Sewaktu aku membungkamnya dengan pertanyaan terakhir, mantan suamiku tidak bisa bicara apapun, hanya air mata menetes selalu dengan gontainya ia pergi meninggalkan kami begitu saja. Sama dengan kepergian yang pertama, kepergian kali ini juga tanpa pamit, tanpa permintaan maaf atau kata-kata yang sekiranya bisa mengobati luka hati. Tapi percuma mengharapkan seseorang mengobati luka hati, sementara kesalahannya begitu fatal, sulit dimaafkan dan mungkin sejak trauma yang ia tinggalkan akan melekat seumur hidup. Ting! Ada pesan dari manajer utama, untuk pertama kalinya aku terkejut membacanya tapi kemudian santai saja. (Kurasa ada yang salah dengan masalah laporan dana yang dicairkan untuk proyek kesejahteraan. Ada manipulasi data dan daftar penerima yang digembungkan." Aku hanya tertaw

