“Itu cincin dari si Fajar?” kata Mas Gilang sinis, saat kita bertemu di Stasiun Tugu. Hari itu kebetulan aku bareng naik kereta kembali ke Jakarta. Kami tidak janjian. Ini sungguh hanya kebetulan.
Aku melirik cincin yang tersemat di jari manis tangan kiriku. Sebenarnya agak risih karena memang aku tak menyukai memakai perhiasan. Tapi, demi menuruti kemauan ibu, kupakai juga cincin itu.
“Sudah aku bilang, jangan diterima,” tukas Mas Gilang sambil melirik sinis ke jari manisku. Dih, apa urusannya dia melarangku? Batinku. Aku hanya mencebik. Pasti Mas Gilang iri. Itu yang ada dalam fikiranku.
Tapi, mengapa tidak ada seorangpun yang mengatakan tentang insiden dia datang saat aku dilamar malam itu ya? Apakah itu benar-benar halusinasiku sebelum aku pingsan?
“Ayo naik,” kata Mas Gilang kemudian setelah kereta berhenti tepat di depan kami.
Aku tidak diantar oleh Bapak atau Ibu ke stasiun. Aku memang melarang beliau mengantarkanku. Lebih praktis naik taksi online saja, dan pamit ke Bapak dan Ibu dari teras rumah. Apalagi, ada pemuda di sebelahku ini suka menyindirku kalau aku diantar oleh beliau, “Tidak mandiri, sukanya ngrepotin orang lain,” begitu selalu tukasnya.
“Jadi, kamu nikah sama dia?” tanya Mas Gilang. Dia sebenarnya duduk di gerbong yang lain. Tapi, ia sengaja datang ke gerbong ini dan berdiri tepat di sebelah tempat dudukku. Tubuhnya menyandar pada kursi yang aku duduki sembari tangannya bersedekap.
Aku hanya mengangguk.
“Sebulan lagi,” sahutku dengan nada biasa. Kulihat ekspresinya masih datar dan dingin.
“Nanti akan kutunjukkan padamu, siapa sebenarnya Fajar,” kata Mas Gilang sambil pergi meninggalkanku.
***ETW***
--
[Nanti, pulang kerja, aku jemput di kantormu]
Aku mengernyitkan dahi. Ada pesan masuk tanpa nama dan tanpa profil. Kupikir itu pesan salah alamat. Segera kuletakkan ponselku ke laci mejaku. Biasanya aku hanya sesekali melihat pesan penting saat bekerja.
Segera aku membereskan barang-barangku saat jam sudah menunjukkan pukul lima sore. Pegawai lain pun sudah beranjak pulang. Aku pun segera bergegas mengikuti rombongan yang akan segera turun menggunakan lift dari lantai tempat kerjaku.
“Sekar!”
Aku menoleh ke sumber suara. Tampak lelaki dengan badan atletis dan wajah yang tampan berdiri sambil melambaikan tangannya ke arahku.
Tiba-tiba aku teringat pada pesan yang tadi siang masuk ke ponselku.
“Lupa, ya?” tanya lelaki itu setelah aku mendekatinya.
“Fajar,” katanya sambil mengulurkan tangannya.
“Oh....” Kutepuk jidatku sendiri. Aku benar-benar lupa.
Bahkan, ketika di rumah, aku tak sempat berkenalan secara pribadi. Menatapnya pun aku tak berani. Tak punya sedikitpun memori tentang rupa pemuda yang bernama Fajar itu. Dan kini pemuda tampan itu sudah berada di depanku.
“Kita ngobrol sambil makan, yuk,” kata Mas Fajar. Lalu dia berjalan mendahuluiku sambil memberikan kode kepadaku untuk mengikutinya. Aku hanya mengekorinya, berjalan menuju parkiran di halaman gedung kantorku.
“Masuk,” katanya sambil membuka pintu mobil di bagian kemudi. Lalu aku pun membuka pintu di bagian penumpang. Mobilnya bagus. Pajero Sport warna hitam. Pasti dia orang kaya. Pantas saja ibuku sampai klepek-klepek dibuatnya.
Tapi, tiba-tiba hatiku menjadi linu? Kok rasanya aku tidak pantas naik mobil sebagus ini. Biasa juga aku naik angkutan umum. Paling mewah naik transjakarta atau MRT.
“Kok kamu malah melamun?” tanya Mas Fajar. Dari tadi aku memang hanya diam saja, mirip orang b**o. Aku rasanya tidak bisa menjadi diriku sendiri. Ini baru permulaan. Duh, begini amat ya, batinku.
Mas Fajar memarkir mobilnya di basemant sebuah pusat perbelanjaan. Lalu ia mengajakku masuk ke sebuah restoran jepang berkonsep all you can eat.
Aku benar-benar mirip orang bodoh. Tak pernah aku masuk ke dalam restoran seperti ini. Biasa juga aku hanya berani makan di warteg atau paling banter kantin di kantor yang harganya miring.
Aku hanya mengekori Mas Fajar. Dia tampak berpengalaman memilih beraneka ragam makanan yang akan kita santap. Lalu kami duduk di sebuah bangku dimana ada empat kursi yang mengelilinginya. Dengan cekatan pelayan datang dan menyalakan tungku pemasak yang tersedia di meja. Aku benar-benar dibuat melongo.
“Hai, Mas Fajar. Sudah lama?” tiba-tiba seorang wanita cantik datang menghampiri Mas Fajar. Lalu tanpa canggung dia duduk di sebelahnya.
“Sekar, kenalin ini Daniar. Temanku SMA,” kata Mas Fajar kemudian.
Kusalami wanita cantik dengan rambut sepunggung dengan model kruwel-kruwel masa kini. Kulitnya putih, posturnya tinggi semampai. Sangat cantik seperti seorang dewi. Tiba-tiba aku memandang penampilanku sendiri. Sepertinya aku lebih pantas menjadi pembantunya Mas Fajar dibanding calon istrinya.
--
“Jadi kamu sudah bertemu dengan perempuan bernama Daniar itu?” tanya Mas Gilang.
Aku heran mengapa tiba-tiba Mas Gilang sudah berada di depan kantorku. Letak kantor kami sebenarnya tidak terlalu jauh. Tapi bukan Jakarta namanya kalau tidak membuat jarak yang dekat terasa jauh. Dan selama setahun aku di Jakarta, tak sekalipun Mas Gilang bertanya dimana kantorku ataupun dimana kosanku. Mendapatinya tiba-tiba berdiri di depan lobi kantorku tentu merupakan hal langka yang patut diabadikan.
Aku hanya bisa mengangguk untuk menjawab pertanyaannya.
“Kamu tahu, siapa dia?” tanyanya lagi.
“Dia teman SMA-nya Mas Fajar,” jawabku singkat. Sesuai yang aku tahu saat dia dikenalkan padaku.
“Ikuti aku,” kata Mas Gilang sambil memberiku kode untuk mengikuti langkahnya. Aku hanya mengekorinya. Rupanya Mas Gilang sudah memesan taksi online.
“Mau kemana kita, Mas?” tanyaku saat taksi yang kita pesan menuju ke suatu pusat perbelanjaan yang berbeda dengan kemaren.
Mas Gilang hanya diam saja. Dia memang begitu. Percuma saja aku cerewet dan banyak bertanya. Lebih baik aku ikuti saja apa maunya.
Tiba-tiba kakinya melangkah masuk sebuah resto. Duh, resto lagi. Eitttts, tunggu. Kira-kira masuk resto, dia mau mentraktirku apa tidak ya?
“Ayo buruan,” katanya sambil menghentikan langkahnya dan menoleh ke arahku yang sedang terhenti tepat di pintu resto.
“Aku yang traktir!” katanya lagi, seperti mengerti kekhawatiranku.
Aku mengangguk senang. Lalu kuikuti kembali langkahnya.
Kami memilih duduk di pojokan. Tak lama, seorang pelayan mendatangi kami dan memberikan daftar menu kepada kami.
Mas Gilang tidak memberikan kesempatan kepadaku untuk memilih menu. Dugaanku, duitnya juga mepet. Jadi, dia memilih sendiri menu untukku dan untuknya. Aku pun tak masalah. Mungkin karena kita sama-sama dari kampung dan dari keluarga miskin. Aku tertawa dalam hati.
Tiba-tiba, hatiku ngilu saat teringat kemaren. Ditraktir sama Mas Fajar, tapi tingkahku mirip pembantu dari dusun. Padahal, aku ini 'kan udah kerja di Jakarta selama satu tahun. Kemana saja ya aku?
Aku dan Mas Gilang duduk saling berhadapan. Namun, tiba-tiba Mas Gilang pindah posisi duduk di sebelahku. Tentu saja hal ini membuatku bingung. Mau apa dia mendekati ku? Kulirik tingkah laku dia yang mulai janggal. Tapi dia justru melotot ke arahku.
Tak lama, menu yang kami pesan pun datang. Anehnya, Mas Gilang tak segera menyantap menu itu. Dia malah mengetik sesuatu di ponselnya. Setelah itu, dia menunjuk-nunjuk ponselnya. Aku tak mengerti apa maksudnya. Tapi, dia memberi kode untuk tidak berbicara. Berulang dia letakkan telunjuknya di depan bibirnya. Sambil tetap melotot dia menunjuk-nunjuk ponsel.
“Apaan?” tanyaku akhirnya. Dia pake bahasa isyarat yang tidak aku mengerti.
Tanpa ba bi bu, dia malah menyambar tasku. Merogoh-rogoh kantung di tasku. Ya ampun, betapa malunya aku saat dia memegang pembal*t yang sengaja aku bawa, karena aku sedang halangan. Akhirnya, dia menemukan apa yang di carinya. Ponselku!
Segera dia berikan kepadaku, dengan sebelumnya membuka fitur pesan singkat.
Keningku berkerut saat aku membaca pesan dari dia terketik disana. Spontan aku menoleh kebelakang.
“Auwwww!” pekikku. Kaki Mas Gilang dengan sengaja menginjak kakiku.
Kulirik dia yang terus saja melotot sambil meletakkan telunjuk di bibirnya.
Aku segera menatap layar ponselku kembali, lalu mengangguk-angguk mengerti setelah k****a ulang pesannya.
[Jangan menoleh kebelakang. Dengarkan apa yang mereka katakan].
Kutajamkan pendengaranku.
“Kamu tenang saja. Begitu warisan kakekku di bagi, aku akan segera menceraikannya. Mana tahan aku menikah dengan gadis kampungan seperti dia. Kalau bukan karena desakan mama, aku tidak mau. Mama mengancamku tidak memberikan jatah warisan itu jika aku belum menikah,”kata lelaki yang duduk tepat di dibelakangku.
Posisiku memang membelakangi mereka, sehingga aku tidak bisa melihat siapa yang sedang berbicara.
“Tapi, bukannya kalau kamu menikah dengan dia, warisan yang kamu dapatkan harus dibagi dua juga setelah kamu bercerai?” tanya yang wanita.
“Dia bukan wanita matre. Dia sangat lugu. Hanya saja, ibunya sedikit matre. Nanti aku pikirkan kemudian. Yang penting, warisan itu jatuh duluan ke tanganku,” timpal lelaki itu.
Sebenarnya aku penasaran siapa lelaki yang berbicara itu. Tapi, lagi-lagi mas Gilang melarangku untuk menoleh. Mas Gilang malah mengajakku foto selfie dengan kameranya.
Tak lama, setelah dua orang dibelakangku mengganti topik pembicaraan lain. Mas Gilang memberiku kode untuk segera meninggalkan restoran itu. Dia memintaku keluar duluan tanpa gerak gerik mencurigakan dan menunggunya di luar resto. Sementara mas Gilang pergi ke kasir untuk membayar menu yang kita makan.
Kami segera bergegas pergi meninggalkan pusat perbelanjaan itu. Tapi otakku masih penuh tanda tanya.
“Aku kirim foto kita berdua,”kata Mas Gilang sesaat sebelum aku naik taksi online menuju kosanku. Jangan salah, taksi online yang aku tumpangi ini Mas Gilang yang bayar ongkosnya. Aku? Terlalu mewah untuk naik taksi online. Ojek saja sudah kemahalan. Biasanya hanya transjakarta turun di halte terdekat dan jalan kaki menuju kosan.
Kurebahkan badanku seusai mandi. Jakarta memang luar biasa. Hanya jalan sebentar aja, badan rasanya pegal-pegal.
Kuraih ponselku. Berdebar-debar rasanya ingin segera membuka gambar selfie yang Mas Gilang kirimkan tadi. Akhirnya, aku akan punya foto berdua dengan Mas Gilang. Hmmm, jangan-jangan Mas Gilang naksir aku. Tiba-tiba aku menjadi GR.
Setelah beberapa detik berputar, akhirnya terbuka juga gambar itu. Wow! Cakep! Pekikku saat aku fokus melihat foto Mas Gilang. Dia memang tampan, asal tidak sedang jutek. Secara aku tidak pernah melihat lelaki itu secara bebas. Dia selalu membuang muka.
Tapiiii....siapa dua orang di belakangku tadi?
Mataku terbelalak begitu menyadari orang itu. Hatiku tersentak dan ingin menangis sejadi-jadinya.