51

1117 Words

"Apa kok sungguh tega melakukan itu padaku?" "Kenapa tidak? Apa yang menghalangi saya? Saya punya wewenang untuk melakukan itu. Dan selagi kamu bersalah, kamu pantas dihukum!" Pria itu susah payah menelan ludahnya, dia menatap diri ini dengan tegang bahkan telapak tangannya sampai gemetar dan keringatan. Sebagai mantan istrinya aku tahu betul gestur kecemasan dan kepanikan mantan suamiku, bila sudah begitu dia akan mendadak sakit, kumat asam lambung dan tidak berselera makan. Tekanan pikiran akan menyiksanya berhari-hari bahkan membuatnya tak bisa tidur. Ini adalah balasan terbaik yang pernah kuberikan padanya, balasan sebagai hukuman penghianatannya yang telah membuat diri ini sengsara selamat berbulan-bulan. Seharusnya aku masih memenangkan kehidupan berumah tangga dan mempertahankan

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD