Setelah kepergian suamiku, aku terjatuh lemas duduk di kursi teras, kupikir ketegasanku akan membuat segalanya berubah tapi malah membuat keadaan jadi makin rumit.
Kukira, setelah membicarakan perasaanku kepada mertua dan ibu mertua berusaha memberi mereka pengertian, segala sesuatu akan berubah dan kembali seperti semula, tapi dengan jujurnya aku, hubungan mereka seakan terungkap dan mereka semakin gamblang menunjukkan kedekatannya. Seakan tidak boleh ada yang melarang atau menghalangi mereka. Suamiku dan kakak iparnya itu, Allahu Akbar... kalau diingat bagaimana sibuknya dia melayani aruni dan bagaimana manjanya aruni kepada Mas Arman, aku hanya bisa mengucapkan istighfar dan mengurut dadaku.
Aruni w***********g itu, dia telah mengadu kepada suamiku dan menciptakan konflik antara aku dan Arman. Dia pasti telah bercerita dan melebih-lebihkan perkataanku kepada suamiku sehingga membuat Mas Arman murka. Ah, posisiku sangat tidak menguntungkan.
"Bu." Aku menelpon ibu mertua karena satu-satunya yang bisa jadi penengah antara aku dan suamiku hanya dia.
Mengambil keputusan untuk hengkang dari rumah ini mudah saja dilakukan, tapi ada banyak resiko yang harus kupertimbangkan serta bagaimana aset dan anak-anak. Jika pada akhirnya aku harus berpisah dari Arman minimal aku harus mendapatkan rumah ini agar aku tidak merugi, agar tidak gagal total dari segala sisi. Aku mungkin harus mulai menyelamatkan surat-surat berharga dan barang-barang lainnya yang bisa diselamatkan agar tidak jatuh ke tangan orang yang salah.
Sepertinya rumah tangga aku diambang kehancuran bila aruni tidak mundur dari keberadaannya di antara kami. Tapi bagaimanakah wanita itu akan mundur, dia sudah nyaman dengan suamiku, dia mendapatkan jatah uang belanja, suamiku selalu ada untuknya dan secara teknis dia menguasai Mas Arman.
"Ada apa Nak."
"Bu, aku mencoba untuk mengambil sikap tegas dalam keluargaku tapi aku gagal lagi. Semalam aruni menelpon suamiku, sekitar jam 02.00, dia bilang anaknya sakit dan dia minta Arman untuk menemaninya. Dan karena aku tidak setuju, kubilang dia harus menyelesaikan masalahnya sendiri, lalu teleponnya kumatikan."
"Dan apa yang terjadi?" Tanya ibu dari seberang sana.
"Ya, pagi hari, suamiku membaca pesan aruni, dia marah padaku karena Gilang ternyata mengalami demam berdarah. Menurut Ibu, apa aku salah membatasi suamiku dan berujung seperti ini?"
"Tidak, kau tidak salah, hanya saja keadaannya sedang tidak berpihak padamu. Ibu menyesalkan kau tidak memberitahu Arman, tapi bila berdiri di posisimu tentu ibu akan lakukan hal yang sama."
Berarti benar kan, tiada seorang wanita pun yang bisa menerima keadaan ini.
"Sebenarnya kunci agar segala sesuatu bisa kembali seperti semula, adalah, ketegasan ibu dan ayah mertua! Tolong batasi wanita itu dari keluarga kami, agar aku dan suamiku bisa kembali berdamai dan menata hati kami. Jika aruni terus ada dan menyulut pertengkaran antara aku dan Arman, maka tak lama lagi aku dan suamiku akan bercerai Bu."
"Ibu harus bagaimana Nak, kau dan aruni adalah menantuku yang sama sama telah melahirkan cucuku. Aku tidak bisa berbuat banyak untuk mencegah Arman menafkahi hidupnya, karena baik aku dan anak-anakku yang lain tidak bisa memberinya apapun. Bayu dan Hendra penghasilannya tidak begitu besar, meski terlihat punya mobil dan rumah yang layak tapi, mereka punya banyak hutang dan cicilan. Yang hidupnya mapan dan agak berkecukupan hanya Arman, Jadi kami mengandalkannya!"
"Tapi terlalu sering bersama wanita itu membuat suamiku lupa istrinya. Ada kemungkinan dia telah jatuh cinta kepada aruni. Mengingat Wanita itu sangat cantik dan pandai mengambil hati."
"Ibu tidak akan biarkan itu terjadi."
"Lalu tindakan apa yang akan ibu lakukan terhadap sesuatu yang telah terlanjur terjadi? Mereka sudah terlalu dekat sampai tidak bisa dicegah kebersamaannya!"
"Ibu akan panggil Arman dan bicara tapi Ibu minta waktu agar tidak melakukannya sekarang demi Gilang. Biarkan Arman menghibur anak itu sampai dia sedikit pulih dan baik-baik saja!"
"Baik, Bu. Untuk kesekian kalinya saya akan bersabar, Saya akan menunggu kesadaran suamiku serta keputusan yang tegas dari ibu saya benar-benar menunggunya," balasku dengan hati sedikit kecewa karena ibu mertua tetap memintaku untuk memberi sedikit kebijaksanaan demi cucunya yang sedang sakit.
Ah, andai ini terjadi pada anak-anakku tentu tidak akan terlalu dramatis, Gilang memiliki posisi yang istimewa karena orang-orang kasihan padanya oleh statusnya yang anak yatim. Aruni juga selalu dibela karena menurut mereka ia adalah wanita malang yang ditinggalkan suaminya. Jadi, semua orang memfokuskan perhatian kepada Gilang dan aruni sementara aku dan kedua anakku dianggap tidak terlalu penting.
Usai meletakkan ponselku, aku beranjak menuju ke dapur untuk menyiapkan makanan, waktu bergulir matahari menanjak menuju siang, sebentar lagi anak-anak akan pulang sekolah dan mereka harus makan sesuatu.
Selagi fokus mengolah makanan dan membersihkan dapur, tiba-tiba pintu utama terdengar dibuka kuncinya, laki-laki itu masuk ke dalam rumah sambil menatapku dengan wajah penuh kebencian, tanpa menyapa atau mengatakan apa-apa dia langsung menuju ke kamar untuk mengganti pakaiannya.
Lalu tak lama kemudian dia keluar dan kembali mengambil kunci mobilnya yang ia letakkan di meja tadi.
"Mau kemana lagi Mas?"
"Kerja! Gara-gara kau aku terlambat pergi ke kantor, aku harus mengunjungi keponakanku, menghibur dan memastikan dia makan dulu sebelum aku meninggalkannya. Mungkin keterlambatan ini tidak akan terjadi andai kau memberitahuku malam tadi!"
"Aku tidak bermaksud buruk Mas, Aku ingin kau beristirahat dengan tenang dan aku sama sekali tidak tahu kalau Gilang separah itu!"
"Apapun yang kau lakukan untuk membela dirimu itu terdengar seperti sebuah kebohongan di mataku! Kau jelas membenci aruni, dan kebencian itu tertular kepada anaknya!"
"Tidak, Mas, aku bersumpah, aku tidak memiliki sentimental negatif pada keponakanmu. Aku benar-benar minta maaf." Aku melembutkan nada suaraku demi membujuk dan menenangkan hati suamiku, aku menghampirinya dan menyentuh bahunya tapi lelaki itu langsung menepisku dengan kasar.
"Jangan coba-coba menyentuhku, setelah dengan egoisnya kau mengadukanku pada Ibuku, kini kau ingin mengambil hati dan bicara lembut padaku? Hentikan kemunafikan itu." Mas Arman menatapku dengan penuh kebencian, bola matanya memicing dengan sinis, seakan aku adalah musuh kebuyutan yang sangat dibenci.
"Mas ... aku ini istrimu," ucapku dengan kesedihan yang tak mampu kutahan lagi, menetes air mataku di hadapannya namun ia terlihat memutar bola mata dan mendecak seolah apa yang kukatakan adalah sebuah kebohongan.
"Jika kau sadar kau istriku maka bersikaplah sebagai seorang istri yang bijak, Sudah kubilang sejak awal pernikahan kalau aku memperterioritaskan keluargaku!"
"Tapi aku dan anak-anak juga keluarga 'kan! Maka yang harusnya di puncak prioritas utama adalah istri dan anak-anakmu, juga orang tuamu. Bukannya janda itu. Seorang janda adalah tanggung jawab ayahnya, bukan iparnya, apalagi kebersamaan kalian sangat intens seakan kalian berdua suami istri!"
"Cih, apa yang terlihat olehmu belum tentu sesuai dugaanmu. Aku dan dia bersikap normal layaknya kakak dan adik, kami mengobrolkan tentang keluarga sementara kau terus berpikir bahwa aku dan dia berkencan! Sungguh menjijikkan!" Jawab suamiku sambil melangkah pergi.
"Tunggu, Mas."
"Cukup, aku mau kerja. Beban dan tangunganku bukan kau saja, jadi, mengertilah?"