“Dik, kamu bisa kan nggak usah ngambek kayak anak-anak?” tanya Gilang sambil menutup tubuh Sekar dengan selimut. Sekar tak menjawab. Dia memilih membalikkan badannya menghadap ke tembok. Gilang menghembuskan nafasnya dengan kasar. Bagaimana bisa dia bicara baik-baik jika Sekar masih marah seperti itu. Bahkan dia belum paham duduk masalahnya. Apalagi sampai mertua dan orang tuanya menyangka dia punya ‘simpanan’. Jelas-jelas sudah tak ada hubungan apapun dia dengan wanita lain. Sakina saja sudah diblokir nomornya. Lalu, kenapa Sekar bisa sampe ngambek dan pulang? Gilang mengacak rambutnya frustasi. Hanya salah paham kecil. Kenapa harus jadi besar? Hanya karena dia pergi sebentar keluar tanpa bilang kemana karena buru-buru. Ah! Dasar kekanak-kanakan. Apalagi baru beberapa hari lalu

