.”
Alis Alleen mengerut, “Terus maksudnya apa kamu jalan lagi sama Justin kemarin?” tudingnya.
“Kamu tahu dari mana?” Anastasia menatap Alleen dengan tatapan syok.
“Oh, jadi kamu mulai main rahasia-rahasiaan sama aku ya? Jalan diam-diam sama mantan kamu yang katanya udah kamu buang jauh-jauh itu!?”
Anastasia melihat sekelilingnya dan duduk merapat pada sahabatnya itu, “Psst! Apa sih kamu… kayak enggak kenal aku aja!” sanggahnya membela diri.
“Anna… kamu itu melakukan hal yang sama dengan yang dilakuin Justin ke Aiden! Tu cowok baik banget sama kamu!”
“Aku enggak selingkuh ya! Aku jalan sama Justin itu untuk bikin dia berhenti ngejar-ngejar aku aja! Aku udah enggak ada rasa lagi sama itu cowok!” tandas Anastasia.
“ANNA! ALLEEN! Sedang apa kalian?!”
Kedua raut wajah Anastasia dan Alleen sama-sama kaget dan menoleh ke arah suara. Mereka agak syok, terlebih Anastasia karena kembali tertangkap basah sedang merokok di lingkungan sekolah. Ya Tuhaan… padahal tempat ini cukup jauh dari gedung sekolah kenapa guru counseling bisa sampai ke sini? Batin Anastasia heran.
“IKUT KE KANTOR!” Guru itu memerintahkan dua sahabat tersebut untuk mengikutinya.
Mau tidak mau Anastasia dan Alleen beranjak dari tempat duduknya dan berjalan mengikuti guru tersebut. Alleen menyentuh tangan sahabatnya dengan tatapan panik, sebaliknya Anastasia hanya mengedikkan bahu sambil tersenyum tipis dan membayangkan sabetan sabuk dari ayahnya karena masalah yang dia buat.
Keduanya sekarang duduk di depan guru counseling yang sempat memergoki mereka tadi. Wajahnya keras sambil menggeleng. “Anna… Anna… mau sampai kapan kamu seperti ini? Ini tahun terakhir kamu di sekolah ini. Nilai akademismu sangat baik, tapi kalau diikuti dengan sikap kamu yang seperti ini… tentu ini bukanlah hal yang bisa diteladani Anna.”
Anna mengangguk ringan beberapa kali.
“Ini sudah yang ke berapa kalinya Anna. Dan kami harus memanggil orang tuamu. Dan kamu Alleen… kamu boleh pergi, tapi lain kali jangan ikut-ikutan! Justru kamu harus mengingatkan sahabat kamu ini,” ujar Guru Casie.
“Iya Bu,” sahut Alleen sambil berdiri dan memberi gestur pamit. Gadis itu menyentuh bahu sahabatnya sebelum keluar ruangan. “Aku duluan ya,” bisiknya pelan.
Anastasia mengangguk sambil tersenyum tipis. Dia teringat makian ayahnya yang selalu menyebutnya sebagai pembawa sial. Dan memang kesialan selalu mengikutinya, atau memang dia yang selalu menghampiri masalah tersebut. Apakah masalahnya yang sekarang bisa membuat dirinya keluar dari rumah ayahnya itu?
“Kamu kemungkinan akan di skors, Anna! Karena ini sudah ketiga kalinya kamu melanggar peraturan sekolah. Dan kami tidak lagi bisa mentolerir perbuatan kamu!” seru Casie. “Kami sudah menelepon orang tua kamu untuk datang dan menerima penjelasan dari kami kenapa pihak sekolah harus melakukan sanksi itu terhadapmu,” tambahnya.
Gadis bernama panjang Anastasia Moreno itu hanya mampu menunduk tanpa berusaha membela dirinya. Dua jam kemudian, Zeesy—ibu tirinya datang untuk mendapatkan kejelasan sekaligus menandatangani surat skors dari sekolah. Setelah sekilas mendapat penjelasan mengenai alasan sekolah memberi sanksi skors pada Anastasia, Zeesy mengangguk dengan berat hati. Dia sendiri sudah tidak sabar untuk menghukum anak tidak tahu diri itu karena selalu saja membuat masalah dan membuat malu keluarganya. Lihat saja nanti Anna, geramnya dalam hati. Wanita itu merasa sudah muak dipermalukan sudah muak terus menerus dipermalukan seperti ini. Sayang saja suaminya sedang tugas ke luar kota saat ini. Kalau saja suaminya ada, anak itu pasti sudah ditendangnya dari rumah.
Sementara itu Anastasia sudah merasakan tatapan sinis ibu tirinya itu sejak kedatangannya tadi. Dan gadis itu sedang mempersiapkan diri untuk memulai kehidupannya yang baru—keluar dari rumah itu.
***
Anastasia mengabaikan beberapa pesan yang masuk ke ponselnya. Dia juga mengabaikan tatapan butuh penjelasan dari beberapa sahabatnya yang melihatnya pergi dari sekolah sebelum waktunya. Notifikasi ponselnya tidak berhenti setelah itu. Zeesy melihat ke arah Anastasia dengan kesal.
“Bisa matikan saja ponselmu itu! Berisik sekali.”
Tanpa membantah, Anastasia meraih ponselnya dan mematikannya sehingga tidak terdengar lagi suara notifikasi pesan grup yang masuk.
“Kamu tunggu ayahmu kembali besok. Dia pasti langsung mengusirmu dari rumah!”
Bagus, batin Anastasia sambil melihat keluar jendela dan bergaya seolah tidak mendengarkan ibu tirinya bicara.
“Tapi dia tidak mungkin membiarkanmu pergi tanpa menghukummu lebih dulu, ya kan?! Kamu harus menerima akibat membuat kesalahan terus menerus Anna!”
“Memangnya yang kulakukan pernah ada benarnya?” tanya Anastasia sambil menatap ibu tirinya yang sedang menyetir dengan sinis.
“Ya itu karena kamu tidak memakai akalmu sama sekali Anna, tidak seperti kakakmu, Amestya yang selalu membanggakan kami sebagai orang tuanya!”
Anastasia berdecak sambil menarik napas berat sambil berpaling dari Zeesy. Terserah, batinnya pasrah dan lelah. Mata Anastasia melihat ke sekitar ketika mobil Zeesy berhenti di lampu merah. Lalu dengan cepat dia membuka pintunya dan turun dari mobil. Suara teriakan Zeesy yang penuh makian masih terdengar saat dia sudah berada di seberang jalan sambil melambaikan tangan ke arah wanita yang kesal itu.
Gadis yang tadi nekat turun dari mobil itu sedang duduk di sebuah kedai kopi sambil memeriksa ponselnya. Chat dari Alleen yang dia buka pertama kali.
[Anna… jadi kamu kena skorsing?] [Ya ampun Anna… berapa lama? Tapi kamju tenang aja ya, Aiden aku yang jagain.]
Senyum Anastasia mengembang tipis. Kemudian dia melanjutkan membaca pesan yang selanjutnya dari sahabatnya itu—jarak pesannya kira-kira satu jam-an, [Anna, kalau kamu bisa telepon, telepon aku secepatnya ya!]
Kenapa? Batinnya.
Namun, Anastasia menunda menelepon Alleen demi melihat pesan lain yang masuk. Dari Aiden. [Anna, kamu di mana? Aku enggak lihat kamu setelah jam istirahat tadi.] Tidak ada pesan lainnya dari Aiden.
Gadis itu akhirnya memutuskan untuk menelepon sahabatnya—Alleen.
“Anna!” Alleen menjawab dengan cepat dan keras pada dering pertama. Hal ini malah membuat jantung Anastasia berdentum lebih keras lagi.
“Alleen! Kenapa sih kok panik gitu nadanya?”
“Kamu di mana? Pasti di rumah dan dihukum, kan. Enggak boleh keluar kamar. Duh….”
“Leen!! Ngomong aja deh ada apa!”
“Aiden, Anna… si Justin… ck, ini parah banget sih.”
Mata Anastasia membelalak, seandainya sahabatnya itu ada di hadapannya sekarang, sikap tidak sabarnya mungkin akan memicunya untuk menjambak mulut Alleen itu agar bisa lebih cepat memberitahu situasinya. “Leen!” Dia membentaknya.
“Aiden dipukulin Justin, Anna!”
“APA?” Anastasia berdiri sambil mendorong kursinya karena gusar mendengar berita yang disampaikan Alleen lewat telepon. “Kenapa Justin mukulin Aiden??” tanyanya sambil membayar makanannya dan bergegas keluar dari kedai kopi tersebut.
“Enggak terlalu paham juga, tapi dari yang aku dengar, Justin minta dia enggak deketin kamu lagi, karena kamu cintanya cuma sama dia. Sepertinya Aiden menolak jauhin kamu dan aku rasa hal itu membuat Justin marah.”
“Cowok gila dasar!”
Anastasia dengan emosi mematikan ponselnya dan menekan nomor lain. Sampai dering ke delapan tidak ada jawaban di seberang sana. Anastasia memberhentikan taksi yang lewat dan menyebutkan sebuah alamat. Dia hanya berharap bahwa Justin memang sedang berada di tempat yang biasanya. Berani-beraninya dia nyentuh Aiden! Geramnya dalam hati.
Taksi berhenti di depan sebuah café, mata Anastasia sibuk mencari mobil Justin yang dulu sering dia tumpangi. Gadis itu menghela napasnya ketika mendapati mobil mantan pacarnya itu ada dalam barisan parkir mobil yang berjejer di halaman café. Dengan perasaan yang panas dan emosi yang meluap-luap Anastasia mendorong pintu café tersebut dengan kasar dan mencari sosok Justin.
Darahnya mendidih melihat Justin sedang tertawa-tawa bersama teman-temannya yang lain. Kakinya berderap keras ke arah cowok tersebut dan berdiri tepat di belakangnya. “Justin!” Dia menendang kaki kursi yang diduduki Justin dan membuat kursi itu bergeser.
Si empunya nama menoleh dan membesarkan matanya melihat Anastasia berada di dekatnya. Dia langsung berdiri dan menghadapi gadis itu. “Anna?”
“Apa yang kamu lakuin ke Aiden, HUH?” tanya Anastasia meninggi di ujung kalimatnya.
Sementara teman-teman Justin yang lain terlihat menahan napasnya dalam keadaan tegang.
Justin tiba-tiba terkekeh ringan, “Jadi cowok setengah cewek itu ngadu ke kamu?”
“Jaga mulut kamu Justin….” Anastasia memberi peringatan.
“Aku tahu kenapa kamu macarin dia, Anna! Buat manas-manasin aku kan? Biar kamu kelihatan move-on?” tuding Justin nyeleneh, “tapi itu sama aja kamu menjatuhkan harga diri seorang Justin! Kamu nolak balikan sama aku karena cowok enggak jelas gitu? Yang benar saja Anna!” Justin menggelengkan kepalanya tanda mengejek.
“Justin….” Tangan Anastasia sudah mengepal menahan emosinya.
“Dia itu bukan cowok! Mana bisa dia jagain kamu? Belom aku pukul aja udah basah celananya… ha ha,” ejek Justin sambil tertawa dan diikuti teman-teman yang lainnya.
Tangan Anastasia terangkat sangat cepat dan tepat mengenai ujung hidung Justin, bunyinya sangat keras dan bisa dipastikan hidung mantan Anastasia itu mengalami patah tulang yang parah. Justin berteriak keras sambil memegangi hidungnya yang mengucurkan darah segar. Matanya melotot ke arah Anastasia ketika gadis itu malah mengangkat satu kakinya dan mengarahkan ke arah perut cowok itu. Justin pun tersungkur sambil berteriak kesakitan.
“Mana yang setengah cowok? Kamu yang dipukuli cewek tidak bisa melawan atau Aiden, huh?!”
Justin menggeram sambil meringis kesakitan dan berusaha bangkit dengan dibantu teman-temannya. Beberapa berusaha menahan Anastasia dan mengusirnya pergi dari café tersebut sebelum mendapatkan masalah lebih rumit lagi.
“AWAS KAMU ANNA!!” Justin masih memaki sambil memegangi hidungnya yang bengkok. “Aarrgh… SAKIIT GILA!!” teriaknya.